SYAMS TABRIZI Shamsuddin at-Tabrizi: Sang "Bad Boy" Sufi yang Membakar Rumi
Ini cerita tentang bromance spiritual paling gokil, paling tragis, dan paling mind-blowing sepanjang sejarah manusia.
Bayangin: Ada profesor paling pinter se-kota, paling alim, paling dihormati (Rumi), tiba-tiba ketemu orang asing gelandangan (Syams), terus profesor itu ninggalin semua bukunya buat ngikutin si gelandangan ini. Netizen satu kota heboh!
THE SUN & THE OCEAN
PART 1: GENESIS – SANG PEMBERONTAK DARI TABRIZ
(Fase Pembentukan Karakter Syams)
1. Intro: Bukan Bayi Biasa
Kita mundur jauh ke tahun 1185-an di kota Tabriz (sekarang wilayah Iran). Lahirlah seorang bayi laki-laki, Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Malik Dad. Tapi kita panggil aja Syams.
Kalau bayi normal nangis minta susu, Syams ini beda. Dari orok, auranya udah bikin "gerah" orang di sekitarnya. Bapaknya Syams itu orang baik, saleh, tipe-tipe bapak-bapak pengurus masjid yang taat banget. Tapi dia bingung setengah mati ngadepin anaknya sendiri.
Bayangin, Syams kecil sering banget ngelamun, natap langit-langit, terus ngomong sendiri atau senyum-senyum. Pas ditawarin makan, dia nolak. "Nak, makan dulu," kata bapaknya. Syams cuma diem. Bukan karena ngambek, tapi karena dia nggak laper. Secara harfiah, fisiknya kayak nggak butuh asupan duniawi. Dia sering puasa berhari-hari tanpa ada yang nyuruh.
Di kitab Maqalat (catatan obrolan Syams), dia pernah bilang:
"Bapakku orang baik, dia punya hati yang lembut. Tapi dia nggak punya 'sayap' buat terbang bareng aku. Dia cuma bisa ngeliatin aku dari bawah sambil bingung."
Analogi yang lu sebut soal Telur Bebek dierami Ayam itu bener banget. Syams itu makhluk amfibi (bisa di darat dan air), sementara bapaknya cuma makhluk darat. Bapaknya sayang, tapi nggak relate.
Ini poin penting: Syams tumbuh dalam kesepian yang absolut. Di tengah keramaian keluarganya, dia ngerasa sendirian.
2. Sekolah? Skip, Guru Gue Gak Level
Masuk usia remaja, Syams mulai disekolahin ke guru-guru agama. Di zaman itu, jadi murid itu harus: Duduk diem, dengerin guru, catet, hapal. Syams? Boro-boro.
Dia tipikal murid yang duduk di pojok belakang, kakinya diangkat satu, terus matanya tajem ngeliatin gurunya. Pas gurunya ngejelasin tafsir yang standar, Syams bakal nyeletuk pertanyaan yang bikin satu kelas hening.
"Pak Guru, lu ngomongin Tuhan seolah-olah lu tetangga-Nya. Emang lu pernah ketemu? Atau lu cuma ngehapal alamat rumah-Nya doang?" (Kira-kira gitu kalau dibahasa-Indonesiain).
Guru-gurunya stres. Syams diusir dari satu pengajian ke pengajian lain. Dia dianggap arogan. Padahal, Syams cuma jujur. Dia ngeliat orang-orang belajar agama cuma buat gaya-gayaan, buat dapet gelar, atau buat cari duit. Sementara Syams nyari Api. Dia nyari sensasi kebakar hangus oleh Cinta Tuhan.
3. Syams al-Parinda (The Flying Sun)
Karena gak ada guru yang sanggup nampung "kegilaan" dia, Syams memutuskan buat cabut dari Tabriz. Dia mulai hidup nomaden.
Di sinilah dia dapet julukan Syams al-Parinda (Syams si Burung Terbang). Kenapa? Karena dia gak pernah diem di satu kota lebih dari beberapa lama. Gaya hidupnya unik banget Bro:
Penyamaran: Dia gak pake baju ulama (jubah putih sorban gede). Dia pake baju item-item kumal, bahan kain felt kasar.
Profesi: Biar gak ketahuan kalau dia "Wali Allah", dia nyamar jadi pedagang gula, atau tukang anyam keranjang. Dia berbaur sama rakyat jelata, preman pasar, dan orang miskin.
Anti-Gratisan: Syams gengsi gede. Dia gak mau makan dari sedekah. Dia kerja kasar apa aja buat beli roti keras. Dia gak mau "jual agama" buat makan.
Dia keliling ke Baghdad, Damaskus, Aleppo, Kayseri. Ngapain? Headhunting. Syams itu kayak scout pencari bakat kelas kakap. Dia lagi nyari Player Level Mythic di tengah lautan player Epic dan Legend.
Setiap dia ketemu Syams (guru besar/syekh), dia bakal ngetes. Dia bakal nanya pertanyaan aneh. Kalau jawabannya standar, Syams bakal langsung cabut, "Ah, basi. Lu bukan orang yang gue cari."
Ada satu cerita gokil. Syams pernah ketemu syekh terkenal yang sombong. Syekh ini bilang dia bisa ngeliat segalanya. Syams nanya: "Lu bisa liat Tuhan?" Syekh itu diem. Syams bilang: "Kalau lu masih sibuk benerin sorban lu biar keliatan rapi di depan murid-murid lu, mata hati lu sebenernya buta." Jleb. Kabur lagi dia.
