IBNU SINA: THE PRINCE OF DOCTORS (AVICENNA) Monster Intelektual - PT PUTRA ARMSSY PERKASA

IBNU SINA: THE PRINCE OF DOCTORS (AVICENNA) Monster Intelektual

Siapin kopi literan, cari posisi pewe. Kita bakal bedah tuntas kehidupan Ibnu Sina, dari A sampe Z, dengan gaya bahasa kita-kita aja biar nggak pusing. Ini adalah versi Extended Cut, Director's Cut, atau apalah namanya, yang isinya daging semua.

Gasssss cok!

Sekitar tahun 990-an Masehi. Kita bakal masuk ke Bukhara (sekarang Uzbekistan), kota yang saat itu lagi glowing-glowing-nya sebagai pusat peradaban.

Ini kisah tentang bocah yang otaknya overpowered, yang di umur 18 tahun udah namatin game kehidupan, tapi justru di situ petualangannya baru mulai.

Siapin mental. Ini bakal lebih emosional, karena Ibnu Sina ini hidupnya drama banget.



PART 1: BOCAH YANG MENELAN SEMESTA

Tahun 994 Masehi. Bukhara, Ibukota Dinasti Samaniyah.

Malam itu, di sebuah kamar yang penuh sesak dengan gulungan kertas, seorang remaja laki-laki umur 14 tahun lagi uring-uringan. Namanya Husayn (kita panggil dia Ibnu Sina).

Di depannya ada buku tebal karangan Aristoteles, Metaphysics. Dia udah baca buku itu 40 kali. Dia hafal setiap kata, setiap titik, setiap koma. Tapi... dia gak paham maksudnya!

"ARGGHH!" teriak Ibnu Sina frustrasi. Dia ngelempar buku itu ke tembok. "Tuhan, kenapa Kau ciptakan otakku buntu begini? Apa gunanya hafal Quran umur 10 tahun kalau buku tua Yunani ini aja gak bisa kutembus?!"

Bapaknya, Abdullah, masuk tergopoh-gopoh. "Husayn! Ada apa nak? Kamu sakit?" Ibnu Sina nunduk, napasnya ngos-ngosan. "Bukan sakit badan, Yah. Sakit otak. Aku merasa bodoh."

Abdullah cuma bisa geleng-geleng. Dia tau anaknya ini aneh. Guru privat matematika udah nyerah ngajar dia. Guru logika udah pamit pulang kampung karena kalah debat. Sekarang, anaknya stres cuma gara-gara satu buku filsafat.

"Sudah, istirahat dulu," kata Abdullah lembut. "Besok kau jalan-jalan ke pasar buku. Cari angin."

Besoknya, di pasar buku loak, Ibnu Sina nemu buku tipis karangan Al-Farabi. Harganya murah banget, cuma 3 dirham, karena penjualnya butuh duit. Judulnya: Penjelasan Tujuan Metafisika Aristoteles.

Ibnu Sina beli buku itu iseng. Dia baca sambil jalan pulang. Baru baca halaman pertama... DEG! Otaknya kayak disambar petir. Semua kalimat Aristoteles yang tadinya gelap gulita, tiba-tiba jadi terang benderang. Kunci yang hilang akhirnya ketemu!

Dia lari pulang ke rumah, sujud syukur, terus sedekahin duit ke fakir miskin saking senengnya. Hari itu, di umur 14 tahun, dia sadar satu hal: Gak ada ilmu yang gak bisa dia kuasai. Asal ada kuncinya.

Dan karena filsafat udah "tamat", dia butuh mainan baru. Matanya tertuju pada satu rak buku yang belum pernah dia sentuh: KEDOKTERAN.


Dua Tahun Kemudian. Tahun 996 Masehi.

Umur 16 tahun. Di Bukhara mulai beredar rumor aneh. Ada "Tabib Remaja" yang buka praktek gratisan. Pasien-pasien yang udah divonis mati sama dokter senior, dibawa ke dia malah sembuh.

Metodenya out of the box. Dia gak cuma ngeraba nadi, tapi dia nanya mimpi pasien apa, makanannya apa, bahkan masalah cintanya apa.

