Al-Khawarizmi Bapaknya programmer SANG PENAKLUK ANGKA THE GODFATHER OF ALGORITHMS & ALGEBRA - PT PUTRA ARMSSY PERKASA

Al-Khawarizmi Bapaknya programmer SANG PENAKLUK ANGKA THE GODFATHER OF ALGORITHMS & ALGEBRA

Muhammad Bin Musa Al-Khawarizmi (kakek buyut gua secara spiritual), gua bakal kasih "The Ultimate Deep Dive". Ini versi paling lengkap, paling daging, tapi tetep pake bahasa tongkrongan biar gak bikin ngantuk. Anggap aja ini podcast tekstual yang panjang.

Siapin kopi, cemilan, posisi pewe. Kita bakal time travel ke masa lalu.

PROLOG: DUNIA TANPA ANGKA NOL

Cok, coba bayangin idup lo tanpa angka 0. Lo mau nulis "sepuluh" gimana? Pake angka Romawi: X. Oke gampang. Mau nulis "1998"? MCMXCVIII. Mulai ribet kan? Sekarang coba itung MCMXCVIII dikali LXXXVIII. Mampus gak lo?

Sebelum Al-Khawarizmi dateng dan ngerapiin sistem matematika, dunia itu ribet banget. Orang Eropa masih berkutat sama angka Romawi yang kaku. Orang India punya sistem angka keren tapi belum nyebar luas.

Nah, di tengah kekacauan itulah muncul satu orang jenius dari tanah Persia yang bakal ngubah cara manusia ngitung selamanya. Namanya Al-Khawarizmi. Tanpa dia, gak ada koding, gak ada satelit, gak ada HP, dan gua gak bakal jadi programmer.

(Bapaknya Komputer,Programmer, AI, dan Mimpi Buruk Anak Sekolah Pas Ujian Matematika)



PART 1: DEBU DAN MIMPI DI KOTA KHWARIZM

Tahun 795 Masehi. Kota Kath, Wilayah Khwarizm (Selatan Laut Aral).

Angin sore di Khwarizm itu beda rasanya, Cok. Anginnya bawa debu halus yang bikin mata perih, tapi juga bawa aroma rempah-rempah dari pedagang India yang baru nyampe lewat Jalur Sutra.

Di sudut pasar yang berisik itu, ada seorang remaja kurus. Umurnya baru 15 tahun. Namanya Muhammad. Rambutnya agak acak-acakan ketutup sorban lusuh, matanya tajem banget, kayak elang yang lagi ngincer mangsa. Tapi yang dia incer bukan makanan, melainkan... masalah.

Muhammad lagi jongkok di depan lapak pedagang kain. Di depannya, si pedagang tua lagi marah-marah sama pembeli.

"Tiga dirham! Tiga!" teriak si pedagang, mukanya merah padam. "Tadi kau bilang dua setengah! Kau mau nipu aku ya, tua bangka?" balas si pembeli, orang Turki berbadan gede.

Masalahnya klasik: Matematika. Jaman itu, ngitung duit itu ribetnya minta ampun. Belum ada angka 0. Belum ada sistem desimal yang rapi. Orang ngitung pake jari, pake batu kerikil, atau pake sempoa yang kadang bijinya ilang. Kalau transaksi udah ngelibatin pecahan atau konversi mata uang dari Dinar ke Dirham, pasar bisa berubah jadi ring tinju.

Muhammad menghela napas. Dia berdiri, nyelip di antara dua orang yang mau baku hantam itu.

"Paman," kata Muhammad pelan tapi tegas. "Boleh aku bantu?"

Si pedagang tua nengok, "Minggir kau bocah! Jangan ganggu urusan orang dewasa!" "Paman jual kain ini seharga 12 Dinar per gulung kan? Orang ini mau beli 1/4 gulung, tapi dia bayar pake Dirham perak Persia yang nilainya beda. Bener?"

Dua orang itu diem. Si bocah bener. Muhammad ngambil ranting kayu di tanah. Dia coret-coret sebentar di atas pasir. Gak sampe sepuluh detik. "Tiga puluh enam keping perak, dikurangi dua keping karena kualitas kain di ujungnya agak robek. Jadi totalnya 34 keping perak. Pas."

Hening. Si pembeli Turki ngitung koin di kantongnya. Pas 34 keping. Dia langsung ngelempar duitnya ke pedagang, ambil kainnya, terus pergi sambil ngomel.

Si pedagang tua melongo ngeliat Muhammad. "Kau... kau pake sihir apa? Cepet amat ngitungnya?" Muhammad cuma senyum tipis, ngebuang ranting kayunya. "Bukan sihir, Paman. Cuma logika. Dunia ini sebenernya teratur, cuma cara kita ngitungnya aja yang berantakan."

