Sini, sebat dulu sambil nyeduh kopi. Kita duduk melingkar, lepasin dulu tuh kepenatan aspal Jakarta yang bikin isi kepala pada kusut. Hari ini gua mau bawa lu ke sebuah ruang kontemplasi yang paling purba. Bukan di dalam kedai kopi estetik pinggir senja, tapi di tengah lautan lepas, di bawah kanopi malam yang pekat, di mana ego manusia dikuliti habis-habisan oleh ombak dan angin tenggara.
Ini bukan sekadar cerita trip mancing biasa ala anak-anak tongkrongan yang nyewa kapal buat mabuk darat. Ini adalah narasi tentang pertemuan antara kefanaan manusia, keangkuhan daratan, dan keagungan maritim. Sebuah epos tentang pencarian tauhid di ujung kail, yang gua alami sendiri bareng ENAM kerabat gua, bermula dari Tanjung Pasir, menembus gulita, hingga merapat di suaka sunyi bernama Pulau Bokor.
Ritual penutup: menikmati The Aesthetics of Existence dengan mindang ikan hasil tangkapan di suaka Pulau Bokor.
Epistemologi Malam dan Keberangkatan yang Absurd
Jam dua belas malam di Tanjung Pasir. Lu bayangin, bro. Gelap. Angin mulai ngerangkul pori-pori kulit dengan dingin yang lumayan brengsek. Daratan udah mulai lelap, tapi kita bertujuh malah nyari perkara, menantang hegemoni malam dengan nyewa perahu nelayan kayu yang kapasitasnya ya pas-pasan buat kita doang.
Di titik ini, kalau lu baca Albert Camus soal absurditas, lu bakal ketawa getir. Manusia, dengan segala kerapuhan fisiknya, secara sukarela melempar dirinya ke dalam ketidakpastian absolut yang bernama laut. Di darat, lu mungkin seorang bos, lu mungkin punya duit, lu punya kuasa. Tapi pas lu melangkah dari dermaga yang rapuh itu, masuk ke lambung perahu nelayan yang cuma diterangi lampu tempel seadanya, segala atribut sosial lu luntur seketika. Alam semesta merobek curriculum vitae lu dan membuangnya ke pusaran arus.
Perjalanan dari Tanjung Pasir menuju perairan Pulau Lancang di tengah malam itu adalah sebuah transisi ontologis. Kita berpindah dari "Ada yang Berkuasa" (di darat) menjadi "Ada yang Terombang-ambing" (di laut). Mesin perahu yang menderu membelah keheningan adalah mantra tahlil mekanik. Di sekeliling kita cuma ada ruang hampa berair yang warnanya sepekat tinta rahasia Tuhan.
Angin Tenggara dan Seni Menundukkan Ego
Nah, ini dia klimaks pertamanya. Angin tenggara lagi gila-gilanya. Ombak bukan cuma menjilat, tapi menampar lambung perahu dengan ritme yang buas. Perahu yang kita naikin itu cuma sebutir debu kayu di atas piringan samudra yang lagi murka. Lu tahu rasanya diayun ke atas puncak gelombang lalu dihempas ke lembah air dalam hitungan detik? Jantung lu berasa pindah ke tenggorokan.
Di momen inilah, eksistensi lu diuji. Filsuf Baruch Spinoza pernah bilang bahwa manusia itu bagian dari alam, bukan penguasa alam. Ketika angin tenggara meniupkan simfoni kekacauan, lu disadarkan bahwa kebebasan kehendak (free will) lu itu omong kosong. Lu nggak bisa nyuruh ombak berhenti. Lu nggak bisa nyogok angin supaya kalem.
Satu-satunya pilihan rasional yang tersisa adalah pasrah. Tapi pasrah di sini bukan fatalisme buta yang konyol. Ini adalah kepasrahan aktif. Gua naruh kepercayaan penuh ke nelayan yang pegang kemudi. Kenapa? Karena dia adalah sang guru pembimbing di lautan ini. Dia yang tahu membaca makrifat ombak, dia yang paham kapan harus memotong gelombang dan kapan harus mengikuti arus. Gua juga percaya pada perahunya, susunan kayu yang diikat dengan syariat fisika dan doa-doa pelaut kuno.