4. Usia 60 Tahun: Putus Asa & Doa Pamungkas
Tahun berganti tahun. Syams udah tua, Bro. Umurnya udah sekitar 60-an (bayangin kakek-kakek tapi badannya tegap, matanya nyalang kayak elang). Dia capek. Bukan capek fisik, tapi capek batin.
Dia ngerasa ilmunya udah luber, tapi gak ada wadah buat nuanginnya. Kalau dia mati sekarang, ilmunya bakal mati bareng dia. Dia butuh Cermin. Dia butuh seseorang yang bisa diajak ngomong tanpa harus dia "turunin level" omongannya.
Di satu malam yang sunyi, Syams berdoa. Ini bukan doa minta rejeki, ini doa orang yang nantang Tuhan:
"Ya Tuhan! Apakah tidak ada satu pun dari hamba pilihan-Mu yang bisa Kau pertemukan denganku? Aku sudah muak main petak umpet. Tunjukkan siapa Kekasih-Mu yang tersembunyi itu!"
Tiba-tiba, dia dapet "sinyal" (ilham/suara gaib). Suara itu bilang: "Oke, Syams. Ada satu orang. Di Anatolia (Tanah Rum/Turki). Tapi harganya mahal. Apa yang berani lu tawarkan sebagai bayaran buat ketemu orang ini?"
Syams tanpa ragu jawab: "KEPALAKU!" (Artinya: Gue rela mati, gue rela dibunuh, asalkan gue bisa ketemu orang ini dan nuangin seluruh isi hati gue ke dia).
Sinyal itu ngejawab: "Deal. Pergilah ke Konya. Cari anak Bahauddin Walad. Namanya Jalaluddin."
DEEP DIVE: APA ISI KEPALA SYAMS? (Dagingnya Nih)
Sebelum kita masuk ke Part 2 (pertemuan mereka), lu harus paham dulu Kenapa Syams itu "Bahaya"?
Ulama zaman itu (dan mungkin zaman sekarang) kebanyakan main di area Syariat (Hukum/Aturan).
Sholat gini caranya.
Puasanya batal kalau gini.
Haram, Halal.
Syams main di area Haqiqat (Kebenaran Substansial). Bagi Syams, aturan itu penting tapi itu cuma kulit kacang. Kalau lu cuma sibuk ngurusin kulit kacang tapi gak pernah makan kacangnya, lu bakal mati kelaparan.
Syams benci KEMUNAFIKAN. Dia lebih respect sama pemabuk yang jujur dia pendosa, daripada ulama yang sholat di depan umum biar dipuji orang. Ini yang bikin dia dibenci banyak orang. Mulutnya itu lho, pedes banget kalau udah ngritik orang yang "Sok Suci".
Dia membawa konsep: Tuhan itu dirasain, bukan didebatin.
Next Step: Syams udah dapet "Google Maps" dari Tuhan. Tujuannya: Konya. Di sana, Rumi lagi hidup enak-enakan jadi ulama selebritis yang belum tau kalau hidupnya bakal dibolak-balik.
Gimana, lanjut ke PART 2: THE CLASH (Bentrokan Dua Titan)? Di part selanjutnya gue bakal ceritain detail pertemuan mereka yang lebih dramatis dari sekadar pegang tali kuda. Ada momen di mana Syams ngetes Rumi di depan umum yang bikin orang satu pasar melongo.
Gas gak nih?
PART 2: THE CLASH – BENTROKAN DUA TITAN
(Pertemuan Konya, 1244 M)
1. Setting Lokasi: Konya, Kota Metropolitan Rohani
Kita mendarat di Konya (sekarang Turki Tengah), tahun 1244. Bayangin Konya waktu itu kayak New York atau Paris-nya dunia Islam. Isinya para intellectuals, pengungsi dari serangan Mongol, pedagang sutra, dan tentu saja... para sufi.
Di tengah kota ini, ada satu nama yang bersinar paling terang: Mevlana Jalaluddin Rumi. Umurnya waktu itu 37 tahun. Statusnya? SULTAN AGAMA.
Karir: Guru Besar di madrasah paling elit.
Reputasi: "Mufti" (pemberi fatwa). Kalau Rumi bilang A, satu kota bilang A.
Gaya Hidup: Elegan. Jubah sutra, sorban rapi, wangi. Kalau dia jalan, murid-muridnya ngikut di belakang kayak fans ngejar artis K-Pop.
Rumi saat itu merasa hidupnya udah "sempurna". Dia udah hapal ribuan hadis, jago debat hukum, dan dihormati raja. Dia pikir dia udah nyampe puncak. Padahal... dia baru nyampe di basecamp. Dia belum mendaki gunung yang sebenernya.
2. Kedatangan "The Dark Stranger"
Sementara Rumi lagi di puncak karir, Syams Tabrizi (si kakek 60 tahunan yang misterius tadi) nyampe di Konya. Tanggal: 29 November 1244.
Syams nginep di penginapan murah pedagang gula (Sugar Merchants' Inn). Dia nggak langsung nyari Rumi. Dia ngamatin dari jauh. Syams ngeliat Rumi lewat. Dia ngeliat gimana orang-orang nyium tangan Rumi. Dia ngeliat tatapan mata Rumi yang cerdas tapi... kosong.
