Asal-Usul Assassin di Dunia Nyata: Fakta Hassan-i Sabbah vs Game Ubisoft

PROLOG: Lupakan Sejenak Hidden Blade Lu, Mari Bicara Sejarah Aslinya

​Bro, jujur aja, pas lu main Assassin’s Creed pertama kali, lu pasti ngerasa badass banget kan? Pakai jubah putih, jalan nyelinap di keramaian kota-kota eksotis Timur Tengah, parkour di atas atap, terus tiba-tiba JLEB! — Hidden Blade nancep di leher target lu. Semboyannya pun epik: "Nothing is true, everything is permitted."

​Game besutan Ubisoft itu emang masterpiece. Tapi, sadar nggak sih lu kalau fondasi cerita dari game legendaris itu sebenarnya dipinjam dari lembaran sejarah dunia nyata yang jauh lebih kelam, brutal, dan penuh intrik politik tingkat tinggi?

​Banyak yang mengira kalau Assassin itu cuma mitos urban, fiksi karangan bule, atau mentok-mentok sekte orang Arab yang suka teler narkoba. Well, mindset itulah yang bakal kita bongkar habis-habisan di sini.

​Lewat serial tulisan "skripsi tongkrongan" ini, kita bakal time-travel balik ke peradaban abad ke-11. Kita bakal ngeliat langsung gimana seorang anak pinter asal Persia berhasil membangun ordo intelijen dan pembunuh rahasia yang bikin kekaisaran raksasa, Pasukan Salib, sampai legenda sekelas Salahuddin Al-Ayyubi kena mental.

​Tenang aja, nggak ada cocoklogi atau teori konspirasi murahan di tulisan ini. Semua sejarah yang bakal dibedah berstatus valid no debat, diambil langsung dari riset panjang para "suhu" sejarawan Timur Tengah: Bernard Lewis (Bapak sejarah Timur Tengah modern) dan Farhad Daftary (Pakar nomor satu sejarah Ismailiyah di dunia).

​Jadi, seduh dulu kopi lu, cari posisi duduk paling enak, dan mari kita mulai pelajaran sejarah yang nggak bakal pernah diajarin guru lu di sekolah.

​Welcome to the Brotherhood. Mari kita gas ke Part 1!

Di Part 1 ini, kita bakal deep dive ngebahas origin story sang Mastermind: Hassan-i Sabbah. Semua fakta di sini bukan hasil cocoklogi atau dari forum konspirasi, tapi gw ambil dari dua "kitab suci" sejarah Ismailiyah yang paling diakui akademisi global:

​"The Assassins: A Radical Sect in Islam" karya Bernard Lewis (Bapak sejarawan Timur Tengah).

​"The Isma'ilis: Their History and Doctrines" karya Farhad Daftary (Pakar top dunia soal sejarah Ismailiyah).

​Let's go!

​Bab 1: Peta Tongkrongan Timur Tengah Abad ke-11

​Biar lu dapet vibe-nya, lu harus paham dulu gimana kasarnya tongkrongan politik di Timur Tengah sekitar tahun 1000-an Masehi. Waktu itu, nggak ada tuh negara-negara kekinian macam Iran, Irak, atau Suriah dengan perbatasan yang jelas.

​Waktu itu, penguasa paling OP (Overpowered) di wilayah Asia Barat sampai Persia adalah Kekaisaran Seljuk. Mereka ini bangsa Turki yang beraliran Islam Sunni dan punya militer raksasa. Ibaratnya, mereka ini preman penguasa tongkrongan utama. Di sisi lain, di Mesir, ada Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syiah Ismailiyah. Dua kubu gede ini lagi cold war parah, rebutan pengaruh di dunia Islam.

​Nah, di tengah-tengah dominasi Seljuk yang represif banget terhadap kelompok minoritas, hiduplah circle Syiah Ismailiyah di Persia (Iran) yang harus main underground. Di sinilah jagoan kita muncul.

​Bab 2: Hassan-i Sabbah, Anak Pinter yang Kena "Red Pill"

​Hassan-i Sabbah lahir sekitar tahun 1050 Masehi di kota Qom, Persia (Iran). Qom ini ibarat kota santri-nya kaum Syiah. Tapi dari kecil, dia pindah dan gede di Rayy (sekarang jadi pinggiran kota Taheran).

​Berdasarkan catatan sejarah (yang dikutip Daftary dari otobiografi Hassan yang sekarang udah hilang tapi sempat dicatat sejarawan Persia kuno), Hassan ini aslinya penganut Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), sama kayak bapaknya. Dia ini nerd abis, bro. Kerjaan dari umur 7 tahun sampai 17 tahun cuma belajar agama, filsafat, matematika, sampai astronomi.

