Absurditas Cinta, Metamorfosis Hawa, dan Penerimaan Takdir di Sebuah Majlis

Ini bukan sekadar cerita cinta monyet, bro. Ini adalah Babul Nyesek (Bab Patah Hati) dalam kitab Al-Mahabbah. Sebuah kisah tentang laki-laki gentleman, ontologi sebuah minyak goreng, dan kepasrahan sufistik di sebuah majlis.

Ilustrasi Babul Nyesek Ilustrasi Babul Nyesek - Perjalanan Sembako dan Cinta

Syahdan, bro, kita memutar waktu kembali ke tahun 2013. Sebuah epos di mana eksistensi kita masih hijau, di mana ruang dan waktu belum terdistorsi oleh hiruk-pikuk algoritma zaman now. Tahun itu, niat di dada masih murni, belum terkontaminasi syubhat kemunafikan.

Kalau meminjam kacamata Jean-Paul Sartre, “Existence precedes essence” (Eksistensi mendahului esensi). Tapi dalam kasus si-pria waktu itu, “Niat sowan precedes everything, bro” (Niat bertamu mendahului segalanya). Si-pria udah punya satu azam yang haqqul yaqin, sebuah kehendak bebas (free will) untuk meresmikan getaran-getaran afeksi dalam sanubari si-pria ke ranah yang lebih sakral. Si-pria mau datang ke rumah orang tuanya. Si-pria mau sowan.

Dalam tradisi kita yang luhur ini, sowan ke rumah gebetan bukan sekadar nongkrong biasa. Itu adalah sebuah laku tasawuf tingkat tinggi. Butuh riyadhah (latihan spiritual) dan mental sekeras baja buat ngetok pintu rumah calon mertua. Si-pria siap menempuh jalan para ksatria.

"Laki laki mah klo jentel lgsung aja kerumah."

Gila, bro. Kalimat itu punya bobot epistemologi yang berat banget. Jentel, atau gentleman, dalam tafsir tongkrongan adalah manifestasi dari Rijal (pria sejati). Dan si-pria waktu itu udah merancang sebuah taktik grand strategy ala Sun Tzu yang digabung dengan adab Silaturahmi ala Imam Al-Ghazali.

Si-pria gak datang dengan tangan kosong layaknya musafir nyasar. Si-pria datang membawa Sembako, bro! Sebuah manifestasi material dari kesiapan finansial dan tanggung jawab.

Minyak goreng, bro! Coba renungkan secara filosofis. Minyak goreng itu melambangkan pelumas kehidupan. Dia yang bikin masakan jadi matang, dia yang menggoreng realitas mentah menjadi hidangan yang lezat. Dengan si-pria bawa sembako dan minyak, si-pria seolah mau bilang ke orang tuanya:

"Wahai calon mertua, saya datang bukan cuma bawa cinta yang fana, tapi saya bawa ketahanan pangan yang baqa!"

Si-pria udah menyiapkan mahakarya surprise itu. Bungkusan sembako udah di dibawa, niat udah diluruskan dengan Bismillah, rambut udah di-klimis-in pakai pomade. Si-pria siap menjadi รœbermensch (Manusia Unggul) versi Friedrich Nietzsche, yang berani melampaui batasan rasa takut demi menjemput takdir cinta.

Tabir Takdir dan Dialektika Kekecewaan

Namun, bro, apa lacur. Dalam kitab-kitab klasik selalu disebutkan, Al-Insanu bittafkir, wallahu bittaqdir (Manusia hanya bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menakdirkan). Di tengah perjalanan si-pria mencapai Nirwana asmara, sebuah realitas pahit menghantam kepala si-pria lebih keras dari palu godam.

Si-pria dapet wahyu kenyataan bahwa dia: Udah ada pemiliknya. Dia udah punya pacar, bro.

Bum! Hancur lebur tatanan kosmos di kepala si-pria.