Suatu hari, berita buruk datang dari Istana. Sultan Nuh bin Mansur, penguasa Bukhara, jatuh sakit parah. Penyakit misterius. Badannya kaku, kejang-kejang, demam tinggi.

Dokter-dokter istana udah angkat tangan. Tabib dari India, China, Persia, semua nyerah. Mereka takut salah kasih obat dan malah dipenggal. Di tengah kepanikan itu, wazir (menteri) istana ngusulin ide gila. "Baginda, ada anak muda di kota. Namanya Ibnu Sina. Katanya dia jenius."

Kepala Tabib Istana langsung protes. "Anak ingusan?! Kita bicara nyawa Sultan! Apa yang diketahui bocah 16 tahun soal penyakit raja?!" Wazir cuma jawab dingin, "Kau punya solusi lain? Kalau Sultan mati malam ini, kepala kalian semua ikut dipenggal."

Hening. Akhirnya mereka setuju.


Ibnu Sina dijemput pengawal istana. Dia masuk ke kamar Sultan yang bau obat-obatan herbal menyengat. Sultan Nuh bin Mansur terbaring lemah, mukanya pucat kayak mayat. Puluhan dokter tua ngeliatin Ibnu Sina dengan tatapan meremehkan. "Silakan, Bocah Ajaib," sindir salah satu dokter. "Tunjukkan mainanmu."

Ibnu Sina gak peduli. Dia duduk di tepi ranjang. Dia pegang pergelangan tangan Sultan. Dia merem. Fokus. Dia ngerasain denyut nadi yang gak beraturan. Dia liat warna urin Sultan. Dia cium bau napasnya.

"Apa yang Baginda makan terakhir kali?" tanya Ibnu Sina. "Daging rusa... dan anggur..." jawab pelayan gemetar.

Ibnu Sina mikir cepet. Gejala keracunan logam berat bercampur infeksi usus. Tapi dokter-dokter ini malah ngasih obat pemanas badan, yang bikin racunnya makin nyebar.

"Buang semua obat itu!" perintah Ibnu Sina tiba-tiba. Dokter tua kaget. "Lancang kau!" "Buang atau Sultan mati dalam satu jam!" bentak Ibnu Sina. Matanya nyalang, aura jeniusnya keluar. Semua orang keder.

Dia ngeracik ramuan baru di tempat. Campuran herbal penawar racun dan pendingin perut. Dia suapin sendiri ke mulut Sultan. Satu jam berlalu. Tegang. Dua jam. Tiba-tiba Sultan batuk keras. Muntah cairan hitam. Semua orang panik. Tapi Ibnu Sina senyum. "Racunnya keluar."

Sultan Nuh bin Mansur membuka mata. Napasnya lega. Warna mukanya balik merah muda. "Aku... lapar," bisik Sultan.

Ruangan gempar. Para dokter tua nunduk malu. Bocah 16 tahun baru aja nyelamatin negara.


Seminggu Kemudian. The Reward.

Sultan Nuh bin Mansur udah sehat walafiat. Dia manggil Ibnu Sina ke balairung. "Anak muda," kata Sultan. "Kau menyelamatkan nyawaku saat orang-orang tua ini menyerah. Mintalah apapun. Emas? Jabatan? Kuda terbaik? Atau kau mau jadi Gubernur?"

Ibnu Sina nunduk hormat. Dia liat tumpukan emas di nampan. Bagi dia, emas itu ngebosenin. Jabatan itu ribet. Dia punya satu obsesi yang belum kelar.

"Ampun Baginda," kata Ibnu Sina. "Hamba tidak butuh emas. Hamba dengar... di belakang istana ini ada sebuah bangunan tua yang pintunya selalu terkunci."

Sultan ngerutin dahi. "Maksudmu... Perpustakaan Kerajaan Samaniyah?" "Benar, Baginda. Orang bilang di sana tersimpan buku-buku langka dari seluruh dunia yang tidak ada salinannya. Izinkan hamba masuk ke sana. Bebas. Kapan saja. Itu saja permintaan hamba."

Sultan ketawa ngakak. "Hanya itu?! Kau tolak emas demi debu dan kertas tua? Hahaha! Dasar orang aneh. Baiklah! Kuberikan kuncinya padamu."