​Sampai suatu hari, dia ketemu sama seorang pendakwah (Da'i) Ismailiyah bernama Amira Zarrab. Awalnya Hassan nge-debat si Amira ini. Tapi setelah debat panjang lebar dan kena penyakit parah yang bikin dia overthinking soal kematian, Hassan akhirnya dapet semacam pencerahan (red pill) dan pindah haluan masuk circle Ismailiyah.

​Bab 3: Study Tour ke Mesir dan Drama Politik

​Karena otaknya yang encer, petinggi Ismailiyah di Persia nyaranin Hassan buat cabut ke Kairo, Mesir, buat belajar langsung di pusatnya Kekhalifahan Fatimiyah. Tahun 1076, dia berangkat. Perjalanannya aja butuh waktu dua tahun lebih karena dia mampir-mampir dulu bikin koneksi.

​Di Kairo, Hassan disambut hangat. Tapi, namanya juga pusat kekuasaan, pasti penuh intrik politik dan orang dalem. Hassan kejebak di tengah konflik internal soal siapa yang bakal nerusin takhta Khalifah al-Mustansir.

​Hassan support pangeran tertua yang namanya Nizar. Tapi, Perdana Menteri Mesir waktu itu (panglima militer yang namanya Badr al-Jamali) nge-beking pangeran yang lebih muda. Karena kalah power sama orang dalem, Hassan akhirnya dipenjara dan dideportasi balik ke Persia.

​Tapi bro, pengusiran ini justru jadi blessing in disguise (berkah terselubung). Gara-gara diusir, Hassan pulang kampung bawa dendam politik dan ideologi yang makin matang. Dia memutuskan: "Udah, kita putus hubungan sama Mesir. Kita bikin faksi sendiri di Persia yang pro-Nizar!" Dari sinilah lahir sekte Nizari Ismaili—yang nantinya bakal dilabeli "Hashashin" sama musuh-musuhnya.

​Bab 4: Mencari Markas Bebas Gedor (Jalan Menuju Alamut)

​Balik ke Persia sekitar tahun 1081, Hassan jadi buronan nomor satu Intelijen Kekaisaran Seljuk. Dia sadar, kalau dia bikin perlawanan pakai cara konvensional ngumpulin pasukan di tanah lapang, circle-nya bakal diratakan sama kavaleri Seljuk dalam hitungan jam.

​Hassan butuh basecamp. Tapi bukan sembarang basecamp. Dia butuh tempat yang:

​Susah dijangkau (anti-razia).

​Bisa mandiri buat logistik pertanian.

​Berada di wilayah pegunungan biar gampang di-defense pakai orang sedikit.

​Selama hampir 9 tahun, dia jalan kaki traveling rahasia keliling pegunungan Alborz di utara Iran sambil nyebarin dakwahnya secara klandestin (rahasia). Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah benteng kuno di lembah pegunungan Rudbar. Benteng itu bernama Alamut (yang berarti "Sarang Elang").

​Cara Hassan ngambil alih Alamut ini yang bikin Bernard Lewis dalam bukunya geleng-geleng kepala. Hassan nggak pakai perang, bro! Dia pakai strategi infiltrasi slow burn. Dia ngutus pengikutnya satu per satu buat nyusup ke dalam benteng, kerja di sana, berteman sama prajurit-prajurit Seljuk di dalam, sampai akhirnya mayoritas penghuni benteng itu diam-diam jadi pengikut Hassan.

​Pas komandan benteng (yang diangkat sama Seljuk) sadar kalau bentengnya udah dikuasai dari dalam, dia udah nggak bisa apa-apa. Hassan dengan santai masuk ke Alamut di tahun 1090, ngasih kompensasi uang senilai 3.000 dinar emas ke komandan itu, dan nyuruh dia angkat kaki. GG Gaming! Benteng Alamut berhasil direbut tanpa numpahin setetes darah pun.

​Di sinilah sejarah gila itu dimulai. Dari atas Sarang Elang Alamut, Hassan-i Sabbah mulai merancang tatanan baru, mendidik pasukan elit yang rela mati, dan meracik taktik assassination (pembunuhan) yang bakal bikin raja-raja dan jenderal-jenderal Seljuk parno setiap kali mau tidur.


Lanjut, bro! Kemarin kita udah sampai di momen epik di mana Hassan-i Sabbah berhasil takeover Benteng Alamut tanpa ngeluarin setetes darah pun. Nah, sekarang dia udah punya basecamp yang aman. Pertanyaannya: Gimana caranya sekte kecil yang terisolasi di gunung ini bisa bikin Kekaisaran Seljuk yang super raksasa itu ketar-ketir?

​Di Part 2 ini, kita bakal bedah taktik militer asimetris mereka, mitos narkoba yang menyesatkan, dan eksekusi target VIP pertama yang mengubah peta politik Timur Tengah selamanya. Masih based on catatan Bernard Lewis dan Farhad Daftary, ya. Check this out!