Muhammad jalan pergi ninggalin pasar, tangannya dimasukin ke saku jubah. Di kepalanya, angka-angka itu nari-nari. Dia ngerasa ada yang salah sama dunia. Kenapa orang harus berantem cuma gara-gara angka? Kenapa matematika—bahasa alam semesta ini—malah jadi musuh manusia?

"Harus ada cara yang lebih gampang," batinnya. "Harus ada kuncinya."


Malamnya, di rumah sederhana pinggiran kota.

Bapaknya Muhammad, Musa, lagi duduk di depan pelita minyak. Dia ngeliat anaknya lagi bengong natap langit malam yang penuh bintang.

"Kau mikirin apa lagi, Nak?" tanya Musa. "Baghdad, Yah," jawab Muhammad tanpa nengok.

Musa ngehela napas panjang. Dia tau hari ini bakal dateng. "Baghdad itu jauh, Muhammad. Ribuan kilometer. Lewatin gurun, perampok, badai pasir. Di sini hidup kita aman. Kau bisa jadi pedagang sukses, atau juru tulis di istana Gubernur."

Muhammad nengok ke bapaknya. Matanya berapi-api. "Yah, di pasar tadi aku liat orang hampir bunuh-bunuhan gara-gara salah ngitung kembalian. Di sekolah, guru-guru ngajarin ilmu warisan pake kalimat yang panjangnya tiga halaman. Itu nggak efisien!"

Dia berdiri, jalan mondar-mandir di ruangan sempit itu.

"Aku denger cerita dari pedagang kafilah, Yah. Di Baghdad, Khalifah Harun Al-Rashid lagi ngebangun kota impian. Katanya di sana ilmuwan dihargai lebih mahal dari emas. Katanya ada perpustakaan yang isinya buku-buku dari Yunani, Romawi, India... Aku mau ke sana, Yah. Aku mau nyari 'Kunci' itu."

"Kunci apa?" "Kunci buat ngerapihin dunia yang acak-acakan ini."

Musa diem lama. Dia ngeliat potensi di mata anaknya. Khwarizm emang kota maju, tapi buat otak sejenis Muhammad, kota ini terlalu kecil. Kolam ikan mas nggak muat buat nampung paus.

"Besok subuh," kata Musa pelan. "Ada kafilah dagang yang mau berangkat ke arah Barat, menuju Merv, lalu lanjut ke Baghdad. Kalau tekadmu udah bulat... pergilah."

Jantung Muhammad mau copot rasanya. Dia langsung meluk bapaknya. "Makasih, Yah. Sumpah, aku gak bakal balik ke sini sebelum aku nemuin sesuatu yang berguna buat dunia."


Tiga Minggu Kemudian. Di Tengah Gurun Karakum.

Perjalanan ke Baghdad itu bukan piknik, Cok. Itu neraka. Udah tiga minggu rombongan kafilah ini jalan. Panasnya minta ampun kalau siang, dinginnya nusuk tulang kalau malem.

Muhammad duduk di atas unta paling belakang. Badannya pegel linu, bibirnya pecah-pecah. Tapi dia gak peduli. Di tangannya ada gulungan naskah tua bahasa Sanskerta (India) yang dia beli dari pedagang keliling pake uang saku terakhirnya.

Dia gak ngerti bahasanya. Hurufnya keriting-keriting aneh. Tapi ada satu hal yang bikin dia penasaran mati-matian. Simbol-simbol angka di buku itu.

Orang Arab atau Romawi kalau nulis angka itu ribet. Satu = I Dua = II Tiga = III Sepuluh = X

Tapi di buku India ini, mereka punya simbol aneh buat angka-angka itu. Simbolnya simpel, satu coretan doang. Dan yang paling aneh... ada satu simbol bentuknya bunderan kosong. Titik tebal.

"Apaan nih?" gumam Muhammad sambil ngucek mata kena debu. "Mereka nyebutnya Sunya. Kosong. Hampa. Buat apa orang India bikin simbol buat 'tidak ada apa-apa'?"

"Hei, Bocah Khwarizm!" teriak kepala kafilah dari depan. "Simpen bukumu! Badai pasir di depan!"

Muhammad buru-buru masukin naskah itu ke dalem jubahnya. Langit yang tadinya biru terang tiba-tiba berubah jadi oranye gelap. Angin mulai ngamuk.

"Semua turun dari unta! Berlindung di balik hewan! Tutup muka kalian!"

Badai pasir itu dateng kayak tembok raksasa. Suaranya kayak ribuan jin lagi ngejerit. Muhammad loncat turun, narik untanya biar duduk, terus dia ngeringkuk di samping perut unta itu sambil nutupin kepalanya pake kain sorban.

