PLATO: The Godfather of Philosophy
Siapin kopi kloter baru, cemilan yang agak "intelek" dikit (kacang kulit juga gapapa), dan posisi duduk yang paling PW. Kita bakal bongkar sejarah manusia yang bikin sekolah pertama di dunia dan mikirin hal-hal yang bikin otak kita traveling.
(Orang yang Bikin Kita Mikir: "Apakah Hidup Ini Cuma Simulasi?")
Kalo di dunia mafia ada Don Corleone, di dunia mikir (filsafat) ada Plato. Tanpa dia, dunia Barat gak bakal kayak sekarang. Sains, politik, agama, sampe film The Matrix, semuanya berutang budi sama orang ini.
Lu harus tau, Alfred North Whitehead (filsuf Inggris terkenal) pernah bilang: "Sejarah filsafat Eropa itu isinya cuma catatan kaki (footnotes) dari Plato." Gila gak tuh? Ribuan tahun orang mikir, intinya cuma ngelanjutin atau ngebantah omongan dia doang.
Ini dia series baru kita: PLATO: The Godfather of Philosophy.
PART 1: Aristocles Si "Bahu Lebar" & Guru yang "Rese"
1. Nama Aslinya Bukan Plato, Bro!
Lu harus tau, nama asli dia itu Aristocles. Terus kenapa dipanggil Plato? "Plato" itu berasal dari kata Platon yang artinya "Lebar". Ada dua versi kenapa dia dipanggil gitu:
Versi Atlet: Bahunya lebar banget (dia emang mantan pegulat, Bro! Jadi filosof itu badannya nggak krempeng).
Versi Intelek: Jidatnya lebar atau cara berpikirnya yang luas banget. Jadi, bayangin Plato itu kayak cowok gym-rat tapi hobi baca buku dan diskusi di warkop.
2. Lahir di Keluarga "Sultan"
Plato lahir sekitar tahun 427 SM di Athena. Dia bukan anak orang sembarangan. Bapak ibunya itu keturunan raja dan politisi beken. Intinya, Plato ini anak silver spoon. Masa depannya udah di-setting buat jadi politisi hebat di Athena. Tapi ya gitu, nasib berkata lain pas dia ketemu satu orang "tua bangka" yang hobi keliling pasar.
3. Ketemu Socrates: Sang Penghancur Rencana
Waktu umur 20 tahun, Plato ketemu sama Socrates. Socrates ini guru yang nggak punya sekolah, nggak pernah nulis buku, kerjanya cuma nanya-nanya ke orang di pasar sampe orang itu ngerasa bego sendiri.
Plato yang tadinya mau jadi politisi, pas denger Socrates ngomong, langsung ngerasa: "Gila, ini dia yang gue cari!" Dia langsung bakar semua naskah puisi dan naskah drama yang pernah dia tulis, terus mutusin buat jadi "murid abadi" Socrates. Di sinilah hidupnya berubah dari anak pejabat jadi pencari kebenaran.
4. Tragedi yang Bikin Plato "Enek" sama Politik
Kenapa Plato nggak jadi politisi? Karena dia ngeliat gurunya, orang paling bijak di Athena, dihukum mati sama pemerintah Athena yang katanya "Demokrasi".
Socrates dituduh ngerusak mental anak muda dan nggak percaya sama dewa-dewa. Dia disuruh minum racun cemara (hemlock). Plato ngeliat sendiri gimana gurunya mati demi prinsip. Kejadian ini bikin Plato trauma dan benci banget sama sistem demokrasi yang dianggapnya cuma "pemerintahan oleh orang-orang yang nggak tau apa-apa".
Dari situ dia mikir: "Dunia ini nggak bakal bener kalau pemimpinnya bukan filosof!"
5. Traveling Cari Ilmu (Backpacker Spiritual)
Abis Socrates mati, Plato cabut dari Athena. Dia traveling selama 12 tahun, Bro!