The Matrix Moment.

Sore itu, Ibnu Sina berdiri di depan pintu besi perpustakaan raksasa itu. Kunci diputar. Klek. Pintu berat itu didorong terbuka.

Bau kertas tua menyeruak. Debu beterbangan kena sinar matahari sore. Ibnu Sina melangkah masuk. Matanya terbelalak.

Ruangan itu... tak berujung. Rak-rak buku menjulang sampai langit-langit. Ada ribuan, mungkin jutaan gulungan naskah. Di rak sebelah kiri: Ilmu Astronomi kuno dari Babilonia. Di rak kanan: Kedokteran Galen dan Hippocrates lengkap. Di belakang: Filsafat Yunani, Matematika India, Sejarah Persia.

Ini bukan perpustakaan. Ini adalah HARD DISK PERADABAN MANUSIA.

Ibnu Sina ngerasa kakinya lemes. Dia jatuh berlutut. Selama ini dia sombong, ngerasa udah paling pinter di Bukhara. Tapi di hadapan lautan ilmu ini, dia ngerasa kayak butiran pasir.

"Ya Tuhan..." bisiknya, air mata netes. "Umurku gak bakal cukup buat baca ini semua."

Tapi kemudian, dia senyum. Senyum yang penuh ambisi. Dia berdiri, ngegulung lengan bajunya. Dia ngambil satu buku paling tebal di rak terdekat.

"Oke," katanya pada ruangan kosong itu. "Kita mulai pestanya. Aku akan membaca semuanya. Sampai tetes tinta terakhir."

Dan begitulah, di umur 18 tahun, Ibnu Sina "menghilang" dari dunia luar. Dia mengurung diri di perpustakaan itu selama berbulan-bulan. Dia membaca, menyerap, dan menyatukan semua ilmu itu di kepalanya.

Dia gak tau kalau di luar sana, badai politik sedang menuju Bukhara. Dia gak tau kalau perpustakaan indah ini sebentar lagi bakal jadi abu. Dan dia gak tau, kalau hidup tenangnya sebagai "Kutu Buku" bakal segera berakhir dan digantikan oleh pelarian yang penuh darah.


TO BE CONTINUED...

Gimana Cok? Di PART 2, kita bakal masuk ke fase action-nya. Perpustakaan kebakar, dia jadi buronan, dan mulai nulis Al-Qanun sambil dikejar-kejar tentara.


Kita lanjutin petualangan Ibnu Sina.

Di PART 1, Ibnu Sina baru aja dikasih akses VIP ke Perpustakaan Kerajaan Samaniyah di Bukhara karena berhasil nyembuhin Sultan. Dia lagi hype banget, kayak anak kecil dikunci di toko mainan.

Tapi, seperti kata pepatah: "Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya." Kebahagiaan Ibnu Sina gak bakal bertahan lama.

Siapin kopi lagi. Di Part ini, kita bakal liat api, pengkhianatan, dan pelarian yang bikin jantung mau copot.


PART 2: API YANG MEMBAKAR MIMPI

Tahun 999 Masehi. Bukhara, Menjelang Runtuhnya Dinasti Samaniyah.

Dua tahun berlalu. Ibnu Sina sekarang umurnya 20 tahun. Wajahnya udah mulai ditumbuhi jenggot tipis, tapi matanya... matanya layu, ada lingkaran item di bawahnya.

Kenapa? Karena dia GILA KERJA.

Setiap hari, dari subuh sampe tengah malem, dia ngerem di dalem Perpustakaan Kerajaan. Dia udah baca ribuan buku. Dia gak cuma baca. Dia MENGHAFAL isinya. Dia nyalin poin-poin penting ke buku catatannya sendiri. Kadang dia ketiduran di lantai perpustakaan saking capeknya, bantalnya tumpukan buku Galen, selimutnya jubah lusuh.

"Tuan Husayn," panggil penjaga perpustakaan tua, Pak Karim. "Anda belum makan seharian. Ini roti." Ibnu Sina ngambil roti itu tanpa nengok dari gulungan naskah astronomi. "Terima kasih, Pak. Tolong jangan ganggu, saya lagi ngitung orbit Venus."

