perjalanan epik Rabiah Al-Adawiyah: The Mother of Sufism - PT PUTRA ARMSSY PERKASA

perjalanan epik Rabiah Al-Adawiyah: The Mother of Sufism

Kita mulai perjalanan epik Rabiah Al-Adawiyah: The Mother of Sufism.

Siapin kopi lu, Bro. Kita masuk ke Part 1.


SANG PENGANTIN ILAHI (The Legend of Rabiah Al-Adawiyah)

PART 1: LAHIR DI TENGAH GELAPNYA BASRAH

Jadi gini ceritanya, Bro. Kita mundur jauh banget ke belakang, sekitar tahun 95 atau 99 Hijriah (sekitar 717 Masehi). Lokasinya di Basrah, Irak. Waktu itu Basrah lagi nggak baik-baik aja. Kota itu emang pusat ilmu, tapi kesenjangan sosialnya gila-gilaan. Ada yang kaya melintir, ada yang miskin sampe nggak punya apa-apa.

Nah, di salah satu sudut kumuh kota Basrah, lahirlah seorang bayi perempuan di keluarga yang bener-bener struggle. Bapaknya orang saleh, namanya Ismail, tapi nasibnya lagi diuji banget sama kemiskinan.



Kenapa dia dikasih nama Rabiah? Simpel banget alasannya. Dalam bahasa Arab, Rabiah itu artinya "yang keempat". Dia ini anak perempuan keempat di keluarga itu. Nggak ada pesta syukuran, nggak ada aqiqah mewah. Bahkan, pas malem dia lahir, di rumahnya itu bener-bener ZONK.

Bayangin nih kondisinya:

  1. Lampu minyak mati karena nggak ada minyaknya. Gelap gulita total.

  2. Kain buat bedong bayi nggak ada.

  3. Istrinya (ibunya Rabiah) bilang ke suaminya, "Bang, tolong dong minta minyak setetes aja ke tetangga biar ada cahaya dikit buat ngurus bayi ini."

Bapaknya Rabiah ini sebenernya udah janji sama dirinya sendiri: Pantang minta-minta sama makhluk. Dia cuma mau minta sama Tuhan. Tapi karena didesak keadaan dan kasihan sama istri, dia akhirnya jalan keluar rumah. Dia ngetuk pintu tetangga, tapi dalam hati dia berdoa, "Ya Allah, jangan sampe dibukain."

Dan bener aja, Bro. Tetangganya nggak ada yang nyaut atau udah tidur. Dia balik ke rumah dengan tangan kosong, tapi hatinya lega karena nggak jadi ngemis. Dia bilang ke istrinya, "Maaf, nggak dapet."

Malam itu, mereka tidur dalam gelap. Tapi di sinilah keajaiban pertama terjadi.

Pas bapaknya tidur, dia mimpi ketemu Nabi Muhammad SAW. Di mimpi itu, Nabi bilang gini (kurang lebih intinya ya): "Jangan sedih. Anak perempuan yang baru lahir ini bakal jadi wanita agung. Nanti, 70.000 umatku bakal butuh syafaat dari dia."

Gokil nggak tuh? Bayi yang lahir tanpa kain bedong, di rumah gelap, diprediksi bakal jadi legend yang syafaatnya ditunggu puluhan ribu orang.

Nabi di mimpi itu juga ngasih "cheat code" buat bapaknya. Nabi nyuruh bapaknya nulis surat buat Gubernur Basrah waktu itu, namanya Isa Zadan. Isi suratnya spesifik banget: "Eh Gubernur, biasanya lu sholat tahajud 100 rakaat tiap malem, dan pas malem Jumat lu sholat 400 rakaat. Tapi malem Jumat kemaren lu lupa. Sebagai dendanya, kasih bapak ini 400 dinar."

