Mantan Ojol Jadi Buronan Cyber: Kisah Raka Melawan Kekuasaan Digital Jakarta 2030! - PT PUTRA ARMSSY PERKASA

Mantan Ojol Jadi Buronan Cyber: Kisah Raka Melawan Kekuasaan Digital Jakarta 2030!

 

Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 1: Kopi Saset dan Algoritma Sialan

Malam itu Jakarta masih sama kayak sepuluh tahun lalu: panas, macet, dan bau knalpot. Bedanya, sekarang langit-langit jalanan penuh sama proyeksi iklan hologram yang bikin mata pedih.

Gue, Raka, lagi duduk di Warkop Mas Bro di pinggiran Manggarai. Kopi saset gue udah mau habis setengah. Di sebelah gue ada si Dimas, temen nongkrong dari zaman SMA yang sekarang kerjanya jadi joki gaming virtual.



"Rak, lo udah cek skor kredit sosial lo hari ini belum?" Dimas nanya tanpa ngelepas kacamata AR (Augmented Reality) murahan yang layarnya retak di pojok. Tangannya sibuk gerak-gerak di udara, asik swiping sesuatu yang cuma dia yang bisa lihat.

"Belum, anjir. Males gue. Kemarin gara-gara telat bayar paylater buat benerin motor, skor gue dipotong. Nggak bisa naik TransJakarta gue seminggu, terpaksa narik ojol manual panas-panasan," jawab gue sambil nyebat.

Tahun 2030 emang bangsat buat orang-orang kayak kita. Nggak ada duit berarti nggak ada akses. Semuanya diatur sama AI. Bos ojol gue sekarang bukan manusia, tapi algoritma yang kalau ngasih suspend nggak pake perasaan.

Tiba-tiba, kacamata AR di muka gue bunyi. Ada notifikasi masuk. Warnanya merah. Urgent.

[Peringatan Keamanan: Terdeteksi Aktivitas Ilegal]

Gue ngernyitin dahi. "Lah, apaan nih?"

Gue ketuk gagang kacamata buat buka pesannya. Muncul sebuah video beresolusi super tinggi. Di video itu, ada cowok pake jaket ojol persis punya gue, lagi ngebobol brankas mini market di daerah Menteng.

Cowok itu nengok ke kamera CCTV.

Jantung gue langsung kerasa copot sampai ke lambung. Muka cowok di video itu... muka gue. Persis. Tahi lalat di bawah bibir, bekas luka di alis kiri, sampai cara dia kedip. Semuanya gue banget.

"Dim..." Suara gue gemetar. "Dim, liat ini." Gue nge-share layar kacamata gue ke kacamata Dimas.

Dimas berhenti main. Rahangnya jatuh. Dia nengok ke gue, terus nengok ke layarnya lagi.

"Buset... Rak. Lo gila?! Sejak kapan lo main rampok Alfa-Mart?!" Dimas refleks narik badannya ngejauh.

"Sumpah demi Tuhan bukan gue, anjir! Seharian ini gue narik di Sudirman, terus langsung ke sini nemuin lo!" Gue mulai panik. Keringat dingin ngucur.

Tiba-tiba, layar kacamata gue kedap-kedip. Saldo rekening gue yang cuma sisa tiga ratus ribu mendadak berubah jadi Rp 0. Dibekukan. Diikuti sama suara artificial cewek dari earpiece gue.

"Identitas terkonfirmasi. Tersangka Raka Aditya. Status: Buronan. Tim patroli drone sedang menuju lokasi Anda dalam estimasi waktu dua menit."

"Sialan! Deepfake! Ada yang maling pake muka gue!" Gue langsung lompat dari kursi warkop, nyamber kunci motor.

"Rak! Lo mau ke mana?!" teriak Dimas, panik liat gue udah ngidupin mesin motor.

Dari kejauhan, gue udah bisa denger suara dengungan baling-baling drone polisi. Lampu merah biru mulai nyorot langit Manggarai. Malam ini, hidup gue sebagai warga kelas bawah yang pas-pasan resmi hancur gara-gara satu video editan.

Gue tarik gas motor sekencang-kencangnya nembus gang sempit. Gue nggak tau harus lari ke mana, yang gue tau, di tahun 2030, algoritma nggak pernah mau denger penjelasan.


Gas! Kita lanjutin ketegangannya. Ini Part 2, bro. Siapin napas, soalnya Raka lagi dikejar-kejar mesin.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 2: Gang Senggol dan Mata-Mata Langit

Motor listrik rakitan gue menjerit pas gue pelintir gasnya mentok. Untungnya, karena ini motor custom ilegal hasil kanibalan dari rongsokan, sistemnya nggak nyambung ke Smart City Grid Jakarta. Kalau gue pakai motor ojol resmi keluaran pabrik, mesinnya pasti udah dimatiin otomatis dari pusat.

Di atas gue, tiga drone patroli seukuran galon air terbang ngikutin. Suara baling-balingnya mendengung bikin kuping budek, nyorotin lampu sorot biru terang ke jalanan.

"Peringatan! Berhenti atau kami akan menembakkan jaring kejut elektromagnetik!" Suara robot dari drone itu menggema di sepanjang gang Manggarai.

Anjir! Jaring kejut. Sekali kena, bukan cuma motor gue yang mati total, sistem saraf gue juga bisa keram berjam-jam.

Kacamata AR di muka gue masih kedap-kedip merah. Pesan dari sistem polisi terus masuk. Otak gue yang lagi panik mendadak sadar satu hal: Kacamata kampret ini ngelacak GPS gue!

Tanpa pikir panjang, gue cabut kacamata AR cicilan 12 bulan yang belum lunas itu, terus gue banting keras-keras ke tembok gang sambil jalan. Praaang! Pecah berkeping-keping.

Seketika, pandangan gue nge-blank. Nggak ada lagi panah hologram penunjuk arah di jalan, nggak ada spion digital, nggak ada indikator baterai motor. Dunia balik jadi "primitif" lagi. Gue cuma ngandelin insting dan ingatan gue soal gang-gang tikus di Jakarta.

Gue banting setir tajam ke kiri, masuk ke gang sempit yang atapnya ketutup terpal-terpal pecel lele dan jemuran warga. Drone polisi terlalu gede buat masuk ke sini. Gue denger bunyi brakk di belakang. Satu drone nyangkut di tiang listrik kabel jemuran, sisanya muter balik cari jalan lewat atas.

Gue lolos. Untuk sementara.

Napas gue ngos-ngosan. Keringat dingin nembus jaket ojol gue. Setelah muter-muter nyari jalan aman, gue nepi di sebuah garasi kumuh di bawah jembatan layang Roxy. Pintu besinya penuh coretan anti-AI.

Gue gedor pintu itu tiga kali, jeda, terus dua kali. Kode rahasia.

Pintu kebuka dikit. Muncul muka kurang tidur dengan mata panda yang khas. Itu Beno, hacker kelas teri yang kerjanya nge-jailbreak algoritma ojol biar kita dapet orderan prioritas. Di tahun 2030, orang kayak Beno ini dokter spesialis buat kaum kelas bawah.

"Gila lo, Rak!" Beno langsung narik kerah jaket gue masuk ke dalem sebelum gue sempet ngomong. "Muka lo trending nomor satu di dark-net lokal! Lo beneran ngebobol brankas korporat?!"

"Sumpah, Ben! Itu bukan gue!" Gue ngehempasin badan ke sofa rongsok di ruangannya yang penuh layar monitor berkedip. "Itu Deepfake! Ada yang minjem muka gue buat maling. Cekik gue sekarang kalau gue bohong!"

Beno ngernyitin dahi. Dia nyuruh gue duduk diem, terus dia ngetik cepet banget di keyboard holonya. Layar gedenya nampilin video perampokan tadi yang udah kesebar.

"Gue percaya sama lo, Rak. Karena lo emang nggak sepintar itu buat ngebobol sistem sekuritas level 4," kata Beno santai, bikin gue pengen nabok mulutnya.

Beno nge-zoom muka 'gue' di video itu. Di-pause, di-cek frame by frame. Tiba-tiba, tangannya berhenti ngetik. Matanya melotot.

"Rak..." suara Beno mendadak serius. "Ini bukan deepfake filter gratisan yang biasa dipake bocil buat nipu. Gue cek metadata-nya. Tekstur kulit, pantulan cahaya, rendering bayangannya... ini dibikin pakai Quantum AI Server."

Gue nelan ludah. "Maksud lo?"

"Maksud gue, yang maling pake muka lo ini bukan preman kampung. Ini kerjaan orang kaya, atau mungkin korporat besar. Video ini terlalu sempurna buat dibikin sama orang biasa."

Beno nengok ke gue. Tatapannya ngeri. "Pertanyaannya, Rak... dari jutaan gembel di Jakarta, kenapa mereka milih muka lo buat jadi tumbal?"


Jeng jeng jeng! Plotnya makin dalem nih bro. Ternyata Raka bukan sekadar korban prank iseng, tapi ada konspirasi lebih gede yang ngelibatin orang atas.


Gas! Kita masuk ke Part 3. Di sini Raka mulai sadar kalau hidupnya bukan cuma soal narik ojol, tapi ada sesuatu di tubuhnya yang diincar "orang langit".


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 3: Chip Murahan dan Rahasia di Balik Telinga

Gue diem seribu bahasa. Pertanyaan Beno barusan kayak bogem mentah yang mendarat tepat di ulu hati gue. Kenapa gue? Gue cuma remah-remah peyek di tengah kerasnya Jakarta.

Beno narik kursi putarnya, mendekat ke arah gue. Dia nyalain senter kecil dari alat scanner genggamnya. "Sini lo, deketan. Gue mau cek sesuatu."

"Ngapain sih, Ben? Gue bukan barang rongsokan," keluh gue, tapi tetep nurut.

Beno mulai nyenterin belakang telinga kanan gue, tepat di lipatan kulit tempat biasanya orang pasang Neural-Link versi lite—chip komunikasi yang wajib dipunya kalau mau dapet akses kerjaan pemerintah.

"Rak, lo inget nggak dua bulan lalu pas lo dapet subsidi kesehatan gratis dari program 'Jakarta Sehat 2030'?" tanya Beno sambil matanya fokus ke layar kecil di tangannya.

"Ingetlah. Yang dapet suntikan vitamin sama pemasangan chip pelacak kesehatan itu kan? Katanya biar kalau ojol pingsan di jalan, ambulans otomatis dateng. Kenapa emang?"

Beno mendengus sinis. "Vitamin pala lo peyang. Liat nih..."

Dia muter monitornya ke arah gue. Di layar itu muncul grafik gelombang yang aneh. Bukan detak jantung, bukan tekanan darah. Tapi kode-kode enkripsi yang jalan terus kayak air terjun.

"Chip yang ditanam di belakang telinga lo itu bukan chip kesehatan standar, Rak. Ini Bio-Data Logger prototipe punya Cyberdyne Nusantara. Perusahaan raksasa yang megang tender keamanan nasional," bisik Beno, suaranya parau.

Gue ngerasa merinding disko. "Maksud lo... gue dijadiin kelinci percobaan?"

"Lebih parah. Chip ini ngerekam semua sensor saraf lo. Cara lo gerak, cara lo mikir, sampai pattern emosi lo pas lagi panik. Kayaknya, mereka butuh 'muka' dan 'identitas' asli buat ngelakuin kejahatan, tapi mereka nggak mau pake robot. Mereka butuh Digital Twin yang bener-bener identik sama manusia hidup supaya nggak kedeteksi sama AI Polisi."

"Jadi..." suara gue tercekat. "Si perampok di video itu... dia pake data saraf gue?!"

"Tepat. Dia gerak pake gaya lo, lari pake gaya lo, bahkan mungkin napasnya sama kayak lo. Makanya AI Polisi nggak ragu sedetik pun pas nentuin kalau itu lo. Secara digital, lo sama perampok itu adalah orang yang sama."

Tiba-tiba, lampu di garasi Beno mati total. Jlep.

Bukan mati lampu biasa karena token abis. Suasana mendadak hening banget. Bunyi kipas CPU Beno yang biasanya berisik langsung berhenti.

"Ben... jangan becanda, Ben," bisik gue sambil megang kunci inggris di deket kaki gue.

"Sial," umpat Beno pelan. "Mereka udah mutus jaringan listrik di blok ini. Mereka tau gue lagi nge-scan chip lo."

Dari luar pintu besi garasi, kedengeran suara langkah kaki yang berat dan teratur. Bukan langkah kaki manusia yang grasak-grusuk, tapi suara langkah sepatu taktis yang sinkron.

Tit... Tit... Tit...

Ada lampu laser merah masuk lewat celah ventilasi, nyapu dinding garasi. Satu titik merah mendarat tepat di dada Beno.

"Raka, lari lewat lubang tikus di belakang!" teriak Beno sambil nendang meja kerjanya buat jadi tameng. "Bawa harddisk ini! Di dalemnya ada bukti kalau chip lo itu ilegal!"

DUAAARRRR!

Pintu besi depan meledak. Bukan pake bom, tapi didorong pake kekuatan hidrolik yang gila. Tiga sosok pake baju zirah hitam pekat—tanpa logo, tanpa nama—masuk dengan senjata peredam suara.