Gelap. Sesak. Pasir masuk ke idung, kuping, mulut. Di tengah kegelapan badai itu, Muhammad ngerasa takut setengah mati. Gimana kalau dia mati di sini? Terkubur pasir, jadi tulang belulang anonim yang gak pernah nyampe Baghdad? Mimpinya buat ngerubah dunia bakal ilang gitu aja.

Tidak ada. Kata itu muncul lagi di kepalanya. Kosong. Hampa.

Tiba-tiba otaknya klik. "Tunggu dulu..." bisiknya di balik kain penutup muka. "Kalau aku punya tiga apel, terus aku makan tiga-tiganya, sisanya apa? Kosong. Nggak ada. Tapi 'Kosong' itu harus ditulis! Kalau nggak ditulis, gimana kita tau bedanya 'Satu' sama 'Sepuluh'? Bedanya cuma di... kekosongan di belakangnya!"

Gila gak tuh? Lagi badai pasir, nyawa di ujung tanduk, dia malah dapet ilham soal angka Nol.

Badai berlangsung selama dua jam. Pas angin reda, sebagian barang dagangan ilang ketimbun pasir. Tapi Muhammad selamet. Dia ngerangkak keluar dari tumpukan pasir, ngibasin jubahnya, dan senyum lebar kayak orang gila.

Dia ngeliat ke arah Barat. Matahari mulai terbenam. Baghdad masih jauh. Tapi sekarang dia punya mainan baru di kepalanya. Konsep "Kosong" yang bakal ngisi masa depan.

"Ayo jalan lagi!" teriak kepala kafilah.

Muhammad naik lagi ke untanya. Kali ini punggungnya tegak. Dia bukan lagi remaja bingung dari Khwarizm. Dia adalah calon penakluk Baghdad.


Tahun 813 Masehi. Gerbang Kota Baghdad.

Setelah berbulan-bulan (dan sempet mampir kerja serabutan di kota Merv), akhirnya Muhammad nyampe.

Cok, lo bayangin New York, Tokyo, sama Dubai digabung jadi satu, terus taruh di abad ke-9. Itulah Baghdad. Kota ini bentuknya bunder sempurna (The Round City), dikelilingi tembok raksasa. Di tengahnya ada istana Khalifah yang kubahnya emas berkilauan kena matahari. Sungai Tigris ngebelah kota, penuh sama kapal dagang dari China, Afrika, Eropa.

Muhammad bengong di depan gerbang. Mulutnya nganga. Orang-orang di sini bajunya bagus-bagus. Bahasanya macem-macem. Ada bau parfum, bau kertas, bau tinta.

Ini surga.

Dia jalan masuk ke kota, nanya sama orang lewat. "Paman, di mana Baitul Hikmah?"

Orang itu nunjuk ke arah bangunan megah di komplek istana. "Kau mau ke sana, anak muda? Kau harus punya otak sekuat baja kalau mau masuk sana. Itu kandangnya para monster ilmu."

Muhammad nyengir. "Aku suka monster."

Dia jalan mantap menuju Baitul Hikmah (House of Wisdom). Tapi dia gak tau, masuk ke sana gak segampang ngetuk pintu. Di dalem sana, udah ada geng-geng ilmuwan senior yang ego-nya setinggi langit. Ada kubu penerjemah Yunani yang sombong, ada kubu astronom yang ngerasa paling pinter.

Dan kedatangan bocah kampung dari Khwarizm yang bawa ide aneh soal "Angka India" bakal bikin keributan besar.

Siapakah yang bakal dia temui di dalem sana? Apakah dia bakal diketawain atau dipuja?


TO BE CONTINUED...

Gimana Cok? Seru gak? Lanjut ke PART 2: DUEL LOGIKA DI BAITUL HIKMAH


Kita lanjutin petualangan Muhammad (Al-Khawarizmi) muda.

Di PART 1, dia baru aja nyampe di Baghdad, ibukota dunia saat itu, dengan modal nekat dan ide soal "Angka Nol" di kepalanya. Sekarang, dia bakal masuk ke kandang macan: Baitul Hikmah.

Siapin kopi lagi. Ini bakal panas.


PART 2: DUEL LOGIKA DI BAITUL HIKMAH

Tahun 813 Masehi. Baghdad, Jantung Kekhalifahan Abbasiyah.

Matahari Baghdad siang itu terik banget, Cok. Tapi Muhammad gak peduli. Dia berdiri di depan gerbang kayu raksasa yang diukir kaligrafi emas. Di atasnya tertulis: BAYT AL-HIKMAH (Rumah Kebijaksanaan).