​Bab 5: David vs Goliath & Kelahiran Para Fedayeen

​Hassan-i Sabbah itu realis. Dia tahu banget kalau dia ngirim pasukannya turun gunung buat perang terbuka ngelawan puluhan ribu kavaleri lapis baja Seljuk, itu namanya setor nyawa sia-sia. Dia butuh taktik yang murah, efisien, tapi punya damage psikologis yang maksimal. Jawabannya adalah: Perang Asimetris lewat pembunuhan terarah (targeted assassination).

​Daripada bunuh 10.000 prajurit biasa, mending bunuh 1 jenderal atau 1 raja, dan biarkan 10.000 prajurit sisanya tercerai-berai karena kehilangan pemimpin. Jenius, kan?

​Untuk ngejalanin misi ini, Hassan membentuk unit pasukan khusus yang dinamakan Fida'i (jamaknya: Fedayeen). Secara bahasa, Fida'i artinya "mereka yang mengorbankan dirinya". Nah, di sinilah letak plot twist sejarah yang sering disalahpahami sama orang awam.

​Mitos vs Fakta: Benarkah Mereka Dicekoki Ganja?

Lu pasti pernah denger cerita (termasuk dari catatannya Marco Polo) yang bilang kalau para pembunuh ini dikasih hashish (ganja/narkotika), dibikin teler, terus dimasukin ke taman rahasia yang di-setting mirip surga biar mereka berani mati.

​Menurut sejarawan Farhad Daftary, cerita itu 100% HOAX alias propaganda hitam, bro.

Coba lu pikir pakai logika: misi assassination itu butuh perhitungan tingkat tinggi, kesabaran, penyamaran, dan penguasaan bahasa. Gimana ceritanya agen intelijen yang lagi high narkoba bisa nyusup berbulan-bulan ke istana raja tanpa ketahuan?

​Faktanya, para Fedayeen ini adalah anak-anak muda yang dilatih super ketat. Mereka diajari berbagai bahasa lokal, tata krama istana, agama dari berbagai mazhab (biar bisa nyamar jadi ulama), dan seni bertarung. Kesetiaan mereka murni karena ideologi dan keyakinan spiritual yang ditanamkan oleh Hassan-i Sabbah, bukan karena dibius.

​Bab 6: Target VIP Pertama – Jatuhnya Sang Grand Vizier

​Tahun 1092 Masehi, Hassan-i Sabbah memutuskan udah waktunya buat show of force. Target pertama mereka nggak main-main: Nizam al-Mulk.

​Nizam al-Mulk ini adalah Grand Vizier (Perdana Menteri) Kekaisaran Seljuk. Dia ini otaknya kerajaan, sosok yang jauh lebih berkuasa dan lebih pintar dari Sultannya sendiri. Kalau Seljuk itu perusahaan raksasa, Nizam ini CEO-nya. Nizam juga orang yang paling benci sama sekte Ismailiyah dan ngeluarin perintah buat numpas mereka.

​Gimana cara eksekusinya?

Seorang Fida'i bernama Bu Tahir Arrani menyamar menjadi seorang sufi (ahli tasawuf). Saat rombongan Nizam al-Mulk lagi lewat di daerah Nahavand menuju Baghdad, si Bu Tahir ini mendekat, pura-pura mau minta sedekah dan ngasih petisi. Karena dandanannya meyakinkan dan kelihatan suci, bodyguard Nizam ngasih jalan.

​Begitu jaraknya udah dekat, CRASH! Bu Tahir nyabut pisau belati dari balik jubahnya dan langsung menikam dada Nizam al-Mulk hingga tewas. Bu Tahir sendiri langsung ditebas mati di tempat oleh para pengawal.

​Dampak dari eksekusi ini luar biasa brutal buat Seljuk.

Meninggalnya Nizam al-Mulk bikin Sultan Seljuk (Malik Shah I) kebingungan, dan nggak lama setelah itu Sultannya juga meninggal (banyak yang curiga diracun sama orang dalem). Akibatnya? Kekaisaran Seljuk langsung pecah kongsi, masuk ke era perang saudara. Misi Hassan-i Sabbah sukses besar! Hanya dengan satu pisau belati, dia meruntuhkan stabilitas kekaisaran raksasa.

​Bab 7: SOP Pembunuhan ala Hashashin (Bukan Kayak di Game)

​Setelah sukses membunuh Nizam al-Mulk, taktik ini jadi Standar Operasional Prosedur (SOP) mereka. Tapi ada rules ketat yang bikin mereka beda dari pembunuh bayaran biasa:

​Senjata Wajib: Belati (Pisau Dagger).

Mereka jarang banget pakai panah atau racun. Kenapa? Karena membunuh pakai belati itu butuh jarak dekat (melee). Ini menunjukkan keberanian, keintiman, dan memastikan target benar-benar mati.