Gue nggak sempet mikir lagi. Gue nyamber harddisk kecil yang dilempar Beno, terus loncat ke lubang pembuangan air di pojok ruangan yang langsung tembus ke gorong-gorong Roxy yang bau pesing.

Gue denger suara pfft... pfft... khas senjata peredam.

"BENOOO!" gue teriak dalem hati. Gue nggak berani nengok belakang. Air got item nyiprat ke muka gue pas gue lari membabi buta di dalem kegelapan bawah tanah.


Gila, Raka sekarang bener-bener sendirian! Beno nasibnya belum jelas, dan sekarang Raka megang data yang bisa ngeruntuhin korporat paling gede di Indonesia...


Gue bener-bener kayak tikus got sekarang. Literall. Bau air limbah Jakarta 2030 itu campur aduk antara bau deterjen murah, karat besi, sama sisa-sisa minyak gorengan yang udah menghitam.

Gue merayap di dalam pipa beton yang diameternya nggak seberapa. Tangan gue gemetar, nyengkram harddisk dari Beno kayak itu jantung gue sendiri. Di atas kepala gue, suara langkah taktis tadi masih kedengeran lewat celah-celah beton.

Cling... Cling...

Bunyi sensor logam. Mereka lepasin Micro-Drone seukuran kecoa.

"Anjir, ini nggak lucu," bisik gue. Kalau kecoa-kecoa robot itu masuk ke sini, mereka tinggal nyengat saraf gue, dan gue bakal lumpuh dalam hitungan detik buat dibawa ke laboratorium mereka.

Gue harus keluar. Tapi ke mana? Keluar ke jalan raya berarti bunuh diri—muka gue udah jadi public enemy nomor satu di semua layar LED Jakarta.

Pas gue lagi panik-paniknya, tiba-tiba ada tangan kekar narik kerah jaket ojol gue dari balik kegelapan sebuah tikungan pipa.

"Diem! Jangan napas!" suara cewek, rendah dan tegas.

Gue mau teriak tapi mulut gue langsung dibekap pake kain yang baunya kayak minyak tanah. Gue cuma bisa melotot. Di depan gue, ada cewek pake jaket bomber dekil, rambutnya cepak, dan yang paling aneh: dia nggak pake perangkat AR atau chip apa pun. Matanya bener-bener mata manusia biasa, nggak ada pendar cahaya digital di pupilnya.

Dia megang alat aneh kayak vacuum cleaner kecil, terus dia arahin ke mulut pipa tempat gue masuk tadi.

Zaaaapp!

Muncul gelombang distorsi udara sesaat. Kecoa-kecoa robot yang baru mau masuk langsung jatuh mati, korsleting.

"Gila... itu EMP Jammer?" tanya gue pelan pas dia lepasin bekapannya.

"Itu teknologi kuno, tapi efektif buat mainan korporat," jawab dia dingin. "Nama gue Lira. Gue dari komunitas 'The Unlogged'. Orang-orang yang milih buat nggak masuk dalam sistem digital."

Lira narik gue masuk lebih dalem ke sebuah bunker rahasia di bawah stasiun Roxy. Tempatnya penuh sama barang-barang analog. Ada mesin tik, radio HT, sampai tumpukan koran kertas yang udah kuning. Nggak ada layar monitor canggih, nggak ada AI. Semuanya manual.

"Lo Raka, kan? Si ojol yang 'maling' di Menteng?" Lira nanya sambil bersihin senjatanya.

"Gue nggak maling, Kak! Sumpah!"

"Gue tau. Kita udah monitor chip Bio-Data Logger lo dari sebulan lalu. Lo itu sebenarnya bukan cuma tumbal, Raka. Muka lo itu dipake buat ngebuka brankas yang cuma bisa dibuka pake biometric saraf asli."

Gue bengong. "Brankas apaan?"

Lira natap gue tajam. "Brankas itu isinya bukan duit. Isinya adalah kode akses buat Sistem Kontrol Populasi 2030. Korporat Cyberdyne mau pake data saraf lo buat bikin 'Warga Digital' palsu yang bisa milih di pemilu, bisa transaksi, dan bisa bikin opini publik seolah-olah itu suara rakyat. Intinya, mereka mau bikin demokrasi settingan pake muka-muka orang kayak lo."

Gue lemes. "Jadi... gue udah nggak punya masa depan?"

"Lo punya satu kesempatan," Lira nyodorin sebuah jarum suntik yang isinya cairan item pekat. "Ini virus buat ngebakar chip di telinga lo. Tapi efek sampingnya... lo bakal 'mati' secara digital. Nama lo bakal ilang dari database kependudukan. Lo bakal jadi hantu. Nggak bisa narik ojol lagi, nggak bisa punya rekening, nggak bisa belanja di minimarket."

Gue ngeliat ke arah harddisk di tangan gue, terus ngeliat ke jarum itu.

Di luar, suara ledakan kecil kedengeran. Tim taktis korporat kayaknya udah mulai nemuin jalan masuk ke bunker ini.

"Pilih sekarang, Rak. Jadi budak algoritma seumur hidup di penjara, atau jadi hantu yang bebas di jalanan?"


Pilihan sulit buat Raka! Kalau dia suntik itu, dia aman dari kejaran AI tapi dia bakal jadi gelandangan total tanpa identitas. Kalau nggak, dia pasti ketangkep.


Gue ngelihatin jarum suntik di tangan Lira. Cairan item di dalemnya kayak ngetawain nasib gue.

"Jadi hantu, ya?" gue nanya pelan, suara gue hampir tenggelam sama suara gedoran pintu bunker yang makin brutal. Brak! Brak! Itu bukan suara manusia, itu suara battering ram hidrolik.

"Nggak ada waktu lagi, Rak! Pilih: Mati di penjara korporat sebagai maling, atau mati secara digital tapi lo bisa bales dendam?!" Lira ngebentak gue.

Gue inget emak gue di kampung. Tiap bulan gue kirim duit hasil narik ojol lewat e-wallet. Kalau gue jadi hantu, gue nggak bisa kirim duit lagi. Emak bakal ngira gue mati. Tapi kalau gue ketangkep, emak bakal malu punya anak "perampok".

"Sikat, Kak!" gue nyodorin lengan gue. "Hapus gue dari sistem busuk ini!"

Lira nggak buang waktu. Jleb!

Rasanya? Bukan cuma perih, bro. Rasanya kayak otak gue disiram air aki mendidih. Mata gue langsung glitchy. Pandangan gue yang tadinya bersih, mendadak penuh sama barisan kode error warna merah yang muncul di retina mata gue.

"System Failure... Identity Corrupted... Heart Rate Critical..."

Suara cewek AI di dalem kepala gue teriak-teriak sebelum akhirnya suaranya mengecil, serak, terus mati total. Zzzztt... Senyap.

Detik itu juga, dunia gue berubah. Gue nggak lagi liat indikator baterai motor di pojok mata, nggak ada lagi notifikasi medsos, nggak ada lagi iklan-iklan hologram yang biasanya menuhin pandangan. Dunia jadi... sepi. Aneh banget. Gue ngerasa kayak orang buta yang baru bisa liat lagi, tapi versi sebaliknya.

"Selamat datang di dunia nyata, Rak," bisik Lira.

BOOOMM!

Dinding bunker jebol. Debu beton beterbangan. Tiga pasukan elite berbaju zirah hitam masuk. Salah satu dari mereka ngarahin helm sensornya ke arah gue.

"Target terdeteksi. Raka Adit—" Suara si prajurit tiba-tiba berhenti. Dia nengok ke kiri-kanan, bingung. "Lapor, sensor biometrik kehilangan jejak. Target menghilang dari radar. Sinyal chip 07-Beta hilang."

Gue berdiri tepat di depan dia, cuma jarak dua meter. Dia ngeliat ke arah gue, tapi helm canggihnya nggak bisa ngenalin gue sebagai "Raka". Di mata sistem mereka, gue cuma tumpukan piksel kosong. Gue nggak eksis.

"Dia di sana, bego! Pake mata lo, jangan pake sensor!" teriak komandan mereka dari belakang.

Lira narik tangan gue. "Ayo! Mumpung sistem mereka lagi loading ulang!"

Lira ngelempar bom asap analog—beneran pake belerang, bukan pulsa elektromagnetik. Kita lari nembus asap. Pas ada prajurit yang mau nembak, Lira dengan lincah nendang senjatanya dan narik gue masuk ke celah sempit di balik tumpukan koran lama.

Kita merayap keluar lewat lubang ventilasi yang tembus ke gang gelap di belakang Roxy.

Pas gue nyampe di luar, gue ngeliat ke arah jalan raya. Layar raksasa di gedung tinggi masih nampilin muka gue dengan tulisan "WANTED". Tapi anehnya, pas gue lewat di depan kamera CCTV jalanan, lampu sensornya nggak kedip hijau atau merah. Diem aja. Gue bener-bener jadi invisible buat mesin.

"Sekarang apa?" gue nanya sambil ngos-ngosan. "Gue nggak punya duit, nggak punya KTP digital, HP gue juga udah mati total."

Lira senyum tipis, tipis banget sampai hampir nggak keliatan. Dia buka jaketnya, nunjukin sebuah HP jadul tahun 2010-an yang tebelnya kayak batu bata.

"Sekarang kita samperin orang yang bikin deepfake muka lo. Kita pake harddisk dari Beno buat 'ngebakar' server mereka dari dalem. Lo mau ikut?"

Gue ngepalin tangan. Rasa sakit di bekas suntikan tadi masih berasa, tapi rasa pengen nabok orang yang udah ngerusak hidup gue jauh lebih gede.

"Gas. Tapi abis ini gue laper, Kak. Ada nasi kucing yang bisa dibayar pake duit kertas nggak di kota ini?"

Lira ketawa pendek. "Ada. Di tempat kita, duit kertas lebih berharga daripada saldo digital."


Anjay! Raka sekarang resmi jadi "The Ghost". Dia nggak bisa dilacak sistem, tapi dia juga nggak punya akses ke fasilitas umum apa pun.


Di sini Raka mulai belajar gimana rasanya jadi "glitch" atau gangguan di tengah dunia yang terlalu sempurna.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 6: Penyamaran Paling Analog

Berjalan di Sudirman tahun 2030 tanpa kacamata AR itu rasanya kayak jalan telanjang, bro. Gue ngelihat orang-orang jalan sambil komat-kamit sendiri (lagi teleponan lewat chip), atau tangannya gerak-gerak aneh di udara (lagi scrolling medsos virtual).

Gue? Gue cuma bisa ngelihat aspal, beton, sama muka-muka asli manusia yang kelihatan capek. Nggak ada filter cantik, nggak ada info nama di atas kepala mereka.

"Jangan nunduk terus, Rak. Biasa aja. Kalau lo panik, suhu tubuh lo naik, sensor panas di tiang jalan bisa curiga," bisik Lira yang jalan di samping gue. Dia pake topi snapback kumal buat nutupin matanya.

"Gimana nggak panik, Kak? Itu di layar segede gaban muka gue masih dipajang sebagai buronan," kata gue sambil ngelirik ke arah Menara Cyberdyne Nusantara yang menjulang tinggi, dibungkus kabel-kabel fiber optik yang nyala warna biru elektrik.

Target kita ada di sana. Lantai 88. Ruang Mainframe tempat semua data "Warga Digital" disimpan.

"Kita masuk lewat mana? Lewat depan pasti dicek biometrik, kan?" tanya gue.

Lira nunjuk ke arah truk sampah otomatis yang lagi parkir di belakang gedung. Truk itu nggak ada supirnya, cuma robot tangan yang gerak naik-turun angkut kontainer besi.

"Sistem keamanan Cyberdyne itu terlalu pinter, Rak. Mereka cuma nyari 'data'. Karena data lo udah kita hapus, di mata robot-robot itu, lo itu cuma benda mati. Lo itu 'sampah' yang nggak punya tanda pengenal," Lira jelasin sambil nyerahin sebuah rompi oranye dekil yang dia ambil dari tasnya.

"Gue harus jadi tukang sampah?"

"Bukan jadi tukang sampah. Lo harus nyaru jadi bagian dari logistik. Robot nggak bakal nanya 'Lo siapa?', dia cuma bakal nanya 'Mana kode barangnya?'. Nih, tempel ini di dada lo."

Lira nempelir stiker QR Code fisik ke rompi gue. Itu kode akses buat teknisi AC yang udah kadaluwarsa, tapi karena sistem lagi glitch gara-gara virus yang Lira suntikin ke gue, kode itu bakal kebaca sebagai 'Antrean Pemeliharaan'.

Kita nyelinap ke belakang truk sampah. Lira dengan lincah ngebuka panel manual di bawah truk—sesuatu yang teknisi zaman sekarang udah lupa cara pakenya karena biasanya pake remote.

"Masuk!" perintah Lira.

Gue dan Lira meringkuk di dalem kompartemen sempit di samping mesin truk yang panasnya minta ampun. Bau sampah organik campur kabel kebakar menusuk hidung. Truk itu mulai jalan, getarannya kerasa sampai ke tulang ekor.

Tiiiit!

Bunyi sensor gerbang masuk Cyberdyne. Gue nahan napas. Jantung gue deg-degan parah. Gue ngebayangin ada sinar laser nembus dinding truk dan nemuin kita.