Pak Karim cuma geleng-geleng. "Anak ini... dia makan ilmu, bukan nasi."

Tapi di luar tembok perpustakaan yang tenang itu, badai politik lagi ngamuk. Dinasti Samaniyah yang nguasain Bukhara lagi diujung tanduk. Pasukan Turki Ghaznawiyah dari timur udah ngepung perbatasan. Sultan Nuh bin Mansur (yang dulu disembuhin Ibnu Sina) udah meninggal, digantiin anaknya yang lemah.

Suasana kota tegang. Orang-orang mulai nimbun makanan. Harga gandum melambung. Tapi Ibnu Sina gak sadar. Dia terlalu sibuk di menara gading ilmunya.

Sampe suatu malem... DUARRR! Suara ledakan keras ngeguncang tanah.

Ibnu Sina kaget, tintanya tumpah. "Apa itu?!"

Dia lari ke jendela menara. Langit Bukhara merah. Bukan karena matahari terbit, tapi karena API. Pasukan musuh udah ngejebol gerbang kota. Jeritan orang-orang kedengeran sampe ke perpustakaan. "Serbuuu! Bakar istana! Bunuh para bangsawan!"

Pintu perpustakaan didobrak. Pak Karim lari masuk, napasnya ngos-ngosan, darah ngalir di pelipisnya. "Tuan Husayn! Lari! Mereka datang! Mereka mau membakar tempat ini!"

Ibnu Sina membeku. "Membakar? Gak mungkin! Ini gudang ilmu! Ini warisan dunia!" "Mereka orang barbar, Tuan! Mereka gak peduli ilmu! Mereka cuma mau menghancurkan simbol Samaniyah! Cepat lari!"

Ibnu Sina ngeliat sekeliling. Ribuan buku yang udah jadi temen setianya selama dua tahun. Buku-buku langka yang cuma ada satu salinannya di dunia. Kalau tempat ini kebakar... semua ilmu itu bakal ilang selamanya.

"Gak... gak bisa..." bisik Ibnu Sina. Dia nyamber karung goni di pojokan. Dengan panik, dia mulai masukin buku-buku paling penting. Al-Magest Ptolemeus... Masuk! De Materia Medica Dioscorides... Masuk! Naskah asli Al-Farabi... Masuk!

"Tuan! Sudah terlambat!" teriak Pak Karim sambil nyeret tangan Ibnu Sina. Api udah mulai ngejilat pintu depan. Asep tebel bikin mata perih. Panasnya bukan main. Rak-rak kayu tua itu bahan bakar sempurna.

"Satu lagi! Satu lagi!" Ibnu Sina nekat mau ngambil buku di rak paling atas. KRAK! Balok kayu yang kebakar jatuh, ngehalangin jalan dia. "HUKUM RIMBA! KELUAR ATAU MATI PANGGANG!"

Dengan berat hati, Ibnu Sina mundur. Dia meluk karung goni yang cuma isi 20-an buku itu erat-erat. Air matanya netes, campur sama keringat dan abu. Dia lari keluar lewat pintu belakang, ninggalin surga dunianya yang lagi dilahap si jago merah.

Di luar, dia ngeliat pemandangan yang bakal ngehantuin dia seumur hidup. Perpustakaan megah itu runtuh. Ribuan ilmu pengetahuan, sejarah, puisi, obat-obatan... jadi abu dalam semalam. "Bodoh..." gumamnya lirih. "Manusia itu bodoh. Mereka membakar masa depan mereka sendiri."


Masa Pelarian: Gurgan, Tahun 1012 Masehi.

Dua belas tahun kemudian. Ibnu Sina sekarang umur 32 tahun. Dia bukan lagi bocah. Dia buronan. Wajahnya keras, bewokan, matanya waspada.

Sejak Bukhara jatuh, hidupnya pindah-pindah. Dari satu kota ke kota lain. Ke Urgench... diusir. Ke Nisa... hampir dibunuh perampok. Ke Baward... kena wabah penyakit.

Sekarang dia di Gurgan, kota kecil deket Laut Kaspia. Dia nyewa kamar sempit di penginapan murah. Dia pake nama palsu. Tapi walau hidupnya susah, otaknya gak pernah berhenti kerja.

