Pernah nggak sih lo lagi nongkrong, ngopi bareng temen, terus ada satu orang yang ngomongnya tinggi banget? Kalau ngasih advice atau motivasi, wah, udah kayak Mario Teguh digabung sama dedengkot startup Silicon Valley. Bijak bener! Tapi pas dicek realitas hidupnya... zonk. Kerjaannya cuma rebahan, wacana doang, eksekusi nol besar.
Fenomena "motivator dadakan tanpa action" ini sebenarnya penyakit kronis zaman now. Semua orang pengen kelihatan pinter, kelihatan expert, tapi malas berdarah-darah di lapangan. Padahal, dari zaman ulama klasik nulis Kitab Kuning sampai zaman filsuf Yunani nongkrong di Athena, orang-orang model begini udah abis di- roasting.
Artikel ini bakal bedah kenapa lo (dan kita semua) harus berhenti cuma jadi tukang sorak, dan mulai beneran terjun ngambil action. Duduk yang manis, siapin kopi, karena kita bakal bahas ini dari kacamata tongkrongan yang di-backing sama ilmu daging!
1. Ditampar Sama Kitab Kuning: "Lilin yang Bakar Diri Sendiri"
Lo kira kritik buat orang yang cuma jago ngomong itu barang baru? Salah besar, bro. Kalau lo ngintip ke tradisi pesantren dan Kitab Kuning, ulama-ulama zaman dulu itu kalau ngritik pedesnya ngalahin seblak level dewa.
Dalam kitab Matan Al-Zubad, Ibnu Ruslan nulis begini: orang yang punya ilmu (termasuk ilmu motivasi, bisnis, atau agama) tapi nggak diamalin, bakal kena azab duluan sebelum para penyembah berhala. Ngeri nggak tuh? Lo koar-koar soal kebenaran, tapi lo sendiri kabur dari kebenaran itu.
Terus, ada lagi analogi epik dari Imam Al-Ghazali di kitab Ihya Ulumuddin. Beliau ibaratin orang yang jago ngasih nasihat tapi nggak ada action itu kayak lilin. Iya, lilin. Dia ngasih cahaya buat orang-orang di sekitarnya, tapi dirinya sendiri hancur leleh kebakar. Buat apa lo ngebakar semangat orang lain buat maju, kalau diri lo sendiri makin hari makin hancur karena nggak ngapa-ngapain?
Makanya, ulama tasawuf tuh punya quotes andalan: "Lisānul ḥāl afshaḥu min lisānil maqāl." Artinya, bahasa tindakan (teladan/aksi) itu jauh lebih fasih dan lebih ngena daripada cuma bahasa congor (teori). Orang bakal lebih respect liat lo kerja keras diam-diam dan ngasilin sesuatu, daripada lo cuap-cuap di story Instagram tapi dompet kering.
2. Tong Kosong Ala Filsuf Yunani: Socrates & Plato Ikut Gemes
Sekarang kita geser tongkrongan kita ke Yunani Kuno. Ketemu sama dua kakek legend: Socrates dan muridnya, Plato.
Buat Socrates, ilmu dan tindakan itu ibarat kepingan koin, nggak bisa dipisah. Socrates punya prinsip "Intelektualisme Moral." Intinya begini: kalau lo beneran ngerti dan tahu suatu ilmu, lo pasti bakal ngelakuinnya. Kalau ada orang jago ngomongin teori sukses tapi hidupnya berantakan, kata Socrates, orang itu sebenernya nggak tahu apa-apa. Dia cuma beo yang ngulangin kata-kata manis. To know is to do, kata dia.
Plato lebih sadis lagi. Di zaman dia, ada sekelompok orang yang namanya Kaum Sofis. Mereka ini literally motivator berbayar di zaman kuno. Jago ngomong, jago debat, pinter nyusun kata-kata biar kelihatan keren, tapi nggak ada action nyata atau kepedulian sama kebenaran. Plato benci banget sama model orang begini. Menurut Plato, ngomong doang tanpa action itu ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Jago ngerangkai kata, tapi jiwanya rapuh.
3. Realita di Lapangan: Wacana vs Eksekusi
Nah, sekarang bawa teori-teori berat di atas ke tongkrongan kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang terjebak di fase "masturbasi otak"? Ngerasa udah sukses cuma karena habis baca artikel atau dengerin podcast motivasi, padahal belum ngerjain apa-apa.
Coba kita ambil contoh konkret di lapangan, biar kerasa bedanya ngemeng doang vs beneran action:
- Kasus Bisnis Skala Kecil/Menengah: Banyak yang kalau nongkrong ngomonginnya ekspansi bisnis. “Gila bro, cuan bisnis laundry atau supplier sabun curah tuh gede banget sekarang! Kita harus supply bahan baku murah!” Wah, teorinya udah kayak CEO. Ngomongin fluktuasi harga bahan kimia di pasar, debat soal kualitas Texapon, ngebahas cara bikin biang deterjen yang untungnya berlipat ganda. Tapi realitanya? Boro-boro ngeracik atau ngecek stok bahan ke supplier. Nyiapin botol kemasan aja belum. Cuma jadi expert di meja kopi, tapi nggak pernah berani naruh modal atau keringet di lapangan.