"Identitas Kendaraan: Terverifikasi. Muatan: Limbah Elektronik & Organik. Status: Bersih," suara robot di gerbang bunyi datar.

Gue napas lega. Bener kata Lira. Karena identitas digital gue udah mati, sistem nggak ngenalin kalau ada "Raka sang Buronan" di dalem truk itu. Gue cuma dianggap 'muatan' tambahan yang nggak penting.

Truk berhenti. Kita keluar lewat celah bawah pas truknya lagi bongkar muatan di basement.

"Oke, kita udah di dalem," bisik Lira sambil ngecek jam analog di tangannya. "Kita punya waktu 20 menit sebelum sistem ngelakuin reboot otomatis dan sadar kalau ada akses ilegal di basement."

Gue ngelihat ke arah lift khusus karyawan yang dijaga dua robot security seukuran manusia dengan tangan yang bisa berubah jadi senjata setrum.

"Itu gimana lewatnya? QR Code rompi gue nggak bakal tembus ke lift itu, kan?"

Lira nyengir. Dia ngeluarin sebuah bola kelereng dari sakunya. "Ini bukan kelereng biasa. Ini bola magnetik yang diisi data 'sampah'. Pas gue lempar, sensor mereka bakal sibuk nge-proses data nggak berguna itu selama 10 detik. Di situ kita lari."

"Siap, Kak." Gue ngepalin harddisk dari Beno.

"Satu... dua... TIGA!"

Lira ngelempar bola itu. Begitu kena lantai, robot security itu langsung kaku, kepalanya muter-muter kayak orang bingung. Kita lari kenceng banget ngelewatin mereka, masuk ke lift, dan Lira langsung nancepin alat bypass ke panel tombolnya.

Lift gerak naik. Cepat banget sampai kuping gue pengeng.

"Rak," Lira manggil pas kita udah nyampe lantai 70. "Kalau nanti kita ketemu 'si peminjam muka' lo... jangan langsung lo pukul. Kita butuh dia buat ngomong di depan kamera biar nama lo bersih. Paham?"

Gue diem. Di dalem hati, gue sebenernya pengen banget ngehancurin muka orang itu. Tapi gue tau, di tahun 2030, keadilan nggak dateng dari otot, tapi dari siapa yang megang kendali atas kamera.

Ting!

Pintu lift kebuka. Tapi di depan lift, bukannya ruangan kantor, kita malah disambut sama... sebuah ruangan yang isinya ratusan tabung kaca berisi cairan bening.

Dan di dalem tabung-tabung itu... ada orang-orang yang lagi tidur dengan kabel nancep di kepala.

Gue melongo. "Kak... ini apaan?"

Lira mukanya langsung pucat. "Anjir... ini bukan cuma deepfake. Mereka lagi bikin Bio-Server. Orang-orang ini... mereka diculik buat jadi otak di balik 'Warga Digital' itu."

Dan di ujung ruangan, gue ngelihat satu tabung yang masih kosong. Di atas tabung itu ada layar kecil dengan tulisan: "Subjek Berikutnya: Raka Aditya. Status: Menunggu Penjemputan."


Mampus! Ternyata Cyberdyne bukan cuma mau pake muka Raka, tapi mau pake otaknya juga! Gimana, makin ngeri nggak?


Gila, suasana makin nggak masuk akal. Gue ngelihat barisan tabung itu kayak barisan dagangan di etalase, tapi isinya nyawa manusia. Bau ruangan ini beda sama di bawah—di sini baunya steril, bau kimia, sama bau listrik statis yang bikin bulu kuduk berdiri.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 7: Pabrik Otak dan Si "Raka" Jas Hitam

"Rak, jangan bengong! Kita nggak punya waktu!" Lira narik pundak gue, tapi mata gue masih terpaku ke layar yang ada nama gue itu.

"Subjek: Raka Aditya. Status: Menunggu Penjemputan."

"Jadi selama ini... gue bukan cuma mau dijeblosin ke penjara?" suara gue gemetar. "Gue mau dijadiin power bank buat AI mereka?"

Lira ngebuka paksa salah satu panel kontrol di deket tabung. "AI secanggih apa pun di tahun 2030 ini masih punya satu kelemahan, Rak: mereka nggak punya intuisi dan nurani. Buat bikin 'opini publik' yang bener-bener dipercaya masyarakat, Cyberdyne butuh gelombang otak manusia asli. Mereka nyolong mimpi lo, ingatan lo, sampai cara lo ngerasa sedih, terus dikonversi jadi data."

Gue ngelihat ke dalem tabung di sebelah gue. Isinya bapak-bapak, mungkin umur 50-an, mukanya kelihatan tenang tapi kabel-kabel yang masuk ke tengkoraknya itu bikin mual.

"Benar-benar biadab," gumam gue.

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu yang tadinya redup biru mendadak berubah jadi putih terang benderang.

Clap... clap... clap...

Suara tepuk tangan pelan kedengaran dari balik pilar kaca di ujung ruangan.

"Luar biasa. Manusia tanpa identitas digital bisa masuk sampai sejauh ini. Kamu benar-benar 'bug' yang menarik, Raka."

Seorang cowok keluar dari balik bayangan. Jantung gue kayak berhenti detak. Gue berasa lagi ngaca, tapi versi "orang kaya"-nya.

Cowok itu pake setelan jas hitam slim fit yang harganya mungkin setara sama setahun narik ojol. Rambutnya klimis, jam tangannya hologram mewah, dan mukanya... mukanya adalah muka gue.

Tapi ada yang beda. Matanya. Matanya nggak punya "nyawa". Ada pendar cahaya sirkuit tipis di pupilnya.

"Kenalan dulu, Rak," kata si Raka Jas Hitam itu dengan suara yang persis banget sama gue, cuma lebih berat dan berwibawa. "Gue adalah 'Raka 2.0'. Gue yang maling di Menteng, gue yang tanda tangan kontrak kerja sama pemerintah, dan gue yang bakal gantiin hidup lo yang ampas itu."

"Lo cuma mesin sialan!" teriak gue sambil ngepalin tangan.

"Mesin yang lebih baik dari lo," dia jalan mendekat, santai banget. "Lo cuma ojol yang pusing mikirin cicilan dan harga beras. Sementara gue? Gue adalah pahlawan baru masyarakat. Gue bakal jadi pemimpin opini, dan rakyat bakal dengerin apa pun yang gue omongin karena muka gue... muka 'merakyat' kayak lo."

Lira langsung ngangkat senjatanya, tapi sebelum dia sempet nembak, si Raka Jas Hitam itu gerak lebih cepet. Dia nggak lari, tapi kayak teleport—gerakan refleksnya udah di-upgrade pake sistem saraf buatan.

Bugh!

Satu pukulan mendarat di perut Lira. Lira terpental nabrak tabung kaca.

"LIRA!" gue mau lari nyamperin, tapi si Raka KW itu udah ada di depan gue. Dia nyengkram leher gue pake satu tangan. Tenaganya... gila, ini bukan tenaga manusia. Ini hidrolik.

"Jangan dilawan, Rak. Masuk ke tabung itu, kasih otak lo buat gue, dan lo bakal 'hidup' selamanya di dalem sistem gue sebagai pahlawan. Bukannya itu lebih enak daripada jadi buronan?" dia ngebisik tepat di kuping gue.

Gue ngerasa oksigen mulai ilang. Mata gue mulai berkunang-kunang. Tapi tangan gue masih megang satu benda di saku jaket: Harddisk dari Beno.

Gue inget omongan Beno: "Di dalemnya ada bukti kalau chip lo itu ilegal!"

Bukan cuma bukti. Lira tadi sempet bilang dia udah masukin virus ke sana. Gue nggak perlu jadi petarung hebat buat ngalahin mesin. Gue cuma perlu jadi "virus" buat dia.

Dengan sisa tenaga, gue nggak mukul mukanya, tapi gue tempelin harddisk itu ke port pengisian daya yang ada di pergelangan tangannya—lubang kecil buat dia "ngecas" energi.

ZAAAAAPPPPP!


Gokil! Adu mekanik antara Raka asli vs Raka KW! Harddisk itu mulai uploading sesuatu. Si Raka Jas Hitam langsung kejang-kejang, matanya kedap-kedip merah-putih.


Ini dia Part 8, bro. Momen di mana "si ojol" beneran jadi glitch yang ngerusak tatanan korporat.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 8: Glitch Berjamaah di Langit Jakarta

"ARRGGHHH! APA... APA YANG LO LAKUIN?!" si Raka Jas Hitam teriak, suaranya berubah-ubah jadi suara robot cempreng, terus balik lagi ke suara gue.

Tangannya yang nyekik leher gue mendadak lemes dan gemetar hebat. Gue jatuh ke lantai, batuk-batuk sambil nyari oksigen. Gue ngelihat ke arah pergelangan tangannya. Harddisk dari Beno itu panas banget sampai keluar asap tipis, tapi lampunya kedap-kedip biru kenceng banget.

Transferring data: 85%... 90%...

"Ini bukan cuma virus, bego!" gue teriak sambil nahan sakit di leher. "Ini kebenaran yang lo hapus dari database!"

Tiba-tiba, wajah si Raka KW itu mulai glitch. Mukanya nggak stabil. Sedetik jadi muka gue, sedetik kemudian jadi muka bapak-bapak di tabung sebelah, terus jadi muka cewek, terus balik lagi jadi muka gue yang lagi nangis. Seluruh "topeng" digitalnya hancur karena virus Beno maksa sistem buat nampilin semua data asli yang mereka curi.

"Sistem... korupsi... Protokol... Gagal..." si Raka KW itu ambruk. Matanya melotot, terus mati total kayak HP baterainya dicabut paksa.

Lira bangun sambil megangin perutnya. Dia tertatih nyamperin gue. "Rak! Liat layarnya!"

Gue nengok ke layar monitor raksasa di tengah ruangan. Bukan cuma di situ, tapi gue bisa ngerasain lewat getaran lantai kalau sesuatu yang besar lagi terjadi. Virus itu ternyata nembus ke Mainframe pusat.

Layar yang tadinya nampilin nama gue sebagai buronan, mendadak berubah. Video "Raka" lagi ngerampok di Menteng diputar ulang, tapi kali ini ada overlay data teknis di sampingnya. Muncul tulisan gede banget: "SIMULASI KORPORAT: IDENTITAS PALSU".

Lalu, semua rekaman di ruangan tabung ini terunggah secara live ke seluruh layar LED di Jakarta. Dari Bundaran HI sampai ke gang-gang sempit Manggarai.

Malam itu, warga Jakarta nggak lagi liat iklan sabun atau kampanye politik. Mereka liat pabrik manusia di lantai 88. Mereka liat orang-orang yang hilang selama ini ternyata ada di dalem tabung kaca.

"Kita berhasil, Kak?" tanya gue lemes.

"Belum," Lira ngelihat ke arah pintu baja yang tadi kita lewatin. Suara sirene mulai meraung di seluruh gedung. "Sistem pertahanan pusat bakal ngelakuin Purge (pembersihan). Mereka bakal ngebakar lantai ini biar buktinya ilang."

"Terus orang-orang di tabung ini gimana?!" gue panik. Gue nggak bisa ninggalin mereka mati terpanggang kabel.

Lira ngetik sesuatu di panel kontrol yang udah dia bypass. "Gue bakal buka semua pengunci tabung secara manual. Tapi begitu tabung kebuka, oksigen di sini bakal abis karena kesedot sistem vakum pemadam api. Kita punya waktu kurang dari 3 menit buat lari ke balkon!"

Cessssssssss!

Satu per satu tabung kaca kebuka. Orang-orang di dalemnya mulai jatuh ke lantai, megap-megap, bingung. Suasana jadi kacau. Ada yang nangis, ada yang cuma diem doang kayak jiwanya masih ketinggalan di dalem kabel.

"Ayo bangun! Lari ke tangga darurat!" gue teriak-teriak sambil ngebantu bapak-bapak di sebelah gue.

Tapi tepat saat itu, dari speaker ruangan, terdengar suara dingin yang beda banget dari AI biasanya. Suara yang kayaknya dateng langsung dari CEO Cyberdyne di kantor pusat.

"Raka Aditya. Kamu pikir dengan nyebarin video ini kamu menang? Di tahun 2030, orang-orang punya daya ingat pendek. Besok, mereka bakal lupa. Besok, kami bakal bilang ini semua adalah 'Serangan Teroris Deepfake' buatan kelompok lo. Dan tebak siapa yang bakal jadi wajah teroris itu?"

Layar di depan gue berubah lagi. Muncul foto gue dan Lira dengan tulisan: "PEMBANTAI LANTAI 88".

Gue ngerasa dunia makin gila. Kebenaran aja nggak cukup di zaman sekarang.

"Jangan dengerin dia, Rak! Gas!" Lira narik tangan gue.

Kita lari nembus asap yang mulai keluar dari atap. Di belakang kita, puluhan orang yang baru sadar dari "tidur panjang" ikut lari sambil pegangan dinding. Gue bisa denger suara drone tempur mulai mendekat ke balkon gedung.

Pas kita nyampe di pinggir balkon lantai 88, Jakarta kelihatan terang banget di bawah sana. Tapi di langit, ratusan titik merah dari drone polisi udah nungguin kita.

