PENEMUAN SABUN BUSA ITU MUSLIM Bro: HIKAYAT REVOLUSI WANGI DARI TIMUR
Gua mulai dari akar masalahnya dulu: Kenapa dunia butuh revolusi sabun dan gimana awalnya para ilmuwan Muslim turun tangan.
Siapin kopi, nyalain rokok (kalau ngerokok), kita masuk ke mesin waktu.
Part 1: Sebelum Ada Busa, Dunia Itu Lengket, Bro
Oke, sebelum kita ngomongin Al-Razi atau pabrik sabun di Aleppo, lu harus bayangin dulu dunia sebelum abad ke-7 Masehi. Bayangin lu hidup di zaman Romawi atau Eropa abad pertengahan awal.
Lu mau nyuci baju? Atau mau mandi biar nggak bau apek? Opsinya terbatas banget, Bro.
Minyak & Pasir: Orang Yunani/Romawi kuno kalau mandi itu badannya dibalurin minyak zaitun, terus dikerok pake alat namanya strigil. Jadi daki lu itu dikerok bareng minyak. Bersih? Lumayan. Wangi? Ya bau minyak campur keringet lama-lama.
Air Abu (Lye): Buat nyuci baju, mereka pake air rendaman abu kayu. Ini keras banget, Bro. Kalau kena tangan bisa melepuh, bikin baju cepet ancur.
Akar-akaran: Ada tanaman kayak soapwort yang kalau digecek keluar busa dikit. Tapi ya gitu, daya bersihnya "B aja".
Intinya, zaman dulu itu mandi atau nyuci itu "ribet" dan hasilnya seringkali bikin kulit iritasi. Sabun yang beneran "sabun"—yang padat, wangi, berbusa melimpah, dan ramah di kulit—itu belum ada standar bakunya.
Masuklah kita ke era Kekhalifahan Islam.
Sekitar abad ke-8, dunia Islam lagi jaya-jayanya. Bukan cuma soal perang atau wilayah, tapi soal ILMU PENGETAHUAN. Kota-kota kayak Baghdad, Kufa, Basra, itu isinya orang pinter semua. Mereka menerjemahkan buku-buku Yunani, India, Persia, terus mereka koreksi dan tambahin isinya.
Salah satu ilmu yang paling digandrungi waktu itu adalah Al-Kimiya (Kimia).
Kenapa orang Islam terobsesi sama kebersihan? Ya simpel, karena agama. Salat lima kali sehari wajib wudhu. Jumat wajib mandi. Baju kena najis nggak sah buat salat. Jadi, demand (permintaan) untuk produk pembersih yang efisien dan suci itu tinggi banget. Nggak mungkin kan lu mau menghadap Tuhan tapi bau kambing guling?
Nah, di sinilah para "Chef" kimiawan Muslim mulai bereksperimen. Mereka nggak puas cuma pake air atau tanah. Mereka pengen sesuatu yang bisa ngangkat lemak dan kotoran tapi baunya enak.
Dua nama besar muncul di awal babak ini:
Jābir ibn Hayyān (Geber): Bapak Kimia Modern. Dia yang nemuin banyak proses kimia kayak distilasi, kristalisasi, dll. Tanpa teknik-teknik dasar yang dia temuin, bikin sabun modern itu mustahil. Dia yang ngajarin dunia kalau "benda itu bisa diubah sifatnya kalau kita tahu caranya."
Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Rhazes): Nah, ini MVP kita. Dia dokter, musisi, sekaligus kimiawan gila (dalam artian positif).
Di laboratorium sederhananya, Al-Razi dan kawan-kawannya mulai mainan resep. Mereka tahu konsep dasar sabun kuno (lemak + alkali), tapi mereka mikir: "Gimana caranya biar ini nggak lembek kayak bubur? Gimana caranya biar keras, awet, dan bisa dikirim ke luar negeri?"
Rumus rahasia yang mereka "masak" adalah kombinasi lemak nabati (biasanya minyak zaitun murni) dicampur sama al-qaly (soda api alami dari tanaman barilla atau salsola).
Tapi bedanya sama orang Romawi, orang-orang di Kufa dan Basra ini nambahin satu proses krusial: PEMANASAN DAN PENGERASAN YANG TERKONTROL. Mereka juga mulai masukin zat aditif: pewangi (misky, mawar) dan pewarna.
Hasilnya? Sebuah balok padat. Keras. Pas kena air, dia berbusa lembut. Pas dipake ke badan, dakinya rontok tapi kulit nggak kebakar. Pas dipake nyuci baju, serat kainnya aman dan baunya seger.
