Syekh Omar tokoh Muslim yang paling sering disebut sebagai "penemu" cara mengolah kopi jadi minuman
Gue namain series ini: "SAGA KOPI: DARI BIJI SAMPE JADI GENGSI"
Ini PART 1. Siapin rokok atau kopi lu, kita mulai dari zaman purba.
PART 1: Kambing Disco dan Energi Bar Para Sufi
Cok, sebelum kita ngomongin latte art atau biji Arabica Gayo yang harganya selangit, kita harus tarik mundur jauh banget. Kita balik ke abad ke-9, ke tanah Afrika, tepatnya di Ethiopia (dulu namanya Abyssinia).
Jujur aja, sejarah awal kopi itu kabur-kabur sedap, nyampur antara fakta sama dongeng. Tapi ada satu legenda yang paling legend (pun intended), yaitu kisah Kaldi dan Kambing-kambingnya.
1. Gara-gara Kambing "Party"
Jadi gini, si Kaldi ini penggembala kambing biasa. Suatu hari, dia bingung ngeliat kambing-kambingnya mendadak tingkahnya aneh banget. Mereka yang biasanya mager, tiba-tiba loncat-loncat, lari sana-sini, agresif, pokoknya energinya full tank padahal udah sore. Kayak habis nelen ekstasi, Cok.
Kaldi selidik punya selidik, ternyata kambing-kambing ini habis nyemil buah ceri warna merah dari semak-semak liar. Karena penasaran (dan mungkin laper juga), si Kaldi nyobain tuh buah.
Hasilnya? Boom! Si Kaldi ikutan seger. Matanya melek, jantung deg-degan enak, semangat 45. Dia ngerasa nemuin "buah ajaib".
2. Bukan Diseduh, Tapi Dikunyah
Nah, ini yang banyak orang salah kaprah. Di zaman awal-awal ini, kopi itu bukan diminum, Cok.
Suku-suku asli di sana (kayak suku Oromo), mereka ngolah biji kopi ini dengan cara digiling kasar, terus dicampur sama lemak binatang (lemak domba atau sapi). Terus dibulet-buletin kayak bola.
Jadi, bentuk aslinya kopi itu kayak Energy Bar purba. Ini bekal wajib buat para pejuang kalau mau perang atau berburu berhari-hari. Makan satu bola, kuat berantem seharian tanpa capek. Gokil kan?
3. Nyeberang Laut Merah ke Yaman
Singkat cerita, biji ajaib ini mulai dibawa nyeberang Laut Merah, dari Ethiopia masuk ke Yaman (Arabia Felix). Nah, di sinilah peradaban Islam mulai ambil peran penting banget, Cok. Ini fase kuncinya.
Di Yaman, biji kopi ini ketemu sama komunitas Sufi.
Lu tau kan Sufi? Itu lho, kaum yang fokus banget sama spiritualitas, zikir, dan ibadah malam. Masalahnya, ibadah malem itu musuh utamanya cuma satu: NGANTUK.
Para ulama dan ahli sufi di Yaman (termasuk Syekh Omar atau Al-Dhabhani yang gue sebut sebelumnya) mulai eksperimen.
Awalnya dimakan mentah (pahit, gak enak).
Direbus kulitnya (teh ceri kopi/Cascara).
Akhirnya dipanggang bijinya dan diseduh airnya.
4. Lahirnya "Qahwa"
Ketemu deh racikan emasnya. Cairan hitam pekat, wangi, pahit, tapi bikin mata melek total.
Mereka namain minuman ini "Qahwa". Uniknya, Qahwa itu sebenernya istilah lama dalam bahasa Arab buat nyebut Anggur (Wine). Kenapa dipake buat kopi? Karena efeknya sama-sama bikin nge-fly (dalam artian positif: semangat), dan kopi dianggap sebagai pengganti anggur yang halal buat umat Muslim.
Jadi, kalau orang Eropa mabuk anggur buat happy-happy, orang Sufi "mabuk" kopi buat Ingat Tuhan.
Masjid-masjid dan tempat zikir di Yaman jadi wangi kopi. Kopi jadi "Bensin Ibadah". Dari sinilah istilah Qahwa nanti berevolusi jadi Kahve (Turki), terus jadi Cafe/Coffee (Eropa).
Intisari Part 1 (Buat yang males baca):
Penemu Awal: Diduga kambing Ethiopia yang "sakau" kafein.
Bentuk Awal: Bukan minuman, tapi cemilan lemak (energy bar).
Peran Muslim: Ulama Sufi di Yaman yang nemuin cara nyeduh kopi jadi minuman ("Qahwa") biar kuat zikir semalam suntuk.
Fungsi: Dulu kopi itu alat ibadah, bukan alat nongkrong.
Segitu dulu Cok buat pembukaannya. Di Part 2, gue bakal ceritain gimana kopi ini keluar dari masjid, masuk ke jalanan, bikin pemerintah parno, sampai ada "Warung Kopi Pertama di Dunia" yang isinya penuh intrik politik dan ghibah.
Lanjut Part 2 cok, sekarang nyeduh kopi dulu biar melek
Sikat, Cok! Lanjut ke PART 2.
Kalau di Part 1 kita udah bahas kambing "disco" di Ethiopia sama para Sufi yang zikir pakai kopi, sekarang kita masuk ke masa di mana kopi mulai "keluar dari masjid" dan bikin geger satu kekaisaran.
PART 2: Ghibah, Politik, dan Larangan Ngopi Pertama di Dunia
Nah, masuk ke abad ke-15 dan ke-16, kopi bukan lagi cuma minuman "eksklusif" buat para ulama atau orang-orang yang mau ibadah malem.