Di kamar sempit itu, ditemani cahaya lilin yang remang-remang, Ibnu Sina mulai nulis. Dia mau bales dendam sama kebodohan manusia yang bakar perpustakaan itu. Caranya? Dengan nulis buku yang LEBIH HEBAT.

"Kalau mereka membakar ilmu masa lalu," gumamnya sambil nyelupin pena bulu ke tinta, "maka aku akan menulis ilmu masa depan."

Dia mulai nulis halaman pertama dari mahakaryanya: AL-QANUN FI AT-TIBB (The Canon of Medicine).

Ini bukan sekadar buku catatan dokter. Ini ensiklopedia. Dia nulis ulang semua yang dia inget dari perpustakaan Bukhara, ditambah pengalaman dia ngobatin orang selama pelarian.

Tapi nulis buku butuh duit. Butuh kertas. Butuh makan. Duitnya abis. Akhirnya, dia terpaksa buka praktek dokter lagi. Pagi jadi dokter keliling, malem jadi penulis.

Suatu hari, ada anak muda yang dateng berobat. Namanya Al-Juzjani. Anak ini pinter, tapi sakit-sakitan. Ibnu Sina ngobatin dia, dan mereka jadi deket. Juzjani kagum sama kecerdasan dokternya. "Tuan... Anda bukan dokter biasa kan?" tanya Juzjani curiga. "Cara Anda bicara... seperti filsuf istana."

Ibnu Sina senyum tipis. "Aku cuma pengelana, Nak." "Boleh saya jadi murid Tuan? Saya bisa bantu nyalin tulisan Tuan. Tulisan Tuan jelek banget soalnya, susah dibaca."

Ibnu Sina ketawa. Akhirnya dia punya temen. Juzjani inilah yang nantinya jadi asisten setia yang nyelamatin naskah-naskah Ibnu Sina dari kehancuran berkali-kali.


Tahun 1015 Masehi. Hamadan.

Karir Ibnu Sina naik lagi. Di kota Hamadan, dia berhasil nyembuhin Emir (Gubernur) setempat, Shams al-Daula, dari penyakit kolik (sakit perut parah). Emir seneng banget. "Ibnu Sina! Mulai hari ini, kau bukan cuma dokterku. Kau kuangkat jadi VIZIER (Perdana Menteri)!"

Gila gak? Dari buronan jadi Perdana Menteri. Tapi ini justru awal dari bencana baru. Ibnu Sina itu orangnya jujur, tegas, dan gak bisa disogok. Dia mecatin pejabat-pejabat korup. Dia motong gaji tentara bayaran yang males-malesan.

Tentara marah. Para jenderal sekongkol. "Siapa dokter asing ini berani ngatur-ngatur kita?!" "Dia pasti mata-mata!" "Bunuh dia!"

Suatu malam, rumah Ibnu Sina dikepung. Ratusan tentara bayaran dengan obor dan pedang teriak-teriak di depan gerbang. "KELUAR KAU IBNU SINA! KAMI MINTA KEPALAMU!"

Ibnu Sina lagi nulis bab tentang "Anatomi Mata" di Al-Qanun. Juzjani lari masuk, mukanya pucat. "Guru! Mereka mendobrak gerbang! Kita harus lari!"

Ibnu Sina naruh penanya dengan tenang. "Lari ke mana lagi, Juzjani? Aku lelah lari." "Tapi kalau Guru mati, siapa yang akan menyelesaikan buku ini?! Ilmu ini belum lengkap! Dunia butuh obat!"

Kata-kata itu nampar Ibnu Sina. Bener. Kalau dia mati sekarang, Al-Qanun gak bakal selese. Ilmu kedokteran bakal mundur ratusan tahun.

"Lewat atap," perintah Ibnu Sina. Mereka berdua manjat ke atap, loncat ke rumah tetangga, terus ngilang di kegelapan malam. Sementara di belakang mereka, rumah Ibnu Sina dijarah dan dibakar (lagi).

