Kita sedang berlayar di samudra zaman yang mabuk oleh gema suaranya sendiri, sebuah era yang terobsesi pada eksistensi palsu dan gemerlap panggung sandiwara

Di tengah kepungan kabut narsisme itulah, hadir sebuah renungan tajam yang memadukan cakrawala teknologi dan kedalaman spiritual: bahwa jalan santri sejati hari ini layaknya baris kode Haskell dan Ruby yang tertulis dalam keheningan
Namun, kemurnian hati bukanlah alasan untuk membeku di menara gading. Cara santri mengalirkan manfaat bagi umat digambarkan begitu elegan bagai bahasa pemrograman Ruby, yang cukup melakukan yield kebaikan tanpa sedikit pun membutuhkan panggung kemegahan
Tersebutlah sebuah hikayat dari lembah kaki Gunung Lawu, tentang seorang santri senior bernama Kang Mahfudz yang menghuni bilik bambu paling ujung di sebuah pesantren tua. Selama belasan tahun, tak seorang pun mengenalnya sebagai bintang perdebatan atau penceramah ulung di atas mimbar. Wajahnya teduh namun selalu tertunduk, pakaiannya bersahaja, dan langkahnya nyaris tak meninggalkan jejak suara di pelataran masjid. Ia adalah perwujudan nyata dari sang pejalan sunyi
Setiap malam, ketika seluruh penghuni pondok hanyut dalam mimpi dan hanya tersisa derik jangkrik yang membelah dingin, Kang Mahfudz bangkit dari tikar pandannya. Dengan lentera minyak yang redup, ia menyusuri saluran air pesantren yang kerap tersumbat lumpur, memunguti dedaunan busuk dengan tangannya yang kasar agar air wudhu para pencari ilmu esok subuh mengalir sebening embun. Selesai bergelut dengan lumpur, ia duduk di sudut perpustakaan. Di bawah temaram cahaya, jemarinya yang kapalan menyalin lembar-lembar kitab kuning yang lapuk dimakan usia, sekaligus merumuskan sistem pengairan desa dalam catatan-catatan kecil yang ia letakkan begitu saja di meja sang Kiai tanpa pernah membubuhkan namanya.
Suatu ketika, kemarau panjang mencekik desa di sekitar pesantren hingga sawah-sawah meranggas. Namun, berkat rancangan jaringan irigasi dari lembaran kertas tanpa nama itu, mata air dari lereng bukit berhasil dialirkan tepat ke jantung pemukiman. Pejabat negeri dan saudagar datang membawa penghargaan; kamera-kamera berkilatan hendak membingkai sosok pahlawan di balik keajaiban tersebut untuk dipajang di etalase kerumunan
Saat tepuk tangan menggema di halaman pondok, Kang Mahfudz justru tiada di sana. Dari kejauhan, sang Kiai melihat siluet tubuhnya sedang memikul cangkul menuju hulu sungai untuk memastikan tak ada batu yang menghalangi aliran air. Ketika seorang santri muda berlari menyusul dan bertanya mengapa ia tidak maju ke panggung, Kang Mahfudz hanya tersenyum tipis. "Kang," ucapnya lembut, "air yang menghidupkan akar di bawah tanah tidak pernah meminta namanya ditulis di atas kelopak bunga. Biarlah bunga itu mekar untuk manusia, dan biarlah kita tetap menjadi rahasia di antara tanah dan Tuhan." Ia telah melakukan yield atas ilmunya bagi kemaslahatan umat, lalu memilih lenyap dari panggung tepuk tangan
Hikayat Kang Mahfudz adalah cermin bagi siapa saja yang pernah meresapi tinta kuning para ulama. Menjadi santri bukanlah soal seberapa nyaring kesalehan diteriakkan di ruang publik, melainkan seberapa sanggup seseorang memurnikan hatinya dari efek samping kerakusan akan pujian manusia
Referensi Ilmu Komputer & Bahasa Pemrograman
Haskell (Purely Functional Programming)
Rujukan Literatur:
Simon Peyton Jones (Ed.), Haskell 98 Language and Libraries: The Revised Report, Cambridge University Press, 2003.
Graham Hutton, Programming in Haskell (2nd Edition), Cambridge University Press, 2016 (Bab 1: Introduction & Bab 3: Types and Classes).
Konsep Teknis: Pure Functions (Fungsi Murni) dan Referential Transparency. Dalam Haskell, sebuah fungsi dirancang murni secara matematis: ia hanya bergantung pada input argumennya dan menghasilkan output tanpa mengubah kondisi di luar dirinya (no side-effects). Hal ini menjadi dasar metafora jalan santri yang murni layaknya kode Haskell dan bebas dari side-effect
.
Referensi Turats Islam
Kitab Al-Hikam – Syekh Ahmad bin Muhammad Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 709 H / 1309 M)
Teks Asli:
اِدْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ
(Idfin wujuudaka fii ardhil khumuul, famaa nabata mimmaa lam yudfan laa yatimmu nitaajuhu)
Kitab Syarah (Penjelasan) Valid: Dijelaskan secara mendalam dalam Syarah Al-Hikam (Tanbihul Mughtarrin) karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Abbad ar-Rundi (Juz 1, Hikmah ke-11) dan Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam karya Syekh Ahmad bin Muhammad Ibnu ‘Ajibah. Konsep ardhul khumul (bumi ketidakterkenalan/kesunyian) menjadi landasan teologis bagi prinsip santri sebagai pejalan sunyi yang sengaja menghindari etalase kerumunan
.
Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin – Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H / 1111 M)
Rujukan Teks: Juz 4, Rubu’ Al-Munjiyat (Bagian Hal-hal yang Menyelamatkan), Kitab An-Niyyah wal Ikhlash wash Shidq (Kitab Niat, Ikhlas, dan Kejujuran), pada sub-bab Bayan Haqiqatil Ikhlash (Penjelasan Hakikat Ikhlas).
