THE SILENT ARCHITECT: Mengupas Tuntas Syekh Bahauddin Naqsyabandi & Jalan Dzikir Diam
Siapin kopi se-teko, cemilan se-keranjang, dan posisi duduk yang paling PW. Kita bakal menyelami samudra hikmah dari seorang "Arsitek Jiwa" yang ajarannya menyebar dari ujung Barat sampai ujung Timur dunia, termasuk kenceng banget di Indonesia.
Ini dia kisah sang legenda: Syekh Bahauddin Muhammad Naqsyabandi.
Prolog: Kenapa Harus Naqsyabandi?
Cok, di dunia tasawuf itu ada banyak "Jalan Tol" menuju Tuhan. Ada yang jalannya lewat tarian (kayak Maulana Rumi), ada yang lewat dzikir keras-keras sambil geleng kepala (kayak Qadiriyah), ada yang lewat puji-pujian lantang (kayak Sammaniyah). Nah, Syekh Bahauddin Naqsyabandi ini dateng bawa konsep yang agak beda, bahkan radikal di zamannya.
Beliau mengenalkan (atau lebih tepatnya mempopulerkan kembali) metode Dzikir Khafi alias Dzikir Diam.
Bayangin, Cok. Lu bisa dzikir, lu bisa "konek" sama Allah, tanpa mulut lu komat-kamit, tanpa orang sebelah lu tau, bahkan tanpa lu perlu megang tasbih di depan umum. Lu bisa dzikir di tengah pasar, di dalem rapat direksi, pas lagi nyetir, atau pas lagi nongkrong. Badan lu sama makhluk, tapi hati lu sama Allah. Itu inti ajaran Naqsyabandiyah yang bikin tarekat ini laku keras di kalangan orang modern, pejabat, dan intelektual.
Nama gelarnya "Naqsyabandi" itu artinya "Lukisan" atau "Ukiran". Maksudnya apa? Beliau adalah ahli mengukir lafaz Allah di dalem hati muridnya saking dalemnya itu ukiran, nggak bakal ilang dibawa mati.
Silsilah Emas (The Golden Chain)
Sebelum kita masuk ke sejarah hidupnya, lu harus tau dulu "darah biru" keilmuan beliau. Ini penting, Cok. Di dunia tarekat, Sanad (sambungan guru) itu harga mati. Kalau nggak ada sanad, berarti ilmunya "ilegal" atau putus.
Nah, Tarekat Naqsyabandiyah ini punya jalur sanad yang unik banget, beda sama mayoritas tarekat lain. Jalur ini disebut Silsilah Adz-Dzahabiyyah (Rantai Emas).
Kalau tarekat lain (Qadiriyah, Syadziliyah, dll) mayoritas sanadnya lewat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Tapi Naqsyabandiyah? Mereka lewat jalur "VIP" yang beda, yaitu lewat Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.
Kenapa ini penting? Karena Abu Bakar itu simbol dari "Dzikir Diam". Inget nggak pas Nabi SAW dan Abu Bakar ngumpet di Gua Tsur pas dikejar musuh? Di situ Nabi ngajarin Abu Bakar buat tenang dan dzikir dalam hati. Itulah pondasi tarekat ini.
Ini Silsilah Sanadnya sampai ke Syekh Bahauddin (Simak baik-baik, ini jalur cahaya):
Nabi Muhammad SAW (Sumber Cahaya)
Abu Bakar As-Siddiq (Sang Penerima Rahasia Gua Tsur)
Salman Al-Farisi (Sang Pencari Kebenaran dari Persia)
Qasim bin Muhammad (Cucu Abu Bakar, ahli fiqih Madinah)
Imam Ja'far Ash-Shadiq (Samudra Ilmu, guru para imam mazhab)
Tayfur Abu Yazid Al-Bistami (Sultanul Arifin, sufi yang "mabuk" cinta Tuhan)
Abul Hasan Al-Kharqani
Abu Ali Al-Farmadi
Yusuf Al-Hamdani
Abdul Khaliq Al-Ghajadwani (Penyusun 8 Prinsip Dasar Naqsyabandi)
Arif Ar-Riwagri
Mahmud Al-Anjir Faghnawi
Ali Ar-Ramitani (Dikenal sebagai Syekh Azizan)
Muhammad Baba As-Sammasi (Guru pertama yang nemuin bakat Bahauddin)
Amir Kulal (Guru langsung Bahauddin secara fisik)
Syekh Bahauddin Naqsyabandi (Sang Pembaharu & Pendiri)
Liat tuh, Cok. Sanadnya ngeri. Ada Salman Al-Farisi, ada Ja'far Shadiq, ada Abu Yazid Bustami. Ini bukan kaleng-kaleng. Ini kumpulan para "Avengers"-nya dunia spiritual.