Dia ke Mesir belajar matematika dan astronomi.
Dia ke Italia belajar sama pengikut Pythagoras (si bapak segitiga itu). Dia nyerap semua ilmu dari ujung ke ujung. Dia nggak cuma belajar teori, tapi juga belajar gimana caranya membangun masyarakat yang ideal.
6. Summary Part 1: Sang Pegulat Pikiran
Di Part 1 ini kita belajar kalau Plato itu:
Badannya Gede, Otaknya Encer: Mantan pegulat yang milih buat "gulat pikiran".
Loyalitas Tanpa Batas: Sangat terpengaruh sama kematian gurunya, Socrates.
Anti-Mainstream: Milih ninggalin kenyamanan sebagai anak pejabat demi nyari jawaban kenapa dunia ini berantakan.
7. Refleksi Tongkrongan
Bro, Plato ngajarin kita kalau lingkungan dan siapa guru lu itu nentuin banget masa depan lu. Kalau Plato nggak ketemu Socrates, mungkin dia cuma bakal jadi politisi korup di Athena yang namanya ilang ditelan sejarah. Tapi karena dia milih guru yang bener (meskipun gurunya rese dan dihukum mati), namanya abadi 2400 tahun.
Gimana, Bro? Udah dapet "vibe" awal si Godfather ini?
Di Part 2 nanti, kita bakal bahas gimana Plato balik ke Athena dan bikin "The Academy" (Sekolah pertama di bumi) dan konsepnya yang paling legendaris: The Allegory of the Cave (Alegori Gua). Konsep yang jadi inspirasi film The Matrix!
Lanjut Part 2, Bro? Kopinya masih panas? Gas!
Bro! Kopi aman? Part 1 tadi kita udah liat gimana Plato kena mental pas gurunya dieksekusi sampai akhirnya dia mutusin buat backpacker-an keliling dunia. Sekarang kita masuk ke Part 2: The Academy & The Matrix Versi Purba.
Di part ini, Plato balik ke Athena bukan buat balas dendam pake pedang, tapi pake otak. Dia sadar kalau mau ngerubah dunia, dia harus bikin "pabrik" manusia pinter.
PART 2: THE ACADEMY – Sekolah Pertama & Rahasia Keluar dari "Gua"
1. "The Academy": Bukan Sekolah Biasa
Sekitar tahun 387 SM, Plato balik ke Athena dan beli sebidang tanah yang ada taman dan hutan kecilnya. Tanah itu dulunya milik pahlawan bernama Hekademos, makanya tempat itu dinamain Academia. Dari sinilah kata "Akademik" yang bikin lu pusing kuliah itu berasal, Bro!
Ini bukan sekolah yang isinya guru nyatet di papan tulis terus muridnya tidur. Di sini sistemnya diskusi, debat, dan riset. Plato nggak narik bayaran alias gratis, tapi yang mau masuk harus punya dasar Matematika yang kuat. Di pintu gerbangnya ada tulisan: "Jangan masuk ke sini kalau lu nggak paham Geometri."
Kenapa? Karena bagi Plato, matematika itu melatih otak buat mikirin hal yang abstrak dan pasti, bukan cuma nebak-nebak perasaan doang.
2. "The Allegory of the Cave" (Alegori Gua)
Nah, ini "daging" paling legendaris dari Plato. Lu pasti pernah nonton film The Matrix, kan? Nah, Plato udah kepikiran konsep itu 2.400 tahun lalu!
Bayangin ada sekelompok orang yang dari lahir dirantai di dalem gua yang gelap. Mereka menghadap tembok. Di belakang mereka ada api unggun, dan ada orang-orang lewat bawa benda-benda yang bayangannya jatuh ke tembok depan orang-orang yang dirantai tadi.
Karena dari bayi cuma liat bayangan, orang-orang di dalem gua itu mikir kalau bayangan itulah kenyataan.