Bayangin, si-pria udah siap dengan sembako kemakmuran, tapi tiba-tiba si-pria divonis persona non grata di hatinya. Kalau menurut Albert Camus, inilah yang disebut The Absurd. Si-pria dihadapkan pada kontradiksi antara pencarian si-pria akan makna (cinta) dengan alam semesta yang dingin dan tidak peduli (dia udah ada yang punya). Absurditas ini bikin si-pria blank. DUNIA serasa hening. Kopi hitam di gelas si-pria tiba-tiba kehilangan khittah-nya sebagai penambah energi, malah berubah jadi cermin dari hati si-pria yang gosong.

Tadinya, si-pria mau nekat. Tapi tunggu dulu, filsafat Si-pria ngajarin kita soal Adab sebelum Ilmu. Kalau si-pria tetep maksa dateng ke rumahnya, bawa sembako, sementara si-pria tahu dia udah punya cowok, itu namanya si-pria menabrak Hukum Termodinamika Asmara. Si-pria bakal menciptakan chaos di rumah orang tuanya. Si-pria bisa dianggap sebagai penyusup, invader, atau yang paling parah: cowok desperate yang gak tahu timing.

Maka, si-pria melakukan sebuah ijtihad (keputusan rasional) yang sangat brilian di tengah kegelapan jiwa.


Eksistensi Majlis dan Laku Sufistik Sebuah Penerimaan

Di sinilah letak klimaks dari kehebatan si-pria, bro. Alih-alih membanting Bungkusan sembako itu ke aspal dan mengutuk langit sambil teriak-teriak dihatinya ala drama Yunani Kuno, si-pria memilih jalan para sufi. Si-pria milih Zuhud (melepaskan keterikatan duniawi).

Si-pria gak jadi sowan ke rumahnya. Si-pria alihkan penyerahan logistik itu ke sebuah titik netral, sebuah ruang transenden yang jauh dari intervensi domestik orang tuanya maupun pacarnya.

Si-pria akhirnya ksih sembako itu dimajlis berlagak ga ada rasa hanya menganggap seperti adik, karna emng udah punya pacar kasih nya di majlis.

Subhanallah, bro! Di Majlis!

Majlis adalah tempat ngumpul, tempat menuntut ilmu, tempat di mana ego manusia dileburkan. Di majlis itu, si-pria menyerahkan sembakonya kepadanya bukan lagi sebagai sogokan calon mantu, melainkan sebagai Sadaqah Jariyah dari seorang kawan yang berjiwa besar. Si-pria mentransmutasikan rasa sakit hati si-pria menjadi energi altruisme.

Gua bisa bayangin adegannya, bro. Si-pria serahin kantong kresek isi minyak goreng itu. Angin tahun 2013 bertiup pelan. Dia nerima dengan tatapan penuh tanda tanya, mungkin sedikit awkward. Tapi si-pria, dengan wajah tegar layaknya Marcus Aurelius Sang Kaisar Stoik Roma, si-pria cuma senyum tipis. Si-pria gak menuntut balasan. Si-pria gak bilang, "Tolong putusin cowok lu demi sembako ini." Enggak, bro. Si-pria ikhlas. Si-pria sadar bahwa cinta, seperti halnya minyak goreng, kadang tumpah ke wajan yang salah.

Tindakan si-pria ngasih sembako di luar rumah itu adalah masterpiece. Itu adalah manifestasi dari martabat laki-laki. Si-pria menjaga kehormatan keluarganya, si-pria menjaga perasaan cowoknya (meski dalem hati si-pria pengen ngajak duel by one di lapangan), dan yang paling penting: si-pria menjaga harga diri si-pria sendiri, bro. Si-pria adalah The Real MVP di tahun 2013 itu.

Senyum Fana dan Masa Depan yang Baqa

Waktu berlalu, bumi berotasi mengelilingi matahari belasan kali, dan si-pria tiba di tahun 2017. si-pria selalu saat ada pertemuan sama si el kasih liat ekspresi dan prilakunya "kalau gua adalah bukti nyata bahwa luka lama bisa berevolusi menjadi komedi tongkrongan."

si-pria sebenarnya masih ada senyam-senyum mengingat memori absurd tahun 2013 itu.