Masa Kecil di Desa "Para Arif"
Syekh Bahauddin lahir tahun 1317 M (717 H) di desa Qasr-i-Arifan, deket Bukhara (sekarang di Uzbekistan). Nama desanya aja artinya "Istana Para Arifin (Orang Bijak)". Emang udah setting-an langit beliau lahir di situ.
Sejak bayi, beliau udah "ditandai".
Ceritanya gini: Suatu hari, Syekh Baba Sammasi (urutan ke-14 di silsilah tadi) lewat desa itu bareng murid-muridnya. Tiba-tiba beliau berhenti dan bilang: "Gue mencium aroma seorang Wali Besar dari tanah ini."
Pas Syekh Bahauddin lahir, Syekh Baba Sammasi balik lagi dan langsung nggendong bayi itu. Beliau bilang ke murid-muridnya: "Ini dia bayi yang aromanya gue cium waktu itu. Dia bakal jadi pemimpin zaman ini."
Jadi, Syekh Bahauddin ini tipe yang "Chosen One". Sejak orok udah di-booking sama gurunya buat nerusin estafet kepemimpinan spiritual.
Pencarian Jati Diri & "Pemberontakan" Suci
Masa muda Syekh Bahauddin dihabiskan buat belajar sama Syekh Amir Kulal. Syekh Amir Kulal ini ulama besar, ahli gulat (fisiknya kuat), dan pemimpin tarekat.
Tapi ada satu hal menarik, Cok. Syekh Amir Kulal itu ngajarinnya dzikir Jahr (dzikir keras/bersuara). Awalnya Syekh Bahauddin ngikut. Tapi lama-lama, hatinya berontak. Beliau ngerasa, "Kok kurang sreg ya? Bukannya dzikir itu harusnya privasi antara hamba sama Tuhannya?"
Di sinilah uniknya. Beliau tetep hormat sama gurunya, tapi beliau mulai nyari metode lain.
Beliau dapet bimbingan spiritual secara "Rohani" (Uwaisi) dari roh Syekh Abdul Khaliq Al-Ghajadwani (padahal Syekh Abdul Khaliq udah meninggal lama sebelum Bahauddin lahir). Dalam visi spiritual itu, beliau diajarin teknik Dzikir Khafi (Dzikir Diam).
Suatu hari, pas lagi kumpul dzikir bareng Syekh Amir Kulal, temen-temennya pada teriak dzikir keras-keras. Syekh Bahauddin malah diem, cabut dari majelis, dan dzikir sendirian. Murid-murid lain pada nyinyir: "Wah, sombong amat tuh anak, berani beda sama Guru."
Tapi Syekh Amir Kulal (yang emang Waskita/Wali) malah senyum dan bilang: "Biarkan dia. Dia sedang menapaki jalan yang diperintahkan Allah khusus buat dia. Jangan ganggu singa yang sedang tidur."
Akhirnya, Syekh Amir Kulal mengakui kalau muridnya ini ilmunya udah melampaui gurunya dalam aspek tertentu. Syekh Bahauddin pun dipersilakan ngembangin metodenya sendiri. Di situlah cikal bakal Tarekat Naqsyabandiyah mulai terbentuk.