Liat bayangan kucing, mereka bilang "Itu kucing".
Padahal kucing aslinya ada di belakang mereka.
Terus, ada satu orang yang lepas rantenya dan keluar gua. Pas keluar, matanya sakit kena matahari. Tapi pelan-pelan dia sadar: "Anjir, ternyata selama ini gue cuma liat bayangan! Ternyata dunia asli itu ada matahari, ada pohon, ada warna!"
3. Nasib Si Orang "Melek" (The Red Pill)
Pas si orang ini balik ke gua buat ngasih tau temen-temennya, apa yang terjadi? Apa temen-temennya seneng? Kagak, Bro! Temen-temennya malah ngatain dia gila, matanya rusak, dan halu. Mereka lebih milih diem di gua yang nyaman daripada dengerin kebenaran yang bikin pusing.
Tafsir Tongkrongannya: Gua itu adalah Zona Nyaman atau Hoax. Bayangan itu adalah apa yang kita liat di sosmed atau omongan orang yang belum tentu bener. Orang yang keluar gua itu adalah Filosof. Dan matahari itu adalah Kebenaran.
Plato pengen bilang: Kebanyakan orang itu hidup dalam "bayangan". Mereka cuma ikut-ikutan tren tanpa tau substansinya. Tugas lu adalah jadi orang yang berani lepas rante dan liat matahari, meskipun dikatain aneh sama orang lain.
4. Dunia Ide (The Theory of Forms)
Dari cerita gua tadi, Plato bikin teori gila lagi: Dunia Ide. Menurut Plato, semua benda di dunia ini itu "cacat" atau cuma fotokopian yang jelek.
Contohnya: Lu liat kursi. Ada kursi kayu, kursi plastik, kursi rusak. Tapi di otak lu, ada konsep "Kursi yang Sempurna".
Kursi di dunia nyata bisa hancur.
Konsep "Kursi" di dunia ide itu abadi.
Jadi, dunia yang kita injak sekarang ini menurut Plato cuma "bayangan" dari Dunia Ide yang sempurna di sana. Tugas kita sebagai manusia adalah pake logika buat "ingat kembali" (Anamnesis) tentang kesempurnaan di Dunia Ide itu.
5. Summary Part 2: Pabrik Intelektual
Di Part 2 ini kita belajar kalau:
Edukasi itu Investasi: Plato bikin sekolah buat nyetak pemimpin yang nggak cuma pinter orasi, tapi pinter mikir.
Kebenaran itu Menyakitkan: Keluar dari kebodohan itu butuh proses yang perih kayak mata kena matahari.
Dunia ini Cuma Fotokopian: Jangan terlalu baper sama dunia fisik, karena yang abadi itu adalah ide dan nilai-nilai kebaikan.
6. Refleksi Tongkrongan
Bro, coba lu pikirin. Berapa banyak "bayangan" yang lu anggap kenyataan hari ini? Berita hoax, gengsi karena liat gaya hidup orang, atau perasaan "gue nggak bisa apa-apa". Itu semua rante di dalem gua. Plato nyuruh lu: Bangun, Bro! Keluar dari gua lu!
Gimana Part 2? Makin berasa puyeng atau makin tercerahkan?
Di Part 3 nanti, kita bakal bahas tentang "The Republic". Plato bakal jelasin gimana cara bikin negara yang ideal, kenapa pemimpin harus filosof, dan teorinya tentang "Tiga Bagian Jiwa" yang bakal ngejelasin kenapa lu sering ngerasa galau antara pengen diet tapi pengen makan seblak.
Kopi masih ada? Lanjut Part 3? Gas!
Bro! Masih kuat kan otaknya? Tadi di Part 2 kita udah bahas soal "Gua Matrix" dan sekolah pertama di dunia. Sekarang kita masuk ke bagian yang paling kontroversial tapi seru banget: Part 3: The Republic – Negara Ideal & Galau Antara Seblak vs Diet.
