Ini cerita tentang bromance spiritual paling gokil, paling tragis, dan paling mind-blowing sepanjang sejarah manusia.
Bayangin: Ada profesor paling pinter se-kota, paling alim, paling dihormati (Rumi), tiba-tiba ketemu orang asing gelandangan (Syams), terus profesor itu ninggalin semua bukunya buat ngikutin si gelandangan ini. Netizen satu kota heboh!
PART 1: GENESIS – SANG PEMBERONTAK DARI TABRIZ
(Fase Pembentukan Karakter Syams)
1. Intro: Bukan Bayi Biasa
Kita mundur jauh ke tahun 1185-an di kota Tabriz (sekarang wilayah Iran). Lahirlah seorang bayi laki-laki, Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Malik Dad. Tapi kita panggil aja Syams.
Kalau bayi normal nangis minta susu, Syams ini beda. Dari orok, auranya udah bikin "gerah" orang di sekitarnya. Bapaknya Syams itu orang baik, saleh, tipe-tipe bapak-bapak pengurus masjid yang taat banget. Tapi dia bingung setengah mati ngadepin anaknya sendiri.
Bayangin, Syams kecil sering banget ngelamun, natap langit-langit, terus ngomong sendiri atau senyum-senyum. Pas ditawarin makan, dia nolak. "Nak, makan dulu," kata bapaknya. Syams cuma diem. Bukan karena ngambek, tapi karena dia nggak laper. Secara harfiah, fisiknya kayak nggak butuh asupan duniawi. Dia sering puasa berhari-hari tanpa ada yang nyuruh.
Di kitab Maqalat (catatan obrolan Syams), dia pernah bilang:
"Bapakku orang baik, dia punya hati yang lembut. Tapi dia nggak punya 'sayap' buat terbang bareng aku. Dia cuma bisa ngeliatin aku dari bawah sambil bingung."
Analogi yang lu sebut soal Telur Bebek dierami Ayam itu bener banget. Syams itu makhluk amfibi (bisa di darat dan air), sementara bapaknya cuma makhluk darat. Bapaknya sayang, tapi nggak relate. Ini poin penting: Syams tumbuh dalam kesepian yang absolut. Di tengah keramaian keluarganya, dia ngerasa sendirian.
2. Sekolah? Skip, Guru Gue Gak Level
Masuk usia remaja, Syams mulai disekolahin ke guru-guru agama. Di zaman itu, jadi murid itu harus: Duduk diem, dengerin guru, catet, hapal. Syams? Boro-boro.
Dia tipikal murid yang duduk di pojok belakang, kakinya diangkat satu, terus matanya tajem ngeliatin gurunya. Pas gurunya ngejelasin tafsir yang standar, Syams bakal nyeletuk pertanyaan yang bikin satu kelas hening.
"Pak Guru, lu ngomongin Tuhan seolah-olah lu tetangga-Nya. Emang lu pernah ketemu? Atau lu cuma ngehapal alamat rumah-Nya doang?" (Kira-kira gitu kalau dibahasa-Indonesiain).
Guru-gurunya stres. Syams diusir dari satu pengajian ke pengajian lain. Dia dianggap arogan. Padahal, Syams cuma jujur. Dia ngeliat orang-orang belajar agama cuma buat gaya-gayaan, buat dapet gelar, atau buat cari duit. Sementara Syams nyari Api. Dia nyari sensasi kebakar hangus oleh Cinta Tuhan.
3. Syams al-Parinda (The Flying Sun)
Karena gak ada guru yang sanggup nampung "kegilaan" dia, Syams memutuskan buat cabut dari Tabriz. Dia mulai hidup nomaden. Di sinilah dia dapet julukan Syams al-Parinda (Syams si Burung Terbang). Kenapa? Karena dia gak pernah diem di satu kota lebih dari beberapa lama. Gaya hidupnya unik banget Bro:
- Penyamaran: Dia gak pake baju ulama (jubah putih sorban gede). Dia pake baju item-item kumal, bahan kain felt kasar.
- Profesi: Biar gak ketahuan kalau dia "Wali Allah", dia nyamar jadi pedagang gula, atau tukang anyam keranjang. Dia berbaur sama rakyat jelata, preman pasar, dan orang miskin.