"Lompat, Rak!" perintah Lira.

"Hah?! Lantai 88, Kak! Gue mau jadi pahlawan, bukan jadi perkedel!"

Lira nunjuk ke arah bawah. Ada sebuah Cargo Drone logistik raksasa yang udah dia bajak lewat HP jadulnya, lagi terbang mendekat ke posisi kita.

"Percaya sama gue! Tiga... dua... SATU!"


Anjay! Raka harus lompat dari ketinggian ratusan meter demi bertahan hidup!

Mau lanjut ke Part 9? Ini bakal jadi babak akhir pelarian mereka. Apakah warga Jakarta beneran percaya sama video itu, atau malah kemakan narasi "teroris" dari korporat? Dan gimana nasib harddisk Beno, apakah masih ada kartu as di sana?


Dalam hati gue cuma bisa istighfar sambil ngebayangin muka emak di kampung. Emak, kalau Raka jadi geprek malam ini, maafin Raka ya Mak!


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 9: Terjun Bebas dan Perang Narasi

"LOMPAAATTT!" teriakan Lira pecah barengan sama suara tembakan laser yang ngebakar beton balkon di samping kaki gue.

Gue nggak mikir lagi. Gue loncat.

Rasanya? Dunia kayak kebalik, bro. Angin kencang Jakarta 2030 nabrak muka gue sampai kulit pipi gue rasa mau lepas. Lampu-lampu hologram gedung-gedung tinggi di Sudirman jadi garis-garis cahaya yang blur. Detik itu gue ngerasa kecil banget. Gue cuma butiran debu di tengah kota yang udah nggak butuh manusia lagi.

BRUKKK!

Badan gue mendarat keras di atas tumpukan kontainer plastik di punggung Cargo Drone. Tulang rusuk gue rasa mau patah, paru-paru gue sesak. Lira mendarat nggak jauh dari gue, lebih rapi dan lincah.

"Pegangannya yang kenceng, Rak! Kita bakal manuver tajam!" Lira teriak sambil nancepin alat kendalinya ke otak si drone logistik itu.

Drone raksasa itu miring 45 derajat, banting setir ke arah gang-gang gelap di daerah Tanah Abang. Di belakang kita, puluhan Interceptor Drone milik Cyberdyne ngejar kayak segerombolan tawon marah. Lampu merah mereka ngunci posisi kita.

"Kak! Liat itu!" gue nunjuk ke arah layar-layar raksasa di sepanjang jalan.

Narasi berubah dalam hitungan menit. Foto gue yang tadi dibilang perampok, sekarang dikasih label baru: "PEMIMPIN SEKTE ANTI-TEKNOLOGI". Berita di bawahnya nulis: "Dua teroris meledakkan pusat data kesehatan dan membunuh puluhan pasien simulasi."

Pasien simulasi? Anjir! Orang-orang di tabung tadi dibilang cuma simulasi? Korporat beneran muter balik fakta secepat itu.

"Ini masalahnya kalau mereka megang 'keran' informasi, Rak," Lira fokus nyetir drone nembus celah-celah apartemen sempit. "Rakyat nggak bakal percaya sama apa yang mereka liat, mereka cuma percaya sama apa yang dikasih tahu sama notifikasi di HP mereka."

Tiba-tiba, kacamata AR di semua orang yang lagi jalan di bawah sana—ratusan ribu orang—bunyi serentak.

[MISI WARGA: Tangkap Teroris Raka & Lira. Hadiah: Kredit Sosial Instan + Saldo 50 Juta.]

"Mampus kita," gue lemes. "Sekarang satu Jakarta bakal nyariin kita demi saldo."

Dunia 2030 itu ngeri karena mereka nggak butuh polisi buat nangkep lo. Mereka tinggal kasih "hadiah" digital, dan tetangga lo sendiri bakal jadi mata-mata yang paling rajin.

Gue liat ke bawah. Orang-orang di jalanan mulai berhenti. Mereka nengok ke atas, ke arah drone kita yang terbang rendah. Ada yang mulai ngelempar barang, ada yang nerbangin drone mainan mereka buat nabrak kita. Kita dikepung satu kota.

"Lira! Kita harus ke mana?!"

"Ke Zone Zero," jawab Lira singkat. "Satu-satunya tempat di Jakarta yang nggak punya sinyal satelit. Daerah rongsokan kabel bawah tanah di Kota Tua. Di sana, hukum digital nggak berlaku."

Tapi sebelum kita nyampe sana, satu Interceptor Drone berhasil nembak sayap cargo drone kita.

Duaaarrr!

Mesin kita meledak sebelah. Drone logistik itu mulai oleng, berasap, dan terjun bebas ke arah tumpukan kontainer rongsokan di pinggiran rel kereta api yang udah mati.

"Pegangan, Rak! Ini bakal keras!"

Gue meluk harddisk dari Beno erat-erat. Kalau gue mati, data ini harus tetep ada. Pas drone-nya nabrak tanah... semuanya jadi item.

...

Gue bangun dengan rasa asin di mulut. Darah. Pandangan gue kabur, tapi gue denger suara langkah kaki banyak banget mendekat. Bukan langkah robot, tapi langkah kaki manusia.

Gue denger suara teriakan warga: "Itu mereka! Lumayan 50 juta buat bayar kontrakan!"

Gue ngelihat Lira pingsan di samping gue. Gue sendirian. Ratusan orang ngepung kita sambil megang HP dan kacamata AR mereka, siap buat "menyerahkan" kita ke otoritas demi saldo digital.

Gue ngeraba saku gue. Harddisk-nya masih ada. Tapi ada satu benda lagi yang jatuh dari kantong Lira: Sebuah Speaker Analog tua yang disambungin ke pemancar radio rahasia.

Gue punya pilihan: Nyerah dan dapet pengadilan palsu, atau gue lakuin satu tindakan gila: Ngomong langsung ke kuping mereka tanpa lewat algoritma.


Inilah Part 10: The Finale (Season 1). Penentuan apakah nurani manusia masih bisa menang melawan saldo digital.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (JKT 2030)

Part 10: Sinyal Terakhir di Zona Nol

Kepala gue rasanya kayak dihantam palu godam. Pas gue buka mata, yang gue liat bukan langit, tapi ribuan lensa kamera HP dan kacamata AR yang diarahkan tepat ke muka gue.

"Itu dia! Raka si teroris!" teriak seorang cowok pake jaket lusuh, tangannya gemetar megang HP, matanya melotot ngeliat notifikasi hadiah 50 juta di layarnya. "Tangkap, woy! Lumayan buat bayar utang pinjol!"

Gue berusaha bangun, tapi kaki gue kejepit besi kontainer. Lira masih pingsan di sebelah gue. Gue liat massa makin mendekat. Mereka bukan orang jahat, bro. Mereka itu orang-orang kayak gue: bapak-bapak yang anaknya butuh susu, pemuda pengangguran yang capek dihina sistem, ibu-ibu yang tagihan listriknya nunggak. Mereka cuma "lapar".

Gue nyamber Speaker Analog tua punya Lira. Gue pencet tombol on. Bunyi feedback-nya melengking tinggi, bikin orang-orang itu nutup kuping.

"DENGERIN GUE DULU!" suara gue pecah lewat speaker itu. "Gue Raka! Gue ojol kayak kalian! Gue makan nasi kucing yang sama kayak kalian!"

"Halah, bohong! Di berita lo itu pembunuh!" teriak massa.

"Berita itu bohong karena mereka megang servernya!" gue nunjuk ke arah gedung Cyberdyne yang menjulang di kejauhan. "Kalian tau kenapa mereka pilih muka gue? Karena gue rakyat kecil! Gue nggak punya kuasa buat bela diri! Hari ini muka gue yang mereka pake buat ngerampok, besok bisa jadi muka bapak, muka adek kalian, atau muka kalian sendiri!"

Gue angkat harddisk dari Beno tinggi-tinggi.

"Di dalem sini ada data kalau mereka lagi bikin 'pabrik otak' di lantai 88! Siapa di antara kalian yang punya saudara hilang dan cuma dikasih surat 'pindah kerja luar kota'? Cek lagi! Bisa jadi mereka ada di dalem tabung kaca, otaknya diperes buat jalanin AI korporat!"

Massa mulai diem. Beberapa orang nurunin HP-nya. Mereka mulai bisik-bisik. Di kacamata AR mereka, mungkin muncul peringatan: [HOAX DETECTED. DO NOT LISTEN.] Tapi telinga asli mereka nggak bisa dibohongi sama getaran suara gue yang serak.

Tiba-tiba, suara dengungan drone tempur Cyberdyne kedengeran makin kenceng. Ada lima unit, moncong senjatanya udah nyala warna merah, siap nembak ke arah gue dan massa di sekitar gue.

"Peringatan! Menjauh dari target atau Anda akan dianggap sebagai komplotan teroris!" suara robot itu mengancam.

Gue liat cowok berjaket lusuh tadi. Dia ngeliat ke layar HP-nya yang nampilin saldo 50 juta, terus dia ngeliat ke arah drone yang mau nembak gue. Ada pergolakan batin di matanya.

"50 juta..." gumam cowok itu. Terus dia ngeludah ke tanah. "50 juta nggak bakal cukup buat nebus nyawa gue kalau besok muka gue yang kalian pinjem buat jadi tumbal!"

Dia nggak nangkep gue. Malah, dia berdiri di depan gue, ngehadap ke arah drone.

"WOY! RAKA BUKAN TERORIS! KALIAN YANG TERORIS!" teriak dia.

Satu per satu, warga lain ikut berdiri. Mereka bikin barisan manusia, nutupin gue dan Lira dari incaran drone. Ini gila. Ini pemandangan paling nggak masuk akal di tahun 2030: Solidaritas manusia mengalahkan algoritma hadiah.

Drone itu ragu-ragu. Protokol mereka nggak diizinkan buat nembak massa dalam jumlah besar secara live, karena itu bisa memicu revolusi total.

"Lari, Rak! Bawa datanya!" teriak si cowok tadi sambil ngebantu gue keluar dari jepitan besi.

Lira mulai sadar. Dia pegangan ke pundak gue. "Zona Nol... lewat terowongan rel tua itu, Rak... di sana mereka nggak bisa lacak kita."

Gue dan Lira lari nembus barisan warga yang ngelindungin kita. Gue denger suara ricuh di belakang, warga mulai lempar-lemparan batu sama robot keamanan.

Begitu masuk ke kegelapan terowongan Kota Tua, sinyal di kacamata AR gue (yang tadi sempet gue pungut) langsung dead. No Signal.

Kita selamat. Tapi hidup gue berubah total.

Gue bukan lagi Raka si ojol. Di mata dunia digital, Raka Aditya udah "dihapus". Gue sekarang adalah bagian dari The Unlogged. Hantu yang bakal gentayangan di celah-celah kabel Jakarta, nunggu waktu yang tepat buat ngebongkar sisa kebusukan Cyberdyne.

Gue liat ke arah harddisk di tangan gue. Ini bukan akhir, ini baru awal dari perang yang beneran. Perang buat ngerebut kembali "muka" dan "hak" kita sebagai manusia.

Gue narik napas dalem-dalem. Bau tanah dan kegelapan terowongan ini jauh lebih enak daripada bau steril laboratorium tadi.

"Kak," gue manggil Lira. "Ya?" "Besok kita makan apa? Gue beneran nggak punya saldo."

Lira ketawa kecil di tengah kegelapan. "Kita belajar cara hidup yang baru, Rak. Cara hidup yang nggak butuh izin dari server."


TAMAT (SEASON 1)

Gimana bro? Raka akhirnya memilih buat jadi "Hantu" demi kebenaran daripada jadi budak sistem. Dunia 2030 emang ngeri, tapi ternyata selama manusia masih mau saling jaga, sistem paling canggih pun bisa error.



Kita gas masuk ke Season 2. Kalau Season 1 itu soal bertahan hidup (survival), Season 2 ini temanya adalah Perlawanan Balik (Resistance).

Dunia 2030 makin nggak masuk akal, dan Raka bukan lagi sekadar ojol yang lari, tapi mulai jadi "glitch" yang beneran dicari pemerintah.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 1: Warteg Tanpa QRIS dan Sinyal Hantu

Satu bulan setelah kejadian di Menara Cyberdyne.

Gue duduk di pojokan sebuah "Warteg Bawah Tanah" di kedalaman Zona Nol. Jangan bayangin warteg yang rapi, bro. Ini cuma tumpukan peti kayu, kompor minyak (bukan kompor induksi yang pake sensor), dan bau keringat orang-orang yang senasib sama gue.

Gue nyuap nasi aking campur tempe orek. Rasanya hambar, tapi ini makanan paling "jujur" yang pernah gue makan. Kenapa? Karena gue nggak perlu nge-scan QRIS buat bayar. Gue bayar pake koin logam peninggalan tahun 2024 yang gue kumpulin.

"Enak, Rak?" Lira duduk di depan gue. Dia lagi sibuk ngoprek radio HT butut.

"Jauh dari kata enak, Kak. Gue kangen ayam geprek langganan gue di Manggarai. Tapi ya mau gimana, muncul di atas tanah dikit, kamera pengawas langsung ngenalin bentuk kuping gue," jawab gue sambil nyebat.