Kopi mulai merembet ke rakyat jelata, pedagang, sampai tentara di semenanjung Arab. Dan di sinilah lahir sebuah fenomena yang ngerubah sejarah manusia selamanya: Rumah Kopi (Coffeehouse).
1. Munculnya "Kaveh Kanes"
Dulu, kalau mau kumpul-kumpul ya di rumah atau di masjid. Tapi gara-gara kopi, muncul tempat baru yang namanya Kaveh Kanes (di Mekkah, Kairo, terus ke Konstantinopel/Istanbul).
Bayangin, Cok, ini tempat isinya orang duduk santai, minum kopi item pekat, sambil:
Main catur.
Dengerin musik atau puisi.
Ghibah Politik. (Nah, ini nih biang keroknya).
Tempat ini disebut "Mekteb-i 'irfan" atau "Sekolah Orang Berilmu". Kenapa? Karena di situ semua orang—dari kuli pasar sampe pejabat—bisa debat bebas gara-gara efek kafein yang bikin otak encer.
2. Kopi Jadi "Minuman Ilegal" (Fatwa Pertama)
Nah, di tahun 1511, ada Gubernur di Mekkah namanya Khair Beg. Dia orangnya parnoan, Cok.
Suatu malem, dia ngeliat orang kumpul-kumpul di warung kopi, matanya melek semua, ngomongin kebijakan pemerintah sambil ketawa-ketiwi. Khair Beg langsung keringet dingin. Dia mikir: "Wah, ini orang-orang kalau kumpul begini, pasti lagi ngerencanain demo atau gulingin gue nih!"
Akhirnya, dia kumpulin dewan ulama yang "setipe" sama dia. Dia bikin alasan medis dan agama:
Katanya kopi itu bikin mabuk kayak khamr (padahal mah kagak).
Katanya kopi bikin badan sakit.
Yang paling lucu: Ngopi bareng itu dianggap "perilaku menyimpang" karena mirip cara orang minum alkohol.
Hasilnya? Kopi dilarang total! Stok kopi dibakar di jalanan Mekkah. Siapa yang ketahuan ngopi, bisa digebukin atau didenda.
3. Sultan Turun Tangan
Tapi pelarangan ini nggak bertahan lama. Beritanya sampe ke telinga Sultan di Kairo (Sultan Al-Ghawri). Si Sultan ini kebetulan doyan kopi dan tau kalau kopi itu nggak bikin mabuk.
Sultan marah besar ke Khair Beg: "Lu gila ya? Kopi itu minuman para ulama di Yaman, enak banget, bikin melek ibadah, kok lu larang?" Akhirnya fatwa larangan itu dicabut. Khair Beg? Kabarnya dia malah kena blacklist dan nasibnya berakhir tragis. Moral ceritanya: Jangan berani-berani misahin orang sama kopinya kalau lu nggak mau kena batunya.
4. Masuk ke Jantung Turki (Konstantinopel)
Sekitar tahun 1550-an, dua pedagang dari Suriah bawa kopi ke Istanbul. Di sana, budaya warung kopi makin meledak. Sultan-sultan Ottoman awalnya agak waswas juga (karena warung kopi jadi markas oposisi), tapi mereka sadar satu hal penting: PAJAK.
Yap, pemerintah mulai narik pajak dari biji kopi. Akhirnya, bukannya dilarang, kopi malah jadi komoditas negara yang paling dijaga ketat. Orang Turki bahkan punya hukum (kabarnya ya): Seorang istri boleh gugat cerai suaminya kalau si suami nggak bisa nyediain jatah kopi harian buat istrinya. Gila nggak tuh?
Intisari Part 2:
Revolusi Sosial: Kopi melahirkan "Warung Kopi", tempat orang biasa bisa debat politik (Twitter versi zaman dulu).
Paranoia Penguasa: Kopi sempat dilarang di Mekkah (1511) gara-gara penguasa takut rakyatnya pinter dan kritis.
Kopi Menang: Sultan mencabut larangan karena kopi terbukti bermanfaat dan—yang paling penting—bisa dipajakin.
Budaya Turki: Istanbul jadi pusat kopi dunia sebelum akhirnya orang Eropa "nyolong" bijinya.
Nah, di Part 3 nanti, gue bakal ceritain gimana caranya biji kopi yang dijaga ketat sama orang Muslim ini bisa "bocor" ke tangan orang Eropa.
Spoiler: Ada aksi penyelundupan biji kopi di perut, aksi mata-mata, sampe Paus di Roma yang harus "baptis" kopi biar orang Kristen boleh minum.
Lanjut ke Part 3, Cok
Gaspol, Cok! Masuk ke PART 3.
Di part sebelumnya, kita tau kalau dunia Islam (Yaman & Turki) lagi "monopoli" kopi. Mereka bener-bener jaga rahasia ini kayak resep rahasia Krabby Patty. Orang luar boleh beli minumannya, tapi BIJI HIDUPNYA dilarang keras keluar dari wilayah mereka.
Kenapa? Ya biar semua orang belinya ke mereka terus. Cuan, Cok!
PART 3: Aksi Spionase dan Paus yang "Baptis" Kopi
Masuk ke abad ke-17. Orang-orang Eropa (Belanda, Inggris, Prancis, Italia) mulai ketagihan sama minuman hitam ini. Mereka nyebutnya "Wine of Araby". Tapi mereka kesel, karena harus beli mahal-mahal dari pelabuhan Mocha di Yaman.
Biji kopi yang dijual keluar itu selalu direbus dulu atau dipanggang biar nggak bisa ditanem lagi. Curang ya? Tapi namanya juga bisnis.
1. Penyelundupan di Balik Jubah (Baba Budan)
Nah, tokoh kuncinya adalah seorang sufi asal India bernama Baba Budan. Sekitar tahun 1670, dia lagi naik haji ke Mekkah. Pas balik lewat Yaman, dia ngerasa kopi ini terlalu berharga kalau cuma dikuasai satu pihak.