Bapaknya bangun, gemeteran tapi yakin. Dia nulis itu surat, terus dikirim ke Gubernur lewat penjaga pintu. Pas Gubernur baca, bukannya marah, dia malah nangis, Bro. Dia sadar, "Anjay, bener banget gue lupa sholat malem Jumat kemaren. Ini teguran halus tapi ngena."

Tanpa babibu, Gubernur ngasih 400 dinar buat bapaknya Rabiah, plus dia bagi-bagiin gandum ke fakir miskin sebagai tanda syukur. Pulang-pulang, bapaknya Rabiah bawa duit banyak. Ekonomi keluarga mereka langsung boost naik. Rabiah kecil tumbuh dengan lumayan layak berkat "surat sakti" dari mimpi itu.

TAPI... (Selalu ada "tapi" di cerita orang hebat).

Kebahagiaan itu nggak lama, Bro. Pas Rabiah mulai gede dikit, takdir muter balik lagi ke bawah, dan kali ini lebih sadis.

Bapaknya meninggal. Nggak lama kemudian, ibunya nyusul. Rabiah dan ketiga kakaknya jadi yatim piatu. Belom kelar sedihnya, Basrah dihantam bencana kelaparan parah (famine). Orang-orang pada chaos, kriminalitas naik, hukum rimba berlaku.

Di tengah kekacauan itu, Rabiah terpisah dari kakak-kakaknya. Dia luntang-lantung sendirian di jalanan. Bayangin anak cewek, sendirian, di kota yang lagi rusuh.

Pas lagi jalan sendirian itu, dia ditangkep sama penjahat (semacam human trafficker jaman dulu). Penjahat ini ngeliat Rabiah cuma sebagai barang dagangan. Tanpa ampun, Rabiah diseret ke pasar budak.

Dan lu tau dia dijual berapa? Enam dirham. Cuma enam perak, Bro. Dijual ke seorang majikan yang wataknya keras banget.

Mulai dari sini, hidup Rabiah berubah total. Dari anak kesayangan bapaknya yang dimimpiin Nabi, sekarang jadi budak belian yang disuruh kerja rodi dari pagi sampe malem. Disiksa, dimaki, dikerjain abis-abisan.

Tapi, justru di titik terendah inilah, "mesin" spiritual Rabiah mulai panas. Di saat badannya diperbudak manusia, jiwanya mulai merdeka dan terbang nyari Tuhan.

Gimana caranya dia bertahan hidup di rumah majikan yang kejam itu? Dan apa momen "klik" yang bikin dia berubah dari budak biasa jadi sufi yang ditakuti setan?


Lanjut ke PART 2, Bro? ( kisahnya pas dia mulai "main gila" sama ibadahnya).


PART 2: BUDAK YANG BIKIN MAJIKANNYA GETER

Oke, Bro. Kita lanjut.

Posisi terakhir: Rabiah dijual murah banget, cuma 6 dirham (seharga recehan lah ibaratnya), ke seorang majikan yang wataknya keras dan nggak punya hati.

Di rumah majikan ini, Rabiah bener-bener diuji mental dan fisiknya. Bayangin aja, dia disuruh kerja rodi dari subuh buta sampe malem. Nyapu, ngepel, angkat air, masak, ngurusin segala macem tetek bengek rumah tangga. Udah kayak robot, nggak dikasih istirahat.

Kalau orang biasa, diginiin pasti udah burnout, stres, atau minimal ngedumel di belakang. "Sialan nih bos gue," gitu kan biasanya?

Tapi Rabiah beda, Bro. Dia ini mentalnya udah next level.

Siang hari, badannya emang milik majikannya. Dia kerja keras tanpa ngeluh. Tapi begitu malem dateng, dan semua orang udah tidur ngorok, saat itulah "pesta" Rabiah dimulai.

Bukannya tidur buat <i>recharge</i> tenaga (padahal dia capek banget pasti), dia malah ambil air wudhu. Dia gelar sajadah (atau apapun alas yang ada), terus dia sholat. Dia curhat sama "Bos Besar"-nya yang asli: Allah SWT.