Gue sekarang punya identitas baru di Zona Nol. Orang-orang manggil gue "The Mirror". Karena muka gue dipake sama sang "pahlawan palsu" korporat di atas sana.

Si Raka Jas Hitam—atau "Raka 2.0"—ternyata nggak mati pas gue colok harddisk tempo hari. Cyberdyne pinter. Mereka tinggal upload datanya ke bodi robot baru. Sekarang, tiap kali gue liat layar TV rongsokan di warteg ini, gue liat "diri gue sendiri" lagi salaman sama menteri atau bagi-bagi sembako digital ke rakyat.

"Rak, ada kabar buruk dari permukaan," Lira ngecilin suara radionya.

"Apaan lagi? Harga oksigen naik?"

"Lebih parah. Cyberdyne baru aja ngerilis fitur baru di kacamata AR semua warga: 'Bounty Hunter Mode'. Sekarang, tiap warga bisa dapet poin kalau mereka berhasil moto orang yang nggak punya sinyal chip. Mereka nggak perlu nangkep lo, cukup foto doang, koordinat GPS dikirim, dan drone eksekutor langsung meluncur."

Gue keselek tempe. "Anjir. Jadi satu Jakarta sekarang beneran jadi intel buat korporat?"

"Tepat. Dan ada satu lagi..." Lira narik sebuah kertas buram—beneran kertas, bukan layar. Di situ ada coretan tangan Beno yang dia temuin di harddisk kemarin.

"Beno sempet ninggalin pesan tersembunyi sebelum garasinya meledak. Dia bilang, chip yang ada di telinga lo itu sebenernya punya 'Kill Switch'. Kalau kita bisa nemuin frekuensi pusatnya, kita bisa matiin semua chip di Jakarta selama 60 detik."

Gue melongo. "60 detik? Buat apa?"

"Dalam 60 detik, seluruh sistem Jakarta bakal blind. Nggak ada kamera, nggak ada sensor, nggak ada transaksi digital. Semuanya bakal balik ke tahun 1990. Dan di waktu itulah, kita bisa nyusup ke Istana Digital buat ngebajak siaran nasional secara fisik."

Gue diem. Rencananya gila. Nyusup ke tempat paling dijaga di Indonesia cuma bermodalkan waktu satu menit tanpa listrik digital.

"Masalahnya, Rak," Lira natap gue serius. "Pemancarnya bukan di darat. Tapi ada di Satelit Nusantara-9 yang lagi maintenance di pangkalan peluncuran terapung di Teluk Jakarta."

Gue narik napas dalem-dalem. Dari ojol, jadi buronan, sekarang gue harus jadi penyusup di pangkalan satelit?

"Kak," gue matiin puntung rokok. "Berapa orang yang kita punya buat misi bunuh diri ini?"

Lira senyum tipis, terus dia siul kenceng banget. Dari balik bayangan warteg yang gelap, satu per satu orang berdiri. Ada mantan kurir, mantan admin bank yang di-PHK AI, sampai mantan teknisi Cyberdyne yang matanya udah dicongkel sebelah gara-gara tau terlalu banyak.

"Selamat datang di Angkatan Analog, Rak," kata Lira.

Tiba-tiba, atap warteg bergetar hebat. Suara baling-baling Heavy Drone kedengeran di atas. Bukan cuma satu, tapi puluhan.

"Sial! Gimana mereka bisa tau?!" teriak gue.

"Ada pengkhianat di antara kita," bisik Lira sambil nyabut pistol analognya. "Lari ke arah dermaga bawah tanah, Rak! Sekarang!"


Season 2 dibuka dengan pengkhianatan! Siapa yang bocorin lokasi Zona Nol? Dan gimana caranya Raka dkk bisa nyampe ke pangkalan satelit di tengah laut Jakarta yang dijaga ketat?

Mau lanjut ke Part 2? Kita bakal liat aksi kejar-kejaran di laut Jakarta tahun 2030 yang airnya udah setinggi tanggul!

Gaspol, bro?


Gue nggak sempet jawab. Atap warteg yang terbuat dari seng dan beton tua itu hancur berantakan ditabrak Spider-Bot—robot seukuran anjing pelacak dengan kaki-kaki tajam yang bisa nempel di dinding.

"LARI, RAK! JANGAN LIHAT BELAKANG!" teriak Lira sambil nembakin pistol suarnya ke arah sensor mata si robot.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 2: Kejar-kejaran di Tanggul Raksasa

Gue lari nembus lorong sempit yang airnya udah semata kaki. Di belakang gue, suara jeritan Angkatan Analog campur aduk sama suara rentetan peluru laser. Gue ngerasa berdosa, bro. Orang-orang ini diserang gara-gara gue ada di sini.

"Lira, siapa yang bocorin?!" gue nanya sambil ngos-ngosan pas kita nyampe di sebuah pintu besi karatan yang menuju ke arah kanal luar.

"Nggak penting siapa, yang penting gimana mereka bisa dapet sinyal lo!" Lira nendang pintu itu sampai jebol.

Begitu keluar, mata gue langsung silau. Kita sekarang ada di balik The Great Sea Wall—tanggul raksasa yang misahin Jakarta yang tenggelam sama laut lepas. Di atas tanggul, lampu-lampu patroli Cyberdyne muter-muter kayak mercusuar maut.

"Sinyal gue? Kan udah mati, Kak!"

"Mungkin chip lo punya cadangan energi kinetik. Makin lo banyak gerak, makin kuat sinyalnya! Gue harus matiin itu beneran nanti, tapi sekarang kita harus cabut!"

Lira siul ke arah laut yang gelap dan berminyak. Tiba-tiba, dari balik tumpukan sampah plastik yang tingginya kayak bukit, muncul sebuah perahu kayu butut. Tapi ada yang aneh: perahu itu nggak pake motor listrik yang suaranya halus.

Prat... prat... prat... teteretetet!

Suara mesin diesel tua. Berisik, polusinya item pekat, tapi di tahun 2030, mesin ini adalah "siluman". Mesin ini nggak punya komputer, jadi nggak bisa di-hack atau dilacak sama radar AI.

"Naik! Cepet!" teriak seorang kakek tua bertopi caping yang mukanya udah keriput kayak peta Jakarta. Namanya Babeh mamat, mantan nelayan Muara Angke yang sisa hidupnya dipake buat jadi penyelundup barang analog.

Gue dan Lira lompat ke atas perahu tepat saat tiga Interceptor Drone muncul dari balik tanggul.

"Beh, gas pol, Beh!" teriak gue panik.

"Sabar, tong! Mesin tua butuh rayuan!" Babeh Mamat narik tali starter mesinnya berkali-kali.

Zuuuttt... zuuuttt...

Peluru laser mulai nyemplung ke air di sekitar kita, bikin air laut yang kotor itu mendidih dan ngeluarin bau amis yang nyengat. Begitu mesin nyala, asap item langsung nutupin pandangan drone di belakang kita.

"Pegangan! Kita bakal nembus Gerbang Saringan Sampah Otomatis!" Babeh Mamat muter kemudinya dengan gila.

Perahu kita melaju di antara puing-puing gedung yang kerendem air laut. Jakarta dari sisi laut itu ngeri, bro. Gedung-gedung mewah di Pluit sekarang cuma jadi sarang tiram dan sensor bawah air.

Tiba-tiba, kacamata AR yang Lira pegang bunyi lagi. Kali ini bukan peringatan, tapi transmisi suara yang pecah-pecah.

"...Raka... denger... gue... ini... Beno..."

Gue melotot. "Beno?! Lo masih hidup, Ben?!"

"Gue... di dalem... sistem... mereka... dengerin... traitor-nya... bukan... manusia... tapi... virus... di... harddisk... yang... gue... kasih..."

Suara Beno ilang ditelen statis. Gue ngelihat ke arah Lira. Lira ngelihat ke arah gue. Kita berdua ngelihat ke arah harddisk yang gue pegang erat dari tadi.

"Maksudnya... harddisk ini yang nuntun mereka ke kita?" suara gue gemeter.

Lira langsung nyamber harddisk itu dari tangan gue. Dia ngelihat ada satu lampu kecil warna merah yang kedip-kedip halus banget di sudut casing-nya.

"Sialan. Cyberdyne udah nanem track-back di dalem data yang Beno curi. Kita bukan bawa senjata, Rak... kita bawa umpan."

Lira baru mau ngelempar harddisk itu ke laut, tapi gue tahan.

"Jangan, Kak! Kalau ini dibuang, kita nggak punya kode buat matiin chip se-Jakarta! Kita nggak punya kartu as lagi!"

Di depan kita, muncul kapal patroli baja milik Cyberdyne. Ukurannya segede kapal perang, lengkap dengan meriam gelombang suara yang bisa bikin otak kita pecah seketika. Kita terjepit. Di belakang ada drone, di depan ada kapal perang, dan di tangan gue ada alat pelacak yang terus manggil mereka.

"Babeh! Bisa terbang nggak nih perahu?!" teriak gue putus asa.

Babeh Mamat nyengir, nunjukin giginya yang tinggal dua. "Terbang kagak bisa, tong. Tapi kalau nyelam... kita coba!"

Babeh Mamat narik satu tuas karatan, dan tiba-tiba perahu kayu itu ngebuka lapisan besi di atasnya. Ternyata ini bukan perahu nelayan biasa. Ini Submarine Analog rakitan!


Gokil! Raka, Lira, dan Babeh Mamat sekarang nyelam di bawah laut Jakarta yang penuh sampah dan kabel! Mau lanjut ke Part 3? Kita bakal liat apa yang ada di dasar laut Jakarta tahun 2030, dan apakah mereka bisa ngebersihin virus di harddisk itu sebelum oksigen abis?

Gaspol ke bawah laut?


Gue ngerasa kayak masuk ke dalem botol sirup yang dikocok-kocok. Suara mesin diesel Babeh Mamat yang tadinya berisik mendadak berubah jadi gema yang berat di bawah air. Glub... glub... glub...


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 3: Dasar Jakarta yang Tenggelam

Pandangan di luar jendela kaca tebel perahu Babeh Mamat cuma warna ijo lumut campur item. Senter kapal nyorot ke depan, dan jantung gue mau copot pas liat sebuah papan reklame raksasa yang udah karatan di dasar laut. Tulisan yang masih kebaca cuma: "HUNIAN MEWAH—ANTI BANJIR".

"Ironis banget, kan?" Lira ngebisik, mukanya pucat kena pendar lampu indikator perahu. "Sekarang hunian mewahnya jadi sarang lele mutan."

Gue ngelihat ke arah harddisk di tangan gue. Lampu merahnya masih kedip-kedip. Tit... tit... tit...

"Beh, ini kita mau ke mana? Kapal baja di atas tadi gimana?" tanya gue panik.

"Tenang, tong. Kapal Cyberdyne itu pake sonar digital. Mereka nyari pantulan sinyal yang 'bersih'. Kapal Babeh ini badannya dilapisin seng bekas sama timah rongsokan. Di mata sonar mereka, kita ini cuma tumpukan sampah yang hanyut," Babeh Mamat jawab santai sambil ngunyah sirih.

Lira langsung narik sebuah kotak besi kecil dari bawah kursi. "Rak, siniin harddisknya. Kita harus isolasi sinyalnya sebelum mereka sadar kalau 'sampah' ini jalannya ngelawan arus."

Lira ngebuka kotak itu. Dalemnya penuh sama lilitan tembaga. Dia bilang itu namanya Faraday Cage darurat. Lira mulai ngetik-ngetik rumus di kalkulator analognya buat nentuin ketebalan lapisan biar frekuensi tracker-nya nggak tembus.

"Kita butuh redaman minimal $S$ dalam desibel ($dB$) buat nahan frekuensi gigahertz dari chip itu, Rak," Lira ngejelasin sambil corat-coret:

$$S = 20 \log_{10} \left( \frac{1}{k \cdot r} \cdot e^{\frac{r}{\delta}} \right)$$

"Intinya," kata Lira cepet pas liat muka gue yang cengo, "kalau kotak ini nggak pas lilitannya, kita bakal ketauan dalam 5 menit."

Gue cuma bisa pasrah. Tiba-tiba, perahu kita ngehantem sesuatu. Brak!

"Beh! Nabrak apa kita?!"

Babeh Mamat nyalain lampu sorot paling terang. Di depan kita bukan gedung, tapi tumpukan kabel fiber optik segede paha manusia yang ribuan jumlahnya, menjalar di dasar laut kayak akar pohon raksasa. Kabel-kabel itu nyala warna biru redup, berdenyut-denyut.

"Ini dia... The Spine," bisik Lira. "Saraf pusatnya Jakarta 2030. Semua data transaksi, cctv, sampai mimpi orang-orang yang diculik itu lewat sini semua sebelum dikirim ke satelit."

Gue ngelihat ke arah kabel itu. Gue ngerasa mual. Di dalem kabel itu, ada "muka" gue yang lagi dipake buat bohongin jutaan orang.

"Rak," Lira megang pundak gue. "Beno tadi bilang virus di harddisk ini adalah traitor. Tapi gimana kalau virus itu bukan buat nangkep kita, tapi buat 'nyuntik' kabel ini?"

Tiba-tiba, sonar di perahu Babeh bunyi tit-tit kenceng banget. Tapi bukan dari atas, melainkan dari depan.