​Pantang Melarikan Diri (Survive Bukan Prioritas).

Beda sama Altair atau Ezio di game yang abis bunuh target langsung parkour kabur lewat atap, Fedayeen asli nggak didesain buat kabur. Kalau target udah mati, tugas selesai. Mereka bakal diam di tempat nunggu dieksekusi oleh pengawal, atau mati melawan. Bagi mereka, ini adalah mati syahid.

​Eksekusi di Publik.

Mereka sengaja nargetin pejabat di siang bolong, di tengah pasar, istana, atau pas shalat Jumat di Masjid Raya. Tujuannya murni teror psikologis. Mereka mau ngasih pesan: "Sehebat apapun lu, sebanyak apapun bodyguard lu, kalau lu macem-macem sama Alamut, lu nggak akan pernah aman."

​Sleeper Agents.

Ini yang paling ngeri. Kadang seorang Fida'i ditugaskan kerja jadi pelayan, penjaga kuda, atau prajurit buat targetnya. Mereka bisa kerja dengan sangat setia selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pas target udah percaya penuh, baru deh belatinya bicara. Bikin pejabat Seljuk waktu itu pada parno sama pelayannya sendiri.

​Gokil kan, bro? Dari markas mereka di Iran, operasi mereka makin masif. Tapi bentar, di mana hubungannya sama Pasukan Salib, Assassin cabang Suriah, dan kata "Assassin" yang DI-IMPORT ke Eropa?

Welcome back, bro! Di Part 2 kita udah bahas gimana taktik Fedayeen cabang pusat (Iran) sukses bikin Kekaisaran Seljuk kocar-kacir. Tapi, sejauh ini belum ada tanda-tanda kehadiran bule Eropa (Pasukan Salib), kan? Belum ada juga tuh Benteng Masyaf yang jadi tempat Altair respawn di Assassin's Creed 1.

​Nah, di Part 3 ini, cerita bakal makin liar. Kita bakal bahas ekspansi mereka ke wilayah Arab, permainan politik 4D chess mereka ngelawan legenda dunia Islam (Salahuddin Al-Ayyubi), dan gimana akhirnya nama mereka masuk ke kamus bahasa Inggris. Mengutip lagi dari riset sejarah Bernard Lewis dan Farhad Daftary, let's go!

​Bab 8: Buka Cabang di Suriah & Mengklaim Benteng Masyaf

​Setelah Hassan-i Sabbah wafat di Alamut pada tahun 1124, ordo Nizari Ismaili ini nggak lantas bubar. Sistem yang dibangun Hassan udah jalan otomatis. Penerus-penerusnya mulai mikir: "Kita udah nguasai pegunungan Persia, sekarang saatnya buka cabang di Barat."

​Target mereka adalah Syam (sekarang Suriah/Syria). Kenapa Suriah? Karena di sana lagi chaos parah. Wilayah itu lagi diperebutkan sama sisa-sisa penguasa Seljuk, penguasa lokal Arab, dan yang paling baru: Pasukan Salib (Crusaders) dari Eropa yang baru aja mendirikan negara-negara kecil di pesisir Levant (Yerusalem, Antiokhia, dll).

​Dalam kondisi chaos itu, para agen Assassin mulai masuk dan main taktik lama mereka: infiltrasi dan rebut benteng. Puncaknya sekitar tahun 1141 Masehi, mereka berhasil merebut sebuah benteng strategis di pegunungan Jabal al-Summaq. Nama benteng itu adalah Masyaf.

​Yes bro, Masyaf inilah yang jadi markas besar Assassin cabang Suriah, sekaligus setting utama game Assassin's Creed 1!

​Bab 9: Sang Legenda Suriah — Rashid ad-Din Sinan (Al Mualim)

​Kalau di Iran pahlawannya adalah Hassan-i Sabbah, di Suriah nama yang paling ditakuti adalah Rashid ad-Din Sinan. Dia adalah komandan tertinggi (Da'i) cabang Suriah yang memimpin dari Masyaf antara tahun 1162 sampai 1192.

​Bule-bule Pasukan Salib ngasih dia julukan yang epik banget: "The Old Man of the Mountain" (Kakek Tua dari Gunung). Nah, karakter Al Mualim di Assassin's Creed 1 itu secara sejarah sebenarnya diadaptasi dari sosok Sinan ini, bro.

​Sinan ini jenius politik. Posisi Assassin di Suriah itu kejepit. Di Barat ada Pasukan Salib, di Timur dan Selatan ada faksi-faksi Sunni yang kuat. Taktik Sinan? Dia main dua kaki. Kadang dia aliansi sama Pasukan Salib buat nekan penguasa Sunni. Besoknya dia aliansi sama penguasa Sunni buat mukul mundur Pasukan Salib. Pokoknya siapapun yang ngancem keberadaan Masyaf, bakal dikasih "surat cinta" berupa belati di dada.