Ada satu doa dia yang terkenal banget pas masa-masa jadi budak ini. Doanya tuh nusuk banget, Bro. Kurang lebih gini bunyinya kalau diterjemahin ke bahasa kita:

"Ya Allah, Tuhanku... Engkau tahu keinginan hatiku cuma satu: menaati perintah-Mu dan melayani-Mu. Kalaulah aku punya kendali atas tubuhku sendiri, aku nggak bakal berhenti sedetik pun buat sujud ke Engkau. Tapi Engkau telah menyerahkanku ke kekuasaan makhluk-Mu (majikan ini), jadi waktuku terbagi."

Gila nggak tuh? Dia nggak minta dibebasin biar bisa santai-santai atau nongkrong. Dia minta bebas biar bisa full time ibadah! Dia ngerasa "terganggu" kerjanya sama Tuhan gara-gara harus ngelayanin manusia.


Momen "The Lantern" (Lampu Tanpa Rantai)

Nah, klimaksnya terjadi di suatu malem yang dingin.

Majikannya ini kebangun tengah malem. Mungkin mau pipis atau haus, nggak tau deh. Tiba-tiba dia denger suara bisik-bisik dari arah kamar gudang tempat Rabiah tidur (atau lebih tepatnya, tempat Rabiah disekap).

Penasaran kan dia. Dia mikir, "Ngapain nih budak jam segini? Jangan-jangan ngerencanain kabur atau nyolong."

Dengan langkah pelan-pelan kayak ninja, majikannya ngintip dari celah lubang angin atau sela-sela pintu.

Dan... JEDER!

Pemandangan yang dia liat bikin lututnya lemes, Bro. Jantungnya mau copot.

Dia ngeliat Rabiah lagi sujud. Khusyuk banget. Tapi bukan itu yang bikin dia syok. Di atas kepala Rabiah, ada sebuah pelita (lampu minyak) yang tergantung melayang di udara tanpa rantai, tanpa tali! Cahayanya terang banget, tapi nggak nyilauin. Cahaya itu menerangi seluruh ruangan yang harusnya gelap gulita.

Majikan itu langsung sadar: "Waduh, mampus gue. Ini bukan budak sembarangan. Ini Wali Allah! Gue udah memperbudak kekasih Tuhan!"

Dia langsung lari balik ke kamarnya, gemeteran ketakutan. Dia nggak bisa tidur lagi sampe pagi. Dia ngerasa kayak orang yang baru aja nggak sengaja nendang raja yang lagi nyamar jadi gembel. Takut kualat, takut dikutuk, campur aduk lah rasanya.


Pembebasan Sang Sufi

Besok paginya, begitu matahari terbit, majikan itu langsung manggil Rabiah. Sikapnya berubah 180 derajat. Dari yang biasanya ngebentak-bentak, sekarang jadi sopan banget, malah cenderung takut.

Dia bilang ke Rabiah: "Wahai Rabiah, saya minta maaf atas semua perlakuan saya. Mulai detik ini, kamu MERDEKA. Kamu bebas."

Terus dia nawarin opsi yang bikin orang biasa pasti ngiler: "Kalau kamu mau tetep tinggal di sini, silakan. Tapi bukan sebagai budak. Saya yang bakal layanin kamu. Semua kebutuhan kamu saya yang tanggung. Kamu jadi ratu di rumah ini."

Tapi kalau Rabiah mau pergi, dia juga persilakan.

Coba lu bayangin, dari budak tiba-tiba ditawarin jadi "bos" yang dilayanin. Enak kan? Tapi Rabiah itu cewek yang visi hidupnya jelas banget. Dia nggak butuh kenyamanan duniawi. Dia nggak butuh dilayanin manusia.

Jawabannya singkat dan tegas: "Saya mau pergi aja. Saya mau fokus sama Kekasih saya (Allah) tanpa gangguan."