Dia ngelakuin aksi nekat, Cok. Dia nyelundupin 7 biji kopi hijau (yang masih hidup) dengan cara diplester atau diikat di perutnya, ketutup sama jubah haji. Kenapa angka 7? Karena itu angka sakral di sana.
Singkat cerita, dia berhasil lolos penjagaan pelabuhan dan bawa biji itu ke India Selatan (Chikkamagaluru). Di situ dia tanem, dan BOOM! Monopoli Yaman pecah. India mulai punya kebun kopi sendiri.
2. Belanda si Tukang "Curi" Start
Nggak mau kalah sama India, orang-orang Belanda lewat kongsi dagang mereka, VOC (inget pelajaran sejarah sekolah kan?), mulai gerak.
Tahun 1616, seorang pelaut Belanda namanya Pieter van den Broecke berhasil "nyolong" pohon kopi hidup dari Mocha dan dibawa ke Amsterdam. Tapi karena Amsterdam dingin banget kayak kulkas, pohonnya hampir mati.
Akhirnya mereka bawa bibit itu ke tanah jajahan mereka yang subur: Jawa (Indonesia). Inilah awal mula kenapa kopi Indonesia, terutama dari Jawa, jadi terkenal banget sampe ada istilah "A Cup of Java".
3. Drama di Vatikan: "Minuman Setan"
Pas kopi mulai masuk ke Eropa (lewat pelabuhan Venesia, Italia), orang-orang Kristen garis keras di sana sempet panik. Mereka ngeliat kopi itu minuman orang Muslim (Turki), warnanya item, dan bikin orang melek terus.
Mereka bilang: "Ini minuman setan! Orang kafir minum ini karena mereka dilarang minum wine. Jangan sampai kita ketularan!"
Masalah ini akhirnya dibawa ke Paus Clement VIII. Para penasihatnya minta Paus buat ngelarang kopi secara resmi. Tapi si Paus ini pinter. Dia bilang, "Coba gue rasain dulu."
Pas dia nyeruput kopi... slruuupp... dia kaget. "Gila, enak banget! Rasanya sayang banget kalau minuman se-enak ini cuma dinikmati orang 'sana' (Muslim). Kita harus 'baptis' kopi ini biar jadi minuman orang Kristen juga."
Sejak saat itu, kopi dapet "stempel halal" dari Vatikan, dan warung kopi mulai jamuran di seluruh Eropa.
4. Kopi Merubah Eropa dari "Pemabuk" Jadi "Pemikir"
Ini poin paling daging, Cok. Sebelum ada kopi, orang Eropa itu minumnya Bir atau Wine dari pagi sampe malem (karena air tanah mereka kotor/tercemar bakteri, jadi air yang difermentasi lebih aman diminum).
Bayangin, seharian mereka mabuk tipis-tipis. Pas kopi masuk, pola pikir mereka berubah. Dari yang tadinya teler (alkohol), jadi melek dan fokus (kafein).
Para ilmuwan kayak Isaac Newton sampe penulis kayak Voltaire nongkrongnya di warung kopi. Inilah yang memicu zaman Pencerahan (Enlightenment). Kopi jadi "bensin" buat revolusi industri dan ilmu pengetahuan.
Intisari Part 3:
Monopoli Pecah: Gara-gara aksi nekat Baba Budan nyelundupin biji kopi di perutnya.
Peran Belanda: VOC bawa kopi ke Jawa karena iklimnya cocok banget.
Diplomasi Paus: Kopi hampir dilarang di Eropa tapi diselamatkan karena rasanya yang terlalu enak buat ditolak.
Efek Kafein: Mengubah masyarakat Eropa dari teler alkohol jadi produktif dan pinter.
Di Part 4 nanti, kita bakal bahas gimana kopi "pulang kampung" ke Indonesia dan kenapa kopi kita bisa dibilang kopi terbaik (dan termahal) di dunia pada masanya.
Lanjut, Cok
Sikat, Cok! Masuk ke PART 4.
Setelah kopi "diculik" dari Yaman ke India sama Belanda, sekarang ceritanya makin deket sama kita. Kopi akhirnya "pulang kampung" (meskipun lewat penjajah) ke tanah air kita tercinta, Indonesia.
Di part ini, lu bakal tau kenapa kopi Indonesia itu dari dulu udah jadi player utama di dunia.
PART 4: "A Cup of Java" dan Emas Hitam dari Nusantara
Dulu, Belanda (VOC) itu lagi pusing, Cok. Mereka pengen banget nanam kopi di Eropa tapi nggak bisa karena iklimnya terlalu dingin. Akhirnya mereka mikir: "Kita kan punya tanah jajahan yang luas dan panas di khatulistiwa, kenapa nggak di sana aja?"
1. Gagal Total di Percobaan Pertama (1696)
Tahun 1696, Walikota Amsterdam nyuruh komandan pasukannya di Malabar (India) buat bawa bibit kopi ke Batavia (Jakarta). Bibit itu ditanam di lahan milik Gubernur Jenderal Adrian van Ommen di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Kedaung.
Hasilnya? Ambyar, Cok! Batavia waktu itu kena banjir bandang dan gempa bumi. Semua bibit kopinya hanyut dan mati. Belanda hampir nyerah, mereka pikir tanah Jawa nggak cocok buat kopi.
2. Percobaan Kedua: Meledak! (1699)
Belanda pantang menyerah kalau soal cuan. Tahun 1699, mereka bawa lagi bibit baru dari India. Kali ini berhasil! Pohonnya tumbuh subur banget.
