Sufi yang Gak Anti Dunia "Grand Master" dunia tasawuf yang ajarannya paling relate sama kehidupan modern kita: Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.
"Grand Master" dunia tasawuf yang ajarannya paling relate sama kehidupan modern kita: Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.
Ini bukan sekadar biografi kaku ala buku sekolah. Ini perjalanan spiritual seorang pencari Tuhan yang akhirnya nemuin kalau Tuhan itu nggak cuma ada di gua sunyi, tapi juga di pasar yang ramai, di kantor, dan di tengah keluarga.
Prolog: Stigma Sufi vs. Realita Syadzili
Cok, kalau lu denger kata "Sufi" atau "Wali Allah", apa yang ada di otak lu? Pasti bayangannya orang yang bajunya compang-camping, nggak punya duit, makannya daun-daunan, tinggal di hutan, dan anti sama dunia, kan?
Nah, Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili ini dateng buat ngobrak-abrik stigma itu. Beliau adalah antithesis dari gambaran sufi yang lusuh. Beliau itu ganteng, tinggi, bersih, bajunya selalu wangi dan mahal, kuda tunggangannya yang paling bagus di zamannya. Kalau zaman sekarang, mungkin beliau ini ulama yang kemana-mana naik Alphard, tapi hatinya nol putaran terikat sama itu mobil.
Beliau mengajarkan kita: "Lu boleh genggam dunia di tangan lu, asal jangan masukin dunia itu ke hati lu."
Bab 1: Masa Muda Sang Pencari (The Seeker)
Nama aslinya Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar. Lahir sekitar tahun 593 H (1196 M) di desa Ghumarah, Maroko. Dari nasab, beliau ini "Darah Biru" spiritual alias Syarif, keturunan langsung Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hasan bin Ali.
Sejak muda, beliau ini udah jenius. Ilmu syariat (fiqih, hadis, tafsir) udah di luar kepala. Tapi, ada satu kegelisahan di hatinya. Dia ngerasa ilmu otak aja gak cukup, dia butuh "ilmu rasa". Dia pengen ketemu Tuhan, bukan cuma tau tentang Tuhan.
Mulailah beliau travelling (rihlah) keliling dunia Islam buat nyari seorang Guru Mursyid (pembimbing spiritual) yang levelnya "Qutub" (Wali Kutub/Pemimpin para Wali di zamannya). Dia pergi ke Irak, kiblatnya para sufi waktu itu.
Di Irak, dia ketemu banyak ulama hebat. Tapi ada satu ulama wkasyaf yang bilang ke dia: "Eh anak muda, lu nyari Wali Kutub jauh-jauh ke Irak? Padahal tuh orang ada di kampung halaman lu sendiri, di Maroko!"
Kaget dong dia. Balik kanan lah beliau pulang ke Maroko. Dan bener aja, di puncak gunung yang susah dijangkau, dia ketemu sama Syekh Abdussalam bin Masyis.
Bab 2: "Mandilah Kamu dari Ilmu dan Amalmu"
Pertemuan ini epik banget. Pas baru nyampe di kaki gunung tempat Syekh Abdussalam tinggal, beliau mandi dulu di mata air. Di situ beliau berniat: "Ya Allah, aku lepaskan semua ilmu dan amalku. Aku datang kepada guruku ini sebagai gelas kosong."
Ini poin penting, Cok. Lu gak bakal bisa dapet ilmu baru kalau lu ngerasa udah pinter.
Pas naik ke atas, Syekh Abdussalam udah nungguin dan langsung nyebut nasab beliau lengkap sampai Nabi. Di situlah beliau berguru. Gak lama, cuma beberapa waktu, tapi "transfer ilmu"-nya kenceng banget.
Pesan terakhir gurunya yang jadi blue print Tarekat Syadziliyah adalah: "Wahai Abu Hasan, tajamkan penglihatan imanmu. Temukan Tuhan dalam segala hal. Jangan kabur dari makhluk untuk mencari Tuhan, tapi lihatlah Tuhan di balik gerak-gerik makhluk."
Gurunya nyuruh dia pergi ke Ifriqiyah (Tunisia) untuk mulai berdakwah. "Kamu bakal jadi Wali Besar, namamu bakal dikenal di seluruh dunia," kata gurunya.
Bab 3: Asal Usul Nama "Asy-Syadzili" & Ujian Popularitas
Beliau berangkat ke Tunisia dan tinggal di sebuah desa bernama Syadzila. Di sinilah beliau dapet julukan "Asy-Syadzili". Konon, beliau pernah ngadu ke Tuhan, "Ya Allah, kenapa Engkau menempatkanku di tempat yang jarang air dan sepi ini?" Tuhan menjawab lewat ilham: "Ini bukan Syadzila (jarang), tapi Syadz-li (artinya: Dia menyendiri untuk-Ku/Istimewa bagi-Ku)."