- Kasus Digital Marketing & SEO: Ini juga sarangnya para "motivator teori". Koar-koar di grup Telegram soal algoritma Google terbaru. Nasihatin temen, "Bro, website lo tuh traffic-nya mandek karena kurang backlink! Lo harus optimasi on-page, sebar backlink di Medium, Kompasiana, Kaskus, Quora!" Tapi realitanya? Giliran website atau campaign sendiri, bikin dummy blog di Blogspot aja males-malesan. Nulis artikel SEO-friendly nunda-nunda terus. Ngakunya jago dorong traffic, tapi eksekusi optimasi buat nembus halaman satu Google kagak jalan-jalan. Teori terbang ke langit, eksekusi nyungsep di bumi.
- Kasus Anak IT / Programmer: Ada yang niatnya mulia banget, ngerasa tergugah pengen volunteer ngebangun dan develop sebuah website yayasan atau panti asuhan biar mereka go digital. Ngomongnya, "Gue mau wakafin skill coding gue nih buat ngebantu umat!" Tapi realitanya? Kapan mulai ngoding? Framework aja belum dipilih, domain belum di-setting, dan ujung-ujungnya wacana itu ngilang ketelan bumi. Niat mulia kalau nggak dieksekusi pake ketikan keyboard ya cuma jadi angan-angan kosong.
4. Kenapa Eksekusi (Action) Itu Susah tapi Wajib?
Kenapa sih orang lebih suka ngomong daripada bertindak? Jawabannya simpel: ngomong itu gratis dan nggak ada risikonya.
Pas lo ngasih motivasi atau teori bisnis ke orang lain, otak lo ngelepasin dopamine. Lo ngerasa pinter, lo ngerasa diakuin, dan lo ngerasa udah "sukses" secara virtual. Tapi, pas lo harus narik lengan baju dan beneran mulai ngerjain task—entah itu mulai nulis code, mulai ngeracik sabun, atau mulai bikin ratusan backlink—di situlah rasa sakit, bosen, dan capeknya muncul.
Di sinilah ujian mental yang sebenarnya. Mengubah kata menjadi karya. Action itu nuntut komitmen.
Berikut beberapa alasan kenapa lo harus segera geser dari "Tukang Motivasi" jadi "Tukang Eksekusi":
- Dihargai Karena Karya, Bukan Bacot: Orang-orang di industri manapun nggak peduli seberapa jago lo ngerangkai kata. Mereka cuma nanya: "Mana portofolio lo? Mana website yang udah lo naikin traffic-nya? Mana produk yang udah lo jual?"
- Belajar dari Kegagalan Nyata: Kalau lo cuma ngomong, lo nggak pernah gagal, tapi lo juga nggak pernah belajar. Pas lo ngambil action dan gagal (misal website lo kena penalti Google, atau racikan deterjen lo gagal berbusa), di situlah ilmu sejati masuk. Pengalaman itu guru yang jauh lebih brutal tapi efektif daripada ratusan seminar motivasi.
- Menghindari "Azab" Mental: Balik lagi ke konsep Al-Ghazali dan Plato tadi. Orang yang hidupnya cuma dipenuhi omongan manis tanpa tindakan perlahan-lahan bakal kehilangan integritas. Kepercayaan dirinya sebenernya palsu, dan orang-orang di sekitarnya lama-lama bakal muak dan ninggalin dia.
Kesimpulan: Shut Up and Do It!
Jadi, mumpung hari ini kita masih bisa mikir jernih, ayo kurangin porsi ngomong dan gedein porsi kerja.
Nggak usah sibuk nge-share quotes sukses di status WA kalau hari ini lo belum nyelesain satu task pun yang bawa lo ke arah sukses itu. Nggak usah ngajarin orang cara make money atau ngakalin search engine kalau lo sendiri masih males-malesan buka laptop buat eksekusi project lo sendiri.
Ingat kata para ulama dan filsuf tadi: Tindakan lo adalah suara lo yang paling keras.
Kalau lo emang jago, tunjukin lewat output. Kalau lo peduli sama project sosial, tunjukin lewat commit code yang nyata. Kalau lo mau bisnis jalan, tunjukin lewat produk yang kejual.
Berhenti jadi lilin yang cuma bisa nerangin orang tapi hancur sendiri. Jadilah mesin penggerak yang jalan dalam diam, tapi hasilnya bikin semua orang mingkem. Less talk, more action, bro! Sikat!