Tahun 1711, VOC ngirim kiriman kopi pertama dari Jawa ke Eropa. Dan tebak apa? Orang Eropa langsung jatuh cinta! Rasanya beda sama kopi Yaman. Kopi Jawa lebih bold, lebih earthy, dan lebih mantap.
3. Lahirnya Istilah "Java"
Saking terkenalnya kopi dari pulau Jawa, orang-orang di Amerika dan Eropa kalau mau pesen kopi di kafe nggak bilang "I want a coffee", tapi bilangnya: "Give me a cup of Java."
Makanya sampe sekarang, istilah "Java" itu identik banget sama kopi. Bahkan bahasa pemrograman komputer yang namanya Java itu logonya gambar cangkir kopi mengepul. Itu semua gara-gara kualitas kopi dari tanah kita, Cok!
4. Sisi Gelap: Tanam Paksa (Preangerstelsel)
Nah, ini bagian sedihnya. Karena kopi laku keras di pasar dunia dan harganya selangit, Belanda makin serakah. Mereka nerapin sistem Preangerstelsel di Jawa Barat (Priangan).
Rakyat dipaksa nanam kopi tapi nggak boleh nikmatin hasilnya. Semua harus disetor ke VOC. Biji kopi itu jadi "Emas Hitam" buat kantong Belanda, tapi jadi keringet dan air mata buat petani kita.
5. Munculnya Kopi Luwak (Kreativitas di Tengah Penindasan)
Lu tau kenapa ada Kopi Luwak? Ternyata sejarahnya unik, Cok. Dulu, petani lokal dilarang keras metik buah kopi buat diminum sendiri. Mereka cuma boleh nanam dan setor.
Tapi karena orang kita itu kreatif (dan penasaran pengen nyobain minuman yang bikin orang bule gila itu), mereka ngeliat ada binatang Luwak yang makan buah kopi tapi bijinya keluar utuh di kotorannya.
Petani kita mikir: "Eh, ini kan bijinya udah nggak nempel di pohon, berarti bukan punya kompeni dong?" Mereka ambil, cuci bersih, sangrai, terus seduh. Eh, ternyata rasanya malah lebih enak dan lembut karena udah difermentasi alami di perut Luwak. Itulah awal mula kopi termahal di dunia lahir dari "sisa-sisa" penindasan.
Intisari Part 4:
Kopi Masuk Indonesia: Tahun 1696 (gagal) dan 1699 (berhasil) di Batavia.
Brand Global: Pulau Jawa jadi eksportir kopi terbesar, makanya muncul istilah "A Cup of Java".
Monopoli & Derita: Kopi jadi mesin uang Belanda lewat sistem Tanam Paksa.
Kopi Luwak: Lahir dari "kepepet" karena petani dilarang minum kopi hasil tanamannya sendiri.
Di Part 5 nanti, gue bakal ceritain tragedi besar yang bikin hampir seluruh kebun kopi di Indonesia mati total (Kiamat Kopi), dan gimana munculnya jenis kopi "Robusta" sebagai penyelamat.
Lanjut, Cok? Udah mulai kerasa pait-pait sedep kan sejarahnya?
Sikat lagi, Cok! Masuk ke PART 5.
Setelah di Part 4 kita bahas masa kejayaan kopi Jawa sampe mendunia dengan sebutan "A Cup of Java", di part ini ceritanya bakal agak horor. Bayangin lagi enak-enaknya panen cuan, tiba-tiba ada "Kiamat Kopi" yang bikin Belanda hampir bangkrut dan peta perkopian dunia berubah total.
PART 5: Kiamat Kopi dan Munculnya si "Badak" Robusta
Tahun 1870-an, perkebunan kopi di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatera) lagi di puncak-puncaknya. Tapi mendadak, muncul musuh yang nggak kelihatan mata: Hemileia vastatrix.
1. Serangan "Karat Daun" (The Zombie Fungus)
Ini adalah jamur yang nyerang daun kopi. Daunnya jadi bercak-bercak kuning kayak karatan, terus rontok, dan pohonnya mati pelan-pelan.
Dulu, hampir 100% kopi yang ditanam di Indonesia itu jenis Arabica. Masalahnya, Arabica itu "manja" banget, Cok. Dia gampang sakit kalau kena jamur ini. Dalam waktu singkat, ribuan hektar kebun kopi di Jawa hancur total. Produksi kopi kita yang tadinya nomor satu di dunia langsung anjlok ke titik nadir.
2. Eksperimen Liberika yang Gagal
Belanda panik, Cok! Dompet mereka mulai tipis. Mereka coba bawa jenis kopi baru dari Afrika namanya Liberika (1875). Mereka pikir Liberika bakal kuat lawan jamur karat daun.
Awalnya oke, tapi ternyata si jamur ini pinter mutasi. Liberika pun akhirnya kena sikat juga. Udah gitu, orang Eropa kurang suka rasanya karena aromanya terlalu tajam kayak nangka dan rasanya agak aneh buat lidah mereka waktu itu.
3. Penyelamat Datang: Si Robusta (1900)
Akhirnya, di tahun 1900, Belanda bawa jagoan baru dari Kongo, namanya Robusta.
Sesuai namanya, "Robust" yang artinya Kuat/Tangguh.
Kelebihan: Dia tahan banting sama jamur karat daun.
Kekuatan: Bisa tumbuh di dataran rendah (nggak harus di gunung yang dingin kayak Arabica).
Kafein: Kandungan kafeinnya dua kali lipat lebih tinggi dari Arabica.
Plot Twist: Meskipun Robusta ini penyelamat ekonomi, rasanya lebih pahit, lebih "keras", dan aromanya kayak kacang atau tanah (earthy). Tapi ya mau gimana lagi, daripada nggak ada kopi sama sekali, akhirnya Robusta mendominasi perkebunan di Indonesia sampe sekarang.