​Bab 10: Nge-Troll Sang Legenda, Salahuddin Al-Ayyubi

​Ini salah satu story paling gokil dalam sejarah militer. Lu tau Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) kan? Jenderal muslim legendaris penakluk Yerusalem itu.

​Tahun 1176, Salahuddin lagi kampanye militer buat menyatukan wilayah Suriah. Dia merasa sekte Assassin di Masyaf ini duri dalam daging, jadi dia bawa pasukan raksasanya buat mengepung Benteng Masyaf. Sinan ngeliat ini dan sadar, kalau dibiarin, Masyaf bakal rata sama tanah.

​Bukannya nyerah, agen intelijen Sinan malah ngelakuin aksi psikologis tingkat dewa.

​Suatu malam, Salahuddin lagi tidur di tenda utamanya yang dijaga ketat lapis demi lapis sama pasukan elit. Paginya pas dia bangun, dia syok berat. Di sebelah kasurnya, ada kue panas khas Ismailiyah, sebuah belati beracun, dan secarik surat yang ditusukkan ke bantalnya.

​Isi suratnya kurang lebih begini: "Kami tahu di mana kau tidur. Kalau kau tidak angkat kaki dari Masyaf, belati ini yang akan menancap di lehermu, bukan di bantalmu."

​Boom! Salahuddin, sang jenderal tanpa tanding, kena mental. Dia sadar bodyguard-nya yang paling setia pun udah disusupi sama sleeper agent Assassin. Hari itu juga, Salahuddin langsung cabut, narik mundur semua pasukannya dari Masyaf, dan akhirnya malah bikin perjanjian damai sama Sinan. Sejak saat itu, Salahuddin nggak pernah lagi mau berurusan sama kelompok Masyaf. Badass abis!

​Bab 11: Gimana Kata "Assassin" Masuk ke Kamus Eropa?

​Nah, interaksi antara Assassin cabang Suriah dan Pasukan Salib inilah yang akhirnya ngelahirin kata "Assassin" di lidah orang-orang Barat.

​Pasukan Salib (yang isinya orang Prancis, Inggris, Jerman) bingung ngeliat ada sekte lokal yang rela mati demi komandannya dan jago banget nyelinap. Salah satu korban elit dari pihak Eropa adalah Conrad dari Montferrat, Raja Yerusalem yang baru aja mau naik takhta. Dia tewas ditusuk dua agen Assassin yang nyamar jadi pendeta Kristen selama berbulan-bulan di Tyre (Tirus).

​Orang-orang lokal di Suriah (terutama musuh-musuh politik Ismailiyah) sering ngejek sekte ini dengan sebutan "Hashashin" (orang-orang miskin pengonsumsi hashish/ganja—seperti yang gw bahas di Part 2, ini cuma julukan hinaan/hoaks dari musuhnya, bukan fakta mereka beneran nyimeng). Teori lain bilang akar katanya adalah "Asasiyun" (orang-orang yang berpegang teguh pada asas/dasar agama).

​Orang Eropa denger kata Hashashin/Asasiyun ini, tapi lidah mereka susah nyebutnya. Akhirnya di catatan-catatan bule zaman itu (seperti catatan William dari Tirus), kata itu ditulis jadi Assassini, Assissini, atau Heyssessini.

​Ketika Pasukan Salib pulang kampung ke Eropa, mereka bawa cerita-cerita horor soal sekte pembunuh misterius dari Timur ini. Ratusan tahun kemudian, kata "Assassin" resmi masuk ke kamus bahasa Inggris dan Prancis modern, bukan lagi merujuk pada nama sekte Ismailiyah di Suriah, tapi berubah makna menjadi: "Seseorang yang membunuh tokoh penting/VIP karena alasan politik atau uang."

​Gimana bro? Dari tongkrongan ngaji di Persia, rebut benteng, sampe nge-troll Saladin dan akhirnya bikin kosa kata baru buat bahasa Inggris.


Welcome to the endgame, bro! Tiga part kemarin kita udah ngeliat gimana kelompok Hashashin ini bener-bener OP (Overpowered) selama lebih dari 150 tahun. Kekaisaran Seljuk nggak sanggup nembus benteng mereka, Pasukan Salib kena mental, bahkan legenda sekelas Salahuddin Al-Ayyubi milih ngajak damai daripada mati konyol di kasur.

​Kayaknya nggak ada yang bisa ngalahin sekte ini, kan? Well, sampai akhirnya ada satu kekuatan militer yang beda alam datang dari ujung Timur. Kekuatan yang nggak peduli sama negosiasi, nggak mempan diteror, dan hobinya ngeratain kota jadi debu. Ya, mereka adalah Kekaisaran Mongol.