Mata Rumi itu mata orang yang kenyang ilmu buku, tapi laper pengalaman batin. Syams bergumam: "Ini dia orangnya. Tapi tembok egonya tebel banget. Gue harus hancurin tembok itu pake palu godam."
3. Hari H: Sabtu, 30 November 1244
Momen bersejarah itu terjadi di pasar sentral Konya. Rumi lagi naik keledai (atau kuda, riwayat beda-beda tapi intinya dia naik tunggangan), dikawal murid-muridnya yang fanatik. Orang-orang minggir kasih jalan.
Tiba-tiba... Dari kerumunan, muncul sosok berbaju hitam kumal. Rambut acak-acakan, mata nyalang. Syams maju ke tengah jalan. Dia nekat megang tali kekang keledainya Rumi. Kuda berhenti mendadak. Murid-murid Rumi kaget dan marah. "Woy, gembel mana nih berani nyegat Tuan Guru?!"
Tapi Rumi ngangkat tangan, nyuruh muridnya diem. Rumi ngeliat mata orang tua ini. Ada "listrik" di situ. Syams nggak nunduk hormat kayak orang lain. Dia malah natap Rumi tajam banget, kayak elang mau nyamber kelinci.
4. Pertanyaan Jebakan Batman (The Ultimate Test)
Tanpa basa-basi, tanpa Assalamualaikum yang formal, Syams langsung nembak pertanyaan. Ini bukan pertanyaan fikih biasa. Ini pertanyaan logika mistik tingkat dewa.
Syams teriak: "Wahai Penukar Uang Dunia Akhirat! Jawab pertanyaanku!" "Siapa yang maqam (derajat)-nya lebih tinggi? Nabi Muhammad SAW... atau Bayazid Bastami?"
(Info buat lu: Bayazid Bastami itu sufi legendaris yang terkenal sakti dan mabuk cinta Tuhan).
Satu pasar hening. Rumi kaget. Dia mikir, 'Ini orang gila apa gimana? Masa ngebandingin Nabi sama ulama biasa?'
Dengan nada wibawa dosen, Rumi jawab: Rumi: "Pertanyaan macam apa itu? Jelas Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin seluruh nabi dan rasul. Keagungannya tak tertandingi. Bayazid hanyalah debu di telapak kaki beliau."
Jawaban standar. Jawaban buku teks. Nilai 100 kalau di ujian madrasah. Tapi Syams tertawa sinis.
Syams: "Oh ya? Kalau gitu dengerin ini..." Syams mulai ngeluarin kartu As-nya (The Trap):
"Kenapa Nabi Muhammad yang agung itu berkata: 'Ya Allah, kami tidak mengenal-Mu sebagaimana mestinya Engkau dikenal' (Subhanaka ma 'arafnaaka)..." "Sedangkan Bayazid justru berteriak: 'Maha Suci Aku! Betapa agungnya kerajaanku!' (Subhani ma a'zama sya'ni) seolah-olah dia sudah setara dengan Tuhan?"
"Kenapa Nabi merasa KURANG (haus), sedangkan Bayazid merasa KENYANG (penuh)?"
5. Kena Mental (The Breakdown)
Jleb. Pertanyaan itu nembus jantung Rumi. Otak jenius Rumi muter 1000x lebih cepet. Dia nyoba cari jawaban di buku-buku yang pernah dia baca. Error 404: Not Found.
Logikanya gini:
Kalau Bayazid lebih rendah, kenapa dia berani sombong (bilang "Maha Suci Aku")?
Kalau Nabi lebih tinggi, kenapa Nabi malah merendah (bilang "Aku belum kenal Engkau")?
Rumi sadar. Ini bukan soal siapa lebih hebat. Ini soal KAPASITAS WADAH (Capacity of the Soul).
Rumi akhirnya paham dan jawab dengan gemetar: Rumi: "Aku mengerti sekarang..." "Bayazid merasa kenyang karena wadahnya (gelasnya) KECIL. Dia minum seteguk air ilahi, dia langsung mabuk dan merasa sudah sampai tujuan. Dia nggak kuat nampung lebih banyak."
"Tapi Nabi Muhammad... Wadahnya seluas SAMUDRA RAYA. Dia minum sebanyak apapun, dia tidak pernah mabuk, tidak pernah pingsan, dan tidak pernah merasa penuh. Dia selalu haus. Dia selalu ingin lebih. Karena keagungan Tuhan itu tak terbatas, maka rasa haus Nabi pun tak terbatas."
"Bayazid berhenti di satu stasiun. Nabi terus berjalan tanpa henti."
6. The Explosion (Ledakan)
Pas Rumi selesai ngomong itu... BOOM. Ada riwayat yang bilang Rumi jatuh pingsan dari keledainya. Ada yang bilang Rumi turun, meluk lutut Syams, dan nangis. Ada yang bilang mereka berdua teriak barengan saking ekstasenya, sampe orang-orang pasar ketakutan dikira ada gempa.
Apapun versi fisiknya, kejadian batinnya satu: Ego Rumi sebagai "Ulama Besar" HANCUR LEBUR detik itu juga. Dia sadar selama ini dia cuma "Bayazid kw super". Dia merasa pinter, merasa suci. Padahal di hadapan Syams (dan Nabi), dia belum ada apa-apanya.
Syams berhasil. Palu godamnya pecahin tembok Rumi.