Inilah PROTOTIPE SABUN BATANG MODERN pertama di dunia.
Berita soal "batu ajaib pengusir daki" ini mulai menyebar dari pasar ke pasar. Pedagang dari Eropa yang dateng ke Timur Tengah kaget, "Woi, apaan nih? Kok orang sini bajunya bersih-bersih dan wangi?"
Dan dimulailah era di mana sabun bukan lagi barang aneh, tapi jadi komoditas ekspor yang bikin tajir melintir para pengusaha di Nablus dan Aleppo.
Bro! Kopi aman? Kita lanjut lagi.
Di Part 1, kita udah tau kalau para ilmuwan Muslim itu pioneer yang bikin sabun jadi barang elit dan wajib punya. Sekarang di Part 2, kita masuk ke dapur produksinya. Kita bakal bedah gimana caranya minyak zaitun bisa jadi sabun batang yang keras, wangi, dan bikin tajir satu kota.
Ini dia kisahnya.
Part 2: Dapur Rahasia Nablus & Aleppo (The Silicon Valley of Soap)
Kalau zaman sekarang pusat teknologi itu di Silicon Valley, zaman abad ke-10 Masehi, pusat "teknologi bersih-bersih" itu ada di Syam (Suriah, Palestina, Lebanon). Dua kota yang jadi rajanya adalah Nablus (Palestina) dan Aleppo (Suriah).
Kenapa di sana? Simpel, Bro. Karena bahan bakunya melimpah ruah di sana: Pohon Zaitun.
Minyak zaitun di sana itu kualitas dewa. Extra Virgin kalau bahasa gaulnya sekarang. Tapi, minyak doang nggak cukup. Mereka butuh satu bahan ajaib lagi yang namanya "Al-Qaly".
Lu tau nggak, kata "Alkali" (basa) di kimia modern itu asalnya dari bahasa Arab Al-Qaly, yang artinya abu dari tanaman Salsola (tanaman garem-gareman yang tumbuh di gurun/pantai).
Jadi, resep rahasia "Chef" sabun di Nablus itu gini:
Minyak Zaitun: Sebagai lemak (biar lembab di kulit).
Abu Al-Qaly (Soda Abu): Sebagai pemecah lemak (biar berbusa).
Kapur (Lime): Biar reaksinya makin nendang (jadi kaustik soda alami).
Proses Masaknya? Gila, Bro! Ini bukan kayak lu bikin mie instan 3 menit jadi. Proses bikin sabun Nablus (Nabulsi Soap) itu butuh skill, kesabaran, dan otot kawat tulang besi.
Bayangin, mereka punya kuali tembaga raksasa—gede banget bisa buat mandi satu RT.
Tahap Rebus (Saponifikasi): Minyak zaitun, air, dan larutan alkali dimasukin ke kuali raksasa itu. Terus direbus berhari-hari! Nggak cuma sehari dua hari, bisa sampai seminggu lebih.
Tahap Aduk: Selama direbus, itu adonan harus diaduk terus pake dayung kayu raksasa yang namanya duk. Yang ngaduk harus ganti-gantian karena beratnya minta ampun. Kalau berhenti bentar, bisa gosong atau gagal bereaksi.
Tahap Cicip (Testing): Nah ini kearifan lokal. Si ahli sabun (Rais) nggak pake alat ukur pH digital. Dia bakal nyicipin dikit busanya di ujung lidah (jangan ditiru di rumah, Bro). Kalau rasanya udah pas "nyelekit"nya dan teksturnya udah kayak madu kental, berarti mateng.
Lantai Ajaib Habis mateng, adonan panas itu nggak dicetak di cetakan kecil-kecil. Kelamaan. Mereka nuang adonan sabun itu langsung ke LANTAI BATU yang udah dibersihin.
Iya, lantainya disiram sabun cair panas sampai rata, terus didiemin sampai dingin dan mengeras. Udah kayak ngecor semen, tapi wangi banget.
Pas udah mulai padat tapi masih empuk (kayak keju), para pekerja bakal jalan di atas sabun itu pake sandal khusus kayu yang rata (biar permukaannya halus).
Terus, mereka potong-potong manual pake tali yang dikasih pewarna merah (biar garisnya lurus). Sret... sret... sret... jadilah ribuan balok sabun.
Cap Sultan Langkah terakhir yang bikin sabun ini punya value tinggi: STAMPEL. Setiap balok dipukul pake palu yang ada ukiran nama pabriknya. Dugg! Dugg! Misalnya cap "Toukan" atau "Masri" (nama keluarga pembuat sabun legendaris di Nablus). Ini branding, Bro. Tanda kalau barang ini asli, bukan kaleng-kaleng.