- Anti-Gratisan: Syams gengsi gede. Dia gak mau makan dari sedekah. Dia kerja kasar apa aja buat beli roti keras. Dia gak mau "jual agama" buat makan.
Dia keliling ke Baghdad, Damaskus, Aleppo, Kayseri. Ngapain? Headhunting. Syams itu kayak scout pencari bakat kelas kakap. Dia lagi nyari Player Level Mythic di tengah lautan player Epic dan Legend.
Setiap dia ketemu Syekh (guru besar), dia bakal ngetes. Dia bakal nanya pertanyaan aneh. Kalau jawabannya standar, Syams bakal langsung cabut, "Ah, basi. Lu bukan orang yang gue cari."
Ada satu cerita gokil. Syams pernah ketemu syekh terkenal yang sombong. Syekh ini bilang dia bisa ngeliat segalanya. Syams nanya: "Lu bisa liat Tuhan?" Syekh itu diem. Syams bilang: "Kalau lu masih sibuk benerin sorban lu biar keliatan rapi di depan murid-murid lu, mata hati lu sebenernya buta." Jleb. Kabur lagi dia.
4. Usia 60 Tahun: Putus Asa & Doa Pamungkas
Tahun berganti tahun. Syams udah tua, Bro. Umurnya udah sekitar 60-an (bayangin kakek-kakek tapi badannya tegap, matanya nyalang kayak elang). Dia capek. Bukan capek fisik, tapi capek batin.
Dia ngerasa ilmunya udah luber, tapi gak ada wadah buat nuanginnya. Kalau dia mati sekarang, ilmunya bakal mati bareng dia. Dia butuh Cermin. Dia butuh seseorang yang bisa diajak ngomong tanpa harus dia "turunin level" omongannya. Di satu malam yang sunyi, Syams berdoa. Ini bukan doa minta rejeki, ini doa orang yang nantang Tuhan:
"Ya Tuhan! Apakah tidak ada satu pun dari hamba pilihan-Mu yang bisa Kau pertemukan denganku? Aku sudah muak main petak umpet. Tunjukkan siapa Kekasih-Mu yang tersembunyi itu!"
Tiba-tiba, dia dapet "sinyal" (ilham/suara gaib). Suara itu bilang: "Oke, Syams. Ada satu orang. Di Anatolia (Tanah Rum/Turki). Tapi harganya mahal. Apa yang berani lu tawarkan sebagai bayaran buat ketemu orang ini?"
Syams tanpa ragu jawab: "KEPALAKU!" (Artinya: Gue rela mati, gue rela dibunuh, asalkan gue bisa ketemu orang ini dan nuangin seluruh isi hati gue ke dia).
Sinyal itu ngejawab: "Deal. Pergilah ke Konya. Cari anak Bahauddin Walad. Namanya Jalaluddin."
PART 2: THE CLASH – BENTROKAN DUA TITAN
(Pertemuan Konya, 1244 M)
1. Setting Lokasi: Konya, Kota Metropolitan Rohani
Kita mendarat di Konya (sekarang Turki Tengah), tahun 1244. Bayangin Konya waktu itu kayak New York atau Paris-nya dunia Islam. Isinya para intellectuals, pengungsi dari serangan Mongol, pedagang sutra, dan tentu saja... para sufi.
Di tengah kota ini, ada satu nama yang bersinar paling terang: Mevlana Jalaluddin Rumi. Umurnya waktu itu 37 tahun. Statusnya? SULTAN AGAMA.
- Karir: Guru Besar di madrasah paling elit.
- Reputasi: "Mufti" (pemberi fatwa). Kalau Rumi bilang A, satu kota bilang A.
- Gaya Hidup: Elegan. Jubah sutra, sorban rapi, wangi. Kalau dia jalan, murid-muridnya ngikut di belakang kayak fans ngejar artis K-Pop.
Rumi saat itu merasa hidupnya udah "sempurna". Dia udah hapal ribuan hadis, jago debat hukum, dan dihormati raja. Dia pikir dia udah nyampe puncak. Padahal... dia baru nyampe di basecamp. Dia belum mendaki gunung yang sebenernya.