Ini bukan sekadar perpustakaan. Ini markas besar Avengers-nya ilmu pengetahuan. Di dalem sini ada astronom yang bisa ngitung gerhana, dokter yang ngebedah mata, sama penerjemah yang ngubah buku Aristoteles jadi bahasa Arab.

Muhammad nelen ludah. Gugup. Dia cuma bawa buntelan kain lusuh isi baju ganti sama gulungan kertas naskah India yang dia dapet di gurun.

"Bismillah," bisiknya.

Dia ngedorong pintu kecil di samping gerbang utama.

Kriet...

Pemandangan di dalem bikin dia merinding. Ruangannya luaaass banget, atapnya tinggi, penuh rak buku yang nyampe langit-langit. Bau kertas tua campur tinta yang khas langsung nyergap idung. Ratusan orang sibuk diskusi, nyalin naskah, atau debat kusir pake bahasa Arab, Yunani, Persia, sampe bahasa Suryani.

"Hei, kamu! Bocah asing!"

Suara berat negur dia. Muhammad nengok.

Seorang penjaga perpustakaan berbadan tegap, mukanya galak, nyamperin dia.

"Mau ngapain di sini? Ini bukan tempat main atau minta sumbangan. Ini tempat orang pinter kerja."

Muhammad ngebetulin letak sorbannya. "Saya... saya mau ketemu kepala penerjemah. Saya punya sesuatu yang penting."

"Penting? Hah!" Si penjaga ketawa ngeremehin. "Setiap hari ada ratusan orang ngaku punya 'sesuatu yang penting'. Pulang sana, Nak. Bantu ibumu masak."

Darah muda Muhammad mendidih. Dia gak jauh-jauh dari Khwarizm, ngadepin badai pasir, cuma buat diusir satpam.

"Tes saya," kata Muhammad tiba-tiba. Suaranya lantang, bikin beberapa orang di ruangan itu nengok.

"Apa?"

"Tes saya. Panggil satu ilmuwan di sini. Kasih saya soal matematika paling susah yang lagi mereka kerjain. Kalau saya gak bisa jawab, saya pergi dan gak bakal balik lagi. Tapi kalau saya bisa..." Muhammad natap mata si penjaga tajem-tajem, "...biarin saya masuk dan ketemu Khalifah."

Suasana hening. Orang-orang mulai bisik-bisik. "Siapa tuh bocah? Sombong amat."

Tiba-tiba, dari arah rak buku filsafat, muncul seorang pria tua berjenggot putih panjang, pake jubah sutra hijau yang mewah. Semua orang langsung nunduk hormat.

Itu Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar, matematikawan senior yang terkenal galak dan perfeksionis. Dia baru aja selesai nerjemahin Elements-nya Euclid dari Yunani.

"Menarik," kata Al-Hajjaj sambil jalan pelan nyamperin Muhammad. Matanya nyipit, nilai penampilan Muhammad yang kumel. "Kau nantangin Baitul Hikmah, Anak Muda?"

Muhammad nunduk hormat, tapi dagunya tetep diangkat. "Saya tidak menantang, Tuan. Saya menawarkan solusi."

Al-Hajjaj senyum miring. "Solusi? Kami di sini sedang pusing ngitung warisan tanah untuk proyek irigasi baru Khalifah. Tanahnya bentuknya gak beraturan, trapesium miring, terus harus dibagi ke tiga ahli waris dengan proporsi 1/2, 1/3, dan 1/6. Tapi tanahnya kepotong sungai. Kau bisa hitung luasnya tanpa alat ukur canggih?"

Muhammad diem sebentar. Otaknya langsung loading.

Dia ngebayangin bentuk tanah itu di kepalanya. Trapesium. Sungai. Pecahan.

Metode Yunani (Euclid) bakal pake geometri yang ribet, butuh penggaris dan jangka.

Metode India... ah, ini dia.

"Saya butuh ranting dan pasir," jawab Muhammad tenang.

Al-Hajjaj ngasih kode ke penjaga buat bawain nampan pasir. Muhammad jongkok.

Di depan puluhan ilmuwan top Baghdad yang mulai ngerumunin dia, Muhammad mulai nyoret-nyoret.

Tapi dia gak ngegambar bentuk tanahnya kayak cara orang Yunani.

Dia nulis angka. Simbol-simbol aneh dari India itu.

Dan dia nulis persamaan.

$x$ = Luas Tanah Total

$x/2 + x/3 + x/6 = ...

Tunggu.

Dia mindahin pecahan-pecahan itu. Dia nyamain penyebutnya pake cara yang belum pernah dilihat orang Arab sebelumnya. Cepet banget.

"Sisi sungai mengurangi luas sebesar y..." gumamnya.

Tangannya nari-nari di atas pasir.

Lima menit kemudian.