Itu adalah tanda kedewasaan absolut. Si-pria udah berdamai dengan takdir. Si-pria udah mengamalkan apa yang dibilang Rumi: "Luka adalah tempat masuknya cahaya ke dalam dirimu." Sembako yang gagal masuk ke rumahnya di tahun 2013 adalah asbab dari masuknya cahaya pendewasaan ke dalam mental si-pria saat ini.

"Skrng 2017 gua mau menatap masa depan yg indah."

Itulah hakikat dari perjalanan manusia, bro. Kita semua adalah peziarah di muka bumi ini. Kadang kita mampir bawa sembako, kadang kita diusir alus karena rumahnya udah ada yang nepatin. Tapi perjalanan gak berhenti di situ. si-pria mencari maisyah (rezeki), dan merajut masa depan yang lebih mapan.

Jadi, kalau si-pria lagi flashback ke masa-masa nyesek tahun 2013 itu, gak akan sedih. Selalu seduh kopi sambil meniti menunggu taqdir yang lain. Banggalah diri si-pria yang dulu. Karena di dunia ini, dalam catatan kitab sejarah, si-pria tercatat sebagai seorang Rijal sejati. Seorang filsuf asmara yang mengajarkan kita bahwa:

"Sejati-jatinya laki-laki jentel bukanlah dia yang berhasil merebut wanita dari pelukan orang lain, melainkan dia yang tahu kapan harus mundur, berbelok ke majlis, mengasih sembako dengan ke sih El, lalu pergi bekerja menatap masa depan sambil senyam-senyum sendiri."

Metamorfosis Sang Hawa dan Estetika Sebuah Hidayah

Syahdan, bro, alasan kenapa si-pria ini sampai punya azam (tekad) yang sekeras batu karang untuk meminangnya bukanlah karena alasan superfisial. Ini bukan soal paras yang bikin betah dipandang, bukan. Ini adalah tentang kekaguman si-pria pada sebuah revolusi jiwa yang sangat radikal.

Dulu, dalam catatan sejarah tongkrongan, perempuan ini adalah entitas yang hidup di ranah kegelapan eksistensial. Dia adalah anak emo, bro. Anak gothik. Mungkin dulu hari-harinya dihiasi dengan eyeliner hitam tebal, poni lempar menutupi sebelah mata, kaos band underground, dan playlist yang penuh dengan distorsi pemberontakan masa muda. Dalam kacamata filsafat Friedrich Nietzsche, dia sedang menatap dalam-dalam ke dalam jurang kekosongan (the abyss).

Tapi, Yaa Muqallibal Quluub, wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati. Tiba-tiba terjadi sebuah anomali spiritual. Min az-zulumati ilan-nuur (Dari kegelapan menuju cahaya).

Perempuan emo yang dulu nongkrong di sudut-sudut redup itu mengalami transendensi. Dia menanggalkan jubah gothic-nya, lalu mengenakan hijab. Dia bukan cuma hijrah biasa, bro, tapi dia melesat naik kelas menjadi seorang Santri dan bahkan mencapai maqam (tingkatan) sebagai seorang Pengajar.

Perubahan yang luar biasa ini, dari seorang anak tongkrongan yang memberontak menjadi penyampai ilmu (Ustadzah) di majlis, adalah sebuah masterpiece hidayah. Dan si-pria, dengan mata batinnya yang tajam, melihat ini bukan sebagai kebetulan, melainkan sebuah manifestasi dari keindahan ilahiah.

Agama Sebagai Kompas Ontologis dan Niat Suci Sebuah Pinangan

Bagi si-pria, agama adalah parameter tertinggi. Agama adalah acuan, kompas ontologis penunjuk arah di tengah dunia yang makin fana dan absurd ini.

Ketika si-pria melihat transformasi perempuan tersebut, logika dan hatinya berkonvergensi. Si-pria tidak lagi melihatnya sekadar sebagai gebetan untuk diajak malam mingguan makan pecel lele. Tidak, bro. Visi si-pria menembus dimensi ruang dan waktu. Si-pria melihat sosok Al-Madrasatul Ula (Sekolah pertama) bagi anak-anaknya kelak. Si-pria melihat seorang pelita yang bisa membimbingnya di dunia dan akhirat.