Ibnu Sina sembunyi di rumah temennya, seorang saudagar kaya, selama 40 HARI. Selama 40 hari itu, dia gak keluar kamar sama sekali. Apa dia stres? Depresi? Enggak, Cok. Dia malah ngebut nulis!

"Juzjani, ambilkan kertas lagi!" "Tinta habis, Guru!" "Pake arang kalau perlu!"

Di persembunyian itu, dia nyelesaiin jilid pertama Al-Qanun. Dia nulis tentang KARANTINA. Dia nulis tentang PENULARAN PENYAKIT LEWAT UDARA. Ide-ide gila yang muncul di kepalanya justru pas dia lagi terdesak.

Tapi takdir emang suka bercanda. Emir Shams al-Daula (bosnya Ibnu Sina) meninggal. Penggantinya? Anaknya yang dendam sama Ibnu Sina. Persembunyiannya ketahuan.

Pasukan istana nyerbu masuk. Kali ini Ibnu Sina gak sempet lari. Dia ditangkep. Diseret. Dan dijeblosin ke Benteng Fardajan. Penjara paling angker di atas bukit batu.

"Habis sudah riwayatmu, Dokter," kata kepala sipir sambil ngunci sel besi yang dingin dan lembap. "Kau akan membusuk di sini."

Ibnu Sina duduk di lantai batu yang kotor. Gelap. Dingin. Sendirian (Juzjani gak ikut ditangkep). Dia gak punya buku. Gak punya kertas. Gak punya alat tulis.

Apakah ini akhir dari Sang Pangeran Dokter? Apakah Al-Qanun bakal berhenti jadi tumpukan kertas setengah jadi?

Di kegelapan penjara itu, Ibnu Sina memejamkan mata. Dia masuk ke dalam "Istana Pikiran"-nya. Dia mulai menyusun kalimat-kalimat filsafat di kepalanya. "Badan bisa dipenjara," batinnya, "tapi pikiran ini... pikiran ini bisa terbang ke mana saja."


TO BE CONTINUED...

Gimana Cok? Tegang gak? Di PART 3 (Final), kita bakal liat The Great Escape (kabur dari penjara), penyelesaian mahakarya, dan akhir hayat yang tragis tapi melegenda.


Cok! Kita masuk ke babak final.

Di PART 2, Ibnu Sina (Avicenna) lagi di titik terendah dalam hidupnya: Dijeblosin ke penjara Benteng Fardajan yang dingin dan sepi, tanpa buku, tanpa kertas, dan terancam bakal membusuk di sana selamanya.

Tapi ingat satu hal: Lo boleh menjarain badannya, tapi lo gak bisa menjarain otaknya.

Siapin tisu (siapa tau terharu) dan kopi terakhir. Inilah akhir perjalanan Sang Pangeran Dokter.


PART 3: KEABADIAN DI UJUNG PENA

Tahun 1023 Masehi. Di dalam Benteng Fardajan.

Empat bulan berlalu. Di sel penjara yang lembap itu, Ibnu Sina duduk bersila. Matanya terpejam. Dia gak lagi tidur. Dia lagi MENULIS. Di mana? Di kepalanya.

Karena gak dikasih kertas sama sipir, Ibnu Sina nyusun kalimat-kalimat buku filsafat terbesarnya, Al-Shifa (The Book of Healing), bener-bener cuma pake ingatan. Bab demi bab. Paragraf demi paragraf.

Tiba-tiba, ada suara langkah kaki pelan. Sstt... Guru...

Ibnu Sina buka mata. Di balik jeruji besi, ada bayangan familiar. Al-Juzjani! Murid setianya yang selama ini ngilang. "Juzjani! Kau masih hidup?" bisik Ibnu Sina. "Sstt! Pelankan suaramu, Guru. Aku menyuap penjaga gerbang dengan sisa koin emas kita. Aku bawakan ini."

Juzjani nyelipin sesuatu lewat celah jeruji. Bukan makanan. Bukan senjata. Tapi KERTAS DAN TINTA.

Mata Ibnu Sina langsung berbinar kayak anak kecil dapet PS5. "Demi Tuhan, Juzjani! Kau penyelamatku!" Tanpa buang waktu, Ibnu Sina langsung nulis. Dia numpahin semua yang ada di kepalanya ke kertas-kertas kumel itu. Di penjara itulah dia nulis risalah tentang Penyakit Kolik (penyakit yang dia derita sendiri) dan novel alegori Hayy ibn Yaqzan.