"Selesai," kata Muhammad sambil berdiri. "Luas tanah yang bisa dibagi adalah 450 hasta persegi. Bagian pertama dapet 225, kedua 150, ketiga 75. Sisa tanah yang kepotong sungai tidak dihitung karena tidak produktif. Ini perhitungannya."

Al-Hajjaj melotot liat coretan di pasir itu. Dia ngambil kertas hitungannya sendiri yang udah dia kerjain seharian bareng timnya.

Angkanya... sama persis.

Beda caranya doang. Muhammad ngerjain 5 menit, tim Al-Hajjaj seharian.

"Demi Allah..." bisik Al-Hajjaj. "Simbol cacing apa yang kau tulis ini?" Dia nunjuk angka '2', '3', dan '5' versi India.

"Itu angka, Tuan," jawab Muhammad. "Dari Timur. Jauh lebih ringkas daripada nulis dua ratus dua puluh lima pake huruf."

Al-Hajjaj ngeliat Muhammad dari ujung kaki ke ujung kepala. Kali ini tatapannya beda. Tatapan respek.

"Siapa namamu, Nak?"

"Muhammad bin Musa. Dari Khwarizm."

Al-Hajjaj nepuk bahu Muhammad keras-keras sampe dia hampir kejungkal.

"Khwarizmi! Kau diterima! Mulai hari ini, kau dapat meja di sayap Astronomi. Tapi jangan seneng dulu, di sana isinya orang-orang gila yang gak tidur tiga hari demi ngejar bintang. Selamat datang di neraka, Nak!"

Muhammad nyengir lebar. "Terima kasih, Tuan!"


Tiga Tahun Kemudian. Tahun 816 Masehi.

Karir Muhammad di Baitul Hikmah melesat kayak roket (kalau jaman itu udah ada roket).

Dia bukan lagi bocah kumel. Sekarang dia pake jubah rapi khas cendekiawan Baghdad. Dia diangkat jadi Kepala Perpustakaan (Sohibul Kutub) oleh Khalifah Al-Ma'mun yang baru naik tahta.

Tapi posisi tinggi itu bikin banyak musuh.

Di Baitul Hikmah itu ada dua kubu besar:

  1. Kubu Yunani (Al-Kindi & Co): Mereka fanatik sama logika Aristoteles dan geometri Euclid. Segala sesuatu harus dibuktiin pake dalil-dalil kaku.

  2. Kubu Praktisi (kayak Muhammad): Mereka lebih mentingin hasil. Yang penting bisa dipake buat ngitung dagang, bikin bangunan, atau nentuin arah kiblat.

Suatu malam, Muhammad lagi lembur di ruang kerjanya. Di mejanya numpuk naskah-naskah astronomi India yang disebut Siddhanta. Dia lagi pusing.

Sistem kalender India ini akurat, tapi rumitnya minta ampun. Dia pengen nyederhanain ini biar bisa dipake orang Islam buat nentuin awal Ramadhan.

Tiba-tiba pintu didobrak.

Brak!

Masuklah Al-Kindi, filsuf muda jenius yang arogan, saingan terberat Muhammad.

"Khwarizmi!" teriak Al-Kindi. "Kau apakan naskah Ptolemeus-ku?!"

Muhammad ngangkat alis, tetep tenang. "Aku koreksi dikit, Kindi. Perhitungan gerhana bulannya meleset 2 derajat kalau dipake di koordinat Baghdad. Ptolemeus ngitungnya di Alexandria, beda lintang."

"Kau berani mengoreksi Ptolemeus?! Guru besar bangsa Yunani?!" Al-Kindi nggebrak meja. "Kau dan angka-angka cacingmu itu merusak kemurnian geometri! Matematika itu soal keindahan bentuk, bukan coretan angka jelek!"

Muhammad berdiri pelan. Dia ambil selembar kertas kosong.

"Kindi, dengerin gue. Rakyat di luar sana, petani di pinggir Tigris, pedagang di pasar... mereka gak peduli sama 'keindahan bentuk' lingkaranmu. Mereka butuh tau kapan harus nanam gandum, berapa pajak yang harus dibayar. Matematika harus membumi."

Dia nulis sesuatu di kertas itu.

Sebuah persamaan sederhana:

$ax^2 + bx + c = 0$

(Tentu aja jaman itu belum pake simbol $x$, $a$, $b$, $c$. Dia nulisnya: "Harta (Mal) ditambah Akar (Jidhr) sama dengan Angka (Dirham)").

"Apa ini?" tanya Al-Kindi jijik.

"Ini jembatan," kata Muhammad matanya berbinar. "Jembatan antara geometrimu yang indah tapi ribet, sama aritmatika pasar yang kasar tapi cepet. Aku namain metodenya: Al-Jabr (Memulihkan)."