2. Kedatangan "The Dark Stranger"
Sementara Rumi lagi di puncak karir, Syams Tabrizi (si kakek 60 tahunan yang misterius tadi) nyampe di Konya. Tanggal: 29 November 1244.
Syams nginep di penginapan murah pedagang gula. Dia nggak langsung nyari Rumi. Dia ngamatin dari jauh. Syams ngeliat Rumi lewat. Dia ngeliat gimana orang-orang nyium tangan Rumi. Dia ngeliat tatapan mata Rumi yang cerdas tapi... kosong. Mata Rumi itu mata orang yang kenyang ilmu buku, tapi laper pengalaman batin.
3. Hari H: Sabtu, 30 November 1244
Momen bersejarah itu terjadi di pasar sentral Konya. Rumi lagi naik keledai, dikawal murid-muridnya yang fanatik. Orang-orang minggir kasih jalan.
Tiba-tiba... Dari kerumunan, muncul sosok berbaju hitam kumal. Rambut acak-acakan, mata nyalang. Syams maju ke tengah jalan. Dia nekat megang tali kekang keledainya Rumi. Kuda berhenti mendadak. Murid-murid Rumi kaget dan marah.
Tapi Rumi ngangkat tangan, nyuruh muridnya diem. Rumi ngeliat mata orang tua ini. Ada "listrik" di situ. Syams nggak nunduk hormat kayak orang lain. Dia malah natap Rumi tajam banget, kayak elang mau nyamber kelinci.
4. Pertanyaan Jebakan Batman (The Ultimate Test)
Tanpa basa-basi, Syams langsung nembak pertanyaan. Ini bukan pertanyaan fikih biasa. Ini pertanyaan logika mistik tingkat dewa.
Syams: "Wahai Penukar Uang Dunia Akhirat! Jawab pertanyaanku! Siapa yang maqam (derajat)-nya lebih tinggi? Nabi Muhammad SAW... atau Bayazid Bastami?"
Rumi: "Pertanyaan macam apa itu? Jelas Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin seluruh nabi dan rasul. Bayazid hanyalah debu di telapak kaki beliau."
Jawaban standar. Nilai 100 kalau di ujian madrasah. Tapi Syams tertawa sinis.
Syams: "Oh ya? Kenapa Nabi Muhammad yang agung itu berkata: 'Ya Allah, kami tidak mengenal-Mu sebagaimana mestinya Engkau dikenal'... Sedangkan Bayazid justru berteriak: 'Maha Suci Aku! Betapa agungnya kerajaanku!' seolah-olah dia sudah setara dengan Tuhan? Kenapa Nabi merasa KURANG (haus), sedangkan Bayazid merasa KENYANG (penuh)?"
5. Kena Mental (The Breakdown)
Jleb. Pertanyaan itu nembus jantung Rumi. Otak jenius Rumi muter 1000x lebih cepet. Rumi sadar. Ini bukan soal siapa lebih hebat. Ini soal KAPASITAS WADAH (Capacity of the Soul). Rumi akhirnya paham dan jawab dengan gemetar:
Rumi: "Aku mengerti sekarang... Bayazid merasa kenyang karena wadahnya KECIL. Dia minum seteguk air ilahi, dia langsung mabuk dan merasa sudah sampai tujuan. Tapi Nabi Muhammad... Wadahnya seluas SAMUDRA RAYA. Dia minum sebanyak apapun, dia tidak pernah mabuk, dan tidak pernah merasa penuh. Dia selalu haus. Bayazid berhenti di satu stasiun. Nabi terus berjalan tanpa henti."
6. The Explosion (Ledakan)
Pas Rumi selesai ngomong itu... BOOM. Ada riwayat yang bilang Rumi jatuh pingsan dari keledainya. Ego Rumi sebagai "Ulama Besar" HANCUR LEBUR detik itu juga. Dia sadar selama ini dia cuma "Bayazid kw super". Dia merasa pinter, merasa suci. Padahal di hadapan Syams (dan Nabi), dia belum ada apa-apanya.