4. Efek Domino ke Brasil
Gara-gara kopi di Indonesia (dan Asia) hancur kena jamur, pasar dunia jadi kosong. Nah, di momen inilah Brasil ambil kesempatan. Mereka buka lahan gila-gilaan dan akhirnya jadi produsen kopi nomor 1 di dunia sampe hari ini, geser posisi Indonesia. Kita "kecolongan" gara-gara jamur, Cok!
Intisari Part 5:
Tragedi Karat Daun: Jamur Hemileia vastatrix bikin kopi Arabica di Indonesia punah hampir total di akhir abad ke-19.
Arabica si Manja: Terbukti nggak tahan penyakit, makanya sekarang Arabica cuma bisa tumbuh di gunung-gunung tinggi yang udaranya bersih.
Lahirnya Era Robusta: Indonesia berubah dari produsen Arabica jadi basis Robusta karena faktor daya tahan.
Brasil Menyalip: Indonesia kehilangan mahkota sebagai raja kopi dunia gara-gara "Kiamat" ini.
Di Part 6 nanti, kita bakal bahas gimana kopi jadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan kita, dan gimana munculnya "Warung Kopi Legendaris" di Indonesia yang usianya udah ratusan tahun.
Gaspol, Cok! Masuk ke PART 6.
Setelah di Part 5 kita bahas "Kiamat Kopi" gara-gara jamur dan munculnya Robusta si "Badak", sekarang kita masuk ke era yang lebih emosional: Masa Perjuangan Kemerdekaan. Ternyata, kopi bukan cuma jadi komoditas dagang, tapi jadi saksi bisu para pahlawan kita ngerancang strategi buat ngusir penjajah.
PART 6: Kopi Perjuangan dan Kedai yang Berumur Ratusan Tahun
Di awal abad ke-20, semangat nasionalisme Indonesia lagi membara. Dan lu tau nggak, Cok? Pergerakan itu nggak cuma terjadi di podium pidato, tapi banyak yang dimulai dari meja-meja Warung Kopi.
1. Warung Kopi: "Markas" Intelijen Rakyat
Dulu, kalau para pejuang (kayak Bung Hatta, Syahrir, atau Tan Malaka) mau kumpul, mereka nggak mungkin di hotel mewah milik Belanda. Mereka seringnya kumpul di kedai-kedai kopi kecil di pinggir jalan atau di pasar.
Kenapa? Karena di warung kopi, suara orang ngobrol itu samar-samar. Suasana santai bikin mata-mata Belanda (PID) agak susah bedain mana yang lagi ghibah tetangga sama mana yang lagi ngerencanain demo. Kopi item pahit jadi temen setia mereka diskusi soal nasib bangsa sambil nahan kantuk ngerjain pamflet perlawanan.
2. Lahirnya Kedai Kopi Legendaris (The OG)
Di masa ini, mulai muncul kedai-kedai kopi keluarga yang legendaris banget dan hebatnya masih buka sampe sekarang, Cok! Ini beberapa yang paling sakti:
Warung Tinggi Tek Sun Ho (Jakarta, 1878): Ini kedai kopi tertua di Jakarta. Dulu lokasinya di Molenvliet (sekarang Jl. Hayam Wuruk). Bayangin, dari zaman Belanda masih pake kereta kuda sampe sekarang ada MRT, ini toko masih jualan kopi.
Kopi Es Tak Kie (Glodok, 1927): Didiriin sama imigran dari Tiongkok. Ini tempat nongkrong favorit di kawasan pecinan. Rasanya otentik banget, dan suasananya masih kerasa kayak balik ke tahun 40-an.
Kopi Ake (Belitung, 1922): Kalau lu ke Belitung, ini wajib. Mereka masih pake alat-alat jadul buat nyeduh kopi.
3. Budaya "Kopi Tubruk": Simbol Kesederhanaan
Di era perjuangan, rakyat kita nggak kenal yang namanya Espresso atau Cappuccino. Rakyat jelata nemuin cara paling jujur buat nikmatin kopi: Kopi Tubruk.
Cuma biji kopi ditumbuk kasar, taro di gelas, siram air mendidih, kasih gula dikit (kalau mampu beli gula), aduk, diemin sampe ampasnya turun. Cara minum ini jadi simbol perlawanan juga, Cok. Bahwa kita nggak perlu cara ribet ala orang Eropa buat nikmatin kekayaan alam tanah air sendiri.
4. Diplomasi Kopi di Pengasingan
Banyak pahlawan kita yang dibuang (diasingkan) ke tempat-tempat jauh kayak Boven Digoel atau Banda Neira. Di sana, mereka sering banget ngobrol sama penduduk lokal sambil ngopi. Kopi jadi "jembatan" biar para intelektual kota bisa nyambung sama rakyat di pelosok. Tanpa kopi, mungkin obrolan mereka bakal garing banget.
Intisari Part 6:
Tempat Diskusi: Warung kopi jadi "safe house" buat ngerancang kemerdekaan tanpa dicurigai intel Belanda.
Warisan Sejarah: Kedai kopi kayak Tek Sun Ho dan Tak Kie adalah saksi hidup sejarah Indonesia yang masih bisa kita kunjungin sekarang.
Filosofi Tubruk: Kopi tubruk adalah cara rakyat merayakan kopi dengan jujur dan apa adanya di tengah tekanan penjajah.
Alat Pemersatu: Kopi menyatukan kaum terpelajar dengan rakyat biasa di meja yang sama.
Di Part 7 nanti, kita bakal masuk ke era Modern. Era di mana kopi instan mulai masuk, terus muncul gelombang "Starbucks-isasi", sampe akhirnya sekarang semua orang pengen jadi Barista.
Gaspol lagi, Cok! Masuk ke PART 7.