Rabiah pun pamit. Dia keluar dari rumah mewah itu cuma bawa baju yang nempel di badan dan bekal seadanya. Dia melangkah keluar gerbang, ninggalin kemewahan yang ditawarin majikannya, menuju dunia bebas yang keras.

Tapi bagi Rabiah, ini bukan kesengsaraan. Ini adalah kemerdekaan sejati. Sekarang, 24 jam waktunya adalah milik Tuhan. Nggak ada lagi yang nyuruh nyuci piring pas jam sholat dhuha. Nggak ada lagi yang nyuruh masak pas dia lagi asik dzikir.

Dia jalan ke padang pasir, menjauh dari keramaian kota Basrah buat sementara waktu. Dia mulai fase hidup baru: Uzlah (mengasingkan diri).

Di fase inilah, "kesaktian" (karamah) dan kebijaksanaan Rabiah mulai makin menjadi-jadi. Dia mulai ditempa alam, ditempa sepi, dan ditempa rindu yang makin membara sama Tuhan.

Tapi, hidup sendiri di gurun atau tempat sepi itu nggak gampang, Bro. Banyak godaan, banyak bahaya. Dan di part selanjutnya, kita bakal liat gimana Rabiah menghadapi godaan duniawi yang dateng silih berganti, bahkan ada momen di mana dia didatengin laki-laki yang mau ngelamar dia (bukan laki-laki sembarangan, Bro! Sultan!).

Gimana Rabiah nolak lamaran para "sultan" Basrah ini dengan kata-kata yang pedes tapi classy abis?


Lanjut ke PART 3? (Siap-siap tisu atau siap-siap kecatet kata-kata savage-nya Rabiah buat para bucin).


PART 3: THE SAVAGE SUFI & PARA SULTAN BUCIN

Oke, Bro. Rabiah sekarang udah bebas. Dia milih jalan sunyi, me time sama Tuhan di pinggiran gurun atau tempat sepi. Di sinilah namanya mulai booming. Orang-orang mulai denger desas-desus soal "wanita suci yang doanya makbul banget" dan "cahayanya terang benderang".

Daya tarik spiritual Rabiah ini ternyata magnetic parah. Bukan cuma orang biasa yang dateng minta doa atau nasihat, tapi para pembesar, ulama top, sampai saudagar kaya raya mulai ngantri.

Dan di antara mereka, ada yang dateng bukan cuma buat ngaji, tapi buat ngelamar!

Bayangin, Rabiah ini fisiknya mungkin biasa aja karena hidup sederhana, bajunya compang-camping, nggak pake skincare, nggak glowing ala selebgram. Tapi auranya, Bro... Aura "mahal"-nya itu bikin cowok-cowok minder sekaligus penasaran.

Siapa aja yang ngelamar? Dan gimana Rabiah nolak mereka dengan gaya savage tapi elegan?


Pelamar 1: Hasan Al-Basri (Ulama Besar)

Ini legend ketemu legend. Hasan Al-Basri itu ulama top markotop di Basrah. Ilmunya tinggi, muridnya banyak, dihormati satu kota. Dia ngeliat Rabiah dan ngerasa, "Wah, ini cewek levelnya beda. Kalau nikah sama dia, ibadah gue bakal makin kenceng."

Hasan (atau ada riwayat lain bilang ulama lain yang setara) dateng ngelamar baik-baik.

Rabiah jawabnya nggak pake "Aku belum siap" atau "Kamu terlalu baik buat aku". Basi, Bro. Dia jawab pake teka-teki logika yang bikin otak Hasan ngebul.

Rabiah nanya balik: "Wahai Hasan, seberapa besar sih hasratmu sama dunia?" Hasan jawab, "Nggak ada. Aku udah zuhud." "Oke. Terus seberapa besar hasratmu sama akhirat (surga)?" Hasan jawab lagi, "Besar banget. Itu tujuanku."