Di sini, Plato bakal ngajarin kita gimana cara ngatur negara dan cara ngatur diri sendiri. Dia nggak mau kita cuma jadi manusia yang ikut-ikutan, tapi manusia yang punya "kemudi" di dalam jiwanya.
PART 3: THE REPUBLIC – Membedah Isi Kepala & Cara Jadi Bos yang Bener
1. "The Republic": Nyusun Negara Kayak Nyusun Puzzle
Plato nulis buku judulnya Politeia (The Republic). Di sini dia berkhayal bikin negara yang paling adil sedunia. Menurut dia, negara itu nggak bakal bener kalau pemimpinnya cuma modal "pinter ngomong" atau "anak orang kaya".
Dia bilang pemimpin itu harus Filosof. Kenapa? Karena filosof itu orang yang udah "keluar dari gua" (inget Part 2 kan?). Dia nggak butuh duit, dia nggak butuh jabatan, dia cuma butuh kebenaran. Kalau pemimpin nggak gila jabatan, dia nggak bakal korupsi. Begitu logikanya si Plato, Bro!
2. Teori "Tiga Bagian Jiwa" (The Tripartite Soul)
Nah, ini "daging" yang bisa lu pake buat intropeksi diri. Plato bilang jiwa manusia itu kayak kereta kencana yang ditarik dua kuda dan satu sopir.
Sopirnya (Logistikon/Logika): Ini bagian otak yang mikir, yang pake logika. Tugasnya jadi bos yang ngatur ke mana arah hidup.
Kuda Putih (Thumos/Semangat): Ini bagian emosi, keberanian, dan harga diri. Dia pengennya jadi pahlawan, pengen diakui, dan punya prinsip.
Kuda Hitam (Epithumetikon/Nafsu): Ini bagian perut ke bawah. Pengennya makan, tidur, dapet duit banyak, dan... ya gitu deh. Nafsu liar.
Masalahnya gini, Bro: Kebanyakan dari kita, sopirnya lemes. Jadi yang narik kereta malah si Kuda Hitam. Lu tau harus diet (Logika), tapi pas liat seblak pedas level 10, si Kuda Hitam langsung lari kenceng dan sopir lu cuma bisa pasrah. Akhirnya kereta lu masuk got.
Plato bilang: Orang yang adil adalah orang yang Sopirnya (Logika) bisa naklukin kedua kudanya.
3. Tiga Kelas di Masyarakat
Gara-gara teori jiwa tadi, Plato ngebagi warga negara jadi tiga level:
Level 1 (Produsen): Orang yang dominan "Kuda Hitam"-nya. Cocok jadi petani, pedagang, pengusaha. (Fokus ke ekonomi).
Level 2 (Penjaga/Prajurit): Orang yang dominan "Kuda Putih"-nya. Punya keberanian tinggi. Cocok jadi polisi atau tentara.
Level 3 (Pemimpin): Orang yang dominan "Sopir"-nya (Logika). Ini dia para filosof yang kerjanya mikirin kesejahteraan rakyat.
4. Plato Si "Feminist" Purba?
Uniknya, Bro, di zaman Athena yang cowok-sentris banget, Plato punya pemikiran radikal. Dia bilang perempuan juga bisa jadi pemimpin (Guardians) asalkan mereka punya kemampuan logika yang sama. Di zaman itu, ini pemikiran yang bikin orang Athena pada melongo. Plato udah mikir kesetaraan skill sebelum itu jadi tren!
5. Summary Part 3: Keseimbangan adalah Kunci
Di Part 3 ini kita belajar kalau:
Diri Lu adalah Negara Kecil: Kalau lu nggak bisa ngatur nafsu lu sendiri, jangan harap bisa ngatur hidup lu ke arah yang bener.
Logika Harus Jadi Bos: Jangan biarin emosi atau nafsu yang megang stir kehidupan.