Setelah kita ngelewatin masa penjajahan dan perjuangan di Part 6, sekarang kita masuk ke era transisi yang lebih deket sama kehidupan kita sehari-hari. Era di mana kopi nggak cuma jadi "minuman bapak-bapak di pos ronda", tapi mulai bertransformasi jadi gaya hidup yang kadang bikin dompet nangis.
PART 7: Dari Kopi Sachet-an sampe Invasi "Si Mbak Hijau"
Masuk ke pertengahan abad ke-20 sampe awal 2000-an, dunia kopi ngalamin perubahan besar-besaran yang dibagi sama para ahli jadi beberapa "gelombang" (waves). Biar gampang, kita sebut aja era Kopi Instan dan era Kopi Lifestyle.
1. Gelombang Pertama: Yang Penting Melek (Kopi Instan)
Pasca Perang Dunia II, orang-orang pengennya yang serba cepet. Perusahaan besar kayak Nestlé mulai mempopulerkan kopi instan.
Tujuannya: Biar tentara di medan perang atau buruh pabrik bisa ngopi tanpa perlu nunggu ampas turun.
Di Indonesia: Ini era kejayaan kopi sachet. Muncul brand-brand lokal yang nemenin kita begadang nonton bola atau ngerjain tugas. Fokusnya cuma satu: Fungsi. Nggak peduli bijinya dari mana, yang penting ada kafeinnya dan manis.
2. Gelombang Kedua: Munculnya "Si Mbak Hijau" (Starbucks Effect)
Nah, di tahun 1970-an di Amerika, muncul sebuah kedai kecil namanya Starbucks. Mereka ngerubah cara orang minum kopi. Kopi bukan lagi cuma soal kafein, tapi soal Pengalaman.
The Third Place: Mereka nyiptain konsep kalau Starbucks itu rumah ketiga setelah "Rumah" dan "Kantor". Tempat buat nongkrong, kerja (pake laptop biar kelihatan sibuk), atau sekadar pamer cup dengan nama yang sering salah tulis.
Menu Ribet: Di era inilah kita mulai kenal istilah Latte, Cappuccino, Macchiato, sampe Frappuccino. Kopi mulai dicampur sirup, karamel, dan susu yang banyak banget sampe rasa kopinya sendiri kadang malu-malu mau muncul.
3. Masuknya Gaya Hidup ke Indonesia
Awal tahun 2000-an, tren ini masuk ke mall-mall di Indonesia. Ngopi di cafe jadi simbol status sosial. Kalau lu megang cup kopi berlogo hijau, level kegantengan atau kecantikan lu berasa naik 20%. Di sini kopi mulai jadi "Gengsi".
4. Fenomena Kopi Susu Gula Aren (Local Pride)
Tapi orang Indonesia itu unik, Cok. Kita nggak mau cuma ikut-ikutan tren luar. Sekitar tahun 2015-an, muncul ledakan Kopi Susu Kekinian.
Pelopornya kayak Kopi Tuku, terus disusul Kopi Kenangan, Janji Jiwa, dan kawan-kawannya.
Rahasianya: Perpaduan kopi (biasanya Robusta biar nendang) + Susu + Gula Aren.
Ternyata lidah kita emang cocok banget sama rasa manis gurihnya gula aren. Ini ngerubah peta bisnis kopi di Indonesia. Warung kopi nggak harus gede di mall, cukup "lubang di dinding" (hole in the wall) yang penting bisa dipesen lewat ojek online.
Intisari Part 7:
Era Instan: Kopi jadi komoditas masal yang murah dan praktis (First Wave).
Era Gaya Hidup: Kopi jadi tiket buat nongkrong di tempat ber-AC dan ber-WiFi (Second Wave).
Standarisasi Rasa: Kopi mulai punya menu "seragam" di seluruh dunia gara-gara waralaba besar.
Revolusi Gula Aren: Indonesia berhasil bikin tren kopi sendiri yang lebih merakyat tapi tetep keren.
Di Part 8 nanti, kita bakal bahas era yang paling "rewel" alias Third Wave Coffee. Era di mana orang mulai nanya: "Ini bijinya ditanam di ketinggian berapa mdpl?" atau "Notes-nya rasa buah naga apa rasa yang tertinggal?"
Gimana, Cok? Lu tipe yang "yang penting kopi sachet" atau tipe "mas-mas senja" yang minumnya kopi manual brew?
Sikat lagi, Cok! Masuk ke PART 8.
Kalau di Part 7 kita bahas kopi yang jadi gaya hidup (Third Place) dan booming-nya kopi susu gula aren, sekarang kita masuk ke level yang lebih "rewel", lebih detail, dan lebih... artistik.
Selamat datang di era Third Wave Coffee (Gelombang Ketiga). Era di mana kopi diperlakukan kayak Fine Wine atau karya seni.
PART 8: Era Mas-Mas Senja dan Ritual Seduh Manual
Di era ini, orang udah nggak cuma nanya "Kopinya manis nggak?" atau "Ada WiFi nggak?". Pertanyaannya berubah jadi: "Ini bijinya prosesnya apa? Washed, Natural, atau Anaerob?" atau "Notes-nya keluar rasa apa, Bang?"
1. Kopi Bukan Sekadar Pahit
Dulu, mindset kita: Kopi = Pahit. Titik. Di Third Wave, mindset-nya berubah: Kopi itu buah. Karena kopi itu buah ceri, harusnya dia punya rasa asem, manis, dan aroma bunga atau buah-buahan. Di sinilah muncul istilah "Specialty Coffee".
Biji kopi nggak boleh sembarangan. Skornya harus di atas 80 (dari skala 100) menurut standar SCAA (Specialty Coffee Association of America). Kalau ada biji yang pecah atau busuk dikit, langsung buang!