​Di Part terakhir dari epik sejarah ini (masih bersumber dari Bernard Lewis & Farhad Daftary), kita bakal bahas gimana Alamut dan Masyaf akhirnya runtuh, dan plot twist mengejutkan soal nasib keturunan mereka di zaman modern.

​Bab 12: Badai dari Timur (Invasi Mongol)

​Masuk ke pertengahan abad ke-13, peta politik dunia berubah drastis. Genghis Khan udah berhasil menyatukan suku-suku nomaden di Asia Tengah dan ngebangun mesin perang paling mematikan di masanya. Cucu Genghis Khan, yaitu Möngke Khan, punya ambisi buat menaklukkan seluruh Timur Tengah sampai ke Mesir.

​Möngke ngutus adiknya, Hulagu Khan, buat mimpin ratusan ribu pasukan berkuda Mongol ke arah barat (Persia dan Arab). Perintah Möngke cuma satu: "Siapapun yang nyerah, biarin hidup. Siapapun yang melawan, ratain sama tanah."

​Nah, masalahnya, di rute invasi Hulagu ini, berdirilah jaringan benteng-benteng Nizari Ismaili (termasuk Alamut) yang terkenal anti-raid itu.

​Taktik assassination yang biasanya sukses bikin musuh kocar-kacir, tiba-tiba nggak berguna ngelawan Mongol. Kenapa? Karena struktur komando Mongol itu beda. Kalau lu bunuh satu jenderal Mongol, besoknya langsung diganti sama jenderal lain yang lebih brutal. Mongol itu ibarat hydra, dipotong satu kepalanya, tumbuh yang lain.

​Bab 13: Jatuhnya Benteng "Anti-Raid" Alamut (1256 M)

​Tahun 1256, pasukan Hulagu Khan sampai di pegunungan Iran. Pemimpin (Grand Master) Assassin waktu itu adalah seorang pemuda bernama Rukn al-Din Khurshah.

​Khurshah sadar posisinya udah checkmate. Mongol nggak cuma bawa pasukan kuda, tapi mereka juga bawa engineer (insinyur militer) dari Tiongkok yang ahli bikin mesin pelontar batu raksasa (trebuchet) dan bahan peledak. Benteng yang selama 150 tahun dikira nggak bisa ditembus, sekarang dihujani batu api berminggu-minggu.

​Karena nggak mau rakyat dan pengikutnya dibantai, Khurshah akhirnya mengambil keputusan berat: Dia turun gunung dan menyerah tanpa syarat kepada Hulagu Khan.

​Hulagu awalnya nyambut Khurshah dengan baik, tapi itu cuma trik, bro. Hulagu manfaatin Khurshah buat ngeluarin perintah ke seluruh komandan benteng Assassin lainnya di Persia supaya ikut menyerah. Begitu semua benteng udah dilucuti dan dikosongkan, pasukan Mongol langsung ngebantai Khurshah dan ribuan pengikutnya. Berakhirlah riwayat faksi Assassin di tanah kelahiran mereka sendiri. Alamut rata dengan tanah.

​Bab 14: Tragedi Terbesar (Perpustakaan yang Hangus)

​Jatuhnya Alamut ini ninggalin satu tragedi yang bikin sejarawan modern nangis darah.

​Di dalam Benteng Alamut itu, Hassan-i Sabbah dan penerusnya ngebangun sebuah perpustakaan raksasa. Isinya ribuan gulungan kitab sejarah, sains, filsafat, dan ajaran asli Ismailiyah. Waktu Alamut direbut, seorang sejarawan Persia yang ikut rombongan Mongol bernama Ata-Malik Juwayni minta izin ke Hulagu buat masuk ke perpustakaan itu sebelum dibakar.

​Juwayni nyelematin Al-Quran dan beberapa buku sains/astronomi. Tapi, karena Juwayni ini adalah musuh ideologis Ismailiyah, dia sengaja membakar habis SEMUA buku sejarah dan doktrin asli buatan sekte tersebut.

​Ini alasannya kenapa sejarah Hashashin itu penuh misteri dan hoaks (kayak mitos ganja)! Karena sumber primer (tulisan asli mereka sendiri) udah jadi abu dibakar Mongol. Semua sejarah yang kita baca sekarang, terpaksa diambil dari catatan musuh-musuh mereka (kayak Juwayni atau tentara Eropa) yang pastinya udah dibumbui propaganda.

​Bab 15: Nasib Cabang Suriah dan Ending di Masyaf

​Gimana nasib Assassin cabang Suriah (markasnya Al Mualim/Benteng Masyaf)?

Mereka sempat selamat dari Mongol, karena pasukan Mongol keburu dihancurkan oleh pasukan Mamluk dari Mesir di Pertempuran Ain Jalut (1260 M).