7. Pulang Bareng (The Beginning of Scandal)
Setelah Rumi sadar, dia nggak naik keledainya lagi. Dia gandeng tangan Syams. Kiai Besar gandengan tangan sama gembel tua. Murid-murid Rumi melongo. Rumi nggak nengok. Mereka jalan kaki menuju madrasah Rumi. Masuk ke satu ruangan kecil. Pintu ditutup. Kunci diputer. Dan dimulailah fase paling misterius dalam sejarah tasawuf: SOHBET selama berbulan-bulan.
PART 3: THE CHRYSALIS – PENGGEMBLENGAN DALAM KEPOMPONG API
(Sohbet & Tragedi Buku)
1. The Lockdown: "Jangan Ganggu, Gue Lagi Login"
Ini yang disebut Sohbet (Pergaulan Rohani). Durasi? Riwayat beda-beda. Ada yang bilang 40 hari, ada yang bilang 6 bulan. Selama masa "karantina" ini:
- Rumi berhenti ngajar. Ribuan muridnya terlantar.
- Rumi berhenti ngasih fatwa. Masyarakat bingung.
- Rumi berhenti sholat jamaah di masjid.
Mereka duduk hadap-hadapan. Syams itu ibarat Server Pusat, Rumi itu Hard Disk Kosong. Syams lagi ngedownload file "RAHASIA ILAHI" ke hati Rumi.
2. Tragedi Pembakaran Buku (The Book Burning)
Di sela-sela sesi curhat itu, Rumi masih suka megang buku-buku catatannya. Syams ngeliat Rumi masih "terikat" sama kertas-kertas itu. Apa yang Syams lakuin? Ada dua versi cerita:
- Versi Air: Syams diclempungin buku itu ke kolam air mancur.
- Versi Api: Syams ngelempar buku-buku itu ke tungku api.
Rumi panik setengah mati! Syams nahan tangan Rumi dan bilang kalimat sakti:
"Kenapa lu sibuk nyari Tuhan di kertas? Emang Tuhan tinta? Ilmu yang ada di buku itu cuma 'katanya'. Gue mau ngasih lu ilmu yang 'NYATA'. Lu mau minum air dari lukisan gelas, atau minum air beneran?"
Rumi terdiam. Dia sadar lagi. Buku = Hijab (Penghalang). Selama dia masih bergantung sama teks, dia gak bakal bisa "baca" Tuhan secara langsung.
3. Transformasi: Dari Profesor Jadi Penari
Setelah berbulan-bulan "digebukin" egonya sama Syams, Rumi keluar dari kamar itu. Murid-muridnya ngeliat Rumi yang beda total. Matanya sayu kayak orang mabuk cinta. Dan yang paling parah... Rumi mulai MUTER (Whirling Dervishes/Tarian Sufi).
Syams ngajarin Rumi bahwa lewat gerak tubuh yang ritmis, kita bisa nyelarassin detak jantung sama detak semesta. Saat lu muter, lu jadi poros. Tangan kanan naik (nerima dari Tuhan), tangan kiri turun (nyebarin ke manusia).
4. Netizen Konya Mulai Panas (The Toxic Fanbase)
Di sinilah konflik memuncak. Murid-murid Rumi (fans garis keras) merasa dikhianati. Gosip mulai nyebar. Syams sadar situasinya makin gak kondusif. Dia tau, kehadirannya di situ ngebahayain reputasi dan nyawa Rumi. Syams mulai mikir buat Ghosting.
PART 4: THE GHOSTING – DEPRESI JALUR LANGIT
(Kepergian Pertama & Lahirnya Sang Penyair)
1. Puncak Kebencian Netizen (Maret 1246)
Murid-murid Rumi mulai neror Syams secara halus dan kasar. Syams mikir: "Oke, kalian mau Rumi balik? Gue cabut. Tapi liat aja, Rumi gak bakal balik jadi ulama kaku kayak dulu. Rumi udah berubah."
2. The Ghosting (Syams Menghilang Tanpa Jejak)
Suatu pagi di bulan Maret 1246... Syams ilang. Kamarnya kosong. Barang-barangnya gak ada. Rumi bangun pagi. Pas liat kamar kosong... DUNIA RUNTUH. Rumi Mogok Total. Gak mau makan, gak mau ngajar, gak mau nemuin tamu.