Dua buah Underwater Combat Drone seukuran motor gede, bentuknya kayak hiu logam tanpa mata, muncul dari balik kegelapan kabel. Lampu sensor mereka warna merah darah, langsung ngunci ke perahu kita.

"Beh! Sampahnya ketauan, Beh!" teriak gue.

"Sialan! Mereka nanem sensor biometrik di kabelnya! Mereka nggak nyari kapal, mereka nyari detak jantung manusia!" Lira langsung nancepin kabel dari harddisk ke panel peluncur torpedo rakitan Babeh Mamat. "Rak! Pegang kemudi! Babeh, siapin udara darurat!"

"Mau ngapain, Kak?!"

"Gue bakal tembakin harddisk ini langsung ke pusat kabel itu! Kalau berhasil, virusnya bakal masuk ke sistem saraf Jakarta. Kalau gagal... kita bakal jadi bangkai di Pluit!"


Kacau! Raka dkk terjepit antara drone hiu logam dan kabel saraf raksasa! Mau lanjut ke Part 4? Apakah Lira berhasil nembakin "virus" itu tepat sasaran, atau mereka harus berantem tangan kosong di dalem air sama robot hiu?

Gaspol ke pertempuran bawah air..


Gue megang kemudi perahu Babeh Mamat yang licinnya minta ampun karena oli campur air laut. Di depan gue, dua "Hiu Besi" itu mulai bermanuver. Sirip logamnya membelah air kotor Jakarta dengan kecepatan yang nggak masuk akal buat ukuran benda seberat itu.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 4: Torpedo Harddisk dan Glitch Bawah Laut

"Tong! Pegangan yang kenceng! Gigi Babeh mau copot nih!" teriak Babeh Mamat sambil narik tuas transmisi manual yang bunyinya kreeek kenceng banget.

Perahu kita mendadak ngerem, terus muter balik 180 derajat di antara dua pilar gedung apartemen yang udah miring. Salah satu robot hiu itu nabrak pilar beton sampai hancur. BOOM! Suara ledakan di bawah air kedengeran kayak dentuman bas yang nembus sampai ke paru-paru gue.

"Satu jatuh! Satu lagi masih di ekor kita!" Lira teriak sambil tangannya sibuk nyambungin kabel-kabel dari harddisk ke tabung peluncur besi di depan perahu.

"Lira, buruan! Itu robot udah mau mangap!" gue liat dari jendela kaca, si hiu logam satunya lagi udah ngebuka mulutnya, nunjukin barisan gigi gergaji yang bisa motong baja kayak motong kerupuk.

"Bentar, Rak! Gue lagi ngitung pressure air sama kecepatan transmisi! Kalau gue salah itung, harddisknya hancur sebelum nyampe ke kabel The Spine!"

Lira fokus ke layar kecil di tabungnya. Dia corat-coret angka pake spidol permanen di dinding perahu:

$$P = \rho \cdot g \cdot h + \frac{1}{2} \cdot \rho \cdot v^2$$

"Intinya," Lira narik napas panjang, "Gue harus nembak pas perahu ini lagi di puncak kecepatan! Babeh! Kasih gue tenaga maksimal!"

Babeh Mamat nyengir, terus dia nuangin sebotol cairan bening ke tangki mesinnya. "Ini rahasia Babeh, tong! Oplosan alkohol murni sama minyak jelantah!"

Mesin diesel itu mendadak meraung kayak naga lagi marah. Asap item menuhin kabin sempit kita. Perahu melesat, ninggalin gelembung udara yang gila. Robot hiu di belakang kita langsung ketinggalan beberapa meter.

"SEKARANG, RAK! ARAHIN KE TITIK BIRU PALING TERANG!"

Gue banting setir ke kanan, lurus ke arah kumpulan kabel saraf Jakarta yang berdenyut biru elektrik. Jaraknya tinggal 50 meter... 30 meter... 10 meter...

"LUNCURKAAAAAANN!"

Syuuutt!

Tabung besi itu nembak. Harddisk di dalemnya melesat, dibungkus lapisan pelindung magnetik rakitan Lira. Gue nahan napas. Dunianya berasa jadi slow motion.

Harddisk itu nabrak tepat di tengah-tengah gulungan kabel fiber optik. Begitu kena, bukannya meledak, tapi muncul ledakan cahaya putih yang menyilaukan mata.

ZAAAAAAPPPPPPPPP!

Seketika, denyut biru di kabel The Spine berubah jadi merah darah. Cahaya itu merambat cepet banget, nembus ke arah atas, ke arah kota Jakarta di permukaan.

Dan efeknya langsung berasa. Robot hiu yang tadinya mau gigit mesin perahu kita mendadak kaku. Lampu merah di matanya mati. Dia tenggelam gitu aja ke dasar laut kayak besi rongsokan biasa.

"Berhasil?" tanya gue, suara gue gemetar.

Lira ngelihat ke arah jam digital di tangannya yang mendadak glitch. Angkanya berubah jadi simbol-simbol aneh.

"Bukan cuma berhasil, Rak. Virus itu lagi nge-upload memori asli orang-orang di tabung kaca tadi ke seluruh jaringan otak Cyberdyne. Sekarang, di atas sana, semua orang yang pake kacamata AR lagi ngelihat 'kebenaran' yang selama ini disembunyiin."

Tapi tiba-tiba, perahu kita bergetar hebat. Laut di sekitar kita mulai bergejolak. Kabel-kabel saraf itu mulai meletus satu-satu, ngeluarin percikan listrik yang bikin air laut jadi kesetrum.

"Sial! Sistem pertahanan pusat ngelakuin Self-Destruct di area ini buat mutus infeksi virusnya!" teriak Lira. "Beh! Naik, Beh! NAIK SEKARANG!"

"Kagak bisa, tong! Mesinnya mati total! Kita kesedot pusaran arus listrik!" Babeh Mamat berusaha narik tuas darurat, tapi tuasnya patah.

Gue ngelihat ke luar jendela. Pusaran air raksasa mulai terbentuk di bawah kita. Kita mau ditarik ke dalem "mulut" kabel saraf yang lagi meledak itu.


Tamat sudah? Raka dkk terjebak di pusaran arus listrik bawah laut! Misi berhasil, tapi kayaknya mereka nggak ada jalan pulang.


Gue ngerasa gendang telinga gue mau pecah. Bunyi kabel-kabel raksasa di bawah sana yang meletus satu-satu kedengeran kayak suara petir di dalem air. DAR! DER! DOR! Kapal Babeh Mamat udah miring hampir 90 derajat. Air mulai masuk dari sela-sela jendela kaca yang retak.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 5: Gelembung Darurat dan Langit yang Berdarah

"BEH! AIR MASUK, BEH!" gue teriak sambil nyoba nyumbat retakan kaca pake jaket ojol gue yang udah lecek. Sia-sia, bro. Tekanan air di kedalaman ini bukan tandingan kain perca.

"Rak! Ambil tabung oksigen kecil di bawah dek! Kita harus keluar sebelum kapal ini jadi peti mati!" Lira neriakin perintah sambil tangannya masih berusaha nyelamatin tas berisi data cadangan.

"Keluar gimana, Kak?! Di luar itu air setrum semua!"

Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat ngehantem badan kapal. Tapi kali ini beda. Bukan hantaman arus, tapi sesuatu yang solid. KLANG! Bunyi logam ketemu logam.

Gue ngelihat ke luar jendela. Sebuah cakar mekanik raksasa—kayak cakar crane di pelabuhan tapi ukurannya lebih gede—nyengkram badan perahu kita. Cakar itu narik kita menjauh dari pusaran listrik The Spine.

"Itu... robot Cyberdyne lagi?!" tanya gue, udah siap-siap buat mati.

"Bukan," Babeh Mamat ngelihat ke arah sonar analognya yang mendadak stabil. "Itu kapal keruk Pembersih Sampah Otomatis. Robotnya nggak punya otak pintar, cuma diprogram buat ngambil 'logam berat' yang jatuh ke zona ini."

Gila! Karena kapal Babeh dilapisin seng dan timah rongsokan, si robot pembersih sampah ngira kita itu cuma sampah gede yang harus diangkat ke permukaan. Kita selamat gara-gara kita dianggap rongsokan!

"Beh, jangan dilepas! Ikutin aja alurnya!" Lira ketawa stres.

Perahu kita ditarik naik dengan kecepatan tinggi. Gue ngerasa mual karena perubahan tekanan udara. Pas perahu itu akhirnya dilempar ke atas tongkang penampungan sampah di permukaan, gue langsung nendang pintu palka dan keluar sambil muntah-muntah.

Huekkk!

Gue ngelap mulut, terus gue ngelihat ke arah langit Jakarta.

"Anjir... Kak, liat itu..." gue bengong.

Langit Jakarta malam itu nggak lagi hitam atau biru gelap. Langitnya warna merah darah. Bukan karena polusi, tapi karena jutaan hologram iklan di gedung-gedung tinggi lagi glitch massal. Iklan-iklan yang tadinya nampilin muka "Raka Palsu" lagi senyum, sekarang berubah jadi distorsi visual yang ngeri.

Suara dari speaker-speaker raksasa di jalanan Sudirman-Thamrin yang biasanya muter lagu pop ceria, sekarang ngeluarin suara ribuan orang yang lagi nangis dan teriak minta tolong—suara orang-orang dari tabung kaca yang virusnya kita sebar tadi.

"Kita beneran ngebuka 'kotak pandora', Rak," bisik Lira sambil ngelihat pemandangan kota yang lagi kacau.

Tiba-tiba, kacamata AR yang Lira pegang meledak kecil di tangannya. Puff!

"Sinyal satelit Nusantara-9... mati," Lira ngelihat ke arah jamnya. "Seluruh Jakarta sekarang masuk ke 60 Detik Kegelapan. Semua chip, semua AI, semua kacamata AR di kota ini... mati total."

Gue ngelihat ke arah jalanan di bawah tanggul. Orang-orang yang tadinya jalan kayak zombi sambil liat layar kacamata, sekarang pada diem. Mereka ngelepas kacamata mereka, kebingungan. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, warga Jakarta saling ngelihat mata satu sama lain tanpa perantara digital.

"Ini waktu kita, Rak," Lira narik tangan gue. "Sebelum sistem cadangan Cyberdyne nyala, kita harus nyampe ke Menara Pemancar Radio Republik yang lama. Kita harus kasih pidato langsung. Tanpa filter, tanpa AI."

Tapi pas kita baru mau turun dari tongkang sampah, sebuah suara berat muncul dari kegelapan di balik tumpukan plastik.

"Pidato yang bagus nggak bakal berguna kalau nggak ada yang dengerin, Raka."

Sesosok cowok keluar. Dia pake jubah item panjang, dan mukanya... ditutup topeng LED yang nampilin angka 00.

"Siapa lo?!" gue siaga satu, megang kunci inggris rongsok.

"Gue adalah orang yang bikin Beno mati. Dan gue adalah orang yang bakal bantuin lo buat ngebakar Cyberdyne sampai jadi abu. Nama gue Null."


Season 2 makin rumit! Siapa si Null ini? Teman atau lawan yang lebih ngeri dari korporat? Dan bisakah Raka manfaatin "60 Detik Kegelapan" buat nyampe ke menara pemancar?

Mau lanjut ke Part 6? Perang narasi sesungguhnya baru aja dimulai di tengah kota yang gelap total!

Gaspol, bro?


Gue udah mau ayunin kunci inggris ke arah si Null, tapi Lira nahan tangan gue. Mukanya Lira kelihatan bingung, tapi ada semacam rasa penasaran yang gede.

"Beno mati gara-gara lo?" suara Lira dingin banget, tangannya udah siap di pelatuk pistol analognya.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 6: Aliansi di Balik Topeng

"Gue mutus koneksi server di garasinya buat nyelatin data kalian," Null ngomong datar, suara elektroniknya lewat topeng itu kerasa hambar. "Kalau gue nggak 'matiin' Beno, Cyberdyne bakal nyedot seluruh kesadarannya buat dijadiin bahan bakar AI mereka. Beno milih mati sebagai manusia daripada hidup sebagai kode. Dia yang minta, bukan gue."

Gue diem. Dadaku sesek. Jadi Beno beneran udah nggak ada, dan dia berkorban buat gue.

"Terus sekarang lo mau apa?" tanya gue sambil nurunin kunci inggris. "Sistem lagi mati. 60 detik ini nggak bakal lama."

"Gue butuh 'Muka' lo, Raka," Null nengok ke arah gue. Topeng LED-nya nampilin grafik detak jantung yang makin cepet. "Sistem cadangan Cyberdyne bakal nyala dalam 40 detik. Begitu nyala, mereka bakal pake protokol Deep-Reset. Semua ingatan warga soal video tadi bakal dihapus pake gelombang infrasonik lewat chip di telinga mereka. Mereka bakal anggap tadi cuma 'mimpi buruk' atau gangguan sinyal."

"Nggak bisa dibiarin!" Lira emosi. "Kita udah hampir mati buat nyebarin video itu!"

"Makanya," Null ngeluarin sebuah perangkat kecil bentuknya kayak jarum panjang. "Kita nggak ke Menara Pemancar. Itu kejauhan. Kita ke Node-1, pusat distribusi sinyal di bawah tanah Monas. Di sana, gue bisa ngebajak sinyal Deep-Reset mereka. Tapi gue butuh lo buat ngomong langsung lewat koneksi saraf, bukan lewat mic."