Keadilan itu Harmoni: Adil bukan berarti semua sama rata, tapi semua orang ada di posisi yang sesuai dengan bakat jiwanya.
6. Refleksi Tongkrongan
Bro, coba lu cek "kereta kencana" lu sekarang. Siapa yang lagi megang kendali? Si Sopir yang pinter, si Kuda Putih yang emosian, atau si Kuda Hitam yang cuma pengen rebahan dan jajan mulu? Kalau si Kuda Hitam yang menang terus, siap-siap aja hidup lu muter-muter di tempat yang sama.
Gimana Part 3? Udah siap narik rante si Kuda Hitam lu?
Di Part 4 nanti, kita bakal bahas tentang "The Philosopher King" lebih dalem dan kenapa Plato punya ide gila soal "Hapus Kepemilikan Pribadi" buat para pemimpin. Plus, kita bakal mulai liat muridnya yang paling pinter tapi paling bandel: Aristoteles.
Kopi masih ada satu sruputan? Lanjut Part 4, Bro? Gas!
Bro! Sruput dulu kopinya, karena di Part 4 ini kita bakal bahas ide Plato yang paling "ekstrem" dan gimana dia ketemu sama muridnya yang paling jenius tapi paling hobi ngebantah.
Kita masuk ke Part 4: Philosopher King & Murid Paling Bandel.
PART 4: PHILOSOPHER KING – Pemimpin Tanpa "Instastory" & Rivalitas Guru-Murid
1. Philosopher King: Pemimpin yang Nggak Punya Apa-Apa
Plato punya ide yang bikin politisi zaman sekarang pasti pingsan. Dia bilang, kelas pemimpin (Philosopher King) itu nggak boleh punya harta pribadi.
Kenapa gitu, Bro? Logika Plato simpel: Kalau pemimpin punya rumah mewah, tanah berhektar-hektar, dan tabungan miliaran, mereka nggak bakal fokus ngurus rakyat. Mereka bakal sibuk mikirin gimana caranya nambah kekayaan atau jagain hartanya.
Bahkan, Plato bilang pemimpin itu nggak boleh punya keluarga inti yang eksklusif. Anak-anak harus dibesarkan bersama oleh negara. Tujuannya? Biar si pemimpin nggak pilih kasih atau melakukan nepotisme. Dia pengen pemimpin yang bener-bener "wakaf diri" buat kebenaran. Gila, kan? Benar-benar standar yang nggak manusiawi buat ukuran sekarang, tapi itulah cara Plato buat mastiin nggak ada korupsi.
2. Aristoteles: Masuknya Si "Bocah Ajaib"
Di tengah kejayaan The Academy, datanglah seorang remaja umur 17 tahun dari Makedonia namanya Aristoteles. Dia masuk ke sekolah Plato dan bertahan di sana selama 20 tahun!
Aristoteles ini pinter banget, Bro. Plato sampe menjuluki dia sebagai "The Mind" (Si Otak) di sekolahnya. Tapi, makin lama Aristoteles makin kritis. Ibaratnya, Plato itu anak desain yang mainnya perasaan dan ide abstrak, sedangkan Aristoteles itu anak teknik yang mainnya data dan fakta lapangan.
3. Debat "Langit vs Bumi" (Plato vs Aristoteles)
Ini adalah perseteruan intelektual paling ikonik sepanjang sejarah. Lu mungkin pernah liat lukisan The School of Athens karya Raphael. Di situ ada Plato sama Aristoteles lagi jalan bareng:
Plato nuding ke atas (Langit): Artinya, "Kebenaran itu ada di Dunia Ide, di atas sana, Bro!"
Aristoteles nunjuk ke bawah (Bumi): Artinya, "Bentar dulu, Bro. Kebenaran itu ya yang ada di depan mata, yang bisa kita teliti, kita pegang, dan kita bedah!"