3. Gamon Parah (Gagal Move On)
Ini fase di mana Rumi bener-bener hancur lebur. Di masa-masa galau inilah, KEAJAIBAN TERJADI. Rasa sakit karena kehilangan itu nyobek-nyobek dada Rumi, dan dari sobekan itu... Keluarlah PUISI. Rumi mendadak jadi Penyair Paling Romantis Sedunia.
"Lu pergi bawa kuncinya, padahal hati gue udah lu gembok. Sekarang gue harus gimana? Gue udah gak punya 'diri' lagi. Diri gue udah ikut pergi bareng lu."
4. Operasi Pencarian & Reuni di Damaskus
Ada info Syams di Damaskus. Rumi langsung ngirim anak kesayangannya, Sultan Walad bawa emas segepok buat ngejemput. Syams luluh liat ketulusan Sultan Walad (yang rela jalan kaki nuntun kuda Syams). Akhirnya Syams setuju balik ke Konya.
5. The Return of The King
Begitu rombongan Syams keliatan, Rumi lari nyambut. Rumi langsung bikin pesta syukuran gede-gedean. Dia bahkan nikahin Syams sama anak angkatnya, Kimia. Tujuannya biar Syams BETAH. Tapi ini cuma ketenangan sebelum badai yang sebenernya.
PART 5: THE MURDER – MALAM BERDARAH & MISTERI SUMUR
(Akhir Tragis Sang Matahari)
1. Pemicu Konflik: Tragedi Kimia
Gak lama setelah nikah, Kimia sakit keras dan meninggal. Kematian Kimia ini jadi BOM WAKTU. Karena Kimia itu satu-satunya "perisai" sosial Syams di keluarga Rumi.
2. The Villain Arc: Alauddin
Muncul tokoh antagonis utama: Alauddin, anak kandung Rumi sendiri yang cemburu karena bapaknya lebih sayang Syams. Alauddin gabung sama kelompok murid Rumi yang sakit hati. Mereka bikin rapat rahasia buat ngebunuh Syams.
3. Malam Jahanam (5 Desember 1248)
Malam musim dingin. Rumi dan Syams lagi ngobrol santai. Tiba-tiba ada ketukan di pintu belakang manggil Syams. Syams natap Rumi dalem-dalem dan bilang kalimat terakhirnya:
"Aku dipanggil untuk KEBERANGKATANKU (kematianku)."
4. The Ambush (Penyergapan)
Begitu kaki Syams nginjek halaman belakang... JLEB! Tujuh orang langsung nyergap. Syams dibunuh di tempat. Mayatnya buru-buru diseret dan DICEMPLUNGIN KE SUMUR TUA di deket situ biar gak ketahuan Rumi.
5. Rumi yang Denial
Rumi nungguin di dalem kamar. Syams gak balik-balik. Rumi mikir positif: "Ah, mungkin dia kabur ke Damaskus lagi." Rumi gak tau sahabat jiwanya itu udah jadi mayat di dalem sumur, cuma beberapa meter dari tempat dia berdiri.
6. The Resurrection (Kebangkitan Rumi)
Setelah bertahun-tahun nyari dan gak ketemu, Rumi akhirnya nyampe di titik PENCERAHAN TERTINGGI. Dia sadar: Syams gak ilang. Syams udah LEBUR di dalem dirinya. Puncaknya, Rumi nulis ribuan puisi dan nulis nama "SYAMS TABRIZI" sebagai tanda tangannya. Kitab itu sekarang dikenal sebagai Diwan-e Shams-e Tabrizi.
7. Fakta Sejarah: Penemuan Mayat
Zaman modern (abad 20), pas makam Rumi di Konya dipugar, arkeolog nemuin SUMUR KUNO di bawah lantai. Dan di dalem sumur itu... ada kerangka manusia laki-laki tua. Sekarang, kerangka itu dikubur layak di samping makam Rumi. Akhirnya, Syams pulang ke rumah.