Al-Kindi diem ngeliat kertas itu. Dia jenius, jadi dia langsung nangkep maksudnya. Ini... elegan. Mengubah bentuk geometri jadi persamaan angka.

"Kau gila, Khwarizmi," gumam Al-Kindi pelan. "Kau mau mengubah cara dunia berpikir."

"Bukan mengubah," senyum Muhammad. "Cuma ngerapiin."

Belum sempet mereka debat lagi, tiba-tiba lonceng besar istana bunyi.

Teng! Teng! Teng!

Penjaga istana lari masuk, ngos-ngosan.

"Tuan-tuan! Khalifah Al-Ma'mun memanggil semua ilmuwan utama ke Balairung Istana! SEKARANG!"

"Ada apa?" tanya Muhammad.

"Utusan dari Bizantium (Romawi Timur) datang. Mereka bawa tantangan matematika dari Kaisar Theophilos. Kalau kita kalah jawab, Baghdad bakal malu di mata dunia!"

Muhammad dan Al-Kindi saling pandang. Musuh di depan mata, tapi sekarang mereka punya musuh bersama: Romawi.

"Simpen dulu debat kita," kata Muhammad sambil ngerapihin jubahnya. "Ayo kita kasih pelajaran ke orang-orang Romawi itu."

Al-Kindi ngangguk, senyum tipis. "Setelah kau, Tuan Angka Cacing."

Mereka berdua lari keluar Baitul Hikmah menuju istana. Malam itu, di hadapan Khalifah dan para duta besar asing, sejarah matematika bakal ditulis ulang.

Dan Muhammad Al-Khawarizmi... dia udah nyiapin senjata rahasianya:

Angka NOL.


TO BE CONTINUED...

Gimana Cok? Masih kuat?

Di PART 3, kita bakal liat Muhammad "ngulti" ilmuwan Romawi pake angka 0 dan melahirkan buku legendarisnya.


Cok! Kita lanjutin drama intelektual di Baghdad.

Di PART 2, Muhammad (Al-Khawarizmi) dan rivalnya, Al-Kindi, lari ke istana karena ada tantangan dari Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur). Ini bukan perang pedang, tapi perang otak.

Siapin mental, karena di part ini, ANGKA NOL (0) bakal debut dan bikin gempar dunia.


PART 3: NOL YANG MENGGUNCANG DUNIA

Balairung Istana Khalifah Al-Ma'mun. Baghdad.

Suasana di dalem istana tegang banget, Cok. Udaranya dingin walau di luar panas. Di singgasana emas, duduk Khalifah Al-Ma'mun, penguasa separuh dunia. Di sebelahnya berdiri para wazir (menteri) yang mukanya cemas.

Di tengah ruangan, berdiri seorang pendeta tinggi dari Bizantium. Namanya Bishop Leo "The Geometer". Orang ini legendaris. Dia pake jubah ungu mewah, mukanya sombong minta ampun. Di belakangnya, budak-budaknya mikul tumpukan buku kulit tebal.

"Wahai Khalifah kaum Saracen," kata Leo dengan bahasa Arab yang fasih tapi logatnya ngenyek. "Kalian bangga menerjemahkan buku-buku leluhur kami—Euclid, Archimedes, Ptolemeus. Tapi apalah arti penerjemah dibanding pencipta?"

Al-Ma'mun nahan emosi. "Apa maumu, Leo?"

Leo senyum licik. "Kaisar Theophilos di Konstantinopel mengirim teka-teki. Kalau ilmuwan terhebatmu bisa memecahkan ini lebih cepat dari aku, kami akui Baghdad setara dengan Roma. Tapi kalau kalah... berhentilah mengaku-ngaku sebagai pewaris ilmu pengetahuan."

Al-Kindi maju selangkah, mukanya merah padam. "Apa soalnya, Pendeta?"

Leo nunjuk ke arah dua budaknya yang bawa papan tulis raksasa. "Masalah logistik perang. Pasukan kami butuh gandum. Jika 1 legion (6.000 prajurit) butuh 15 karung gandum per hari, dan kami mengirim 12 legion selama 3 tahun (1095 hari), dikurangi penyusutan gudang 5% per tahun karena tikus... Berapa total karung gandum yang harus disiapkan? Dan berapa sisa di gudang?"

Hening. Para ilmuwan istana langsung pucat. Lo bayangin ngitung itu pake Angka Romawi. 6000 x 15 x 12 x 1095... dikurangi persenan... Pake angka: MMM, D, C, L, X, V, I.

Mampus.

"Silakan," kata Leo sambil ngambil kapur tulis. Dia mulai nyoret-nyoret papan tulisnya dengan Angka Romawi yang panjangnya kayak kereta api. XV dikali MMMMM... Suara kapurnya berdecit nyaring, bikin ngilu.