​Tapi, penyelamat mereka (Kesultanan Mamluk) justru jadi Grim Reaper (malaikat maut) yang baru. Sultan Mamluk yang legendaris, Sultan Baibars, pelan-pelan mencaplok wilayah Suriah. Beda sama Mongol yang brutal, Baibars main cantik. Dia nggak langsung ngancurin Masyaf. Awalnya, dia maksa Assassin Suriah buat jadi pembunuh bayaran khusus negara Mamluk (jadi PNS militer ibaratnya).

​Lama-kelamaan, Baibars mengganti pemimpin-pemimpin Assassin dengan orang kepercayaannya sendiri. Akhirnya, pada tahun 1273 Masehi, Benteng Masyaf dan benteng-benteng lainnya di Suriah menyerah secara damai kepada Kesultanan Mamluk. Faksi Assassin resmi bubar sebagai kekuatan politik dan militer independen.

​Bab 16: Plot Twist Zaman Now!

​Lu mungkin mikir: "Berarti sekte ini udah punah dong sekarang?"

Ini plot twist paling epiknya, bro. Jawabannya: NGGAK PUNAH!

​Setelah kehilangan kekuatan militer, sisa-sisa pengikut Nizari Ismailiyah ini bersembunyi (melakukan Taqiyya atau penyamaran identitas) dan kembali jadi komunitas agama yang damai. Seiring berjalannya abad, mereka menyebar ke India, Asia Tengah, Eropa, sampai Amerika Utara.

​Hari ini, komunitas Nizari Ismailiyah adalah salah satu kelompok Muslim paling progresif, terpelajar, dan makmur di dunia! Pemimpin spiritual mereka saat ini (Imam ke-49, keturunan langsung dari era Alamut) adalah Pangeran Shah Karim Al Hussaini, alias Aga Khan IV.

​Alih-alih ngebangun benteng militer dan ngirim Fedayeen bawa belati, Aga Khan sekarang mendirikan Aga Khan Development Network (AKDN)—salah satu yayasan amal terbesar di dunia yang kerjanya ngebangun rumah sakit, sekolah, pelestarian budaya, dan bantu negara-negara berkembang.

​Dari sekte pembunuh paling ditakuti yang bikin raja-raja parno, berevolusi jadi komunitas filantropis yang nebarin perdamaian dan kemanusiaan. Character development yang gila banget, kan?


Dari otak brilian seorang Hassan-i Sabbah di Persia abad ke-11, manuver mematikan di Suriah, legacy kata "Assassin" di bahasa Inggris, sampai kehancuran di tangan Mongol dan kebangkitan mereka di era modern.

​Ubisoft mungkin ngasih kita gameplay parkour dan jubah putih yang keren abis di Assassin's Creed, tapi jujur aja... sejarah aslinya jauh lebih kompleks, dark, dan mind-blowing!


Buku Referensi Utama (Literatur Akademik)

​"The Assassins: A Radical Sect in Islam" (1967) karya Bernard Lewis.

Ini buku klasik dan legendaris banget. Bernard Lewis itu dedengkotnya sejarawan Timur Tengah di dunia Barat. Buku ini yang pertama kali ngebongkar sejarah Hashashin secara detail dan komprehensif buat pembaca modern, misahin antara mitos Eropa dan fakta sejarah Timur Tengah.

​"The Isma'ilis: Their History and Doctrines" (1990) & "The Assassin Legends: Myths of the Isma'ilis" (1994) karya Farhad Daftary.

Kalau lu mau tahu siapa "suhu" paling diakui sedunia soal sejarah sekte Ismailiyah, ya Farhad Daftary orangnya. Beliau yang secara ilmiah mematahkan mitos soal penggunaan ganja (hashish) dan taman surga buatan, ngebuktiin pakai sumber-sumber kuno kalau itu cuma hoaks atau propaganda dari musuh-musuh politik Alamut.

​Sumber Catatan Kuno (Saksi Mata dari Zamannya)

​Sebenarnya buku-buku modern di atas juga ngambil data dari catatan orang-orang zaman dulu ini, bro:

​Ata-Malik Juwayni (Tarikh-i Jahangushay / Sejarah Penakluk Dunia): Dia ini sejarawan Persia yang kerja buat Mongol dan ikut rombongan Hulagu Khan. Catatan dia penting banget karena dia saksi mata jatuhnya Benteng Alamut (meski dia juga pelaku utama yang ngebakar habis perpustakaan Assassin).

​William of Tyre (Guillaume de Tyr): Uskup dan sejarawan dari pihak Pasukan Salib (Crusaders). Tulisan dia yang jadi bukti sejarah gimana orang Eropa pertama kali berinteraksi sama Assassin cabang Suriah dan akhirnya ngebawa kosa kata itu balik ke Eropa.