EPILOG: WARISAN SANG PEMBERONTAK
Tanpa tragedi pembunuhan ini, Rumi cuma bakal jadi ulama fiqih biasa yang bukunya numpuk di perpustakaan berdebu. Gara-gara Syams (hidupnya dan matinya), Rumi meledak jadi Fenomena Global.
"Cinta itu butuh pengorbanan darah. Kalau lu mau ketemu Tuhan, lu harus siap 'dibunuh' ego lu, kenyamanan lu, dan 'diri' lu yang lama. Gue (Syams) cuma korek api. Tugas gue bakar lu (Rumi). Kalau udah kebakar, korek apinya dibuang juga gak masalah. Yang penting apinya nyala terus."
TAMAT.
REFERENSI KITAB & BUKU (BIAR MAKIN VALID)
Biar cerita bromance spiritual lu ini nggak dikira dongeng isapan jempol pas lagi nongkrong, lu bisa cek langsung ke sumber-sumber valid historis ini, Cuy:
- Maqalat-e Shams-e Tabrizi: Ini adalah catatan asli kumpulan obrolan/diskusi Syams Tabrizi selama di Konya. Ditulis langsung oleh murid-murid Rumi yang sempet nyatet celetukan-celetukan pedas Syams. Diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul "Me & Rumi: The Autobiography of Shams-i Tabrizi" oleh William C. Chittick.
- Diwan-e Shams-e Tabrizi (Kulliyat-e Shams): Masterpiece puisi Rumi yang ditulis pas lagi galau berat abis ditinggal mati Syams. Isinya ribuan bait puisi cinta Ilahi yang nampar ego banget.
- Rumi: Past and Present, East and West karya Franklin D. Lewis: Buku biografi Rumi paling lengkap, akademis, dan tervalidasi sejarahnya (termasuk soal penemuan sumur dan kerangka Syams).
- The Forty Rules of Love karya Elif Shafak: Kalau lu males baca buku sejarah yang berat, baca novel fiksi historis ini. Nyritain ulang detail persahabatan Syams dan Rumi dengan bahasa yang asik banget.
FAQ SEPUTAR RUMI & SYAMS TABRIZI
Apakah hubungan Rumi dan Syams itu LGBT (Gay)?
JELAS BUKAN, Bro! Ini kesalahpahaman fatal dari kacamata orang modern (terutama budaya Barat) yang nggak paham konsep tasawuf. Hubungan mereka murni Sohbet (Persahabatan Spiritual/Guru & Murid). Rasa "cinta" yang ditulis Rumi itu adalah kiasan metaforis (Majazi) menuju Cinta Ilahi (Haqiqi). Syams adalah "Cermin" yang memantulkan cahaya Tuhan ke hati Rumi.
Kenapa Syams harus ngebakar buku-buku Rumi?
Itu adalah metode "Unlearning" (belajar melupakan ego). Rumi saat itu terlalu sombong dengan kecerdasan otaknya dan terlalu bergantung pada teks tertulis. Syams ingin menghancurkan "berhala intelektual" Rumi agar Rumi bisa menggunakan mata hatinya untuk 'melihat' Tuhan, bukan sekadar 'membaca' tentang Tuhan.
Siapa sebenarnya yang ngebunuh Syams Tabrizi?
Sejarah mencatat ada sekelompok orang (dijuluki The Seven Killers) yang merasa terancam dengan keberadaan Syams. Otak di balik konspirasi ini diyakini kuat melibatkan Alauddin, anak kandung Rumi sendiri, karena cemburu atas perhatian ayahnya yang lebih condong ke Syams, serta motif asmara masa lalu dengan Kimia (istri Syams).
Apa bedanya Rumi sebelum dan sesudah ketemu Syams?
Sebelum ketemu Syams, Rumi adalah seorang Mufti (Pakar Hukum Islam) yang kaku, rasional, dan akademisi murni. Setelah digembleng Syams, Rumi berubah menjadi seorang Sufi, Penari (Whirling Dervishes), dan Penyair Romantis terbesar di dunia Islam yang mendakwahkan agama lewat jalur Cinta (Mahabbah).
ARMSSY