"Dengerin, Guru," bisik Juzjani lagi. "Pasukan dari Isfahan yang dipimpin Sultan Ala al-Dawla sedang menyerang kota ini. Benteng ini bakal kacau. Saat penjaga lengah, kita kabur."

The Great Escape Malam itu juga, perang pecah di luar benteng. Suara pedang beradu, teriakan prajurit, dan api di mana-mana. Penjara Fardajan chaos. Sipir-sipir lari nyelamatin diri.

Ibnu Sina, Juzjani, dan adiknya Ibnu Sina (namanya Mahmud), ngambil kesempatan. Mereka gak lari pake baju dokter atau jubah menteri. Terlalu mencolok. Mereka nyamar jadi SUFI. Pake baju karung goni yang kasar, sorban kucel, dan tongkat kayu.

Mereka jalan kaki. Bukan jalan santai, Cok. Mereka jalan kaki nerobos badai pasir dan gunung batu menuju Isfahan. Jauhnya ratusan kilometer. Kakinya lecet, bibirnya pecah, perutnya laper. Tapi Ibnu Sina gak ngeluh. Di tasnya, naskah Al-Qanun aman.


Tahun 1024 Masehi. Isfahan — The Golden Years.

Sampai di gerbang Isfahan, mereka dikira pengemis. Tapi begitu Sultan Ala al-Dawla tau kalau "pengemis" itu adalah Ibnu Sina—dokter paling dicari se-dunia—Sultan langsung turun dari kudanya. "Selamat datang, Wahai Syekh yang Agung! Isfahan adalah rumahmu!"

Di Isfahan, hidup Ibnu Sina berubah 180 derajat. Dia diangkat jadi penasihat utama Sultan. Dikasih rumah mewah, gaji gede, dan yang paling penting: Ketenangan buat nulis.

Di sinilah dia nyelesaiin mahakaryanya. Setiap malem Jumat, rumahnya jadi basecamp para intelektual. Mereka diskusi dari habis Isya sampe Subuh. Topiknya berat: Mulai dari astronomi, logika, sampe metafisika.

Suatu malam, di tengah diskusi panas, Ibnu Sina ngelempar satu bom pemikiran yang bikin semua orang diem. Namanya: FLOATING MAN (MANUSIA TERBANG).

"Bayangkan," kata Ibnu Sina sambil megang gelas anggurnya (beberapa riwayat bilang sirup, terserah lo percaya yang mana). "Bayangkan manusia diciptakan melayang di udara. Matanya buta, telinganya tuli, kulitnya mati rasa. Dia gak bisa nyentuh apapun, bahkan tangan kakinya gak saling nyentuh."

Semua muridnya ngerutin dahi. "Pertanyaannya: Apakah orang itu sadar kalau dia 'ADA'?"

Juzjani ngangkat tangan. "Tentu saja, Guru. Dia sadar dia eksis." "TEPAT!" teriak Ibnu Sina. "Itu buktinya kalau Jiwa (Soul) itu beda sama Tubuh. Jiwa bisa sadar tanpa butuh panca indera. Tubuh bisa hancur, bisa mati rasa, tapi 'AKU' di dalam sini tetep ada."

Teori ini gokil banget di zamannya. Ini bakal jadi dasar psikologi modern.


Tahun 1037 Masehi. Hamadan — The Final Campaign.

Tapi, sekuat-kuatnya otak, badan punya batasnya, Cok. Ibnu Sina itu workaholic parah. Siang dia ngurus politik negara bareng Sultan. Malem dia nulis buku sampe pagi. Seringkali dia ikut Sultan perang ke medan laga.

Fisiknya digeber terus. Mesinnya panas. Di usianya yang ke-57, penyakit lamanya kambuh parah: Kolik (gangguan pencernaan/usus akut). Sakitnya minta ampun. Perutnya kayak dililit kawat berduri.