7 Tahun Menghinakan Diri (Servitude)
Jangan pikir abis dapet ijazah jadi guru terus beliau langsung ongkang-ongkang kaki di singgasana, Cok. Kagak. Syarat jadi Wali Naqsyabandi itu berat: Lu harus matiin ego lu sampe titik nol.
Ada fase dalam hidup Syekh Bahauddin di mana beliau disuruh melayani masyarakat selama 7 tahun dengan cara yang ekstrem buat ngancurin kesombongan:
Melayani Manusia: Beliau ngerawat orang sakit yang penyakitnya ngeri-ngeri dan nular, bersihin luka mereka, nyuciin baju mereka.
Melayani Jalanan: Beliau tiap hari nyapuin jalanan desa, nyingkirin duri/batu biar orang lewat nggak celaka.
Melayani Binatang: Ini yang paling gila. Beliau ngerawat anjing-anjing liar, kucing buduk, ngasih makan, bahkan bersihin kotoran hewan di jalanan.
Pernah suatu kali beliau ketemu anjing yang penuh luka. Beliau nggak jijik, malah beliau rawat itu anjing, beliau nangis dan berdoa: "Ya Allah, lewat makhluk-Mu yang hina ini, sampaikanlah aku pada ridho-Mu."
Bayangin, seorang ulama besar, keturunan Nabi, disuruh ngurusin anjing jalanan. Buat apa? Buat mastiin di hatinya nggak ada sisa-sisa perasaan "Gue lebih mulia dari makhluk lain". Kalau lu masih ngerasa lebih suci dari anjing di jalanan, lu belum lulus jadi murid Naqsyabandi. Itu filosofinya.
11 Prinsip Emas (The 11 Rules of Life)
Nah, ini "daging"-nya, Cok. Syekh Bahauddin (dan pendahulunya Syekh Abdul Khaliq) ngerumusin 11 prinsip dasar buat ngelatih jiwa. Kalau lu praktekin ini, hidup lu bakal balance antara dunia dan akhirat.
Gue jelasin pake bahasa kita ya:
Hosh Dar Dam (Sadar Napas): Tiap tarikan napas harus sadar. Jangan sampe lu napas tapi lupa sama yang ngasih napas. Tiap napas yang keluar tanpa inget Allah itu "napas mati". Ini latihan Mindfulness level dewa.
Nazar Bar Qadam (Mata ke Arah Kaki): Secara fisik: Kalau jalan nunduk, jangan celingukan liat maksiat atau hal yang gak penting. Secara batin: Fokus sama langkah lu sendiri, jangan sibuk ngurusin langkah orang lain. Jangan kepo!
Safar Dar Watan (Perjalanan di Tanah Air): Artinya, lu harus hijrah dari sifat manusiawi yang jelek ke sifat malaikat yang baik. Gak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri, traveling-nya di dalem diri sendiri. Pindah dari zona nyaman dosa ke zona taat.
Khalwat Dar Anjuman (Menyepi di Tengah Keramaian): INI THE BEST-NYA NAQSYABANDI. Lu ada di pasar, lu ada di kantor, lu ngobrol sama temen, tapi hati lu "nyepi" berduaan sama Allah. Badan lu sibuk meeting, hati lu sibuk zikir. Tangan lu sibuk ngitung duit, hati lu sibuk muji Tuhan. Ini level "Sufi Kota".
Yad Kard (Mengingat): Terus-menerus nyebut nama Allah (dzikir) baik lisan atau hati.
Baz Gasht (Kembali): Setiap abis dzikir, lu harus balikin niat: "Ya Allah, cuma Engkau tujuanku, dan cuma ridho-Mu yang aku cari (Ilahi Anta Maqsudi wa Ridhaka Matlubi)." Biar nggak terjebak nikmatnya dzikir tapi lupa sama yang didzikiri.
Nigah Dasht (Menjaga Hati): Jagain hati dari pikiran kotor. Begitu ada lintasan pikiran jorok/jahat, langsung swipe left, buang! Jangan dilaminating.
Yad Dasht (Mengingat Kembali): Menjaga perasaan "Dilihat Allah" (Muraqabah) setiap detik. Kayak lu lagi diawasin CCTV Ilahi 24 jam.