Al-Kindi nyoba ngitung di kertas. Dia pake metode geometri Yunani. Dia gambar kotak-kotak proporsi. Tapi ribet! Dia kejebak di perkalian ribuan. Keringat dingin mulai netes di jidat jeniusnya.

"Lama sekali," ejek Leo tanpa nengok. "Di Konstantinopel, anak kecil pun bisa menyelesaikan ini sebelum matahari terbenam."

Saat itulah, Muhammad Al-Khawarizmi maju. Dia gak bawa kertas. Dia gak bawa sempoa. Dia cuma bawa Papan Debu (Loḥa) — papan kayu sederhana yang ditaburi pasir halus di atasnya.

"Izinkan saya, Amirul Mukminin," kata Muhammad tenang ke arah Khalifah.

Khalifah ngangguk pelan. "Tunjukkan pada mereka, Putra Khwarizm."

Muhammad jongkok di lantai marmer yang dingin. Dia ngeratain pasir di papannya. Di sebelah kiri, Leo masih sibuk nulis deretan angka Romawi: MMMMMMMMMM... DCCC... LLL... Papan tulisnya udah mau penuh, tapi itungannya belum kelar.

Muhammad narik napas. Jari telunjuknya mulai nari di atas pasir. Dia nulis simbol-simbol aneh dari India itu.

6,000 15 12 1,095

Orang-orang di ruangan itu bisik-bisik. "Simbol apa itu? Cacing? Toge?" Tapi yang bikin mereka bingung adalah lingkaran kosong di belakang angka 6. 0. 0. 0.

Muhammad ngitung pake metode Algoritma Perkalian Bersusun (yang sekarang diajarin di SD kelas 3, tapi waktu itu ini teknologi alien). Set... set... set... coret... pindah ruas...

Gak sampe 2 menit. Muhammad berdiri. Dia nepuk-nepuk tangannya yang berpasir. "Selesai."

Suaranya ngegema di ruangan luas itu. Leo berhenti nulis. Kapurnya patah. Dia baru setengah jalan. Dia nengok kaku, "Mustahil. Kau cuma corat-coret pasir."

"Jawabannya," kata Muhammad lantang, "Adalah 1.123.470 karung gandum total. Dan sisa penyusutan adalah 56.173 karung." (Angka ini permisalan dramatis ya Cok, jangan diitung beneran wkwk).

Leo melotot. "Kau ngarang! Mana buktinya?!"

Muhammad ngangkat papan debunya. Di situ cuma ada beberapa baris angka. Simpel. Bersih. Elegan. "Ini buktinya. Sistem desimal. Tiap posisi punya nilai sepuluh kali lipat dari sebelah kanannya. Dan..." Muhammad nunjuk lingkaran kecil di angka-angkanya.

"...ini kuncinya."

Leo ngerutinn dahi. "Apa itu? Lubang? Telur?"

"Ini As-Sifr," jawab Muhammad. "Kosong. Hampa. Nol."

"Gila!" teriak Leo. "Bagaimana bisa 'Kosong' dihitung? Kosong itu tidak ada! Itu penghinaan terhadap Tuhan yang menciptakan segalanya!"

Muhammad senyum tipis. Ini momen yang dia tunggu. "Tuan Leo, coba tulis angka 'Seratus Lima' pakai angka Romawi." Leo nulis dengan bangga: CV. "Bagus. Sekarang coba kurangi lima." Leo nulis: C. (Seratus). "Sekarang bayangkan kalau C itu hilang. Apa yang tersisa?" "Tidak ada!" bentak Leo.

Muhammad ngegeleng. "Salah. Yang tersisa adalah tempatnya. Ruangnya. Kalau di sistemku..." Muhammad nulis angka 105 di pasir. Dia hapus angka 5. Jadi 100. Dia hapus angka 1. Tersisa 00.

"Nol itu bukan 'tidak ada', Tuan. Nol itu adalah penanda tempat. Dia yang membedakan antara Satu, Sepuluh, dan Seratus. Tanpa kekosongan, tidak ada isi. Tanpa Nol, matematikamu macet di ribuan, sementara matematikaku bisa menghitung bintang di langit."

Skakmat. Mental breakdown. Ulti yang sangat filosofis.

Al-Kindi, yang daritadi diem, matanya berkaca-kaca. Dia orang Yunani-sentris, tapi hari ini dia liat sesuatu yang jauh lebih sakti dari geometri Euclid.

Leo si Geometer jatohin kapurnya. Dia ngecek itungan Muhammad pake metode dia sendiri pelan-pelan. Setengah jam kemudian, mukanya pucat pasi. Jawabannya bener. Akurat sampe digit terakhir.