Ini adalah pelajaran Tauhid tingkat tinggi, bro. Lu mengEsakan Tuhan dengan cara melepaskan ilusi kendali. Lu sadar bahwa La haula wa la quwwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah) itu bukan cuma stiker di kaca belakang angkot, melainkan realitas absolut saat lu ada di tengah lautan yang lagi mengamuk. Laut itu bijaksana. Dia menghajar lu bukan buat membunuh lu, tapi buat membunuh kesombongan lu. Lu harus percaya bahwa laut itu baik kepada mereka yang baik kepadanya. Harmoni ini yang bikin ketakutan berubah jadi rasa takjub yang sublim. Pemandangan ombak yang liar itu, indah banget. Kayak melihat wajah Tuhan yang sedang menampakkan asma Al-Jalal (Yang Maha Perkasa).
Wahdatul Wujud, Ikan Kuwe, dan Ikan Crocot
Kita ngapung, melempar kail. Pindah dari satu spot ke spot lain di sekitar Pulau Lancang, memecah sisa malam sampai pagi perlahan merayap di ufuk timur. Di sinilah dialog antara manusia dan lautan benar-benar dimulai lewat perantara seutas senar pancing.
Banyak orang mikir laut itu benda mati. Cuma kubangan raksasa tempat air kumpul. Men, you are absolutely wrong. Laut itu hidup. Dia punya denyut nadi, dia punya mood, dia punya perasaan. Dalam literatur tasawuf, ada konsep Wahdatul Wujud (Kesatuan Eksistensi) yang diajarkan oleh Ibnu Arabi, atau penjabaran Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tentang bagaimana seluruh alam semesta ini senantiasa bertasbih dengan lisanul hal (bahasa keadaan). Laut itu entitas yang berdzikir tak henti-hentinya. Tanda-tanda alam yang dimilikinya adalah keistimewaan, ayat-ayat kauniyah yang menuntut lu buat mikir.
Ketika lu melempar kail, lu sedang mengirimkan semacam proposal doa ke dasar samudra. Tapi apakah laut harus ACC itu proposal sesuai keinginan lu? Oh, tentu tidak, bro. Di sinilah esensi pembagian rezeki diajarkan secara brutal namun jujur.
Laut mengasih wasilah rezeki, berupa ikan dari Sang Maha Pemberi Rezeki (Allah Ar-Razzaq). Tapi laut punya otoritasnya sendiri sebagai utusan. Kalau laut lagi mau berbaik hati dan menganggap lu pantas, kail lu bakal ditarik sama Ikan Kuwe segede gaban. Lu narik senar dengan dada membusung, merasa jadi pemenang.
Tapi, kalau laut lagi pengen ngajarin lu ilmu sabar, atau pengen ngetes seberapa ikhlas hati lu, kail lu cuma akan dikasih Ikan Crocot yang seukuran dua jari. Di darat, lu mungkin bakal misuh-misuh, marah, ngerasa rugi tenaga dan waktu. Tapi di laut? Lu nggak berhak protes.
Mari kita buka lembaran Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Dalam salah satu hikmahnya yang melegenda, beliau berkata:
"Bisa jadi Allah menahan pemberian-Nya kepadamu, namun sejatinya Dia sedang memberimu. Dan bisa jadi Dia memberimu sesuatu, namun sejatinya Dia sedang menahan pemberian-Nya darimu."
Analoginya gila banget, bro. Lu dapet ikan Kuwe, bisa jadi itu ujian apakah lu bakal sombong dan lupa sama yang ngasih. Lu dapet ikan Crocot, bisa jadi di situlah letak keberkahan sejati, karena lu dipaksa untuk qana'ah (merasa cukup), menundukkan kepala, dan menyadari bahwa rezeki bukan soal kuantitas, tapi soal keridhaan lu menerimanya. Laut sedang mendidik kita, membedah kerakusan kapitalis dalam diri kita yang selalu menuntut Return of Investment (ROI) maksimal dari setiap keringat yang keluar. Laut bilang: "Lu dapet crocot hari ini, syukuri. Besok lu hidup aja udah bagus." Makanya, lu nggak akan pernah bisa nyepelein laut. Sekalinya lu meremehkan, laut bakal ngasih lu pelajaran yang jauh lebih perih dari sekadar kail yang putus.