Di Tunisia, karisma beliau mulai meledak. Orang-orang berbondong-bondong datang buat belajar. Tapi, namanya juga manusia, beliau sempet ngerasa terganggu. "Duh, gue pengen ibadah tenang, malah jadi seleb gini."
Akhirnya beliau kabur ke gua, sembunyi. Tapi apa yang terjadi? Burung-burung dan binatang buas dateng berkerumun ke gua itu. Orang-orang jadi tau, "Wah, ada orang sakti di gua!" Ketahuan lagi deh.
Di situ beliau dapet teguran halus dari Tuhan: "Wahai Ali, kamu pikir kamu bisa lari dari takdir? Kalau Aku mau kamu dikenal, kamu sembunyi di lubang semut pun bakal Aku viralkan. Kalau Aku mau kamu tersembunyi, kamu di tengah pasar pun gak bakal ada yang noleh."
Sejak itu, beliau "pasrah". Beliau keluar, pakai baju bagus, nikmatin hidup, dan berdakwah secara terang-terangan. Beliau sadar, tugasnya adalah menjadi lentera di tengah keramaian, bukan pertapa di gunung sunyi.
Bab 4: Pindah ke Mesir & Lahirnya "Sufi Kota"
Setelah matang di Tunisia, beliau dapet perintah batin buat pindah ke Mesir. Tepatnya di Alexandria (Iskandariah). Di sinilah masa keemasan beliau.
Di Mesir, beliau nikah, punya anak, dan hidup layaknya orang normal. Beliau gak nyuruh muridnya buat resign kerja.
Petani? Silakan bertani, jadikan cangkulmu dzikir.
Pejabat? Silakan memimpin, jadikan adilmu ibadah.
Pedagang? Silakan cari untung, jadikan jujurmu jalan ke surga.
Ini revolusioner banget, Cok. Dulu orang mikir kalau mau deket sama Allah harus miskin. Syekh Abu Hasan bilang: GAK PERLU.
Bahkan, beliau pernah ditegur sama ulama fiqih yang kolot karena beliau pakai baju mewah. Ulama itu bilang, "Mana ada wali Allah bajunya kayak raja gini?" Syekh Abu Hasan jawab santai: "Bajuku ini berkata: 'Alhamdulillah, aku mampu beli ini'. Sedangkan bajumu yang compang-camping itu berkata: 'Tolong kasihani aku, kasih aku sedekah'."
Skakmat. Beliau mengajarkan Tahaddu bin Ni'mah (menampakkan nikmat Allah) sebagai bentuk syukur, bukan sombong.
Bab 5: Sang Pewaris & Kitab Al-Hikam
Di Alexandria ini juga beliau ketemu murid terbaiknya, Abul Abbas Al-Mursi. Dan dari Abul Abbas ini nanti turun ke muridnya lagi, Ibnu Athaillah As-Sakandari.
Lu tau kitab Al-Hikam? Itu kitab tasawuf paling populer di Indonesia. Itu yang nulis Ibnu Athaillah, tapi isinya adalah "sari pati" ajaran kakek gurunya, ya Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili ini. Jadi kalau lu baca Al-Hikam dan ngerasa "wah gila ini ngena banget", itu lu lagi menikmati warisan intelektual Syekh Abu Hasan.
Menjelang akhir hayatnya, beliau udah tau kapan beliau bakal meninggal. Saat itu beliau lagi perjalanan mau Haji. Di sebuah tempat bernama Humaithara (padang pasir tandus di Mesir dekat Laut Merah), beliau minta rombongan berhenti. Beliau mandi, sholat, dan mengumpulkan murid-muridnya buat wasiat terakhir. Di sanalah beliau wafat pada tahun 656 H (1258 M). Makamnya sampai sekarang ada di sana dan jadi tempat ziarah yang gak pernah sepi, walau tempatnya di tengah gurun antah berantah.
Bab 6: Inti Ajaran (The Core Philosophy)
Sebelum masuk ke quotes, lu harus paham dulu 3 pilar utama ajaran beliau biar gak salah paham:
Dzikir itu gak harus diem di pojokan. Dzikir bisa sambil kerja, sambil nyetir, sambil ngopi. Hati lu yang harus konek.
Syukur > Sabar. Menurut beliau, orang kaya yang bersyukur itu lebih berat ujiannya dan lebih tinggi derajatnya daripada orang miskin yang sabar. Kenapa? Karena godaan orang kaya buat lupa Tuhan itu gede banget.
Melihat Allah di segala hal. Jangan cuma cari Allah pas sholat. Pas lu makan enak, rasain itu suapan kasih sayang Allah. Pas lu liat pemandangan indah, liat itu lukisan Allah.
Bab 7: Kata-Kata Mutiara (Quotes) & Penjelasannya
Ini dia bagian yang lu tunggu. Kata-kata mutiara beliau ini dalem banget, Cok. Gue pilihin yang paling relate dan gue jelasin pake bahasa kita.
Quote 1: Tentang Dosa vs Sombong
"Dosa yang membuatmu sedih dan merasa hina di hadapan Allah, itu lebih baik daripada amal ibadah yang membuatmu sombong dan merasa suci."