Plato fokus ke "Yang Seharusnya", sedangkan Aristoteles fokus ke "Yang Senyatanya". Aristoteles pernah bilang kalimat yang nyesek banget buat Plato: "Gue cinta Plato, tapi gue lebih cinta Kebenaran." (Bahasa tongkrongannya: Sorry ya Om, lu asik sih, tapi teori lu nggak masuk akal buat gue.)
4. Gagal Total di Syracuse
Plato nggak cuma jago teori, dia pernah nyoba praktek! Dia dapet undangan ke Syracuse (Sisilia) buat ngajarin raja muda di sana, Dionysius II, biar jadi Philosopher King.
Hasilnya? Zonk, Bro! Dionysius II itu raja yang manja dan keras kepala. Dia nggak kuat disuruh belajar matematika dan filsafat yang berat. Bukannya jadi bijak, dia malah baper dan hampir ngebunuh Plato. Plato bahkan sempet dijual jadi budak (untung ditebus sama temennya). Pelajaran: Ternyata ngajarin penguasa buat jadi orang bener itu jauh lebih susah daripada bikin teori 10 buku.
5. Summary Part 4: Realitas yang Pahit
Di Part 4 ini kita belajar kalau:
Standar Tinggi: Plato pengen pemimpin yang suci dari harta, tapi ternyata manusia itu susah lepas dari ego.
Debat itu Sehat: Punya murid yang pinter ngebantah itu tandanya sekolah lu berhasil. Aristoteles nggak bakal jadi hebat kalau dia cuma jadi "yes-man"-nya Plato.
Teori vs Praktek: Nulis soal negara ideal itu gampang, tapi ngerubah satu orang penguasa aja bisa bikin nyawa melayang.
6. Refleksi Tongkrongan
Bro, lu lebih tim mana? Tim Plato yang selalu punya standar ideal (ekspektasi tinggi), atau tim Aristoteles yang lebih realistis liat apa yang ada di depan mata? Kadang kita butuh idealisme Plato biar punya tujuan, tapi kita juga butuh realisme Aristoteles biar nggak gampang kecewa sama kenyataan.
Gimana Part 4? Udah mulai kerasa panas persaingan guru dan murid ini?
Di Part 5 nanti, kita bakal bahas tentang "Cinta ala Plato" (Platonic Love). Apa bener itu cinta tanpa sentuhan? Dan kita bakal liat gimana warisan pemikiran Plato bertahan ribuan tahun sampe ke agama-agama besar dunia.
Kopinya tinggal ampas? Seduh lagi, Bro! Lanjut Part 5? Gas!
Bro! Seduh lagi kopinya, karena di Part 5 ini kita bakal ngebahas hal yang sering banget disalahpahami anak muda zaman sekarang: Cinta.
Lu pasti sering denger istilah "Platonic Relationship" atau "Platonic Love", kan? Nah, di sini kita bakal bongkar kalau konsep cinta versi Plato itu sebenernya jauh lebih "liar" dan lebih deep daripada sekadar "temenan tapi sayang".
Kita masuk ke Part 5: Platonic Love & Warisan Sang Godfather.
PART 5: PLATONIC LOVE – Bukan Sekadar "Friendzone" Spiritual
1. Apa Sih Cinta Platonic Itu?
Banyak orang ngira Platonic Love itu adalah cinta yang nggak pake nafsu, alias cuma temenan doang. Tapi menurut Plato di bukunya yang judulnya Symposium, cinta (Eros) itu adalah tangga.
Bayangin lu lagi naik tangga:
Anak Tangga 1: Lu tertarik sama fisik seseorang (Wah, dia cakep/ganteng). Ini normal, Bro.
Anak Tangga 2: Lu sadar kalau kecantikan fisik itu ada di banyak orang. Lu mulai cinta sama "konsep" kecantikan itu sendiri.
Anak Tangga 3: Lu mulai cinta sama jiwanya, karakternya, dan pikirannya. Fisik jadi nggak terlalu penting.
