Wangi Sultan, Harga Teman: Mengapa Fenomena #PerfumeTok dan "Dupe" Menguasai TikTok Shop
Di dunia maya yang serba visual, ada satu anomali menarik yang sedang terjadi: orang-orang berbondong-bondong membeli sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, dengar, atau sentuh lewat layar—yaitu aroma.
Selamat datang di era #PerfumeTok, sebuah sub-kultur di TikTok yang telah mengubah cara orang membeli wewangian. Dulu, membeli parfum adalah pengalaman fisik; kita harus datang ke toko, menyemprotkan tester, dan menciumnya. Kini, berkat kekuatan storytelling para kreator, ribuan botol parfum terjual setiap harinya di TikTok Shop hanya bermodalkan deskripsi kata-kata.
Khususnya, tren parfum "dupe" (duplikasi atau alternatif yang lebih terjangkau) dari merek mewah menjadi primadona baru. Mengapa tren ini meledak, dan apa yang bisa kita pelajari darinya?
1. Psikologi di Balik "Blind Buy"
Kunci kesuksesan #PerfumeTok adalah kemampuan kreator untuk memvisualisasikan aroma. Karena penonton tidak bisa mencium wanginya, kreator menggunakan bahasa yang menggugah imajinasi dan emosi.
Alih-alih hanya berkata "ini wangi vanila," mereka akan berkata: "Bayangkan kamu sedang duduk di kafe Paris saat hujan turun, memakai sweater cashmere hangat, sambil memegang secangkir latte panas."
Deskripsi "vibe" atau suasana ini menurunkan keraguan pembaca untuk melakukan blind buy (membeli tanpa mencium dulu). Konsumen tidak hanya membeli cairan dalam botol; mereka membeli identitas dan fantasi yang ditawarkan.
2. Revolusi "Dupe": Mewah Tak Harus Mahal
Faktor ekonomi memainkan peran besar. Parfum niche atau desainer seperti Baccarat Rouge 540 atau YSL Libre memiliki harga jutaan rupiah yang tidak terjangkau banyak orang. Di sinilah pasar "dupe" masuk.
Kreator konten sering membuat video perbandingan "Save vs Splurge" (Hemat vs Boros). Narasi yang dibangun adalah tentang cerdas finansial: "Kenapa harus bayar 3 juta kalau kamu bisa wangi sama persis hanya dengan 100 ribu?"
Ini bukan sekadar barang tiruan; banyak jenama lokal Indonesia yang kini memproduksi parfum dengan kualitas juice (cairan parfum) yang sangat baik, tahan lama (long-lasting), dan memiliki kemasan estetis, namun dengan profil wangi yang terinspirasi dari parfum mahal.
3. Tipe Konten yang Viral di #PerfumeTok
Jika Anda mengamati FYP (For You Page), ada beberapa format konten parfum yang selalu berhasil:
Reaksi Jujur (Candid Reaction): Video seseorang disemprot parfum oleh orang asing atau teman, dan memberikan reaksi spontan seperti "Wow, wangi banget!" atau "Ini wangi orang kaya."
Layering Combo: Mengajarkan cara menggabungkan dua parfum murah untuk menciptakan wangi unik yang "mahal".
Spesifik Skenario: Rekomendasi parfum berdasarkan situasi, misalnya "Parfum untuk kencan pertama," "Parfum untuk ngantor biar dilirik bos," atau "Parfum wangi sabun mandi yang segar."
Edukasi Notes: Menjelaskan istilah teknis seperti Top Notes, Middle Notes, Base Notes, Sillage (jejak wangi), dan Projection dengan bahasa awam.
4. Peluang bagi Jenama Lokal
Momentum ini adalah emas bagi industri parfum lokal. TikTok Shop mempermudah jalur distribusi. Dengan fitur live shopping, penjual bisa langsung berinteraksi, menyemprotkan parfum ke kertas tester, dan mendeskripsikan wanginya secara real-time kepada ribuan penonton.
Kunci keberhasilan di pasar ini bukan lagi sekadar nama besar, melainkan viralitas dan testimoni. Sebuah parfum bisa habis terjual dalam hitungan menit hanya karena satu video viral yang menyebutnya sebagai "dupe" dari parfum seharga 5 juta rupiah.
Kesimpulan
Fenomena #PerfumeTok membuktikan bahwa batasan sensorik di media sosial bisa ditembus dengan storytelling yang tepat. Bagi konsumen, ini adalah era demokratisasi wewangian—semua orang kini bisa wangi "mahal" tanpa harus menguras dompet. Bagi pebisnis, ini adalah sinyal bahwa pasar menghargai nilai (value), estetika, dan narasi yang kuat di atas segalanya.

Posting Komentar