7. Pulang Bareng (The Beginning of Scandal)
Setelah Rumi sadar, dia nggak naik keledainya lagi. Dia gandeng tangan Syams. Bayangin pemandangannya: Kiai Besar, idola kota Konya, gandengan tangan sama gembel tua asing yang baru dateng kemarin sore. Murid-murid Rumi (yang posesif) melongo. "Guru mau kemana? Pengajian jam 2 gimana?"
Rumi nggak nengok. Mereka jalan kaki menuju madrasah Rumi. Masuk ke satu ruangan kecil. Pintu ditutup. Kunci diputer.
Dan dimulailah fase paling misterius dalam sejarah tasawuf: SOHBET (Pergaulan Suci) selama berbulan-bulan.
ANALISIS DAGING PART 2:
Kenapa pertemuan ini penting banget buat kita (anak muda/zaman now)?
Zona Nyaman itu Membunuhmu: Rumi udah nyaman jadi orang terhormat. Syams dateng buat ngacak-ngacak itu. Kadang, Tuhan ngirim masalah (atau orang nyebelin) buat ngerusak kenyamanan lu, biar lu "naik kelas".
Jangan Liat Cover-nya: Syams luarnya gembel, dalemnya emas murni. Rumi luarnya emas (sutra), dalemnya masih butuh dipoles. Kita sering ketipu sama casing.
Ilmu vs Rasa: Rumi punya Ilmu (Knowledge). Syams punya Rasa (Gnosis/Irfan). Ilmu tanpa Rasa itu kering. Rasa tanpa Ilmu itu bahaya. Pas mereka ketemu, Ilmu + Rasa = Ledakan Nuklir Spiritual.
Next Step: Apa yang terjadi di balik pintu terkunci itu? Konon, Syams ngelakuin hal-hal gila ke Rumi.
Ngebakar/ngebuang buku-buku mahal Rumi ke kolam air.
Nyarang Rumi baca buku lagi.
Ngajarin Rumi metode "aneh" buat nyari Tuhan yang bikin murid-muridnya Rumi makin panas dan siap-siap mau ngebunuh Syams.
Lanjut ke PART 3: THE COCOON (Kepompong dan Pembakaran Buku)? Di sini mulai banyak drama netizen Konya yang toxic abis, Bro.
Oke, korek api siap? Karena di PART 3 ini kita bakal mulai "membakar" hal-hal yang selama ini kita anggep suci tapi sebenernya cuma penghalang.
Ini fase yang paling kontroversial. Kalau lu ada di Konya waktu itu, lu pasti bakal ikutan ngehujat Syams. Serius. Apa yang dia lakuin ke Rumi itu di luar nalar.
PART 3: THE CHRYSALIS – PENGGEMBLENGAN DALAM KEPOMPONG API
(Sohbet & Tragedi Buku)
1. The Lockdown: "Jangan Ganggu, Gue Lagi Login"
Abis kejadian di pasar itu, Rumi ngebawa Syams ke madrasah atau rumahnya. Mereka masuk ke satu ruangan khusus. Kunci pintu. Tutup gorden. Mode: Do Not Disturb.
Ini yang disebut Sohbet (Pergaulan Rohani). Durasi? Riwayat beda-beda. Ada yang bilang 40 hari (Arba'in), ada yang bilang 3 bulan, bahkan 6 bulan. Intinya: Lama banget, Bro!
Selama masa "karantina" ini:
Rumi berhenti ngajar. Ribuan muridnya terlantar.
Rumi berhenti ngasih fatwa. Masyarakat bingung mau nanya hukum ke siapa.
Rumi berhenti sholat jamaah di masjid. (Ini poin yang bikin ulama fiqih pada kejang-kejang).
Apa yang mereka lakuin di dalem? Jangan mikir aneh-aneh ya. Ini bukan bromance biasa. Ini Transfer Data Tingkat Dewa. Mereka duduk hadap-hadapan, lutut ketemu lutut (atau diem-dieman aja). Syams itu ibarat Server Pusat, Rumi itu Hard Disk Kosong (setelah diformat ulang). Syams lagi ngedownload file "RAHASIA ILAHI" ke hati Rumi.
Mereka ngobrolin hal-hal yang gak pernah ditulis di buku manapun. Tentang gimana rasanya mati sebelum mati, tentang rindu yang bikin tulang remuk, tentang tarian atom di semesta.
2. Tragedi Pembakaran Buku (The Book Burning)
Nah, ini momen paling ikonik dan bikin Rumi "kena mental" jilid 2. Di sela-sela sesi curhat itu, Rumi masih suka megang buku-buku catatannya. Maklum, dia kan akademisi, kutu buku banget. Di sampingnya ada tumpukan kitab-kitab langka, tulisan tangan bapaknya (Bahauddin Walad), dan catatan-catatan penting yang harganya miliaran kalau dikurs-in sekarang.
Syams ngeliat Rumi masih "terikat" sama kertas-kertas itu. Syams nanya: "Apaan tuh?" Rumi jawab: "Ini ilmu (Qila wa Qala). Lu gak bakal paham." (Rumi masih ada sisa-sisa sombong intelektual dikit).
Apa yang Syams lakuin? Ada dua versi cerita (pilih yang mana aja, intinya sama):
Versi Air: Syams ngambil tumpukan buku itu, terus DICLEMPUNGIM ke kolam air mancur di taman madrasah. Byuur!
Versi Api: Syams ngelempar buku-buku itu ke tungku api. Wuzzz!