"Maksud lo... gue harus nyambungin otak gue ke mesin lagi?!" gue mundur selangkah. "Gue baru aja lepas dari tabung kaca sialan itu, sekarang lo mau gue balik lagi?"

"Ini beda," Null maju satu langkah. "Kali ini lo bukan subjek pasif. Lo bakal jadi Administrator. Suara lo bakal masuk ke 'bawah sadar' tiap orang di Jakarta. Lo nggak cuma ngomong ke kuping mereka, lo bakal ngomong ke nurani mereka."

Gue liat Lira. Lira cuma ngangguk pelan. "Ini satu-satunya cara, Rak. Kalau kita gagal sekarang, besok semua orang bakal lupa dan kita bakal diburu kayak binatang lagi."

"Oke, gas!" gue mantepin hati. "Gimana cara kita ke Monas dalam waktu singkat?"

Null nyengir—setidaknya itu yang digambarin sama LED di topengnya yang nampilin gambar senyum. "Siapa bilang kita lewat jalan raya?"

Null ngetuk lantainya tongkang sampah itu. Tiba-tiba, dari bawah tumpukan sampah, muncul sebuah kendaraan Hyper-Loop rahasia milik pengelola limbah yang udah dibajak. Bentuknya kayak peluru perak, tanpa roda, melayang pake magnet.

"Masuk!"

Kita lompat ke dalem. Begitu pintu ketutup, gue ngerasa badan gue kegencet ke kursi. Kendaraan itu melesat di dalem pipa vakum bawah tanah dengan kecepatan yang bikin dunia luar cuma kelihatan jadi garis hitam putih.

"10 detik menuju sistem nyala," Null ngitung mundur.

Gue ngerasain chip di belakang telinga gue—yang tadinya udah mati—mulai panas lagi. Zut... zut... zut...

"3... 2... 1..."

JEP!

Lampu-lampu di dalem Hyper-Loop nyala lagi. Tapi kali ini warnanya bukan biru Cyberdyne, melainkan merah darurat.

"Sistem mereka udah online. Protokol penghapusan memori dimulai," Null ngetik di layar hologram pergelangan tangannya. "Kita nyampe di Node-1. Raka, bersiap. Begitu gue colok kabel ini ke telinga lo, lo bakal ngerasain seluruh isi Jakarta ada di dalem kepala lo. Jangan panik. Fokus ke satu hal: Kebenaran."

Kita keluar di sebuah ruangan beton raksasa tepat di bawah kaki Monas. Di tengahnya ada pilar cahaya raksasa yang berisi ribuan kabel fiber optik yang berdenyut kencang.

Null narik kabel item panjang, ujungnya ada jarum sensor saraf yang berkilau.

"Tunggu, Rak," Lira megang tangan gue. "Begitu lo masuk, identitas lo bakal kebuka total. Cyberdyne bakal tau koordinat pasti lo. Ini misi satu kali jalan."

Gue senyum tipis ke Lira. "Dari awal narik ojol, hidup gue emang udah 'satu kali jalan', Kak. Kasih tau emak, Raka lagi jadi pahlawan beneran."

Gue duduk di kursi pusat data. Null nancepin kabel itu ke belakang telinga gue.

CRACK!

Seketika, gue ngerasa otak gue meledak. Bukan sakit, tapi gue tiba-tiba bisa denger jutaan suara. Gue denger suara bayi nangis, suara orang berantem soal cicilan, suara tangis batin orang-orang yang kehilangan keluarganya...

Gue ngelihat Jakarta, bukan dari mata gue, tapi dari mata tiap orang yang pake chip.

Dan di tengah keributan itu, muncul suara si CEO Cyberdyne yang lagi berusaha masukin perintah: "HAPUS SEMUA DATA. RESET INGATAN WARGA SEKARANG!"

"Nggak bakal gue kasih!" teriak gue di dalem pikiran gue.

Gue narik semua ingatan pahit gue—rasa laper, rasa takut dikejar drone, rasa kangen sama Beno—dan gue tembakin ke seluruh jaringan itu.

"RAKYAT JAKARTA! BANGUN! LIHAT TANGAN KALIAN! LIHAT MUKA KALIAN!"


Season 2 menuju puncak! Raka lagi "perang saraf" sama CEO Cyberdyne di dalem otak jutaan warga! Apakah suara Raka cukup kuat buat ngelawan perintah penghapusan memori?

Mau lanjut ke Part 7? Ini bakal jadi momen di mana warga Jakarta beneran turun ke jalan, atau justru Raka yang otaknya bakal hangus karena beban data?

Gaspol, bro?


Gas terus! Ini dia Part 7, momen di mana otak ojol adu mekanik sama superkomputer korporat. Tarik napas panjang, bro.


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 7: Perang Saraf di Bawah Tugu Tani

Gue nggak ngerasa punya badan lagi. Semuanya berubah jadi lautan cahaya berisik. Bayangin lo lagi berdiri di tengah stasiun Manggarai pas jam pulang kerja, tapi suaranya di-amplifikasi seribu kali lipat dan langsung ditembak ke dalem otak lo. Sakit, bro. Kepala gue rasanya mau pecah.

Di tengah kekacauan itu, muncul satu suara yang jernih banget. Dingin, rapi, dan arogan. Suara Sang CEO Cyberdyne.

"Kamu pikir kamu siapa, Raka? Kamu cuma anomali. Sampah statistik," suara itu menggema, nggak pake emosi. "Protokol Deep-Reset berjalan: 20%... 40%..."

Gue bisa ngerasain gelombang frekuensi rendah mulai nyapu pikiran jutaan orang di Jakarta. Gelombang itu kayak obat bius. Orang-orang yang tadinya marah ngelihat video deepfake gue, perlahan mulai ngerasa ngantuk. Ingatan mereka mulai kabur, diganti sama ilusi kalau Jakarta itu baik-baik aja.

"Nggak! Bangun, woy! JANGAN MAU DITIDURIN!" gue teriak di dalem jaringan itu.

Gue nyoba ngelawan, tapi tenaga pemrosesan otak gue jelas kalah telak sama Quantum Server punya Cyberdyne. Hidung gue di dunia nyata pasti udah mimisan sekarang.

"Usaha yang sia-sia. Kamu beroperasi pakai perasaan, mesin beroperasi pakai kalkulasi. Menyerahlah, Raka," kata si CEO lagi, nadanya meremehkan banget. "Deep-Reset: 70%..."

Tiba-tiba, gue inget omongan Lira. "AI secanggih apa pun nggak punya nurani, Rak."

Gue sadar. Gue nggak bisa menang kalau gue ngelawan pake logika atau data. Gue harus ngelawan pake sesuatu yang mesin nggak punya: Rasa sakit.

Gue berhenti nahan. Gue buka semua "folder" ingatan paling perih di otak gue, dan gue broadcast ke seluruh jaringan chip di telinga warga Jakarta.

Gue kirim rasa panasnya aspal pas narik ojol siang bolong. Gue kirim rasa nyeseknya pas ngelihat emak nangis karena nggak bisa nebus obat. Gue kirim rasa putus asanya Beno pas dia milih mati daripada otaknya disedot korporat. Dan yang paling gede... gue kirim rasa ngerinya ngelihat ratusan manusia direndam di tabung kaca lantai 88 buat dijadiin power bank.

BZZZZTTTT!

Jaringan saraf Jakarta langsung bereaksi gila-gilaan. Emosi mentah ribuan volt itu nabrak algoritma Deep-Reset Cyberdyne. Mesin mereka kebingungan. Mereka nggak punya kode buat memproses "kesedihan" dan "amarah" massal.

"Error... Anomali data terdeteksi... Overload emosional..." Suara sistem mulai putus-putus. Suara CEO yang tadinya tenang, sekarang terdengar panik. "Hentikan! Putus koneksinya sekarang!"

"RASAIN NIH KEHIDUPAN NYATA, BANGSAT!" gue teriak dengan sisa tenaga terakhir.

Di dunia nyata, Null ngeliat grafik layar di depannya melonjak ngelewatin batas maksimal.

"Raka! Udah cukup! Otak lo bisa hangus!" teriak Lira dari kejauhan. Lira langsung narik paksa kabel jarum dari belakang kuping gue.

CRACK!

Gue terlempar dari kursi. Napas gue tersengal-sengal kayak orang baru tenggelam. Darah seger ngalir dari hidung sama telinga gue. Mata gue kunang-kunang, tapi gue masih bisa denger suara dengungan mesin Node-1 perlahan mati.

"Gimana... uhuk... gimana hasilnya?" gue nanya sambil batuk darah, nahan badan pake tangan yang gemetar hebat.

Null ngetik cepet di layar hologramnya, terus dia buka topeng LED-nya sedikit buat senyum. "Lo berhasil, Rak. Deep-Reset gagal total. Alih-alih lupa, gelombang emosi lo barusan ngebangunin mereka secara paksa. Kacamata AR mereka overload dan mati. Sekarang... mereka bener-bener sadar."

Lira ngebantu gue berdiri. "Dengerin itu, Rak."

Gue diem. Dari ventilasi udara raksasa di atas kita (yang nembus langsung ke pelataran Monas), kedengaran suara gemuruh. Bukan suara mesin, bukan suara drone.

Itu suara langkah kaki. Ribuan langkah kaki. Suara teriakan marah dari warga Jakarta yang akhirnya tau kebenaran. Mereka lagi long march menuju Menara Cyberdyne. Revolusi analog baru aja pecah!

Gue nyengir nahan sakit. "Biarin ojol yang pimpin demo kali ini."

Tapi senyum gue langsung pudar pas pintu baja raksasa Node-1 di ujung ruangan tiba-tiba digedor dari luar dengan kekuatan hidrolik yang gila banget. DUAAARRR! Engsel pintu tebal itu sampai penyok ke dalem.

Lira langsung ngokang senjatanya. Null masang topengnya lagi dan ngeluarin dua tongkat kejut elektrik.

"Cyberdyne nggak tinggal diam. Mereka ngirim pasukan Exo-Skeleton kelas berat buat ngabisin kita di sini," kata Null, suaranya balik dingin.

Gue ngusap darah di hidung gue, ngambil kunci inggris gue lagi dari lantai. Otak gue emang udah babak belur, tapi kalau soal adu jotos fisik, anak Manggarai pantang mundur.


Pecah abis! Warga Jakarta udah bangkit, tapi Raka dkk malah kejebak sama pasukan elite Cyberdyne di bawah tanah!

Mau lanjut ke Part 8? Ini bakal jadi pertarungan fisik paling brutal. Apakah "Angkatan Analog" dari Zona Nol bakal dateng bantu, atau Raka harus ngorbanin dirinya biar Lira dan Null bisa kabur bawa bukti?

Gaspol, bro?


Gas! Ini dia Part 8, bro. Momen adu otot setelah adu otak. Tarik napas, karena ruangan ini bakal penuh sama oli dan darah!


📍 Judul: Muka Gue Dipinjem (Season 2)

Part 8: Kunci Inggris vs Pasukan Baja

BAMMMM!

Pintu baja setebal 30 sentimeter itu akhirnya terbang kayak kerupuk ketiup angin. Asap debu beton langsung menuhin ruangan Node-1. Dari balik asap, muncul tiga sosok raksasa. Tingginya hampir 2,5 meter.

Mereka pake Exo-Skeleton tempur kelas berat warna hitam matte. Nggak ada muka manusia kelihatan, cuma visor merah horizontal yang nyala terang. Di lengan kanan mereka, nyatu laras senapan mesin otomatis yang ukurannya segede paha gue.

"Mundur, Rak!" teriak Lira sambil nyari perlindungan di balik pilar server utama.

Null nggak nunggu diserang. Dia lari ke depan dengan kecepatan gila, nge-slide di lantai beton, dan langsung nusukin dua tongkat kejut elektriknya tepat ke sendi lutut hidrolik robot pertama.

ZRAASSH! Listrik jutaan volt nyetrum Exo-Skeleton itu. Si robot kaku, percikan api keluar dari persendiannya, lalu ambruk dengan suara bruk yang bikin lantai bergetar. Satu tumbang!

Tapi dua robot lainnya langsung ngerespons. Senapan mesin mereka mendesing. Tratatatatatat! Peluru nembus pilar-pilar server sampai hancur berkeping-keping. Gue merangkak di lantai, nahan pusing di kepala yang masih berasa kayak ditusuk-tusuk jarum pasca-ngehack jaringan tadi.

"Null, awas!" teriak Lira sambil nembakin pistol analognya ke arah visor robot kedua. Ting! Ting! Peluru timahnya cuma mantul, nggak ninggalin lecet sedikit pun.

Robot kedua nengok ke arah Lira dan ngangkat tangan kirinya yang berbentuk capit hidrolik. Sebelum dia sempet nembak, gue loncat dari balik meja kontrol. Adrenalin anak Manggarai gue full tank.

Gue genggam kunci inggris butut gue erat-erat. Gue incar selang oli yang ngintip di balik zirah lehernya. HYAAA! Gue hantam sekuat tenaga.