Puncak Tangga: Lu cinta sama "Ide tentang Keindahan" itu sendiri. Lu cinta sama kebenaran dan kebaikan.
Jadi, cinta Platonic itu bukan "friendzone", tapi proses gimana cinta lu ke manusia pelan-pelan berubah jadi cinta ke ilmu pengetahuan dan Tuhan. Lu pake pasangan lu sebagai "booster" buat jadi manusia yang lebih bijak.
2. Manusia Terbelah: Mencari Belahan Jiwa
Di buku yang sama, ada cerita lucu. Plato bilang, dulu manusia itu bentuknya bulat, tangannya empat, kakinya empat, mukanya dua. Kita sakti banget sampe bikin Dewa Zeus takut didepak.
Akhirnya Zeus ngebelah manusia jadi dua. Makanya, seumur hidup kita ngerasa "kurang" dan sibuk nyari "Belahan Jiwa" (Soulmate) buat ngerasa utuh lagi. Romantis banget kan si pegulat ini? Tapi intinya tetep sama: nyari belahan jiwa itu tujuannya buat saling nyempurnain pikiran, bukan cuma buat pamer di kondangan.
3. Warisan ke Agama & Dunia Modern
Plato itu "bapak" bagi banyak pemikir agama, Bro. Konsep dia tentang Dunia Ide yang sempurna dan Dunia Fisik yang fana itu mirip banget sama konsep Akhirat dan Dunia.
Filosof-filosof Islam kayak Al-Farabi atau Ibnu Sina banyak ngambil ide dari Plato.
Di Kristen, St. Agustinus juga ngegabungin ajaran Plato sama teologi gereja.
Bisa dibilang, cara kita mikir soal "Surga yang indah" itu sedikit banyak dapet pengaruh dari cara Plato ngegambarin "Dunia Ide" yang sempurna. Plato itu jembatan dari logika Yunani ke iman spiritual dunia.
4. Kematian Sang Legenda
Plato meninggal sekitar tahun 348 SM di umur 80-an. Katanya sih, dia meninggal pas lagi tidur tenang abis dateng ke pesta pernikahan muridnya. Dia dimakamin di lingkungan The Academy, sekolah yang dia bangun pake keringat dan pikirannya.
Pas dia mati, dia ninggalin warisan yang nggak bakal bisa abis: puluhan buku dialog yang masih dibaca sampe detik ini di seluruh kampus di dunia. Dia nggak ninggalin kerajaan emas, tapi dia ninggalin "Kerajaan Pikiran".
5. Summary Part 5: Cinta dan Keabadian
Di Part 5 ini kita belajar kalau:
Cinta itu Upgrade Diri: Cinta yang bener itu bikin lu makin pinter dan bijak, bukan makin galau dan bego.
Kita Semua Pencari: Kita selalu ngerasa kurang karena kita emang lagi nyari "kebenaran" yang ilang.
Ide itu Abadi: Manusia bisa mati, tapi pikiran yang bener bakal terus hidup ribuan tahun.
6. Refleksi Tongkrongan
Bro, coba lu liat hubungan lu sama orang-orang sekitar. Apa mereka bikin lu naik tangga menuju "Matahari" (Kebenaran), atau malah narik lu balik ke dalem "Gua" yang gelap? Kalau cinta lu cuma bikin lu males dan jauh dari logika, mungkin itu bukan cinta versi Plato, tapi cuma nafsu si "Kuda Hitam" doang.
Gimana, Bro? Udah tamat nih series "Plato: The Godfather of Philosophy".
Dari pegulat bahu lebar sampe jadi pemikir yang ngerubah dunia. Kita udah bahas dari soal Gua, Negara Ideal, Kuda Nafsu, sampe Cinta Sejati. Moga-moga otak lu nggak makin keriting, tapi makin "berisi".

Posting Komentar