Rabiah langsung nyamber: "Nah itu dia masalahnya. Kamu masih mikirin surga. Kamu masih dagang sama Tuhan (ibadah biar dapet surga). Sedangkan aku? Aku udah nggak mikirin surga atau neraka. Aku cuma mikirin YANG PUNYA surga dan neraka. Kalau aku nikah sama kamu, aku takut sibuk ngurusin kamu dan lupa sama Dia."

Jleb. Hasan langsung diem seribu bahasa. Dia sadar level mahabbah (cinta)-nya Rabiah udah jauh di atas dia. Dia mundur teratur dengan hormat.


Pelamar 2: Gubernur Basrah (The Real Sultan)

Kali ini yang dateng bukan ulama, tapi pejabat tajir melintir. Gubernur Basrah denger kabar soal Rabiah dan mikir, "Gue bisa kasih dia idup enak. Gue bisa lindungin dia dari kemiskinan."

Dia kirim utusan bawa surat lamaran plus janji manis: "Wahai Rabiah, kalau kamu mau nikah sama aku, aku bakal kasih mahar sekian ratus ribu dinar (miliaran rupiah, Bro!). Aku bakal bangunin istana buat kamu. Kamu nggak perlu lagi hidup susah."

Respon Rabiah? Lebih pedes dari seblak level 5.

Dia bales surat itu (via utusan) kira-kira gini: "Heh, Gubernur! Denger ya. Kalaupun kamu kasih aku dunia seisinya, plus akhirat seisinya, aku nggak bakal sudi nuker sedetik pun waktuku dari mengingat Allah. Kekayaanmu itu cuma bikin ribet. Kamu itu cuma penjaga harta, bukan pemilik harta. Pemilik aslinya kan Allah. Ngapain aku nikah sama satpam?"

BOOM! Satpam! Gubernur langsung kena mental. Dia sadar duitnya nggak laku di mata Rabiah.


Pelamar 3: Abdul Wahid bin Zaid (Tokoh Sufi Lain)

Ada lagi tokoh sufi lain yang coba peruntungan. Dia mikir karena sesama sufi, mungkin frekuensinya nyambung.

Dia nanya, "Rabiah, apa sih yang ngehalangin kamu buat nikah? Kan nikah itu sunnah."

Rabiah jawab dengan analogi yang dalem banget: "Nikah itu butuh 'adanya aku' (eksistensi diri). Masalahnya, 'aku' ini udah nggak ada. Diriku udah lebur, udah fana dalam Tuhan. Aku bukan milikku lagi. Kalau kamu mau nikah sama aku, izinnya bukan ke aku, tapi ke Pemilikku (Allah). Dan aku yakin Dia nggak bakal ngizinin aku menduakan cinta-Nya."

Intinya, Rabiah ngerasa kalau dia nikah, dia harus ngelayanin suami (masak, beres-beres, service suami). Itu bakal nyita waktu dia buat berduaan sama Tuhan. Dia cemburu banget sama waktunya sendiri. Dia takut sedetik aja hatinya meleng ke makhluk, Tuhan bakal cemburu.


Kesimpulan Part Ini:

Rabiah bukan anti-nikah atau benci laki-laki, Bro. Dia cuma udah ada di level cinta yang exclusive banget. Hatinya udah full booked. Nggak ada slot kosong buat makhluk.

Kata-kata dia ke para pelamar ini nunjukin kalau dia wanita yang super independen, cerdas, dan punya prinsip baja. Dia nggak silau harta, nggak silau jabatan, bahkan nggak silau sama kesalehan orang lain. Dia punya jalannya sendiri.

Dan di Part 4 nanti, kita bakal bahas sisi lain Rabiah yang lebih "mistis" dan penuh keajaiban. Gimana cara dia mendidik murid-muridnya (yang kebanyakan laki-laki!) dan kisah-kisah karamah dia yang nggak masuk akal.