Eksodus Menuju Pulau Bokor dan Kenduri Kesunyian
Setelah bertarung dengan kedinginan, angin, ombak, dan ekspektasi di ujung kail, akhirnya matahari pagi ngasih salam hormat. Jam 9 pagi. Kita melipir ke Pulau Bokor.
Lu bayangin kontrasnya. Setelah semalaman diombang-ambingkan ketidakpastian di atas air yang berguncang, kaki lu akhirnya menyentuh pasir dan karang yang diam. Pulau Bokor itu suaka. Seperti yang kita tahu, tempat ini adalah Cagar Alam. Nggak ada hiruk-pikuk pariwisata norak, nggak ada resort mewah, nggak ada peradaban yang dipaksakan. Hanya ada hutan pantai, kepungan pohon ketapang yang rimbun, dan monyet-monyet yang mengintip dari dahan seolah bertanya, "Ngapain lu manusia berisik mampir ke wilayah gua?"
Di pulau inilah, ritual penutup dilakukan. Hasil pancingan kita—entah itu kuwe, kakap, atau sekadar kumpulan ikan crocot—kita bersihkan. Kita bikin perapian dari kayu-kayu kering yang berserakan. Kita mulai memindang ikan-ikan itu.
Aroma daging ikan pindang, berpadu dengan bau garam laut, adalah wewangian parfum surgawi yang nggak akan pernah bisa diracik oleh desainer di Paris mana pun. Ini adalah The Aesthetics of Existence yang murni. Di momen itu, sambil duduk di atas akar pohon mati atau batu karang, nyuap nasi putih pakai sendok ditemani ikan pindang hasil tangkapan semalam, lu bakal ngerasa jadi manusia paling kaya sedunia.
Kenapa? Karena lu merayakan siklus kehidupan di hulu yang paling primitif. Lu menyerap energi alam. Tidak ada perantara supermarket, tidak ada rantai pasok industri. Dari laut, lewat tangan nelayan, diproses di atas api pesisir, masuk ke perut lu. Di situ kerasa banget hubbul wathan minal iman versi mikrokosmos; mencintai tanah air (alam semesta) adalah bagian dari iman, karena lu sadar betul alam menghidupi lu tanpa pamrih.
Konklusi: Epilog di Batas Air dan Darat
Gitu ceritanya, bro. Perjalanan dari Tanjung Pasir ke Pulau Bokor itu durasinya mungkin cuma hitungan belasan jam. Tapi rentang pembelajaran spiritualnya setara dengan lu merenung bertahun-tahun di dalam kamar.
Kita ini cuma musafir yang numpang lewat di atas panggung air yang maha luas. Pelajaran terbesar dari angin tenggara, dari nelayan yang tabah, dari perahu kayu yang kuat menahan gempuran, dan dari ikan crocot yang mengajarkan keikhlasan adalah satu: Tawadhu'.
Laut itu nggak butuh kita, kita yang butuh laut. Kita turun ke laut bukan untuk menaklukkan samudra, tapi untuk menaklukkan diri kita sendiri. Pas lu pulang ke darat, menapaki lagi kerasnya aspal Jakarta, lu bawa sisa-sisa garam di kulit lu sebagai pengingat. Bahwa di atas segala masalah lu, di atas segala ego dan ambisi duniawi lu, ada kehendak mutlak yang mengalir tenang namun tak terbendung, persis seperti arus bawah laut.
Jadi, sruput dulu kopinya, bro. Biar besok-besok kalau kita nyari duit di darat dan diuji sama kegagalan, kita inget filsafat ikan crocot: "Kalau laut mau kasih, dia kasih. Kalau enggak, ya senyumin aja." Karena dari laut, kita belajar bahwa kebesaran hati jauh lebih berharga daripada palka kapal yang penuh dengan ikan tangkapan.