Itulah Asbabun Nuzul (sebab turunnya) niat si-pria yang sesungguhnya. Kenapa si-pria sampai prepare mental dan bawa sembako? Karena si-pria ingin meminangnya. Si-pria ingin melegitimasi getaran hatinya ke dalam sebuah Mitsaqan Ghalidza (Perjanjian yang agung/pernikahan). Sembako berupa minyak goreng itu sebenarnya adalah pra-mahar, sebuah simbol dari niat tulus bahwa si-pria siap menjadi Qawwam (pemimpin/pelindung) yang akan memastikan dapur sang santriwati tetap ngebul selamanya.

Ini adalah cinta tingkat tinggi, bro. Cinta Agape, bukan cuma Eros. Cinta yang didasari oleh frekuensi spiritual yang sama. Si-pria udah ngerasa klik secara akidah dan akhlak.

Takdir di Lauhul Mahfudz dan Puncak Kepasrahan Jiwa

Tapi, sehebat apa pun manusia merancang bangun utopia cintanya, sekuat apa pun si-pria merajut mimpi bersanding dengan sang mantan emo yang kini jadi pengajar majlis, ada satu Grand Theory di alam semesta yang tidak bisa dibantah oleh filsuf sehebat apa pun: Takdir.

Dalam kitab suci dan aqidah yang kita yakini, segala sesuatu itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum bumi ini diciptakan. Dan ternyata, di catatan langit itu, skenario untuk si-pria dan perempuan ini adalah: "Berpapasan untuk saling memberi pelajaran, bukan untuk disatukan dalam pelaminan."

Realitas menampar si-pria dengan fakta bahwa sang perempuan sudah ada yang memiliki. Dia sudah terikat komitmen dengan pria lain.

Sakit? Pasti, bro. Hancur? Jelas. Bayangin, lu udah menemukan diamond yang terpoles indah dari batu bara emo, lu udah siap menjadikan agama sebagai pondasi, tapi takdir berkata "Bukan buat lu, bro".

Di titik inilah, si-pria mencapai puncak kedewasaan seorang manusia. Alih-alih memberontak pada nasib atau mempertanyakan keadilan Tuhan ("Kenapa harus dia yang dapet, Ya Tuhan? Kan gue yang udah niat bawa minyak goreng!"), si-pria memilih menundukkan kepala.

Si-pria mengamalkan konsep Amor Fati (mencintai takdir) dari kaum Stoik yang digabung dengan konsep Tawakkal dan Ridho dari kaum Sufi. Apalah daya manusia melawan takdir? Kita ini cuma aktor yang lagi baca naskah panggung, bro. Kalau memang naskahnya harus naruh sembako di luar rumah dan pamit mundur, ya laksanakan dengan jentel dan penuh kehormatan.

Menatap Masa Depan dengan Dada yang Lapang

Jadi, bro, cerita si-pria ini adalah epik yang sempurna. Sangat paripurna.

Ada unsur sosiologisnya (perubahan dari emo ke santri), ada unsur teologisnya (agama sebagai acuan dan penerimaan takdir), dan ada komedi tragisnya (sembako di majlis).

Si-pria telah membuktikan bahwa mencintai karena agama itu tidak melulu harus berakhir dengan memiliki. Kadang, mencintai karena agama itu ditunjukkan lewat cara kita ikhlas melepaskan ketika takdir memang tidak merestui, tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain, dan tanpa harus kehilangan arah hidup.

Makanya, pantas saja kalau di tahun 2017 ini, si-pria bisa bilang dengan sangat gagah: "Skrng mau menatap masa depan yg indah."

Masa lalu biarlah menjadi fosil yang memperkaya museum kebijaksanaan di dalam otak si-pria. Mantan anak emo yang jadi pengajar itu akan selalu jadi chapter indah tentang hidayah dalam hidup si-pria. Dan sembako di majlis itu? Itu akan jadi monumen abadi bahwa si-pria pernah berjuang layaknya seorang ksatria sejati.

Tegakkan kepala lu, si-pria! Jalan ke depan masih panjang. Tuhan pasti udah nyiapin skenario ganti yang lebih epik dari sekadar tragedi gagal sowan di tahun 2013. Seruput kopinya, bro, kita lanjut nguli!