Waktu itu dia lagi nemenin Sultan perang ngelawan pasukan dari Baghdad. Di tenda medis yang darurat, Ibnu Sina nyoba ngobatin dirinya sendiri. Dia ngeracik obat yang isinya seledri dan opium buat nahan sakit.

Tapi... ada pengkhianatan. Salah satu budaknya, yang dendam karena sering dimarahin atau mungkin disogok musuh, nyuri kesempatan. Si budak nambahin dosis opium lima kali lipat ke dalem obat Ibnu Sina. Tujuannya? Biar sang dokter mati keracunan, terus dia bisa nyuri uangnya.

Ibnu Sina minum obat itu. Bukannya sembuh, dia malah keracunan parah. Ususnya luka. Dia muntah darah. Juzjani nangis liat gurunya yang gagah itu sekarang terbaring lemah, kurus kering.

"Guru... izinkan aku memanggil tabib lain," isak Juzjani. Ibnu Sina senyum tipis, mukanya pucat kayak kertas. Dia megang tangan murid setianya itu.

"Tidak usah, Juzjani. Aku sudah mendiagnosa diriku sendiri." Suaranya pelan banget.

"Sang Manajer (Mudaabir/Jiwa) yang mengatur tubuhku... sudah tidak kuat lagi mengurusi rumah yang rusak ini. Obat apapun sudah tidak berguna."

Dia tau. Waktunya udah habis. Di minggu terakhir bulan Ramadhan tahun 1037 M, Ibnu Sina ngelakuin hal terakhir yang bikin dia dikenang sebagai orang sholeh. Dia nyuruh Juzjani bawa semua hartanya. "Bagikan semuanya ke fakir miskin," perintahnya. "Dan panggil semua budakku. Katakan pada mereka, hari ini mereka merdeka. Bebas."

Selama sisa harinya, dia cuma minta dibacain Al-Quran. Tiap kali Juzjani baca ayat tentang surga, air mata Ibnu Sina netes. Mungkin dia nyesel karena terlalu sibuk mikirin dunia. Mungkin dia rindu sama ketenangan yang gak pernah dia dapetin selama hidup jadi buronan.

Pas matahari terbenam di hari Jumat, napas Sang Pangeran Dokter berhenti. Dunia Islam kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dunia Barat kehilangan guru terbesarnya.


EPILOG: WARISAN YANG TAK BISA DIBUNUH

Jasad Ibnu Sina dimakamkan di Hamadan, Iran. Tapi rohnya? Rohnya hidup di setiap lembar buku yang dia tulis.

Buku Al-Qanun fi at-Tibb (The Canon of Medicine) yang dia tulis sambil lari-lari dikejar tentara itu... tau gak nasibnya gimana? Buku itu dibawa ke Eropa. Diterjemahin ke bahasa Latin. Dan jadi BUKU WAJIB di universitas kedokteran di Prancis, Italia, dan Belgia selama 600 TAHUN.

Sampe abad ke-17, calon dokter di Eropa belajarnya bukan dari orang bule, tapi dari buku karangan "Avicenna". Mereka belajar cara ngejahit luka, cara karantina wabah, cara diagnosa diabetes, semua dari Ibnu Sina.

Kalau lo hari ini ke rumah sakit, liat dokter pake jas putih, liat apoteker ngeracik obat, atau liat protokol kesehatan pas pandemi... Sadar gak sadar, ada jejak Ibnu Sina di situ.

Dia pernah bilang: > "Aku lebih memilih hidup yang pendek tapi penuh makna (lebar), daripada hidup panjang tapi sempit (kosong)."

Dan dia ngebuktiin omongannya, Cok. Umurnya cuma 58 tahun. Tapi karyanya abadi sampe kiamat kurang dua hari.

Jadi, kalau lo lagi males belajar, inget cerita Ibnu Sina. Dia belajar di bawah sinar lilin, dikejar musuh, dipenjara, dikhianati, tapi gak pernah nyerah buat nyari ilmu. Masa lo yang dikasih WiFi kenceng sama AC dingin, belajarnya males-malesan?

— TAMAT —

Gimana, Cok? Puas sama ending-nya? Semoga kisah "The Prince of Doctors" ini bisa nambah damage motivasi lo ya!

Posting Komentar