​Catatan Perjalanan Marco Polo: Meskipun udah dibantah sama sejarawan modern karena terbukti nyebarin hoaks soal "taman surga dan narkoba", catatan Marco Polo tetap jadi referensi krusial buat ngeliat gimana mitos Hashashin ini terbentuk di mata orang Barat.

​Referensi Pop-Culture (Inspirasi Assassin's Creed)

​Novel "Alamut" (1938) karya Vladimir Bartol.

Ini bukan buku sejarah murni ya, tapi novel fiksi sejarah buatan penulis Slovenia. Meski begitu, novel inilah yang jadi "kitab suci" buat developer Ubisoft waktu ngeracik lore Assassin's Creed 1. Slogan ikonik game-nya, "Nothing is true, everything is permitted" (Tidak ada yang benar, semua diizinkan), aslinya lahir dari halaman-halaman novel ini!


​🗡️ FAQ: Fakta Sejarah Hashashin (Assassin)

​Q: Bro, jadi Assassin itu aslinya orang Arab atau Persia?

A: Aslinya dari Persia (sekarang Iran). Hassan-i Sabbah dan markas utamanya (Benteng Alamut) ada di sana. Mereka jadi identik sama "Arab" gara-gara Pasukan Salib dari Eropa ketemunya sama agen-agen cabang mereka yang beroperasi di wilayah Suriah (Syam).

​Q: Beneran mereka teler ganja (hashish) sebelum ngejalanin misi pembunuhan?

A: HOAX 100%, bro! Sejarawan modern membuktikan kalau cerita mereka dicekoki narkoba atau dimasukin ke "taman surga" bohongan itu cuma propaganda hitam dari musuh. Para Fedayeen (pasukan pembunuh) itu super disiplin. Logikanya, nggak mungkin agen yang lagi teler bisa sukses menyamar dan menginfiltrasi istana berbulan-bulan.

​Q: Senjata aslinya beneran Hidden Blade (pisau tersembunyi di pergelangan) kayak Altair atau Ezio?

A: Kalau pisau mekanik yang bisa pop-out otomatis sih itu murni inovasi fiksi buatan Ubisoft biar gamenya keren. Di dunia nyata, mereka pakai pisau belati biasa (dagger) yang disembunyikan di balik jubah. Makanya mereka selalu eksekusi jarak dekat.

​Q: Kalau Leap of Faith (loncat indah dari menara ke tumpukan jerami), itu beneran ada?

A: Itu juga fiksi. Tapi, keberanian dan mindset "siap mati" para agen ini adalah fakta. Kalau di game habis ngebunuh kita disuruh kabur pakai parkour, di dunia nyata, agen Assassin pantang kabur. Habis nge-kill target, mereka bakal diam di tempat nunggu dieksekusi pengawal musuh. Mati syahid, style mereka.

​Q: Kenapa sih mereka kalau ngebunuh target sukanya di siang bolong atau di keramaian? Kan bahaya?

A: Justru itu intinya! Taktik mereka itu buat teror psikologis. Dengan membunuh jenderal atau pejabat tinggi di tengah pasar atau masjid, mereka mau ngasih pesan shock therapy: "Sebanyak apapun bodyguard lu, lu nggak akan pernah aman dari kami."

​Q: Tokoh Al Mualim di Assassin's Creed 1 itu siapa di dunia nyata?

A: Dia adaptasi dari tokoh sejarah bernama Rashid ad-Din Sinan (julukannya: The Old Man of the Mountain). Dia adalah pimpinan Assassin cabang Suriah yang markasnya di Benteng Masyaf. Saking OP-nya dia, legenda sekelas Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) aja mundur dan milih damai gara-gara dikirimin belati pas lagi tidur.

​Q: Kenapa kata "Assassin" akhirnya masuk kamus bahasa Inggris dan artinya berubah jadi "Pembunuh"?

A: Lidah bule Pasukan Salib itu kesusahan nyebutin kata ejekan lokal Hashashin atau Asasiyun. Di catatan mereka, ditulisnya jadi Assassini. Pas bule-bule ini pulang kampung ke Eropa, mereka bawa kosa kata itu. Ratusan tahun kemudian, maknanya bergeser di bahasa Inggris jadi istilah umum buat orang yang membunuh tokoh VIP (Assassination).

​Q: Jadi sekarang kelompok mereka beneran udah punah dihancurin Mongol?

A: Nggak, bro! Ini plot twist-nya. Secara militer emang mereka udah hancur. Tapi sisa pengikut komunitas mereka (Nizari Ismailiyah) bertahan secara underground. Di zaman modern sekarang, mereka berevolusi jadi kelompok Muslim yang sangat makmur dan terpelajar. Pemimpin mereka sekarang, Aga Khan IV, fokusnya malah ngebangun yayasan filantropi (rumah sakit, kampus, sekolah) di berbagai negara berkembang. Dari Assassin pencabut nyawa, jadi Healer sejati!