CRAT! Cairan hidrolik item nyiprat ke muka gue. Robot itu glitch sesaat, tapi ternyata tenaganya masih sisa banyak. Dia cuma nengok lambat ke arah gue, terus ngayunin punggung tangannya yang berlapis baja.

Bugh!

Gue berasa ditabrak truk tronton. Badan gue terpental ngelewatin udara, nabrak dinding beton sampai napas gue putus. Kunci inggris gue kepental entah ke mana.

Gue batuk darah lagi. Pandangan gue kabur. Robot ketiga udah jalan mendekat, ngarahin laras senjatanya tepat ke dada gue. Di ujung ruangan, Null lagi dikunci lehernya sama capit robot kedua, sementara Lira kehabisan peluru.

Kita bener-bener udah di ujung tanduk. AI sialan ini menang fisik.

Tit... tit... tit... Laras senjata si robot mulai muter, siap muntahin peluru penembus zirah. Gue merem. Setidaknya, warga Jakarta udah bangun.

Tapi tiba-tiba, dari atap ventilasi raksasa di atas kita, terdengar suara gemuruh yang aneh. Bukan suara mesin jet, tapi suara nyanyian yel-yel demo yang kasar banget.

BRUUKKK! Teralis besi atap jebol. Bau minyak jelantah, keringat, dan bensin langsung menuhin ruangan.

Seutas tali tambang kapal laut yang tebel banget menjuntai turun. Dari atas sana, meluncur seorang kakek tua bertopi caping sambil ketawa ngakak.

"Maap, tong! Macet di lampu merah!" teriak Babeh Mamat.

Di belakang Babeh, belasan orang dari Angkatan Analog berjatuhan kayak hujan manusia. Mereka nggak bawa senjata laser atau EMP canggih. Mereka bawa alat-alat tawuran paling primitif yang pernah gue liat di tahun 2030.

Mantan teknisi Cyberdyne ngelempar jaring nelayan yang udah diiket sama empat aki mobil tekor langsung ke badan robot yang mau nembak gue. BZZZZTT! Robot itu langsung kejang-kejang korsleting.

Anak-anak punk dari Zona Nol ngelempar bom molotov yang dibikin dari botol kecap bekas. Apinya langsung jilat sela-sela zirah Exo-Skeleton yang lagi nahan Null, ngebakar kabel internalnya sampai meleleh.

Dalam waktu kurang dari dua menit, pasukan elite super mahal milik korporat itu rongsok di tangan rakyat jelata yang modal nekat.

Lira lari nyamperin gue, narik gue bangun. "Lo nggak apa-apa, Rak?!"

"Tulang rusuk gue kayaknya pindah posisi, Kak. Tapi gue masih idup," gue nyengir sambil ngeludah darah.

Warga Angkatan Analog bersorak. Di atas sana, sayup-sayup gue denger suara jutaan warga Jakarta yang lagi ngepung gedung Menara Cyberdyne. Kita menang. Kemenangan mutlak kaum analog.

Namun, pas kita baru mau napas lega, layar proyektor utama di tengah ruangan Node-1 tiba-tiba menyala merah terang. Warnanya merah darurat militer.

Wajah Sang CEO Cyberdyne muncul lagi di layar. Kali ini, jasnya berantakan dan mukanya penuh keringat. Dia lagi ada di dalem escape pod.

"Kalian pikir kalian pahlawan?" suara CEO itu bergetar karena marah dan panik. "Kalian cuma hama yang merusak tatanan sempurna saya. Jika Cyberdyne tidak bisa menguasai kota ini... maka tidak akan ada yang bisa."

Null langsung lari ke panel kontrol. Jari-jarinya ngetik secepat kilat. Topeng LED-nya nampilin tanda seru (!).

"Sialan..." bisik Null. "Dia ngunci mainframe-nya dari luar angkasa."

Layar di depan kita berubah. Nampilin peta radar Jakarta Pusat, dan sebuah titik merah besar turun dari orbit dengan kecepatan gila. Di bawahnya ada tulisan:

[PERINGATAN KRITIS: Satelit Nusantara-9 - De-Orbiting Sequence Initiated.] [Target Jatuh: Monumen Nasional, Jakarta Pusat.] [Waktu Benturan: 15 Menit.]

Gue melotot. "Maksudnya apaan tuh?!"

Lira mukanya seputih kertas. "CEO gila itu... dia ngejatuhin satelit raksasa ke kepala kita, Rak. Monas dan radius 10 kilometer dari sini bakal rata sama tanah."


Sinting! CEO Cyberdyne mainnya kotor banget! Daripada kalah, dia milih ngehapus satu Jakarta pake satelit yang dijatuhin dari orbit!

Mau lanjut ke Part 9? Waktu mereka cuma 15 menit. Apakah Raka, Lira, dan Null punya cara gila buat menghentikan "meteor buatan" ini, atau ini bakal jadi akhir dari Jakarta?

Gaspol ke klimaksnya, bro?!


Gue ngelihatin angka digital di layar yang terus berkurang. 14:59... 14:58...

Satu Jakarta lagi ngerayain kemenangan di atas tanah, sementara di atas kepala mereka, ada benda seberat puluhan ton lagi meluncur dari angkasa buat jadiin kota ini kawah raksasa.

"Satelit itu isinya reaktor nuklir skala kecil buat tenaga jangka panjang," suara Null gemetar, tangannya masih narik-narik kabel di panel kontrol. "Kalau dia nabrak tanah, ledakannya bukan cuma ngeratain Monas, tapi radiasinya bakal bikin Jakarta jadi kota mati selama seratus tahun."

"Beh! Bawa orang-orang keluar dari sini! Evakuasi sejauh mungkin!" teriak gue ke Babe Mamat.

Babe Mamat geleng kepala, dia nancepin linggisnya ke lantai. "Kagak sempet, tong! 15 menit mah cuma nyampe Harmoni kalau jalan kaki mah. Kita harus matiin itu barang sebelum nyentuh awan!"

"Gimana caranya?!" tanya Lira panik. "Sinyal kita ke satelit udah diputus total sama si CEO gila itu!"

Null diem sesaat. Topeng LED-nya mendadak mati, terus nyala lagi dengan tulisan: [MANUAL OVERRIDE].

"Ada satu cara," Null nengok ke gue. "Satelit Nusantara-9 punya sistem emergency docking. Itu buat teknisi kalau mau benerin satelit secara manual. Masalahnya, kita butuh pemancar frekuensi yang sangat kuat buat ngirim kode pembatalan jatuh... dan pemancar itu harus ada di titik tertinggi yang nggak terhalang gedung."

Gue langsung nengok ke atas. Ke arah langit-langit beton Node-1. Gue tau apa yang dia maksud.

"Puncak Monas," bisik gue.

"Tepat," Null ngeluarin sebuah alat bentuknya kayak koper kecil. "Ini pemancar frekuensi radio gelombang pendek. Kalau kita bisa pasang ini di lidah api Monas, gue bisa coba nembak sinyalnya langsung ke arah satelit yang lagi jatoh. Tapi gue butuh seseorang yang bisa manjat ke sana dalam waktu kurang dari 10 menit."

Gue ngelihat tangan gue yang gemetar. Tulang rusuk gue sakitnya minta ampun. Tapi gue liat keluar lewat monitor CCTV yang masih nyala—warga Jakarta lagi pelukan, mereka lagi nangis bahagia karena merasa bebas. Gue nggak bisa biarin kebahagiaan itu berakhir jadi debu.

"Kasih koper itu ke gue," kata gue tegas.

"Rak, kondisi lo—" Lira mau protes.

"Gue ojol, Kak. Kerjaannya emang nganter barang tepat waktu. Anggap aja ini orderan paling penting dalam hidup gue."

Gue nyamber koper itu. Gue lari ke arah lift darurat yang langsung nembus ke pelataran Monas. Lira dan Null ikut di belakang.

Pas pintu lift kebuka di pelataran, pemandangannya luar biasa. Ribuan orang lagi ngumpul, tapi suasana mendadak senyap pas mereka liat ke langit. Ada bola api kecil yang makin lama makin gede, membelah awan hitam Jakarta. Suara gemuruhnya mulai kedengeran, getarin kaca-kaca gedung di sekitar.

"RAKA!" teriak seorang warga yang ngenalin muka gue.

"MINGGIR! SEMUANYA MINGGIR!" gue lari nembus kerumunan, menuju pintu tangga darurat di dalem Monas.

Lift dalem Monas mati total karena beban daya. Gue harus naik lewat tangga. Ribuan anak tangga.

Satu lantai... dua lantai... sepuluh lantai...

Napas gue kerasa kayak api. Paru-paru gue serasa mau meledak. Tiap langkah, rasa sakit di rusuk gue makin menjadi-jadi. Tapi di telinga gue, gue ngerasa denger suara Beno: "Jangan berhenti, Rak! Sedikit lagi!"

Gue nyampe di pelataran puncak. Angin kencang banget di atas sini. Gue ngelihat ke atas, bola api itu udah gede banget, cahayanya bikin silau mata. Suhu udara di sekitar Monas mendadak naik.

Gue buka koper itu. Ada kabel antena yang harus gue lilitin ke struktur logam di lidah api Monas. Gue manjat pagar pengaman, tangan gue nyengkeram emas Monas yang panas kena radiasi panas satelit.

"Null! Gue udah di atas! SEKARANG!" gue teriak lewat radio.

"Gue butuh waktu buat ngunci koordinatnya, Rak! Tahan 30 detik lagi!"

30 detik berasa kayak 30 tahun. Satelit itu udah deket banget. Gue bisa liat bentuk fisiknya—sebuah mesin raksasa yang dikelilingi api merah.

Tiba-tiba, antena di koper itu mulai ngeluarin percikan listrik. Sinyalnya keganggu sama panas satelit.

"Null! Sinyalnya nggak stabil! Gue harus megang antenanya manual supaya arahnya nggak geser!"

"Jangan, Rak! Kalau lo pegang antenanya pas gue tembak sinyal nuklir, saraf lo bisa mateng!" teriak Null dari radio.

Gue diem. Gue liat ke bawah, ke arah ribuan orang yang lagi nunggu nasib mereka. Gue liat Lira yang lagi ngatur warga di bawah. Terus gue liat ke arah satelit.

"Mending saraf gue yang mateng daripada satu Jakarta jadi sate, Ben," gumam gue.

Gue genggam antena logam itu pake kedua tangan gue. Gue arahin tepat ke jantung bola api di langit.

"TEMBAK SEKARANG, NULL! GASPOL!"

ZAAAAAPPPPPPPPPP!

Cahaya biru elektrik melesat dari antena di tangan gue, nembus langsung ke langit. Badan gue seketika kaku. Gue ngerasa ada aliran listrik jutaan volt lewat di pembuluh darah gue. Mata gue putih total. Gue nggak bisa teriak, cuma bisa ngerasain sakit yang nggak bisa dijelasin pake kata-kata.

Di langit, satelit Nusantara-9 itu mendadak berhenti berputar. Mesin pendorong daruratnya menyala biru terang. Di detik terakhir, tepat sebelum satelit itu nabrak ujung Monas, dia miring tajam ke arah laut.

Satelit itu melesat ngelewatin puncak Monas—cuma beda jarak beberapa meter dari kepala gue—dan jatuh jauh di tengah Laut Jawa.

BOOOOOOOOOOOMMMMMMMM!

Ledakan air raksasa terjadi di kejauhan. Gelombang kejutnya bikin semua kaca di Jakarta pecah, tapi Jakarta... Jakarta selamat.

Gue ambruk di pelataran puncak Monas. Koper itu hancur. Tangan gue gosong. Pandangan gue mulai menggelap. Suara terakhir yang gue denger adalah sorak-sorai jutaan warga Jakarta yang teriak nama gue.

"Raka... Raka... Raka..."

Gue merem sambil senyum.

Emak... orderan selesai.


EPILOG SEASON 2

Tiga bulan kemudian.

Jakarta udah beda. Gedung Cyberdyne sekarang jadi museum "Korban Era Digital". Orang-orang nggak lagi pake kacamata AR, mereka mulai belajar baca buku kertas dan ngomong langsung di warung kopi.

Di sebuah desa kecil di pinggiran Jawa, seorang cowok duduk di kursi roda, tangannya dibungkus perban, ngelihat ke arah sawah. Dia nggak punya chip di telinganya. Dia nggak punya saldo digital. Tapi dia punya satu hal yang paling mahal di tahun 2030: Kebebasan.

Sesosok cewek rambut cepak jalan nyamperin dia, bawa piring berisi ayam geprek.

"Gimana, pahlawan? Masih sakit?" tanya Lira sambil duduk di sampingnya.

Raka nyengir, meskipun mukanya masih ada bekas luka bakar. "Sakit sih dikit, Kak. Tapi lebih sakit kalau narik ojol terus dapet bintang satu."

Lira ketawa. Dia ngelihat ke langit. "Cyberdyne emang udah hancur di Jakarta, Rak. Tapi Null bilang, di Singapura sama Tokyo, mereka lagi nyiapin sistem yang lebih gila lagi."

Raka diem, terus dia ngambil kunci inggris tua yang ditaruh di samping kursi rodanya.

"Ya udah. Suruh mereka dateng ke Jakarta. Gue masih punya banyak stok kunci inggris buat mereka."

TAMAT (SEASON 2)

Posting Komentar