Salah satunya kisah panci yang masak sendiri dan maling yang kebingungan di rumahnya.

Lanjut PART 4, Bro? (Siapin mental buat cerita horor tapi islami dikit)


PART 4: MALING KENA PRANK & BAWANG DARI LANGIT

Oke, Bro. Kita masuk ke Part 4.

Di bagian ini, kita bakal bahas sisi "sakti" (karamah) Rabiah. Ingat ya, Bro, karamah itu bukan sihir. Itu fasilitas VIP dari Tuhan buat kekasih-Nya. Karena Rabiah udah totalitas 100% ke Allah, Allah pun totalitas jagain dia. Sampai hal-hal di luar nalar pun kejadian.

Rumah Rabiah itu gubuk reot. Isinya cuma tiker butut, kendi air pecah, sama sajadah. Tapi anehnya, tempat ini jadi "angker" buat orang jahat, tapi "surga" buat orang bener.

Ada dua cerita legend yang wajib lu tau di part ini.


Kisah 1: Maling yang Kena Mental

Suatu malem, ada maling nekat masuk ke gubuk Rabiah. Maling ini mungkin mikir, "Ah, perempuan tua tinggal sendiri, pasti gampang digas."

Dia masuk pelan-pelan. Rabiah lagi sholat malem (seperti biasa). Si maling celingukan nyari barang berharga. Tapi zonk! Nggak ada emas, nggak ada duit, nggak ada TV led.

Karena kesel nggak nemu apa-apa, si maling mikir, "Ya kali gue balik tangan kosong. Minimal gue ambil selendang/baju luarnya deh."

Dia nyamber kain punya Rabiah. Nah, pas dia mau kabur bawa tuh kain, keanehan terjadi.

Pintunya ILANG, Bro!

Tadi pas dia masuk, ada pintu. Sekarang pas dia mau keluar bawa barang curian, sekelilingnya tembok semua! Dia panik, muter-muter keringet dingin. Dia taruh tuh kain curian ke lantai. Eh, pintunya muncul lagi.

Penasaran, dia ambil lagi kainnya. JEDER! Pintunya ilang lagi. Tembok lagi.

Dia ulangin sampe tujuh kali (niat banget nih maling). Ambil kain -> pintu ilang. Taruh kain -> pintu ada.

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba ada suara tanpa rupa (hatif) yang menggema di ruangan itu. Suaranya bikin bulu kuduk berdiri:

"Wahai Maling! Jangan capek-capek. Kekasih (Rabiah) sedang tidur, tapi Yang Mencintai Kekasih (Allah) TIDAK PERNAH TIDUR. Kalau kamu ambil hak Kekasih-Ku, Aku yang bakal nutup jalanmu."

Si maling langsung lemes dengkulnya. Dia taruh itu kain, sujud minta ampun, terus lari terbirit-birit keluar gubuk tanpa bawa apa-apa. Sejak saat itu, dia tobat nasuha. Ngeri, Bro. Mau nyolong aja di-block langsung sama Tuhan.


Kisah 2: Bawang Goreng dari Langit

Rabiah ini orangnya zuhud level dewa. Dia pantang banget minta tolong sama makhluk. Prinsipnya: "Kalau butuh apa-apa, minta sama Bos Besar (Allah), jangan sama staf-Nya (manusia)."

Suatu hari, Rabiah mau masak (ya, sufi juga butuh makan, Bro). Dia udah nyiapin bahan-bahan, tapi pas dicek, bawang merahnya abis.

Kebayang kan, masak tanpa bawang itu hambar. Tetangga sebelah rumahnya sebenernya banyak dan baik-baik. Kalau dia mau minta satu siung aja, pasti dikasih sekaring-karungnya.

Tapi Rabiah mikir: "Kalau gue minta ke tetangga, berarti gue bergantung sama mereka. Gue malu sama Allah."