Rumi panik setengah mati! "Woy! Itu ilmu warisan bapak gue! Itu catetan seumur hidup gue! Gila lu ya?!" Dia mau nyelamatin buku-buku itu.
Syams nahan tangan Rumi dan bilang kalimat sakti:
"Kenapa lu sibuk nyari Tuhan di kertas? Emang Tuhan tinta? Emang Tuhan kertas?" "Ilmu yang ada di buku itu cuma 'katanya'. Katanya fulan, katanya syekh anu. Gue mau ngasih lu ilmu yang 'NYATA'. Lu mau minum air dari lukisan gelas, atau minum air beneran?"
Rumi terdiam. Dia sadar lagi. Buku = Hijab (Penghalang). Selama dia masih bergantung sama teks, dia gak bakal bisa "baca" Tuhan secara langsung. Rumi akhirnya ngerelain buku-bukunya ancur.
(Plot Twist mistis: Konon pas Syams ngambil lagi buku itu dari air, bukunya KERING KERONTANG. Gak basah sama sekali. Syams cuma mau ngetes keiklasan Rumi doang. Tapi poinnya bukan di situ, poinnya adalah Rumi harus siap kehilangan "identitas intelektual"-nya).
3. Transformasi: Dari Profesor Jadi Penari
Setelah berbulan-bulan "digebukin" egonya sama Syams, Rumi keluar dari kamar itu. Murid-muridnya udah nungguin di luar dengan harap-harap cemas. "Guru kita pasti keluar makin pinter, makin alim, makin bercahaya."
Pas pintu kebuka... ZONK. Mereka ngeliat Rumi yang beda total. Rumi yang dulu jalannya tegap dan penuh wibawa, sekarang matanya sayu kayak orang mabuk cinta. Bajunya gak serapi dulu. Dan yang paling parah...
Rumi mulai MUTER. Iya, Rumi mulai ngelakuin gerakan yang sekarang kita kenal sebagai Whirling Dervishes (Tarian Sufi). Dia muter-muter sambil nyebut nama Tuhan, kadang sambil nangis, kadang sambil ketawa.
Bagi ulama ortodoks zaman itu, ini SKANDAL. "Masa ulama joget-joget? Haram Bro! Gila ini mah!" Syams ngajarin Rumi bahwa:
Lewat gerak tubuh yang ritmis, kita bisa nyelarassin detak jantung sama detak semesta.
Saat lu muter, lu jadi poros. Tangan kanan naik (nerima dari Tuhan), tangan kiri turun (nyebarin ke manusia). Lu cuma perantara.
4. Netizen Konya Mulai Panas (The Toxic Fanbase)
Di sinilah konflik memuncak. Murid-murid Rumi (fans garis keras) merasa dikhianati. Mereka ngerasa Rumi udah "dicuci otak" sama si tua bangka Syams ini.
Gosip mulai nyebar di pasar-pasar Konya:
"Siapa tuh orang asing dari Tabriz? Dukun ya?"
"Rumi disantet kayaknya, masa ulama besar jadi kayak orang gila gitu."
"Gue denger si Syams itu gak pernah sholat jumat!" (Padahal Syams sholatnya level makrifat, beda server).
"Ayo kita usir Syams! Dia ngerusak tatanan kota kita!"
Syams sadar situasinya makin gak kondusif. Dia ngeliat tatapan benci di mana-mana. Dia tau, kehadirannya di situ ngebahayain reputasi Rumi dan bahkan nyawa Rumi.
Syams itu "Bad Boy", dia gak takut mati. Tapi dia gak mau Rumi hancur gara-gara dia. Syams mulai mikir buat Ghosting.
ANALISIS DAGING PART 3:
Kenapa Syams harus "sekejam" itu buang buku Rumi?
Unlearning (Belajar Melupakan): Kadang buat jadi bijak, kita bukan butuh nambah ilmu, tapi butuh buang ilmu-ilmu sampah yang bikin kita ngerasa pinter. Perasaan "gue udah tau" itu racun paling mematikan buat penari spiritual.
Idolatry of Intellect: Kita sering menuhankan otak/logika. Syams mecahin berhala itu. Dia maksa Rumi buat pake "Hati", bukan "Kepala". Kepala itu terbatas, Hati itu unlimited.
Circle Toxic: Murid-murid Rumi itu representasi dari "zona nyaman". Mereka pengen Rumi tetep jadi idola mereka yang sempurna. Syams dateng buat bilang: "Guru lu bukan milik lu. Dia milik Tuhan."
Next Step: Syams ngerasa misinya tahap 1 udah selesai. Rumi udah "terbakar", tapi belum "hangus" sempurna. Rumi masih butuh satu hantaman lagi: RASA KEHILANGAN.
Syams memutuskan buat kabur diem-diem tanpa pamit. Rumi bakal bangun pagi dan nemuin kamarnya kosong. Dan di situlah... Rumi bakal bener-bener jadi Penyair Galau Sedunia.
Lanjut ke PART 4: THE GHOSTING (Kabur ke Damaskus & Depresi Rumi)? Di sini kita bakal liat sisi manusiawi Rumi yang rapuh banget, nangis-nangis nyari gurunya kayak anak kecil ilang di mall. Siap tisu?
Siap tisu, Bro? Karena di PART 4 ini kita bakal liat sisi Rumi yang rapuh banget. Bayangin ulama besar, profesor, orang terhormat... nangis bombay kayak anak kecil kehilangan emaknya di pasar malem.