2. Ritual Manual Brew (V60 dkk)
Nah, di era ini mesin-mesin espresso yang berisik itu mulai dikesampingkan sama alat-alat seduh manual. Lu pasti sering liat di meja bar ada corong kaca atau keramik yang dialasin kertas putih, terus Baristanya nuang air pelan-pelan banget pake teko leher angsa.
V60: Teknik tetes (pour over) yang bikin rasa kopi jadi "bersih" (clean).
Chemex: Bentuknya kayak alat laboratorium kimia, rasanya lebih enteng lagi.
Aeropress: Alat kayak suntikan raksasa, buat yang pengen rasa lebih bold tapi praktis.
Timbangan Digital: Ini wajib! Di era ini, Barista udah kayak apoteker. Nimbang air harus pas, suhu air harus presisi (misal 92°C), waktu seduh nggak boleh lewat sedetik pun. Salah dikit, rasanya ambyar.
3. Kamus "Sakti" Anak Kopi
Biar lu nggak cengo pas dengerin mas-mas senja ngomongin kopi, ini contekan istilahnya:
Notes: Rasa "samar" yang muncul. Misal: "Wah, ini ada notes fruity rasa blueberry sama hint cokelat ya." (Padahal mah nggak dikasih sirup, itu murni rasa asli bijinya).
Acidity: Asemnya kopi. Bukan asem basi, tapi asem seger kayak jeruk atau apel.
Body: Kekentalan kopi di lidah. Kayak bedanya minum air putih vs minum susu.
Aftertaste: Rasa yang ketinggalan di tenggorokan setelah lu telen kopinya.
4. Traceability (Asal-Usul yang Jelas)
Anak-anak Third Wave itu peduli banget sama nasib petani. Mereka nggak mau beli kopi "anonim". Mereka pengen tau:
Ditanem di gunung mana?
Ketinggian berapa (misal: 1500 mdpl)?
Siapa nama petaninya?
Kapan tanggal sangrai (roasting) nya?
Inilah kenapa kopi specialty harganya bisa mahal banget. Karena kita nggak cuma beli minuman, tapi beli rantai pasokan yang adil (Fair Trade) dan kualitas yang dijaga dari pohon sampe cangkir.
Intisari Part 8:
Apresiasi Tinggi: Kopi naik kasta jadi minuman premium yang dinikmati detail rasanya.
Presisi: Seduh kopi jadi ilmu pasti (sains) yang butuh timbangan dan termometer.
Manual Brew: Kembalinya teknik seduh tangan yang bikin karakter kopi lebih keluar.
Local Pride 2.0: Biji-biji lokal Indonesia kayak Gayo, Toraja, dan Ciwidey mulai merajai cafe-cafe specialty dunia karena karakter rasanya yang unik banget.
Di Part 9 nanti, kita bakal bahas sisi gelap dan mitos-mitos kopi. Benarkah kopi bikin maag? Kenapa ada orang yang nggak bisa tidur tapi ada yang malah ngantuk habis ngopi? Dan gimana masa depan kopi di tengah pemanasan global?
Gimana, Cok? Lu udah pernah nyobain kopi yang rasanya asem-asem buah, atau tetep setia sama kopi tubruk yang paitnya nendang jiwa?
Sikat lagi, Cok! Masuk ke PART 9.
Setelah kita bahas soal gaya hidup "Mas-Mas Senja" yang ribet sama timbangan di Part 8, sekarang kita bahas yang lebih personal: Hubungan Kopi sama Badan Kita. Di sini banyak mitos, banyak ketakutan, dan ada sedikit kabar buruk soal masa depan kopi.
PART 10: Mitos, Lambung, dan Bayang-Bayang Kiamat Kopi
Banyak orang pengen ngopi tapi takut. Takut maag, takut nggak bisa tidur, sampe takut jantung copot. Kita bedah satu-satu pake bahasa tongkrongan yang gampang dicerna.
1. Mitos: "Kopi Bikin Maag Gue Kambuh!"
Nggak sepenuhnya salah, tapi nggak sepenuhnya bener juga.
Faktanya: Kopi itu emang merangsang produksi asam lambung. Tapi, masalahnya seringkali bukan di kopinya, melainkan jenis kopi dan cara minumnya.
Solusi: Kalau lambung lu manja, jangan minum Robusta (yang kafeinnya tinggi dan lebih asam buat perut). Pilih Arabica yang light roast.
Pro-tip: Coba Cold Brew. Karena diseduh pake air dingin selama 12-24 jam, kadar asamnya jauh lebih rendah. Aman buat lambung, tetep nendang di kepala. Dan satu lagi: Jangan ngopi pas perut kosong, Cok! Makan gorengan satu biji aja udah cukup buat ganjel.
2. Mitos: "Gue Minum Kopi Malah Ngantuk"
Ini aneh tapi nyata. Lu pasti punya temen yang habis minum kopi malah tidur nyenyak.
Kenapa? Ada namanya Genetik. Badan tiap orang beda-beda dalam mengolah kafein.
Ada juga fenomena Dehidrasi. Kopi itu diuretik (bikin pengen pipis). Kalau lu kurang minum air putih, otak lu kekurangan cairan, akhirnya malah lemes dan ngantuk.
Coffee Nap: Ada trik namanya Coffee Nap. Minum kopi cepet-cepet, terus langsung tidur 20 menit. Pas lu bangun, kafeinnya baru mulai kerja di otak. Lu bakal bangun dengan energi full tank!
3. Sisi Gelap: Eksploitasi di Balik Cangkir
Meskipun kita seneng ngopi di cafe estetik seharga 50 ribu, kenyataannya banyak petani kopi di dunia yang hidupnya masih susah.
Harga kopi dunia itu naik turun kayak roller coaster.