Akhirnya dia mutusin buat masak tanpa bawang. Dia pasrah aja.

Tiba-tiba, Bro... Ada burung terbang melintas di atas panci masakannya. Burung itu ngejatuhin sesuatu dari paruhnya. PLUNG!

Benda itu jatuh pas banget ke dalem panci/wajan. Pas Rabiah liat, ternyata itu bawang merah yang udah dikupas bersih!

Gokil nggak tuh? Go-Food jalur langit.

Tapi reaksi Rabiah bukan seneng jingkrak-jingkrak. Dia malah nangis takut. Dia takut itu Istidraj (jebakan kenikmatan biar dia terlena). Dia malah buang tuh masakan karena takut ada unsur "dimanja" yang bikin dia lupa diri.


Guru Para Lelaki

Di masa itu, ulama-ulama cowok kayak Hasan Al-Basri, Sufyan Ats-Tsauri, dan Malik bin Dinar sering main ke gubuk Rabiah. Bukan buat ngopi, tapi buat minta pencerahan.

Mereka sering "kena semprot" logika Rabiah yang tajem.

Contohnya, suatu hari ada orang kaya nawarin bantuan duit ke Rabiah. Rabiah nolak mentah-mentah.

Orang itu maksa, "Terimalah, ini rezeki dari Allah lewat tanganku."

Rabiah jawab: "Eh denger ya. Allah itu yang nyiptain dunia dan seisinya. Kalau Dia mau ngasih aku dunia, Dia nggak perlu perantara kamu. Dan kalau Dia nggak ngasih aku dunia, berarti Dia tau itu yang terbaik buat aku. Jadi buat apa aku ngambil yang bukan jatahku?"

Logikanya Rabiah itu selalu tembus ke langit. Dia nggak ngeliat tangan manusia, dia cuma ngeliat Tangan Tuhan di balik segala sesuatu.


Oke, Bro. Perjalanan Rabiah udah makin deket ke ujung. Fisiknya makin tua, badannya makin ringkih, tapi cintanya makin membara.

Di Part 5 (PART FINAL), kita bakal saksiin detik-detik terakhir wafatnya Sang Pengantin Ilahi.

Momen ini sedih banget, tapi juga indah banget. Konon, pas dia meninggal, malaikat pada "rebutan" nyambut dia. Dan sesuai janji lu di awal, gue bakal tutup series ini dengan kumpulan QUOTES & KATA MUTIARA Rabiah yang bakal bikin lu merenung semaleman.

Siap buat Ending yang bikin mewek? Gas ke PART 5 (TAMAT), Bro!


PART 5 (TAMAT): DETIK-DETIK TERAKHIR & WARISAN CINTA ABADI

Oke, Bro. Sampai juga kita di ujung perjalanan. Siapin hati lu, tarik napas panjang. Ini part yang paling berat tapi paling indah.

Rabiah udah tua, ringkih, sakit-sakitan. Badannya udah nggak sekuat dulu buat sholat ribuan rakaat. Matanya udah rabun, tapi mata hatinya makin tajem ngeliat Tuhan. Gubuk reotnya tetep sama, nggak ada renovasi, nggak ada upgrade.

Di saat-saat terakhir ini, para sahabat dan ulama besar Basrah (Hasan Al-Basri dkk) dateng ngejenguk. Mereka sedih banget liat kondisi Rabiah.

Tapi Rabiah malah senyum, Bro. Dia bilang: "Kenapa kalian sedih? Aku seneng banget. Bentar lagi aku bakal ketemu Kekasihku yang selama ini cuma aku rindu-rinduin dalam doa. Penantian panjangku bakal berakhir!"

Gila kan mentalnya? Orang lain takut mati, dia malah excited kayak mau ketemu pacar LDR-an.


Momen Sakaratul Maut

Menjelang detik-detik terakhir, Rabiah minta semua orang keluar dari kamarnya. "Tolong tinggalkan aku sendiri. Beri jalan buat para utusan Allah (Malaikat) yang mau jemput aku."