Terus sabun-sabun itu disusun kayak menara tinggi (bentuknya piramida atau silinder) buat diangin-anginin selama berbulan-bulan sampai bener-bener keras dan warnanya berubah jadi kuning gading.
Hasilnya? Sabun Nabulsi dan Sabun Aleppo (yang ditambah minyak Laurel/Ghar) ini jadi primadona.
Busa melimpah? Cek.
Wangi alami? Cek.
Awet (nggak lembek kena air)? Cek.
Bisa buat keramas dan nyuci baju sutra? Cek.
Di saat yang sama, orang Eropa di belahan dunia lain masih, ya... struggling sama masalah mandi.
Pedagang-pedagang Venesia dan Genoa mulai nyium bau duit (dan bau wangi). Mereka mulai ngeborong sabun-sabun ini dari pelabuhan di Syam buat dibawa pulang.
Di sinilah Sabun Muslim mulai menginvasi Eropa. Bukan lewat perang, tapi lewat kamar mandi.
Gimana, Bro? Udah kebayang belum ribetnya bikin sabun zaman dulu?
Lanjut ke Part 3? Di Part 3, kita bakal bahas gimana reaksi orang Eropa pas pertama kali kenal sabun wangi ini, dan gimana akhirnya mereka nyoba njiplak resepnya tapi gagal total di awal-awal. Plus, sabun mulai masuk ke ranah medis.
Sip, lanjut Bro! Rokok sebatang lagi, kopi seruput dulu.
Di Part 2 kita udah liat gimana pabrik-pabrik di Nablus sama Aleppo ngepul asepnya bikin sabun zaitun kelas dewa. Sekarang di Part 3, kita bakal liat gimana sabun ini "jalan-jalan" ke Eropa dan bikin culture shock di sana.
Ini dia ceritanya.
Part 3: Gara-Gara Perang Salib, Eropa Jadi Wangi
Jadi gini Bro, sekitar abad ke-11 sampai ke-13, ada kejadian besar yang namanya Perang Salib. Pasukan dari Eropa dateng rame-rame ke Timur Tengah. Niat awalnya sih perang, rebutan wilayah suci. Tapi namanya manusia, pas lagi nggak perang, ya mereka ngeliat-liat budaya musuh dong.
Dan di situlah mereka kaget setengah mati.
Culture Shock: "Kok Musuh Gua Wangi Bener?" Pasukan Salib ini dateng dari Eropa yang waktu itu lagi zaman "Dark Ages". Sanitasi di sana lagi down banget. Mandi itu dianggap kegiatan mewah atau malah kadang dilarang karena dianggap membuka pori-pori buat masuk penyakit (iya, logika zaman dulu emang agak laen).
Pas nyampe di Timur Tengah, mereka liat orang Islam (Saracen, sebutan mereka dulu) itu mandinya rajin bener. Tiap mau ibadah cuci muka, tangan, kaki. Tiap jumat mandi besar. Bajunya bersih-bersih.
Terus mereka nyobain tuh sabun kotak keras dari Aleppo. "Anjay, apaan nih? Busa melimpah, baunya enak (laurel/zaitun), abis mandi kulit jadi seger."
Beda banget sama "sabun" di kampung halaman mereka yang dibuat dari LEMAK HEWAN (Tallow). Lu bayangin, lemak babi atau sapi direbus pake abu kayu. Jadinya soft soap (sabun lembek) yang baunya... ya bau lemak apek. Kalau dipake mandi rasanya lengket, amis, dan nggak enak. Itu mah sabun buat nyuci kain kasar doang.
Nah, sabun dari Timur Tengah ini beda. Dia pake Minyak Zaitun + Soda Alami. Keras, kering, wangi, berbusa. Ini teknologi alien buat mereka waktu itu.
Oleh-Oleh Paling Hype Pas Perang Salib kelar atau pas lagi gencatan senjata, banyak ksatria yang pulang kampung bawa oleh-oleh. Bukan cuma pedang atau kain sutra, tapi juga sabun batang ini!
Istri-istri mereka di Eropa langsung happy berat. "Pah, ini apaan? Kok wangi? Kok bisa berbusa gini?" Jadilah sabun Aleppo dan Nablus ini barang mewah. Harganya mahal, Bro. Cuma bangsawan yang bisa pake sabun import ini buat mandi harian. Rakyat jelata? Masih pake pasir atau air abu.