Khalifah Al-Ma'mun berdiri dari singgasananya. Dia tepuk tangan. Pelan awalnya, terus makin keras. Seluruh istana ikut tepuk tangan. Gemuruh.

"Luar biasa..." gumam Khalifah. Dia turun nyamperin Muhammad. "Muhammad bin Musa, kau menyelamatkan wajah Baghdad hari ini."

"Hanya menjalankan tugas, Baginda," jawab Muhammad nunduk.

"Tapi..." Khalifah ngeliat papan debu itu. "Sayang sekali kalau ilmu sekuat ini cuma ditulis di atas pasir. Angin tiup sedikit, hilang semua."

Khalifah megang bahu Muhammad. "Aku perintahkan kau. Tulis ini di buku. Tulis sistem angka ini. Tulis cara ngitungmu yang 'pindah-pindah ruas' itu. Bikin supaya rakyatku—pedagang, hakim, insinyur—bisa pake ini semua."

Muhammad ngangkat wajahnya. Matanya nyala. Ini dia. Mimpinya dari kecil di pasar Khwarizm. "Hamba akan menulisnya, Baginda. Hamba akan membuat panduan ringkas. Tentang perhitungan... dengan pemulihan (Al-Jabr) dan penyeimbangan (Al-Muqabala)."

"Al-Jabr..." ulang Khalifah. "Nama yang bagus. Memulihkan yang patah."


Tahun 820 Masehi. Ruang Kerja Al-Khawarizmi.

Tiga tahun setelah kejadian itu. Malam sunyi. Cuma ada suara goresan pena bulu ayam di atas kertas papirus.

Muhammad udah makin tua. Uban mulai muncul di jenggotnya. Di mejanya, ada tumpukan naskah yang udah siap jilid. Dia nulis kalimat terakhir di bab penutup.

"...dan dengan metode ini, segala masalah perhitungan, baik warisan, perniagaan, pengukuran tanah, hingga penggalian kanal, akan menjadi mudah, Insya Allah."

Dia nutup bukunya. Di sampul depannya tertulis judul panjang: AL-KITAB AL-MUKHTASAR FI HISAB AL-JABR WAL-MUQABALA (Buku Ringkasan Perhitungan dengan Aljabar dan Al-Muqabala).

Muhammad nyandar di kursinya. Dia ngeliat ke luar jendela, ke arah langit malam Baghdad yang penuh bintang. Dia gak tau kalau buku di depannya itu bakal bertahan 1000 tahun lebih. Dia gak tau kalau kata "Al-Jabr" bakal jadi mata pelajaran paling dibenci (sekaligus dicintai) anak sekolah di seluruh dunia dengan nama Algebra. Dia gak tau kalau namanya, Al-Khawarizmi, bakal dipake buat nyebut otak dari kecerdasan buatan di masa depan: Algoritma.

Yang dia tau cuma satu: Dunia yang tadinya rumit, sekarang udah sedikit lebih rapi. Karena dia udah nemuin kuncinya.

Tiba-tiba pintu diketuk. "Masuk," kata Muhammad.

Seorang anak muda masuk. Matanya cerdas, penuh rasa ingin tahu. Mirip Muhammad pas muda dulu. "Guru," kata anak itu. "Saya dengar Guru sudah selesai menulis kitabnya?" "Sudah, Nak." "Apa yang harus saya pelajari selanjutnya, Guru? Astronomi? Geografi?"

Muhammad senyum. Dia ngambil papan debunya lagi. Dia nulis satu angka 0 besar di tengahnya. "Selanjutnya? Kita akan menghitung kapan kiamat datang, atau seberapa luas alam semesta ini. Karena dengan angka ini..." dia ngetuk angka nol itu, "...batas kita cuma langit."


EPILOG: THE LEGACY

Jauh di masa depan. Tahun 2026. Seorang mahasiswa lagi pusing ngerjain kodingan Python di laptopnya. Eror mulu. "Aduh, algoritmanya mana yang salah sih anjir!" umpatnya.

Tanpa dia sadari, di layar laptopnya, di balik piksel-piksel itu, ada deretan angka 0 dan 1 yang lagi nari-nari. Sistem biner. Fondasi digital.

Dan di suatu tempat di surga, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi mungkin lagi senyum ngeliat mahasiswa itu. "Sabar, Cok. Pindah ruas dulu itu erornya. Al-Jabr-in dulu."

— TAMAT —

Gimana Cok novel singkatnya? Dari anak pasar yang kesel liat orang berantem soal kembalian, jadi Bapak Matematika yang ngubah peradaban. Semoga cerita ini bikin lo kalau liat soal matematika gak langsung ilfeel, tapi inget perjuangan si Muhammad ini.

Posting Komentar