Ini fase yang ngebuktiin kalau Cinta itu Sakit, tapi sakitnya itu yang bikin lu idup.
PART 4: THE GHOSTING – DEPRESI JALUR LANGIT
(Kepergian Pertama & Lahirnya Sang Penyair)
1. Puncak Kebencian Netizen (Maret 1246)
Balik lagi ke Konya. Situasinya makin panas. Murid-murid Rumi (sebut aja "Rumi Fans Club") udah gak tahan. Mereka ngerasa Syams itu "pelet".
"Guru kita Rumi udah gak pernah ngajar lagi!"
"Dia cuma sibuk ngurung diri sama si tua bangka asing itu!"
"Kita harus usir Syams biar Rumi balik normal jadi ulama beneran!"
Mereka mulai neror Syams secara halus dan kasar. Disindir pas lewat, diketawain, bahkan ada ancaman pembunuhan. Syams itu peka banget. Dia tau, kalau dia tetep di situ, Rumi bakal kejepit di tengah. Reputasi Rumi ancur, nyawa Syams juga terancam.
Syams mikir: "Oke, kalian mau Rumi balik? Gue cabut. Tapi liat aja, Rumi gak bakal balik jadi ulama kaku kayak dulu. Rumi udah berubah."
2. The Ghosting (Syams Menghilang Tanpa Jejak)
Suatu pagi di bulan Maret 1246... Syams ilang. Gak ada surat pamit. Gak ada "See you later". Kamarnya kosong. Barang-barangnya gak ada.
Rumi bangun pagi, semangat mau ngopi bareng Syams (kiasan ya). Pas liat kamar kosong... DUNIA RUNTUH. Rumi nyari ke seluruh sudut madrasah. "Syams! Syams! Di mana lu?!" Nihil.
Reaksi Rumi bener-bener di luar dugaan murid-muridnya. Mereka pikir, "Nah, setannya udah pergi, Pak Kiai pasti bakal balik ngajar kitab kuning lagi." SALAH BESAR, BOS.
Rumi malah Mogok Total.
Gak mau makan.
Gak mau ngajar.
Gak mau nemuin tamu.
Dia cuma duduk di pojok, nangis, atau muter-muter (whirling) sambil teriak manggil nama Syams.
3. Gamon Parah (Gagal Move On)
Ini fase di mana Rumi bener-bener hancur lebur. Dia sadar, Syams itu bukan cuma temen ngopi. Syams itu Cermin Tuhan buat dia. Pas cerminnya ilang, Rumi ngerasa koneksinya putus.
Di masa-masa galau inilah, KEAJAIBAN TERJADI. Rasa sakit karena kehilangan itu nyobek-nyobek dada Rumi, dan dari sobekan itu... Keluarlah PUISI.
Sebelum ketemu Syams, Rumi itu penulis prosa (buku ilmiah/hukum) yang kaku. Tapi gara-gara ditinggal Syams, Rumi mendadak jadi Penyair Paling Romantis Sedunia. Dia mulai nulis syair-syair rindu yang bikin merinding. Salah satu kutipannya (kira-kira gini bahasa tongkrongannya):
"Lu pergi bawa kuncinya, padahal hati gue udah lu gembok. Sekarang gue harus gimana? Gue udah gak punya 'diri' lagi. Diri gue udah ikut pergi bareng lu."
Murid-muridnya panik. "Waduh, Pak Kiai bukannya sembuh malah makin gila. Dia malah jadi penyair galau!" Mereka nyesel. Ternyata Rumi tanpa Syams itu kayak mayat hidup.
4. Operasi Pencarian (Mission: Impossible)
Berbulan-bulan Rumi dalam kondisi depresi. Akhirnya, ada info intelijen masuk: "Bos, ada yang liat orang mirip Syams di Damaskus (Suriah). Dia lagi main catur di kedai kopi."
Rumi langsung idup lagi matanya! Dia manggil anak kesayangannya, Sultan Walad (ini anak yang bener, beda sama adiknya si Alauddin yang toxic). Rumi bilang: "Nak, bawa semua emas yang kita punya. Bawa perak. Bawa kuda terbaik. Jemput Syams di Damaskus. Sujud di kakinya, minta maaf atas kelakuan murid-murid bapak yang kurang ajar. Bawa dia pulang!"
Sultan Walad langsung berangkat. Misi penyelamatan dimulai.
5. Reuni di Damaskus
Sultan Walad nyampe Damaskus dan nemuin Syams lagi santai. Sultan Walad langsung ngelakuin apa yang disuruh bapaknya. Dia nawarin emas segepok.
Syams ketawa. "Buat apa emas ini? Muhammad (Rasulullah) gak butuh emas, masa aku butuh? Simpen aja." Tapi Syams luluh juga liat ketulusan Sultan Walad. Dia tau Rumi lagi sekarat karena rindu. Akhirnya Syams setuju balik ke Konya.
Perjalanan pulangnya epik banget: Syams naik kuda. Sultan Walad JALAN KAKI di samping kuda sambil nuntun talinya. Padahal Sultan Walad itu anak ulama besar, anak orang kaya. Tapi dia ngehargain Syams segitu tingginya demi bapaknya.
6. The Return of The King (Balik ke Konya)
Begitu rombongan Syams keliatan di gerbang kota Konya... Rumi gak sabar. Dia lari nyambut Syams. Mereka pelukan erat banget. Kayak dua lautan ketemu. Orang-orang yang liat (termasuk murid-murid yang tadinya benci) jadi ikut nangis terharu. Suasananya magis banget.