Konsep Utama: Imam Al-Ghazali membedah kata khalish (murni) dan ikhlash (memurnikan), yakni menyaring niat amal dari segala syawa'ib (kotoran atau efek samping batin), terutama penyakit riya' dan dorongan mencari pujian makhluk:
كُلُّ شَيْءٍ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَشُوبَهُ غَيْرُهُ فَإِذَا صَفَا عَنْ شَوْبِهِ وَخَلَصَ عَنْهُ يُسَمَّى خَالِصًا
(Segala sesuatu yang dapat tercampuri oleh unsur lain, apabila telah bersih dan murni dari campurannya itu, maka ia disebut khalish/murni).
Relevansi: Menjadi dalil utama bagi perumpamaan hati santri yang murni dan bebas dari side-effect mengharap validasi manusia
.
Referensi Filsafat Barat
Guy Debord (1931–1994) – La Société du Spectacle (The Society of the Spectacle, Paris: Buchet-Chastel, 1967)
Rujukan Teks: Bab 1 (La séparation achevée / The Culmination of Separation), khususnya Tesis 1, Tesis 4, dan Tesis 12.
Konsep Utama: Debord mengkritik masyarakat modern yang mereduksi kehidupan sejati menjadi sekadar representasi visual atau tontonan (spectacle). Dalam Tesis 12, ia merumuskan adagium zaman pencitraan: "Ce qui apparaît est bon, ce qui est bon apparaît" (Apa yang tampak di permukaan adalah baik, dan apa yang baik adalah apa yang tampak). Referensi ini membedah fenomena zaman yang terobsesi pada eksistensi palsu dan etalase kerumunan
.
Søren Kierkegaard (1813–1855) – Synspunktet for min Forfatter-Virksomhed (The Point of View for My Work as an Author, Kopenhagen: C.A. Reitzel, 1859)
Rujukan Teks: Bagian Lampiran (Bilag), esai pertama: "Bemærkninger betræffende 'den Enkelte'" (Catatan Mengenai 'Sang Individu'), sub-bagian "Mængden er Usandheden" (Kerumunan adalah Ketidakbenaran).
Konsep Utama: Kierkegaard menegaskan bahwa ketika seseorang menggantungkan makna keberadaannya pada pengakuan orang banyak (kerumunan), ia kehilangan tanggung jawab moral dan otentisitas jiwanya di hadapan Tuhan. Referensi ini mendasari gagasan menjaga otentisitas jiwa agar abadi di mata kemahaan Tuhan
.
Martin Heidegger (1889–1976) – Sein und Zeit (Being and Time, Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1927)
Rujukan Teks: Bagian Pertama, Divisi I, Bab IV, Paragraf 27 (Das alltägliche Selbstsein und das Man / Diri Sehari-hari dan "Mereka").
Konsep Utama: Membahas konsep Das Man (The "They") dan Uneigentlichkeit (ketidakotentikan), yaitu kondisi ketika manusia larut dalam standar opini publik sehingga kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya yang sejati (Eigentlichkeit).
Status "Hikayat Kang Mahfudz" & Rujukan Kisah Nyata dalam Kitab Klasik
Kisah Kang Mahfudz di lereng Gunung Lawu pada artikel sebelumnya merupakan fiksi alegoris (karangan sastra) yang disusun khusus hikayat sekaligus memvisualisasikan.
Dan banyak lagi Kisah historis yang 100% valid dan tercatat , berikut adalah dua rujukan utamanya:
Kisah Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain (w. 95 H) – Sang Pemikul Gandum di Tengah Malam
Sumber Kitab: Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi (Juz 4, hlm. 393, Mu’assasah Ar-Risalah) dan Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Ashfahani (Juz 3, hlm. 136).
Ringkasan Riwayat: Selama bertahun-tahun, seratus keluarga fakir di Madinah selalu mendapati sekarung tepung di depan pintu rumah mereka setiap pagi tanpa pernah tahu siapa yang mengirimnya. Baru setelah Imam Ali Zainal Abidin wafat, kiriman itu terhenti, dan orang-orang yang memandikan jenazahnya melihat garis-garis hitam bekas luka memikul beban berat di punggung beliau.
Kisah Uwais Al-Qarni (w. 37 H) – Penghuni Bumi yang Tersembunyi
Sumber Kitab: Shahih Muslim (Kitab Fadha'il Ash-Shahabah, Bab Min Fadha'il Uwais Al-Qarni, Hadits No. 2542) dan Hilyatul Auliya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Ashfahani (Juz 2, hlm. 79–87).
Ringkasan Riwayat: Seorang tabi'in dari Yaman yang memilih hidup dalam kesunyian dan kemiskinan demi merawat ibunya yang lumpuh. Ketika Khalifah Umar bin Khattab akhirnya berhasil menemukannya sesuai wasiat Rasulullah SAW dan warga mulai mengenalnya, Uwais justru memilih pergi meninggalkan keramaian menuju tempat yang tak seorang pun mengenalnya hingga akhir hayatnya.
FAQ dan pertanyaan :
yield pada bahasa Ruby menjelaskan cara santri berkhidmat kepada umat?
Dalam arsitektur bahasa Ruby, kata kunci yield berfungsi menyerahkan ruang eksekusi dari sebuah metode kepada blok kode lain secara diam-diam hingga tuntas, lalu kembali bekerja di balik layar tanpa menonjolkan dirinya. Mekanisme ini menjadi metafora bagaimana santri memberikan manfaat ke umat secara elegan seperti Ruby, yakni cukup nge-yield kebaikan tanpa butuh panggung