Inilah kenapa sekarang muncul gerakan Direct Trade. Pemilik cafe langsung beli ke petani dengan harga tinggi tanpa lewat tengkulak. Jadi, kalau lu minum kopi agak mahal tapi ada keterangan "Fair Trade", anggap aja lu lagi sedekah buat kesejahteraan petani.
4. Ancaman Nyata: Kiamat Kopi (Global Warming)
Ini kabar buruknya, Cok. Kopi itu tanaman yang "picky" banget soal cuaca.
Karena bumi makin panas, lahan buat nanam Arabica makin berkurang. Arabica harus "naik gunung" terus cari tempat yang lebih dingin.
Ilmuwan ngeramalin di tahun 2050, lahan kopi yang layak di dunia bakal berkurang 50%.
Efeknya: Kopi bakal jadi barang mewah lagi kayak zaman dulu. Harganya bisa berkali-kali lipat. Jadi, nikmatin kopi lu selagi masih murah sekarang!
Intisari Part 9:
Lambung Aman: Pilih jenis kopi dan metode seduh (Cold Brew) yang tepat kalau punya maag.
Paradoks Kafein: Ngopi malah ngantuk itu soal hidrasi dan genetik.
Etika Ngopi: Dukung kopi yang mensejahterakan petani biar rantai industrinya nggak putus.
Krisis Iklim: Kopi terancam punah/mahal gara-gara pemanasan global.
Di PART 10 (FINAL), gue bakal tutup series ini dengan cara gimana caranya lu bisa nikmatin kopi secara maksimal (becoming a pro drinker) tanpa harus jadi ribet, dan gimana cara milih kopi yang bener-bener cocok buat karakter lu.
Sikat, Cok! Kita sampai di PART 10, alias THE GRAND FINALE.
Setelah kita keliling dunia dari Ethiopia, masuk ke peradaban Islam di Yaman, nyuri biji kopi bareng Belanda, sampe bahas "Mas-mas Senja", sekarang saatnya kita tarik kesimpulan. Biar lu nggak cuma tau sejarah, tapi juga tau cara memposisikan diri di depan secangkir kopi.
PART 10: Menemukan "Jiwa" dalam Cangkir (The Way of Coffee)
Ngopi itu bukan cuma soal masukin cairan item ke mulut biar nggak ngantuk pas kerja. Ngopi itu soal ritual dan identitas. Biar lu jadi pro-drinker di tongkrongan, lu harus paham tiga pilar ini:
1. Jangan Jadi "Snob" (Sok Tau)
Ciri orang yang beneran paham kopi adalah mereka yang menghargai selera orang lain.
Kalau temen lu sukanya kopi sachet pake krimer, ya biarin.
Kalau ada yang sukanya kopi susu gula aren yang manisnya minta ampun, ya silakan.
Lu nggak perlu ceramahin mereka soal "acid" atau "body" kalau mereka cuma pengen cari seger. Kopi itu alat pemersatu, bukan alat buat pamer pinter.
2. Kenali "Spektrum" Lu
Biar lu nggak zonk pas pesen kopi, lu harus tau lu ada di tim mana:
Tim Bold (Keras): Lu cocok sama Robusta, Kopi Tubruk, atau Espresso Base kayak Double Shot. Lu cari pahitnya, lu cari "tamparan" kafeinnya.
Tim Fruity (Seger): Lu cocok sama Arabica Single Origin (Gayo, Ethiopia, Kenya) yang diseduh V60. Lu nikmatin asem-asem buahnya kayak lagi minum teh lemon.
Tim Creamy (Lembut): Lu tim Latte atau Flat White. Lu nyari keseimbangan antara gurihnya susu dan aroma kopi.
3. Kopi Adalah Warisan Kita
Inget, Cok. Indonesia itu salah satu produsen kopi terbaik di dunia. Kita punya:
Gayo yang rempah banget.
Toraja yang earthy (aroma tanah basah).
Bali Kintamani yang ada jejak rasa jeruknya.
Papua Wamena yang aromanya cokelat banget.
Setiap kali lu minum kopi lokal, lu sebenernya lagi ngerayain sejarah panjang yang kita bahas dari Part 1 sampe Part 9 tadi. Lu lagi ngehargai tetesan keringat petani di lereng gunung nusantara.
4. Masa Depan di Tangan Lu
Karena ancaman pemanasan global itu nyata (seperti di Part 9), cara terbaik buat ngejaga kopi adalah dengan nggak nyia-nyia-in kopi. Pesen secukupnya, minum sampe abis, dan dukung roastery lokal yang transparan soal asal bijinya.
PENUTUP: Kata Terakhir buat Si "Hitam"
Kopi dimulai dari seekor kambing yang kegirangan, dibawa oleh para sufi untuk mendekatkan diri pada Tuhan, diperebutkan oleh penjajah sebagai emas hitam, dan sekarang ada di depan mata lu.
Apapun kopi yang lu minum hari ini—mau itu kopi mahal di mall atau kopi di gelas plastik pinggir jalan—inget satu hal: Kopi itu jujur. Dia pahit ya pahit, asem ya asem. Dia nggak pernah bohong soal rasanya.
Intisari Final (The Legacy):
Hargai Proses: Dari pohon sampe cangkir itu perjalanannya ribuan kilometer dan ratusan tahun sejarah.
Lokal itu Juara: Jangan minder kalau cuma punya kopi lokal, karena orang luar negeri aja rela bayar mahal buat kopi kita.
Nikmati Momen: Di balik setiap cangkir kopi, selalu ada cerita yang siap buat didengerin atau dibuat.
Selesai sudah SAGA KOPI kita, Cok! 10 Part yang isinya "daging" semua. Lu sekarang resmi jadi "Suhu Kopi" di tongkrongan lu.

Posting Komentar