Rumi langsung bikin pesta syukuran gede-gedean. Dia bahkan nikahin Syams sama anak angkatnya, Kimia (cewek cantik, pinter, kesayangan Rumi). Tujuannya apa? Biar Syams BETAH. "Nih, udah gue kasih keluarga, udah gue kasih posisi, tolong jangan kabur lagi ya."
Syams senyum. Dia nikah sama Kimia. Seolah-olah... Happy Ending, kan?
TAPI... (Selalu ada tapi di cerita sufi). Ini cuma ketenangan sebelum badai yang sebenernya. Murid-murid Rumi yang toxic itu cuma acting tobat. Di belakang, mereka masih nyimpen dendam. Apalagi sekarang Syams dapet cewek cantik (Kimia) dan makin disayang Rumi. Iri dengki mereka makin menjadi-jadi.
Dan kali ini, ada satu Villain Baru yang gabung sama geng haters: Alauddin, anak kandung Rumi sendiri.
ANALISIS DAGING PART 4:
Kenapa Syams harus pergi (Ghosting) dulu? Kenapa gak diem aja?
Pelajaran Firaq (Perpisahan): Dalam sufisme, Union (pertemuan) itu manis, tapi Separation (perpisahan) itu yang MEMATANGKAN. Kalau lu terus-terusan bareng guru lu, lu bakal manja. Lu bakal nyandar terus. Syams pergi biar Rumi bisa berdiri sendiri dan nemuin "Syams" di dalem hatinya sendiri, bukan di sosok fisik orang tua itu.
Melahirkan Puisi: Kalau Syams gak pergi, Divan-i Shams (kitab puisi Rumi yang tebel banget itu) gak bakal pernah lahir. Rasa sakit adalah tinta terbaik buat seniman.
Ujian Kesetiaan Murid: Kepergian Syams ngebuka topeng asli murid-murid Rumi. Mana yang beneran sayang Rumi, mana yang cuma pengen nguasain Rumi.
Next Step: Kita masuk ke babak terakhir yang paling tragis dan dark. Syams balik, tapi nyawanya diitung mundur. Ada konspirasi pembunuhan di malam buta. Ada pengkhianatan dari dalem rumah sendiri.
Siap mental buat PART 5: THE MURDER (Malam Berdarah & Misteri Sumur)? Di sini kita bakal bedah kronologi pembunuhannya kayak detektif Conan. Siapa pelakunya? Gimana caranya? Dan ke mana mayatnya?
Oke, tarik napas panjang. Tahan. Keluarin pelan-pelan. Ini bagian paling DARK, paling TRAGIS, dan paling MISTERIUS.
Kalau Part 4 itu drama Korea (nangis-nangis rindu), Part 5 ini murni Thriller Crime. Ada pembunuhan berencana, ada pengkhianatan dalam keluarga, dan ada mayat yang disembunyiin selama berabad-abad.
Siapin mental. Kita masuk ke PART 5.
PART 5: THE MURDER – MALAM BERDARAH & MISTERI SUMUR
(Akhir Tragis Sang Matahari)
1. Pemicu Konflik: Tragedi Kimia (The Catalyst)
Ingat di part sebelumnya Syams dinikahin sama Kimia (anak angkat kesayangan Rumi)? Tujuannya biar Syams betah. Awalnya manis, tapi...
Kimia itu masih muda banget, cantik, pinter. Syams itu kakek-kakek misterius yang galak dan "intens". Rumah tangga mereka gak mulus. Syams cemburuan parah, protektif, dan sering marahin Kimia kalau Kimia ngobrol sama orang lain. Gak lama setelah nikah, Kimia sakit keras dan meninggal. (Ada gosip jahat bilang dia mati karena tekanan batin ngadepin Syams, tapi kemungkinan besar karena wabah atau sakit fisik biasa).
Kematian Kimia ini jadi BOM WAKTU. Kenapa? Karena Kimia itu satu-satunya "perisai" sosial Syams di keluarga Rumi. Pas Kimia mati, tamengnya ilang. Orang-orang makin benci Syams. "Udah tua, ngerebut anak gadis kita, eh sekarang anaknya mati. Dasar pembawa sial!"
2. The Villain Arc: Alauddin (Anak Durhaka?)
Di sini muncul tokoh antagonis utama: Alauddin, anak kandung Rumi yang kedua (adiknya Sultan Walad). Beda sama kakaknya yang hormat banget ke Syams, Alauddin ini BENCI MENDARAH DAGING.
Alasannya manusiawi banget:
Cemburu: Bapaknya (Rumi) lebih sayang dan lebih dengerin Syams daripada anak sendiri.
Kimia: Ada rumor kalau Alauddin sebenernya naksir Kimia (saudara angkatnya), tapi malah dinikahin ke Syams. Patah hati, bos.
Reputasi: Alauddin malu bapaknya dianggap gila gara-gara bergaul sama si gembel Tabriz ini.
Alauddin gabung sama Geng Haters (kelompok murid Rumi yang sakit hati). Mereka bikin rapat rahasia. Agendanya cuma satu: LENYAPKAN SYAMS SELAMANYA. Bukan diusir. Tapi dibunuh.
3. Malam Jahanam (5 Desember 1248)
Malam itu musim dingin. Gelap, sepi, mencekam. Rumi dan Syams lagi duduk berdua di ruangan Rumi. Lagi ngobrol santai ("sohbet") kayak biasa. Lilin nyala remang-remang.