Eropa Mulai Njiplak (ATM: Amati Tiru Modifikasi) Karena cuannya gede, pedagang-pedagang cerdas di Italia (Venesia, Genoa) dan Spanyol mikir: "Ngapain kita impor mulu? Mahal di ongkir! Kita bikin sendiri lah!"
Kebetulan, Spanyol (waktu itu sebagian masih dikuasai Islam/Moor) dan Italia Selatan punya iklim yang mirip sama Timur Tengah: Banyak pohon zaitun!
Venesia & Genoa: Mereka jadi pintu gerbang impor sabun, tapi pelan-pelan mulai bikin pabrik sabun sendiri pake resep curian/tiruan dari Timur. Tapi... kualitas awalnya masih kalah jauh.
Spanyol (Castile): Nah ini yang sukses besar. Di wilayah Castile (Kastilia), mereka berhasil bikin sabun yang mirip banget sama sabun Aleppo, tapi tanpa minyak Laurel (karena susah dapetnya di sana). Mereka ganti full minyak zaitun. Jadinya sabunnya warna putih bersih.
Lu pernah denger "Castile Soap"? Itu sabun legendaris yang sampai sekarang masih ada. Aslinya? Ya jiplakan dari sabun Nablus/Aleppo, Bro. Cuma diganti branding-nya jadi Eropa punya.
Sabun Masuk Dunia Medis Balik lagi ke Al-Razi dan kawan-kawan. Di dunia Islam, sabun itu nggak cuma buat glowing. Dokter-dokter Muslim kayak Al-Zahrawi (Bapak Bedah Modern) udah nulis di kitabnya kalau sabun itu penting buat medis.
Penyakit Kulit: Sabun yang dicampur belerang (sulfur) dipake buat ngobatin kudis (scabies) dan kurap.
Kusta (Lepra): Sabun khusus dipake buat bersihin luka penderita kusta biar nggak infeksi parah.
Keramas: Mereka bikin sabun khusus rambut yang dikasih ekstrak marshmallow (bunga, bukan permen) biar rambut nggak rontok dan ketombe minggat.
Jadi, sabun itu udah dianggap "Farmasi", bukan cuma kosmetik.
Kimia di Balik Layar: K (Potasium) vs Na (Sodium) Ini agak nerd dikit tapi penting. Ilmuwan Muslim waktu itu nemuin bedanya Alkali Potasium (dari abu kayu biasa) sama Alkali Sodium (dari tanaman laut/garam).
Kalau pake Potasium, jadinya sabun lembek (cair/gel).
Kalau pake Sodium, jadinya sabun keras (batang).
Eropa utara yang nggak punya tanaman soda laut, terpaksa bikin sabun lembek terus. Sementara dunia Islam yang menguasai jalur pantai Mediterania, bisa panen soda laut sepuasnya, makanya sabun mereka keras dan awet.
Di sinilah KEMENANGAN TEKNOLOGI KIMIA ISLAM di abad pertengahan. Mereka tahu resep rahasia bikin sabun batang yang kokoh.
Gimana, Bro? Makin paham kan kenapa sabun batang itu penemuan jenius?
Di Part 4, kita bakal bahas masa "Kegelapan" sabun di Eropa (ketika mereka malah takut mandi gara-gara wabah) dan gimana akhirnya sabun bangkit lagi jadi industri raksasa modern. Plus, nasib sabun Aleppo hari ini.
Gas terus nggak nih?
Oke, Bro. Rokok aman? Kopi masih ada?
Kita masuk ke Part 4, babak terakhir dari saga sabun ini. Di Part 3 kita udah liat gimana sabun wangi dari Timur bikin Eropa insecure sama bau badan mereka sendiri. Tapi, sejarah itu nggak lurus kayak jalan tol. Ada plot twist yang bikin geleng-geleng kepala.
Siap? Gas!
Part 4: Mitos "Mandi Itu Mati" & Kebangkitan Sang Legenda
Setelah Perang Salib, lu bakal ngira Eropa langsung jadi wangi semerbak, kan? SALAH BESAR, Bro.
Malah kejadian sebaliknya. Masuk abad ke-14, datenglah tamu tak diundang: The Black Death (Wabah Pes). Ini wabah yang ngebunuh sepertiga penduduk Eropa. Paniklah semua orang. Dokter-dokter Eropa waktu itu punya teori kocak (dan fatal): "Penyakit itu masuk lewat udara (miasma). Kalau lu mandi air anget, pori-pori kulit lu kebuka. Nah, racun wabah bakal masuk lewat situ!"