Penjelasan: Lu pernah liat orang yang rajin sholat tapi nyinyir? "Ah, si itu masuk neraka, gue ahli surga." Nah, menurut Syekh Abu Hasan, mendingan pendosa yang nangis di pojokan kamar ngaku salah, daripada ahli ibadah yang ngerasa dirinya paling bener. Kesombongan spiritual itu racun paling mematikan.
Quote 2: Tentang Rezeki (Rizq)
"Janganlah kamu risaukan rezekimu, karena sesungguhnya rezeki itu mencarimu lebih hebat daripada kamu mencarinya. Jika kamu tidak mendatanginya, dia yang akan mendatangimu."
Penjelasan: Ini buat lu yang sering overthinking soal duit. Kerja keras itu wajib, tapi stress itu gak perlu. Rezeki itu kayak bayangan atau jatah oksigen, udah ditakar. Lu gak bakal mati sebelum jatah rezeki lu abis. Santai aja, Bro. Do your best, let God do the rest.
Quote 3: Tentang Pilihan Hidup
"Jika engkau ingin memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, maka engkau harus melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Dan tidak ada yang lebih hebat daripada ridho (rela) dengan apa yang telah Allah tentukan."
Penjelasan: Orang sibuk ngejar apa yang mereka mau. Tapi "barang mewah" yang sebenernya jarang dimiliki orang itu adalah Ketenangan Hati. Gimana cara dapetnya? Ridho. Nerima. Gak ngoyo. Pas lu ikhlas sama jatah lu, lu jadi orang paling kaya sedunia.
Quote 4: Tentang Menjadi "Orang Dalam"
"Jadikanlah wiridmu (ibadah rutinmu) sebagai sarana untuk mendekat kepada Sang Raja, bukan untuk meminta kerajaan-Nya."
Penjelasan: Kalau lu ibadah/doa, tujuannya jangan cuma buat minta mobil, jodoh, atau duit. Itu receh. Tujuannya harus buat deket sama Yang Punya Duit. Kalau lu udah jadi "Orang Dalam" (deket sama Allah), lu gak minta pun bakal dikasih fasilitas VIP.
Quote 5: Tentang Ujian Hidup
"Ketahuilah, tidak ada satu pun tarikan napas kecuali di situ ada takdir Allah yang berlaku atasmu. Maka jadilah engkau orang yang bersyukur saat senang, dan bersabar saat susah."
Penjelasan: Hidup itu random, Cok. Kadang di atas, kadang kejengkang. Syekh Abu Hasan ngingetin kita buat jadi "amfibi mental". Bisa idup di darat (seneng) dengan syukur, bisa idup di air (susah) dengan sabar. Jangan cengeng.
Quote 6: Tentang Melawan Hawa Nafsu
"Musuh terbesarmu bukanlah orang kafir atau orang jahat di luar sana, tapi nafsu yang ada di antara kedua rusukmu."
Penjelasan: Kita sering sibuk nyalahin orang lain, pemerintah, atau keadaan. Padahal musuh utamanya ada di dalem diri sendiri. Males, serakah, gengsi, iri hati. Itu boss musuh yang harus lu kalahin dulu sebelum ngalahin dunia.
Quote 7: Doa "Hizib Bahr" yang Legendaris
(Ini potongan terjemahan dari doa beliau yang terkenal buat perlindungan)
"Ya Allah, jadikanlah kami aman dari segala ketakutan, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Wahai Dzat yang cukup bagiku, lindungilah aku dari apa yang merisaukanku."
Penjelasan: Beliau ngajarin kita buat jadi pemberani. Takut miskin? Takut dibenci orang? Takut masa depan? "Ya Allah, cukup Engkau bagiku." Itu mantra paling sakti buat ngilangin anxiety.
Epilog: Kenapa Syadziliyah Cocok Buat Lu?
Cok, di zaman sekarang yang serba pamer (flexing) di medsos, ajaran Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili ini kayak oase.
Beliau gak ngelarang lu jadi kaya. Beliau gak ngelarang lu pake barang branded. Beliau cuma bilang: Pastikan hatimu tetap merdeka. Jangan sampai lu diperbudak sama barang-barang itu. Kalau HP lu ilang, jangan sampe kebahagiaan lu ikut ilang.
Tarekat Syadziliyah itu tarekat yang "rapi". Dzikirnya gak perlu teriak-teriak, gak perlu lompat-lompat. Cukup duduk tenang, atau bahkan sambil jalan, sambil inget Allah di dalam hati. Ini tasawuf buat orang sibuk, buat eksekutif, buat mahasiswa, buat kita semua yang hidup di tengah hiruk-pikuk dunia.
Jadi, kalau lu pengen jadi sufi tapi tetep pengen necis, tetep pengen sukses di karir, dan tetep gaul, Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili adalah role model terbaik buat lu.
Semoga cerita panjang ini ada manfaatnya buat lu, Cok.

Posting Komentar