Tiba-tiba... TOK TOK TOK. Ada ketukan di pintu belakang. Suara samar-samar manggil Syams. "Syams, keluar bentar dong."
Rumi mau berdiri, tapi Syams nahan. Syams natap Rumi dalem-dalem. Tatapan perpisahan. Syams bilang kalimat terakhirnya yang legendaris:
"Aku dipanggil untuk KEBERANGKATANKU (kematianku)."
Rumi bingung. "Hah? Siapa yang manggil?" Syams gak jawab. Dia berdiri tegak, jalan ke pintu belakang, dan keluar ke kegelapan malam.
4. The Ambush (Penyergapan)
Begitu kaki Syams nginjek halaman belakang... JLEB! Tujuh orang (The Seven Killers) langsung nyergap dari bayang-bayang. Salah satunya bawa pisau belati. Mereka ngeroyok kakek tua yang gak bawa senjata ini. Syams ditusuk berkali-kali.
Ada legenda mistis yang bilang, pas ditusuk pertama kali, Syams teriak "ALLAH!" kenceng banget sampe satu kota Konya bangun, dan para pembunuh itu pingsan semua. Pas mereka sadar, mayat Syams ilang, cuma ada bercak darah.
Tapi versi sejarah yang lebih realistis (dan lebih ngeri): Syams dibunuh di tempat. Mayatnya buru-buru diseret dan DICEMPLUNGIN KE SUMUR TUA di deket situ biar gak ketahuan Rumi. Sumur itu terus ditimbun tanah dan ditutup. Crime scene dibersihin. Hening.
5. Rumi yang Denial (Fase Penyangkalan)
Rumi nungguin di dalem kamar. Satu jam... dua jam... Syams gak balik-balik. Rumi keluar ngecek. Kosong. Cuma ada jejak kaki dan angin malam.
Rumi mikir positif (atau denial): "Ah, mungkin dia ngambek lagi terus kabur ke Damaskus kayak dulu. Nanti juga balik." Rumi gak tau kalau sahabat jiwanya itu udah jadi mayat di dalem sumur, cuma beberapa meter dari tempat dia berdiri.
Rumi mulai nulis surat, nyuruh orang nyari ke Damaskus lagi. Nihil. Gak ada yang liat Syams. Rumi mulai curiga sama anaknya, Alauddin. Tapi dia gak punya bukti. Alauddin diem seribu bahasa (dan gak lama kemudian Alauddin mati muda juga, konon kualat).
6. The Resurrection (Kebangkitan Rumi)
Setelah bertahun-tahun nyari dan gak ketemu, Rumi akhirnya nyampe di titik PENCERAHAN TERTINGGI.
Dia sadar: Syams gak ilang. Dia gak perlu nyari Syams di Damaskus, di Tabriz, atau di pasar. Syams udah LEBUR di dalem dirinya.
Rumi ngaca, dia liat Syams. Rumi ngomong, suaranya suara Syams. Puncaknya, Rumi nulis ribuan puisi (Ghazal). Dan tau gak? Di ujung puisi, penyair biasanya nulis nama sendiri sebagai "tanda tangan". Tapi Rumi malah nulis nama: SYAMS TABRIZI.
Kitab itu sekarang dikenal sebagai Diwan-e Shams-e Tabrizi (Kumpulan Puisi Syams Tabrizi). Isinya tulisan Rumi, tapi "roh"-nya adalah Syams. Rumi jadi matahari itu sendiri. Murid jadi Guru. Pecinta jadi Yang Dicintai.
7. Fakta Sejarah: Penemuan Mayat (Valid No Debat)
Ini bagian yang bikin merinding, Bro. Selama ratusan tahun, orang mikir cerita pembunuhan dan sumur itu cuma mitos atau metafora. "Ah masa sih dibunuh? Palingan moksa/hilang gaib."
TAPI... Zaman modern (abad 20), pas makam Rumi di Konya dipugar, arkeolog nemuin sesuatu di bawah lantai, deket lokasi madrasah tua. Mereka nemuin SUMUR KUNO. Dan di dalem sumur itu... ada kerangka manusia.
Tes forensik nunjukin itu kerangka laki-laki tua, seusia Syams. Sekarang, kerangka itu dipindahin dan dikubur layak di samping makam Rumi (meski terpisah tembok). Akhirnya, Syams pulang ke rumah.
EPILOG: WARISAN SANG PEMBERONTAK
Tanpa tragedi pembunuhan ini, Rumi cuma bakal jadi ulama fiqih biasa yang bukunya numpuk di perpustakaan berdebu. Gara-gara Syams (hidupnya dan matinya), Rumi meledak jadi Fenomena Global. Puisi-puisinya dibaca di Amerika, Eropa, Asia, sampe jadi quote di Instagram lu.
Pelajaran Terakhir Syams:
"Cinta itu butuh pengorbanan darah. Kalau lu mau ketemu Tuhan, lu harus siap 'dibunuh' ego lu, kenyamanan lu, dan 'diri' lu yang lama. Gue (Syams) cuma korek api. Tugas gue bakar lu (Rumi). Kalau udah kebakar, korek apinya dibuang juga gak masalah. Yang penting apinya nyala terus."
TAMAT.
Gimana, Bro? Ini kisah cinta (spiritual) paling hardcore sepanjang masa.

Posting Komentar