Jadilah GERAKAN ANTI MANDI NASIONAL. Gila nggak? Orang-orang kaya malah bangga kalau nggak mandi. Ratu Elizabeth I dari Inggris aja pernah bilang dengan bangga: "Gue mandi sebulan sekali, entah butuh atau enggak." Bayangin baunya istana waktu itu, Bro. Parfum diciptain orang Prancis sebenernya buat nutupin bau badan yang jarang kena air ini.
Sementara itu, di dunia Islam (Turki Utsmani/Ottoman, Mughal, dll), tradisi Hammam (pemandian umum) malah makin jaya. Sabun tetep jadi kebutuhan pokok. Mereka ngeliat orang Eropa yang kucel itu sambil bingung, "Ini orang-orang kenapa dah?"
Titik Balik: Revolusi Industri (Sabun Buat Rakyat Jelata) Baru pas masuk abad ke-18 dan 19, Eropa sadar kalau teori "mandi = mati" itu hoax. Mereka mulai belajar lagi soal higiene.
Tapi ada masalah: Bahan Baku Mahal. Inget kan, sabun Nablus/Aleppo butuh abu tanaman Barilla buat bikin sodanya? Itu impor dan mahal. Sabun cuma buat Sultan dan Raja.
Nah, di sinilah tongkat estafet ilmu kimia dari Al-Razi dan Jabir ibn Hayyan diambil alih sama kimiawan Barat. Tahun 1791, orang Prancis namanya Nicolas Leblanc nemuin cara bikin Soda Abu dari GARAM DAPUR biasa. "Boom!" Tiba-tiba, bahan baku sabun jadi murah meriah. Pabrik sabun meledak di mana-mana. Sabun yang tadinya barang mewah, sekarang bisa dibeli buruh pabrik.
Sabun batangan mulai diproduksi massal. Merk-merk tua kayak Pears, Sunlight (sebelum jadi sabun cuci piring cair), dan Ivory mulai bermunculan. Tapi inget, RESEP DASARNYA (Lemak + Soda Kaustik) itu tetep warisan dari eksperimen para kimiawan Muslim abad pertengahan. Nggak berubah.
Nasib Sang Legenda: Sabun Aleppo Hari Ini Terus, gimana nasib "Mbah"-nya sabun, si Sabun Aleppo dan Nablus? Punahkah? Nggak, Bro! Dia malah naik kelas jadi barang Artisanal Premium.
Kalau lu ke toko kosmetik mahal atau toko herbal sekarang, lu bakal nemu "Aleppo Soap" atau "Ghar Soap". Bentuknya masih sama: kotak, kasar, warnanya cokelat/hijau tua, baunya khas banget (bau tanah/daun bay). Harganya? Mahal, Bro! Bisa 100 ribu lebih per batang. Orang-orang modern yang kulitnya sensitif kena bahan kimia pabrik, akhirnya balik lagi nyari sabun resep kuno ini.
Sayangnya, perang di Suriah (Aleppo) sempet bikin banyak pabrik tua hancur. Tapi para pembuat sabun ini gigih. Mereka pindahin pabriknya, bahkan ada yang ngungsi ke Turki atau Prancis tapi tetep bikin pake resep leluhur.
KESIMPULAN AKHIR Jadi, kalau ditanya "Siapa penemu sabun cuci dalam Islam?", jawabannya bukan satu orang yang nemu "cling" langsung jadi.
Tapi ini adalah Estafet Ilmu Pengetahuan:
Nabi & Al-Quran: Ngajarin pentingnya kebersihan (Thaharah).
Jabir ibn Hayyan & Al-Razi: Ngacak-ngacak laboratorium buat nemuin rumus kimia "Minyak + Alkali = Sabun Keras".
Pengrajin Nablus & Aleppo: Bikin teknik produksi massal pertama di dunia.
Pedagang Muslim: Ngenalin sabun ke Eropa yang waktu itu masih dekil.
Tanpa mereka, mungkin hari ini kita mandinya masih digosok pake pasir atau minyak doang, Bro. Setiap kali lu mandi pake sabun batang atau nyuci baju sampe berbusa, lu lagi make teknologi yang disempurnain sama peradaban Islam lebih dari 1000 tahun lalu.
Begitulah HIKAYAT BUSA kita. Gimana? Lumayan nambah wawasan buat bahan ngobrol di tongkrongan kan? Kalau ada yang nanya sejarah sabun, lu udah bisa jawab panjang lebar sekarang.

Posting Komentar