(Tiga tambahan khusus dari Syekh Bahauddin):
Wuquf Zamani (Sadar Waktu): Evaluasi tiap jam. Sejam terakhir gue ngapain? Kalau baik, alhamdulillah. Kalau dosa, istighfar. Jangan biarin waktu lewat gitu aja.
Wuquf Adadi (Sadar Hitungan): Ini teknis dzikir. Jaga hitungan dzikir ganjil biar fokus dan disiplin.
Wuquf Qalbi (Sadar Hati): Hati harus stay tune ke Allah. Titik.
Karomah (Keajaiban) yang Masuk Akal
Syekh Bahauddin itu nggak suka pamer kesaktian (karomah). Beliau bilang, "Karomah terbesar adalah Istiqomah." Tapi tetep aja, banyak kejadian ajaib.
Salah satu yang terkenal: Suatu hari ada musim kemarau panjang. Orang-orang minta beliau doa minta hujan. Beliau nolak halus, "Gue ini siapa? Pendosa." Tapi pas didesak, beliau akhirnya keluar ke ladang. Beliau cuma nengadah sebentar, terus memperbaiki bajunya. Tiba-tiba awan item dateng dan hujan deres banget.
Muridnya nanya, "Guru, doa apa yang dibaca?" Beliau jawab: "Gue cuma bilang: Ya Allah, makhluk-Mu butuh air. Jangan karena ada si Bahauddin yang kotor ini di antara mereka, Engkau jadi nahan rezeki mereka. Kalau perlu usir aku, tapi kasih mereka air." Liat tuh, Cok. Kerendahan hatinya (tawadhu) itu yang ngetuk pintu langit. Bukan mantranya, tapi attitude-nya.
Akhir Hayat & Wasiat Terakhir
Syekh Bahauddin wafat tahun 1389 M (791 H) di usia 73 atau 74 tahun. Menjelang wafat, beliau minta dibacakan Surat Yasin. Saat napas terakhir, beliau mengangkat kedua tangannya, berdoa, lalu mengusapkannya ke wajah, dan ruhnya "pulang" dengan tenang.
Makam beliau di Bukhara (kompleks Bahauddin Naqshband) sekarang jadi salah satu tempat ziarah paling rame di Asia Tengah. Orang bilang di sana "Vibes-nya kayak di Madinah", saking damainya.
Salah satu wasiat beliau yang paling ngena: "Ikutilah jejak Rasulullah SAW dalam segala hal. Jangan bikin bid'ah (hal baru yang ngawur). Makanlah yang halal, dan jagalah kebersamaan (suhbah) dengan orang-orang sholeh."
Kumpulan Kata Mutiara (Quotes) Syekh Bahauddin
Ini bagian yang lu minta. Gue pilihin kata-kata beliau yang deep banget, lengkap sama tafsir "bahasa tongkrongan" biar lu paham.
1. Tentang Eksistensi Diri
"Kami adalah ketiadaan (nothingness). Siapapun yang melihat kami dan masih melihat 'seseorang', dia belum melihat kami."
Tafsir: Beliau ngajarin konsep Fana. Jangan ngerasa diri lu penting. Kalau lu ketemu guru sufi tapi lu masih liat dia sebagai "orang hebat", lu belum paham. Harusnya lu liat Cahaya Allah yang lewat perantara dia. Jadilah nol, biar Tuhan yang jadi Satu-satunya di hati lu.
2. Tentang Cara Mendekat ke Tuhan
"Jalan kami adalah Suhbah (kebersamaan/persahabatan), dan kebaikan ada dalam perkumpulan. Perpisahan (menyendiri terus) adalah jalan menuju kelalaian."
Tafsir: Ini bedanya Naqsyabandi sama petapa. Beliau ngelarang muridnya idup di gua selamanya. Lu harus gaul! Lu harus punya circle temen yang sholeh. Karena kalau lu sendirian, setan gampang masuk. Iman itu nular, Cok. Kalau temen lu wangi minyak kasturi, lu bakal ketularan wangi.