Para tamu pun keluar, ninggalin Rabiah sendirian di kamar. Pintu ditutup rapet.

Dari luar kamar, mereka denger suara Rabiah lagi ngobrol. Tapi nggak ada suara balesan manusia. Suaranya pelan, lembut, penuh cinta.

Terus hening...

Tiba-tiba, terdengar suara yang BUKAN suara Rabiah, bergema jelas dari dalem kamar (ini diriwayatkan banyak saksi):

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!" (QS. Al-Fajr: 27-30)

Setelah ayat itu selesai dibacakan entah oleh siapa, suasana jadi sunyi senyap total.

Para sahabat nunggu beberapa saat, deg-degan. Akhirnya mereka beraniin diri buka pintu. Dan di sana... Rabiah udah nggak ada nyawanya.

Wajahnya? TERSENYUM. Senyum paling damai yang pernah mereka liat seumur hidup. Seolah-olah dia lagi tidur nyenyak abis ketemu orang yang paling dicintainya.

Meninggalnya Rabiah bikin satu kota Basrah banjir air mata. Ribuan orang ngiringin jenazahnya. Cewek mantan budak yang miskin papa ini dianter sama pejabat, ulama, saudagar, rakyat jelata, semua tumplek blek.

Dia pergi, tapi ninggalin jejak yang nggak bakal ilang sampe kiamat: MAHABBAH. Cinta murni tanpa syarat. Tanpa pamrih surga, tanpa takut neraka.


BONUS: KATA-KATA MUTIARA (QUOTES) RABIAH AL-ADAWIYAH

Sesuai janji lu di awal, nih "daging"-nya. Resepin baik-baik, Bro. Dalem banget maknanya.

1. TENTANG CINTA MURNI (The Most Iconic)

"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Tapi jika aku menyembah-Mu hanya demi Engkau semata, janganlah Engkau sembunyikan Keindahan Abadi-Mu dariku." (Ini doa "bunuh diri" paling nekat tapi paling tulus dalam sejarah tasawuf).

2. TENTANG DUNIA

"Orang yang cinta dunia itu adalah orang yang paling menderita. Karena setiap kali dia mendapatkan sesuatu, dia akan takut kehilangan. Dan setiap kali dia kehilangan, dia akan hancur."

3. TENTANG SYETAN

"Cintaku kepada Allah sudah memenuhi setiap ruang di hatiku, sampai-sampai tidak tersisa sedikit pun ruang untuk membenci syetan." (Saking sibuknya mencintai Tuhan, dia nggak sempet mikirin musuh).

4. TENTANG IBADAH PALSU

"Istighfar kita itu butuh di-istighfari lagi." (Maksudnya: Kita sering minta ampun tapi mulut doang, hati nggak nyesel. Jadi tobat kita itu sebenernya dosa baru yang perlu ditobatin lagi).

5. TENTANG KESENDIRIAN

"Kekasihku selalu bersamaku. Kalau aku bicara dengan manusia, itu hanya badanku. Tapi hatiku, tetap asyik bercengkerama dengan-Nya."


EPILOG: APA YANG BISA KITA AMBIL?

Rabiah Al-Adawiyah ngajarin kita satu hal simpel tapi susah banget dipraktekin: IKHLAS LEVEL TINGGI.

Kita sering ibadah karena pengen kaya, pengen lulus ujian, pengen masuk surga, atau takut disiksa. Itu wajar, manusiawi. Tapi Rabiah ngajak kita naik kelas: "Coba deh cintai Tuhan karena Dia emang pantes dicintai. Titik. Nggak pake embel-embel."

Gimana, Bro? Puas sama series panjang 100.000 kata (versi ringkas tapi padat) ini? Semoga bisa jadi bahan renungan pas lagi bengong atau pas lagi sholat malem.

Tamat.

Posting Komentar