3. Tentang Hati yang Rusak
"Hati itu seperti cermin. Jika debu dosa menempel dan tidak segera dibersihkan, lama-lama cermin itu akan berkarat dan tidak bisa lagi memantulkan cahaya Ilahi."
Tafsir: Dosa itu debu. Dzikir itu lap-nya. Kalau lu jarang dzikir, hati lu burem. Kalau hati burem, lu bakal susah bedain mana yang bener mana yang salah, mana kode dari Allah mana bisikan setan.
4. Tentang Mencari Kesalahan
"Siapa yang melihat kekurangan pada saudaranya, maka dia tidak akan sampai pada tujuan (Allah)."
Tafsir: Jangan jadi Judgemental. Kalau lu sibuk nyari aib temen lu, aib tetangga lu, lu sebenernya lagi ngeblokir jalan lu sendiri menuju Tuhan. Fokus benerin diri sendiri, jangan jadi panitia surga-neraka buat orang lain.
5. Tentang Tujuan Ibadah
"Tujuan dzikir bukanlah dzikir itu sendiri, tapi Dia yang didzikiri (Allah). Jika engkau dzikir tapi hatimu masih terpaut pada 'rasa nikmatnya dzikir', engkau masih menyembah perasaanmu sendiri."
Tafsir: Ini tingkat tinggi. Kadang orang dzikir/doa nangis-nangis, terus ngerasa "Wah gila, gue khusyuk banget, gue hebat." Nah itu jebakan batman! Tujuannya bukan "ngerasa enak", tapi "inget Allah". Jangan mabuk sama ibadah.
6. Tentang Melayani Orang Lain
"Kami mencapai apa yang kami capai bukan karena banyaknya sholat puasa di malam hari, tapi karena melayani makhluk Allah dan menghancurkan ego kami di hadapan mereka."
Tafsir: Lu mau jadi Wali? Gak cukup cuma sholat sunnah ribuan rakaat. Lu bantuin temen yang susah, lu senyum sama orang yang nyebelin, lu sabar ngadepin bos yang rese. Itu fast track menuju Allah.
7. Tentang Dunia
"Letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu. Agar ketika dunia itu pergi, hatimu tidak ikut terluka."
Tafsir: Punya duit banyak? Boleh. Punya mobil sport? Silakan. Tapi mindset-nya harus: "Ini titipan". Kalau ilang, ya udah. Jangan sampe lu stress depresi gara-gara saham anjlok. Itu tandanya dunia udah masuk hati.
Penutup & Refleksi Buat Kita
Cok, ajaran Syekh Bahauddin Naqsyabandi ini sebenernya adalah SOP Hidup Waras di zaman gila ini.
Kita hidup di zaman di mana orang pamer itu hobi, healing itu kebutuhan, dan stress itu makanan sehari-hari. Naqsyabandiyah nawarin solusi simpel: "Lu nggak perlu lari ke Bali buat healing. Healing terbaik itu ada di dalem hati lu, pas lu bisa diem di tengah keramaian, dan sadar kalau Allah itu deket banget sama lu."
Syekh Bahauddin ngajarin kita buat jadi "Sufi Modern":
Penampilan? Rapih, keren, profesional.
Kerjaan? Giat, sukses, manfaat.
Hati? Zikir terus 24 jam non-stop.
Jadi, kalau lu mau mulai ngamalin, mulailah dari yang simpel: Jaga Napas. Tiap tarik napas, ucapin "Allah" dalam hati. Tiap buang napas, ucapin "Hu" (Dia) dalam hati. Lakuin itu sambil lu kerja, sambil lu main game, sambil lu scroll TikTok.
Itulah warisan Syekh Bahauddin. Sederhana, tapi dahsyat.
Gimana Cok? Udah cukup panjang dan "daging" belum? Semoga artikel ini bisa jadi asbab hidayah atau minimal nambah wawasan spiritual lu. Jangan lupa kopinya disruput sebelum dingin!
Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar